NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Setelah kondisi fisiknya berangsur pulih, Aurora akhirnya memberanikan diri menemui manajernya, Vina, berharap memperoleh penjelasan sekaligus sedikit keadilan atas peristiwa yang telah menghancurkan hidupnya. Namun, harapan itu sirna begitu melihat sikap wanita tersebut. Vina memilih menjaga dirinya sendiri, seolah tragedi yang menimpa Aurora bukan lagi urusannya.

Ia mengembuskan napas panjang sebelum berkata dengan nada datar, seakan semua yang terjadi hanyalah urusan bisnis.

"Kalau kau ingin meminta pertanggungjawaban, atau sekadar menuntut ganti rugi, datang saja langsung kepada pria yang bersamamu malam itu. Tapi pikirkan baik-baik sebelum melangkah."

Aurora menelan ludah. Jantungnya berdegup semakin cepat. Bayangan pria itu kembali memenuhi pikirannya, membuat jemarinya tanpa sadar mengepal.

Vina melanjutkan dengan suara lebih pelan.

"Sekadar mengingatkan, namanya Kael Lucien Raventhorne. Di dunia bawah, semua orang mengenalnya. Orang seperti dia tidak terbiasa menerima tuntutan, apalagi ancaman. Siapa pun yang menghalangi jalannya biasanya tidak berakhir dengan baik."

Ucapan itu membuat wajah Aurora semakin pucat.

Vina kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dari laci meja dan meletakkannya di hadapan Aurora.

"Kalau tetap ingin menemuinya, ini alamatnya. Keputusan ada di tanganmu. Tapi setelah pintu itu kau buka, jangan berharap semuanya akan berjalan sesuai keinginanmu."

Aurora menundukkan kepala. Tatapannya terpaku pada kartu nama sederhana yang hanya memuat satu nama.

Kael.

Tanpa gelar. Tanpa identitas lain. Hanya satu nama yang terasa cukup untuk menebarkan rasa gentar.

Seketika, ingatan tentang malam yang berusaha ia kubur kembali menghantam benaknya. Napasnya menjadi berat, sementara jemarinya menggenggam kartu itu hingga sedikit bergetar.

Nama Kael bukanlah nama yang asing di dunia bawah. Selama lebih dari lima belas tahun, sosoknya menjadi legenda sekaligus mimpi buruk bagi banyak orang. Ia dikenal sebagai penguasa mafia yang nyaris tak memiliki celah, dingin dalam mengambil keputusan, dan tak pernah menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun yang menghalangi jalannya.

Aurora sama sekali tidak pernah membayangkan takdir akan menyeretnya hingga berhadapan langsung dengan pria yang selama ini hanya ia dengar melalui bisik-bisik penuh ketakutan.

Tatapannya beralih kepada Vina dengan sorot mata yang dipenuhi amarah.

"Jadi... kalian yang menyerahkanku kepadanya?" suaranya bergetar, sementara jemarinya meremas kartu nama itu hingga hampir kusut.

Vina tidak tampak terusik. Ekspresinya tetap datar, seolah semua itu hanyalah keputusan yang tak bisa dihindari.

"Kami tidak punya banyak pilihan, Aurora," jawabnya singkat. "Melawan Kael hanya akan membawa bencana yang lebih besar. Apa yang terjadi malam itu... berada di luar kendali kami."

Tak ada sedikit pun penyesalan dalam nada bicaranya.

Aurora menarik napas panjang, berusaha menahan gejolak emosi yang memenuhi dadanya. Namun pada akhirnya ia hanya mampu menggeleng pelan.

"Mulai hari ini... aku berhenti. Aku tidak akan pernah kembali ke agensi ini."

Tanpa menunggu jawaban, Aurora membalikkan badan dan melangkah keluar. Kartu nama berwarna hitam itu masih tergenggam erat di telapak tangannya, seolah menjadi pengingat bahwa hidupnya telah berubah dalam semalam.

Di sepanjang langkahnya, pikirannya dipenuhi kebingungan. Ia ingin menceritakan semuanya kepada sang kakak, tetapi keberanian itu tak kunjung datang. Ia takut bukan hanya akan membuat kakaknya hancur, tetapi juga menyeret keluarganya ke dalam bahaya yang mengintai dari balik nama Kael.

Aurora kembali menatap kartu nama itu. Satu nama sederhana tertulis di atasnya, tetapi terasa begitu berat untuk dihadapi.

Sejak malam yang mengubah hidupnya itu, Aurora berusaha memaksa dirinya untuk terus melangkah. Ia mengubur kenangan tersebut sedalam mungkin, seolah jika tak lagi mengingatnya, luka di hatinya perlahan akan memudar. Keputusannya meninggalkan agensi yang pernah menjerumuskannya menjadi awal untuk membangun kembali hidup yang hampir hancur.

Hari-harinya kembali dipenuhi rutinitas sebagai mahasiswi. Aurora berusaha tersenyum, bercengkerama dengan teman-teman kampus, dan menjalani kehidupan senormal mungkin. Dari luar, tak ada yang tampak berbeda. Namun di balik senyum itu, masih tersimpan beban yang tak sanggup ia ceritakan kepada siapa pun.

Kakaknya mulai menyadari perubahan kecil pada adiknya. Tatapan Aurora tak lagi seterang dulu, dan senyumnya terasa dipaksakan. Meski begitu, sang kakak memilih menahan diri. Ia tahu adiknya sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi ia juga menghormati keinginan Aurora yang belum siap membuka luka yang selama ini ia pendam.

Di tempat lain, Kael tenggelam dalam kesibukan yang tak pernah mengenal jeda. Pertemuan dengan para petinggi organisasi, transaksi lintas negara, hingga berbagai operasi rahasia menyita hampir seluruh waktunya. Berhari-hari ia berpindah dari satu urusan ke urusan lain tanpa sempat memikirkan kehidupan pribadinya.

Namun, di tengah padatnya aktivitas, kondisi tubuh Kael justru mulai menunjukkan sesuatu yang tidak biasa. Beberapa minggu terakhir ia sering merasa cepat lelah, sulit berkonsentrasi, dan tubuhnya terasa jauh lebih berat daripada biasanya.

Sebagai sosok yang sangat berhati-hati, Kael segera menjalani serangkaian pemeriksaan menyeluruh di laboratorium medis miliknya sendiri. Para dokter terbaik memeriksa setiap kemungkinan, tetapi hasilnya tetap sama—tidak ditemukan penyakit serius, infeksi, maupun kelainan yang dapat menjelaskan kondisi tersebut.

Meski semua hasil menunjukkan dirinya baik-baik saja, Kael tetap merasakan ada sesuatu yang berubah dalam tubuhnya. Perasaan aneh itu terus menghantuinya, membuat pria yang selama ini selalu tenang itu mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

...----------------...

Beberapa minggu setelah kejadian yang mengubah hidupnya, Aurora mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda pada tubuhnya. Awalnya ia mengira semua itu hanyalah dampak dari tekanan batin yang belum juga pulih. Namun, hari demi hari berlalu, firasat buruk itu justru semakin kuat.

Tubuhnya tidak terasa sakit. Tidak ada demam ataupun keluhan yang mengkhawatirkan. Hanya satu hal yang terus mengusik pikirannya—siklus bulanannya yang biasanya selalu teratur kini tak kunjung datang. Keterlambatan yang awalnya ia anggap sepele telah melewati dua minggu.

Dengan tangan sedikit gemetar, Aurora membuka berbagai artikel kesehatan di ponselnya. Semakin banyak ia membaca, semakin besar pula rasa takut yang menyelimuti hatinya. Setiap kalimat seolah mengarah pada kemungkinan yang sama.

"Tidak... jangan sampai seperti itu." batinnya berulang kali mencoba menyangkal.

Aurora sebenarnya ingin membeli alat tes kehamilan, tetapi keberanian itu tidak pernah benar-benar muncul. Ia takut melihat hasilnya sendiri. Pada akhirnya, ia memilih mencari kepastian melalui pemeriksaan di rumah sakit, berharap semua kecemasannya hanya dugaan yang berlebihan.

Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, ponselnya berdering. Nama sang kakak muncul di layar.

"Aurora, malam ini jangan pulang terlalu larut. Kita diundang makan malam di rumah atasanku. Kakak ingin kau ikut."

Aurora memejamkan mata sejenak sebelum menjawab setenang mungkin.

"Baik, Kak. Aku akan berusaha pulang tepat waktu."

Ia menyimpan kembali ponselnya, meski pikirannya semakin dipenuhi kegelisahan.

Sesampainya di rumah sakit, Aurora menjalani serangkaian pemeriksaan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Waktu menunggu hasil terasa berjalan begitu lambat. Setiap detik seperti menambah beban di dadanya.

Ketika dokter akhirnya menyerahkan lembar hasil pemeriksaan, Aurora menerimanya dengan tangan yang nyaris tak mampu berhenti bergetar.

Tatapannya perlahan menelusuri setiap baris tulisan hingga berhenti pada satu kalimat yang membuat napasnya tercekat.

Ia merasa dunia di sekelilingnya mendadak sunyi.

Kakinya hampir kehilangan tenaga untuk berdiri.

Dokter menatapnya dengan lembut sebelum berkata pelan,

"Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Anda sedang mengandung. Berdasarkan usia kehamilannya, diperkirakan sekitar tiga minggu."

Aurora hanya mampu terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak satu kata pun keluar. Matanya mulai dipenuhi air mata, sementara pikirannya dipenuhi pertanyaan yang belum sanggup ia jawab.

Tiga minggu.

Dua kata sederhana itu terasa begitu berat, seolah mengubah seluruh arah hidupnya dalam sekejap. Di balik tatapannya yang kosong, Aurora tahu bahwa mulai hari itu, hidupnya tak akan pernah benar-benar sama lagi.

...****************...

1
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!