NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 "JELASKAN PADAKU, SIAPA KAMU SEBENARNYA?"

Aku ingin bertanya, apa maksud dari perkataan Dayang Putri?

Tapi, dengan cepat pula, Dayang Putri dan Sekar Mayang segera menghilang.

Dan, semuanya kembali normal.

Kedua mataku pun, kembali melihat seperti biasa.

Kemudian, aku disadarkan oleh sentuhan tangan Harum.

"Buuu?" suaranya sedikit gemetar memanggilku.

Aku menoleh ke arahnya.

Kupandangi wajah cantik anakku.

Ku tatap kedua bola matanya yang putih.

"Ibuuu? Ba-barusan, Ibu, ke-kenapa? Ada apa Buuu?" tanyanya, dengan suara lirih, sedikit terbata-bata.

Aku pun berjongkok di depannya, langsung ku sentuh pipi kanannya dengan lembut.

Namun, aku seperti bingung untuk menjawab pertanyaannya itu.

Aku hanya terdiam, memandang wajahnya yang sedikit terlihat ketakutan.

"Ibuuu... Akuuu... Aku takut Buuu..." katanya.

Mendengar Harum berkata begitu, aku memeluk tubuhnya.

Ku peluk dengan erat.

Dengan segala pikiran yang terus berputar dalam kepalaku. Ditambah dengan kejadian ghoib yang baru saja kami alami.

.....

.....

.....

🌙🌙🌙🌙🌙🌙🌙

🕧🕧🕧🕧🕧🕧🕧

Malam harinya, aku terbangun.

Ku lihat jam dinding dalam kamar, ternyata baru jam 1 malam.

Harum, masih tertidur pulas dalam pelukanku.

Dengan mata yang masih terasa mengantuk, ku tatap dalam-dalam wajah anakku itu.

Pikiranku seperti terasa kosong.

Hatiku terasa seperti tak tenang.

Meskipun aku bisa tidur barusan, namun, seolah tidurku juga tak bisa memberikan ketenangan bagiku.

Akhirnya, aku berusaha untuk bangun pelan-pelan, supaya Harum tak sampai terbangun juga.

Ku rapikan sedikit posisi tangan dan kakinya agar tetap nyaman. Dan ku selimuti tubuhnya dengan kain selimut.

Sejenak, aku termenung di pinggir kasur. Sambil terus menatap wajah anakku itu.

Dan, kembali teringat dengan kejadian tadi siang, di jalan depan area pemakaman itu.

Teringat jelas semuanya dalam kepalaku.

Namun, yang menjadi fokus memoriku bukanlah sosok Gilang.

Melainkan...

Sosok wanita berbaju hitam yang memakai mahkota hitam itu.

Dan juga, aku teringat dengan ucapan Dayang Putriku.

.....

.....

"ANAKMU BUKAN MANUSIA BIASA NISA..."

.....

.....

Apa maksud Dayang Putri?

Apa tujuannya berkata-kata seperti itu?

Apakah...

Semua itu berkaitan dengan masa lalu Harumku ini?

Masa lalu Harum yang amat mengerikan, dan menderita itu.

Apakah...

Semua itu masih belum berakhir?

Dan, apakah...

Ada "sesuatu" yang tersembunyi di dalam jiwa anakku ini?

Ah... Terasa sedikit sakit kepalaku mencari jawaban atas semua pertanyaanku sendiri.

Akhirnya, aku berdiri, dan berjalan keluar kamar. Aku ingin sholat tahajud saja sekarang.

Ku nyalakan lampu ruang tamu. Dan segera ku langkahkan kaki melewati kamar Bapak, hendak menuju ke kamar mandi untuk berwudhu.

Namun, saat aku di depan kamar Bapak, ku lihat pintu kamarnya sedikit terbuka dari dalam.

Aku mengintip sebentar, lampu kamarnya tidak menyala. Tapi, bisa ku lihat Bapakku sedang tertidur pulas di atas kasurnya.

Ku tutup saja pintunya dengan rapat pelan-pelan.

Dan kembali ku melangkah menuju kamar mandi. Segera mencuci muka terlebih dahulu, kemudian mengambil wudhu.

Alhamdulillah...

Setelah merasakan segarnya air wudhu itu, batin dan pikiranku bisa lebih tenang sekarang.

Ketika aku hendak kembali ke kamar, baru saja aku sampai di depan pintu dapur menuju ruang tamu, tiba-tiba...

Langkahku terhenti seketika.

Saat ku sadar bahwa lampu ruang tamuku sudah mati dengan sendirinya.

Namun, sedetik kemudian...

Kedua mataku memandang lurus ke arah kursi ruang tamu.

Dengan sangat jelas, di pandangan kedua mataku yang secara otomatis aktif penglihatan ghoibku ini, sudah hadir satu sosok di sana.

Bukan Dayang Putriku.

Bukan juga Sekar Mayangku.

Melainkan, sosok wanita bermahkota hitam itu.

"Sejak kapan... Dia hadir di sana?" gumamku seketika.

Jujur, sangat jujur, aku bisa merasakan energi dari sosok wanita bermahkota hitam itu, sangatlah besar.

Bahkan, mungkin lebih besar dari Dayang Putri dan Sekar Mayangku.

Akan tetapi, aku sama sekali tak merasakan adanya sebuah aura yang mengancam darinya.

Tak ada aura yang mencekam.

Tak ada pula aura yang berbahaya.

Justru, aku merasakan bahwa auranya adalah aura sesosok pelindung. Aura pelindung yang sama seperti dua perewanganku itu.

Ku langkahkan saja kedua kakiku mendekatinya.

Dengan perasaan penuh tanda tanya, dan juga perasaan yang bisa tenang.

Di tengah suasana ruang tamu yang gelap, hanya ada sinar lampu yang menembus jendela dan gorden dari arah teras depan, dan juga dari samping rumah, aku sudah berdiri tepat di tengah ruang tamu.

Ku tatap saja wajah sosoknya.

Dengan jelas, bisa ku lihat ekspresi wajahnya begitu tenang.

Bahkan sangat terasa tenang.

Kedua matanya yang persis seperti mata manusia. Hitam dan putih.

Kulit wajahnya yang juga seperti manusia. Cokelat tipis, dominan putih bersih.

Bibirnya yang seperti memakai lipstik berwarna hitam

Baju kebaya yang berwarna hitam, dipadukan dengan kain jarik batik cokelat tua yang menutupi tubuh bawahnya.

Dan, akhirnya...

Aku bertanya pada sosok itu.

"Jelaskan padaku, siapa kamu sebenarnya?"

Sosok itu tak langsung menjawab, justru ia malah menatap wajahku dengan tatapan mata yang terasa tajam. Terasa begitu besar energinya bagiku.

Lalu, ia tersenyum tipis.

Kemudian, perlahan-lahan, ia berdiri dari kursi ruang tamuku.

Dan, perlahan-lahan...

Ia berjalan mendekat padaku.

Sampai, jarak antara diriku dan sosok itu, hanya satu langkah saja.

Wajah kami saling berhadapan. Saling memandang lurus.

Ku beranikan diri untuk terus menatap kedua matanya.

Namun, semakin berani juga ia menatap kedua mataku.

Entahlah... Bagaimana aku menjelaskan semua perasaan ini.

Aku sampai sedikit gemetar berdiri di depannya.

Batinku, mulai merasa sedikit gentar. Tapi, sama sekali aku tak takut.

Kemudian...

Tangan kanannya yang putih bersih itu, mulai ia angkat pelan.

Dan, ia menyentuh pipi kananku.

Langsung terasa di pipi kananku itu, tangannya yang sedingin es.

Dan, semakin terasa besar energinya bagiku.

Napasku mulai sedikit memburu.

Jantungku mulai berdebar kencang.

Semakin gemetar tubuhku.

Sungguh, sebuah energi yang jauh berada di atas energi Dayang Putri dan Sekar Mayangku.

Dan, sedetik kemudian, seolah ia tahu apa yang ku rasakan sekarang, ia berkata dengan suara yang sangat lembut, persis seperti suara dua perewanganku.

"AKU... SEKAR ARUM..."

Dan seketika itu juga...

Kedua matanya bersinar...

Memancarkan warna kuning keemasan dari pupil tengah matanya...

Dan juga, langsung muncul satu selendang kuning keemasan, mengalungi pundaknya, menjulur ke bawah.

Selendang yang sama persis seperti milik Dayang Putri dan Sekar Mayang.

Lalu, sosok yang bernama Sekar Arum itu kembali berkata.

"BELUM SAATNYA KAU TAHU SIAPA DIRIKU, BERSABARLAH... KARENA... AKU AKAN SELALU MENJAGA ANAKMU..."

Sejenak ia berhenti bicara, namun tangan kanannya masih menyentuh pipi kananku.

Dan, ia berkata lagi.

"AKU SAMA SEPERTI MEREKA NISA... JADI, JANGANLAH KAMU MERASA TAKUT DENGANKU..."

Dan, seketika setelah ia berucap begitu, tiba-tiba saja...

Tanpa ku sadari...

Dayang Putri dan Sekar Mayang, sudah berdiri di kanan dan kiriku.

Dua perewanganku itu juga menatap tajam ke arah Sekar Arum.

Sungguh, sangat sulit ku jelaskan...

Aku berdiri di tengah tiga sosok ghoib (perewangan), yang memiliki aura dan energi begitu besar.

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!