"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG-BAYANG DIBALIK RUMAH ALVERIC
PROLOG
Malam di Jakarta Selatan tidak pernah benar-benar hening. Di balik gerbang besi tempa yang menjulang tinggi dan deretan lampu taman bergaya Eropa klasik, kediaman keluarga Alveric berdiri megah di sebuah benteng kemewahan yang dari luar tampak sempurna bagaikan lukisan. Namun, di dalam ruangan dengan arsitektur modern minimalis yang hangat itu, perfection hanyalah etalase yang ditata sedemikian rupa.
Nayla Lauren Alveric duduk di tepi jendela kamarnya yang berukuran separuh dinding di lantai dua. Tangannya menggenggam cangkir teh chamomile yang perlahan kehilangan hangatnya. Tatapannya tertuju pada pepohonan ceri buatan di halaman bawah yang kelopaknya berguguran diterpa angin malam dengan pemandangan yang selalu mengingatkannya pada Seoul, tempat di mana separuh jiwanya seolah tertinggal.
Bagi orang luar, menjadi seorang Nayla adalah sebuah keberkahan tanpa cela. Lahir sebagai bagian dari trah Alveric yang tersohor di dunia bisnis dan hukum, hidupnya terjamin sejak napas pertamanya. Namun, menjadi bagian dari keluarga ini juga berarti harus belajar bernapas di bawah tekanan ekspektasi yang menyesakkan.
DINAMIKA DIBALIK MEJA MAKAN
Aroma black truffle steak dan sup asparagus hangat menyeruak di ruang makan keluarga Alveric. Meja kayu mahoni panjang itu menjadi saksi bisu dari rutinitas malam yang tak pernah alpa: makan malam bersama. Sebuah aturan tak tertulis yang diciptakan sang kepala keluarga demi menjaga kerukunan atau setidaknya, formalitas.
Di ujung meja, duduk Alexander Lauren Alveric, sang ayah. Pria paruh baya dengan garis wajah tegas, tatapan tajam yang mampu mengintimidasi lawan bisnisnya di meja perundingan, dan pembawaan yang selalu tenang namun dominan. Alex adalah sosok pendiri Alveric Group yang tak pernah menoleransi kegagalan. Baginya, nama baik keluarga adalah mahkota yang harus dijaga tanpa cacat. Setiap helai rambutnya yang mulai memutih justru mempertegas wibawa seorang patriarch yang tak terhentikan.
"Bagaimana progres ekspansi pasar di Singapura, Adrian?" suara Alex memecah keheningan, dalam dan berwibawa, tanpa berpaling dari piringnya.
Di sisi kanan meja, Adrian Kenzie Alveric, putra sulung sekaligus penerus takhta Alveric Group, meletakkan pisau dan garpunya dengan tenang. Berusia 26 tahun, Adrian adalah cerminan sempurna dari sang ayah: berdingin dingin, rasional, dan selalu berpenampilan rapi dengan kemeja terukur sempurna. Di mata dunia bisnis, Adrian adalah si genius tak tersentuh. Di mata Nayla, kakak tertuanya itu adalah pilar pelindung yang terbiasa menyembunyikan lelahnya di balik wajah tanpa ekspresi.
"Semuanya berjalan sesuai rencana, Ayah. Tanda tangan kontrak diselesaikan akhir pekan ini," jawab Adrian singkat, padat, dan penuh kepastian. Alex hanya mengangguk pelan, sebuah gestur kepuasan yang amat langka.
"Bisnis terus. Sekali-kali tanyakan kabar anak-anakmu saat makan malam, Mas," tegur sebuah suara lembut namun memiliki ketegasan tersendiri.
Itu adalah Eleanor Sarah Alveric, sang bunda. Wanita anggun dengan tutur kata halus, paras cantik menawan yang diturunkan penuh kepada Nayla, dan senyum yang selalu hangat. Eleanor adalah mantan pianis konser internasional yang memilih memfokuskan hidupnya untuk merawat keluarga. Dialah penyeimbang di rumah yang dingin ini, sosok yang selalu tahu kapan anak-anaknya membutuhkan pelukan tanpa perlu bertanya. Tatapan matanya yang teduh menyapu satu per satu wajah buah hatinya, sebelum tertuju pada putra keduanya.
"Dan kamu, Julian... Kenapa ponselmu terus bergetar dari tadi?" tanya Eleanor lembut.
Julian Tristan Alveric, putra kedua keluarga Alveric yang berusia 22 tahun, langsung tersenyum manis jenis senyuman playboy ulung yang biasa meluluhkan hati para wanita. Berbeda jauh dengan Adrian yang kaku dan formal, Julian adalah sosok yang bebas, berjiwa seni, dan bertindak sebagai photographer serta pengusaha muda di bidang kreatif. Dengan gaya pakaian yang sedikit lebih santai dan rambut yang sedikit acak-acakan tapi tetap terlihat charming, Julian adalah warna paling cerah di rumah ini.
"Biasa, Bunda. Klien foto untuk project majalah minggu depan. Agak rewel," kekeh Julian santai, lalu mengerlingkan matanya ke arah Nayla yang duduk di seberangnya. "Atau mungkin fans-fansku yang kangen. Ya, kan, Nay?"
Nayla hanya mendengus pelan, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Julian selalu tahu cara mencairkan suasana yang kaku.
"Jangan membiasakan membawa urusan luar ke meja makan, Julian," pangkas Alex tegas, namun tak benar-benar marah. Ia tahu putra keduanya memiliki jalannya sendiri yang tak bisa dipaksa masuk ke dalam cetakan korporat.
Di sebelah Nayla, suara sendok yang beradu nyaring dengan piring menarik perhatian semua orang. Si bungsu, Aora Lauren Alveric, baru saja memasukkan potongan daging besar ke dalam mulutnya dengan pipi yang menggembung. Usianya baru 12 tahun, masih duduk di bangku SMP, dan menjadi satu-satunya anggota keluarga yang belum tersentuh oleh kerumitan dunia dewasa.
"Aora, makan yang sopan, Sayang," tegur Eleanor sambil menyodorkan serbet.
"Maaf, Bunda. Aora lapar banget, tadi di sekolah ada latihan cheerleader" sahut Aora dengan polos, matanya yang bulat besar menatap sang bunda tanpa dosa. Aora adalah kesayangan seluruh rumah, manja, ceria, dan selalu menjadi alasan kenapa suasana rumah Alveric tidak sepenuhnya membeku.
Nayla memperhatikan interaksi itu dalam diam. Sebagai anak ketiga anak perempuan tertua ia sering berada di posisi serba salah. Ia tidak sekompeten Adrian dalam bisnis, tidak sebebas Julian dalam mengejar mimpi, dan tidak seleluasa Aora yang masih bisa bermanja-manja.
Nayla adalah siswi SMA yang dituntut untuk selalu tampil sempurna: anggun, berprestasi, dan tidak membawa cela. Di balik penampilannya yang cantik bagaikan boneka porselen dan sikapnya yang santun, Nayla menyimpan dunianya sendiri. Dunia yang penuh dengan rahasia, kecemasan, dan rasa sepi yang tak tersampaikan.
"Nayla," panggil Alex tiba-tiba, membuat Nayla tersentak kecil dari lamunannya.
"Ya, Ayah?" jawab Nayla cepat, berusaha mempertahankan posisi duduknya agar tetap tegap.
"Bagaimana persiapan ujian semestermu di sekolah? Dan... bagaimana perkembangan hubungan kekeluargaan kita dengan keluarga Mahendra? Ayah mendengar dari Om Kael bahwa Zavier satu sekolah lagi denganmu."
Mendengar nama itu—Zavier—jantung Nayla mendadak berdegup kencang secara tidak teratur. Nama yang selalu berhasil mengacaukan ritme napasnya. Nama pria yang berada begitu dekat dengannya di sekolah, duduk hanya berjarak beberapa baris meja, namun terasa jutaan mil jauhnya dari jangkauan hatinya.
"Semua... berjalan baik, Ayah," sahut Nayla pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Ujian Nayla siap. Dan soal Zavier... kami sebatas saling menyapa di sekolah."
Julian menatap adiknya dengan alis terangkat sebelah, menyadari ada perubahan raut wajah pada Nayla yang tak disadari oleh orang tua mereka. Sebagai kakak yang paling dekat secara emosional dengan Nayla, Julian tahu ada sesuatu yang disembunyikan adiknya.
"Bagus kalau begitu," balas Alex tenang. "Keluarga Mahendra adalah mitra terpenting Alveric saat ini. Jaga hubungan baik itu."
Makan malam berlanjut dengan pembicaraan formal seputar bisnis dan agenda mingguan. Nayla kembali menunduk, mengaduk supnya yang kini sudah dingin. Di balik senyum tipis yang ia sunggingkan untuk merespons gurauan Aora, pikiran Nayla melayang jauh keluar jendela, menembus pekatnya malam kota Jakarta, tertuju pada satu sosok yang bayangannya selalu menghantuinya.
Mereka berada di langit yang sama, menghirup udara yang sama, dan terikat oleh takdir keluarga yang saling bertautan. Begitu dekat di mata... namun terasa sangat jauh di hati.
kekny zavier ini tipe aku 🤭