NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:100.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Tikus Putih

Dua hari.

Pak Bambang benar-benar memberi Rangga dua hari.

Selama dua hari, Rangga memegang kunci laboratorium farmasi rumah sakit, akses reagen dasar, satu lemari pendingin kecil, dan catatan pengawasan yang harus ditandatangani setiap enam jam.

"Kalau ada satu langkah saja yang tidak bisa dijelaskan," kata Pak Bambang sebelum meninggalkan ruangan, "eksperimen ini berhenti."

Rangga mengangguk. "Saya paham, Pak."

"Dan obat ini belum boleh menyentuh pasien."

"Saya tidak akan melanggar itu."

Pak Bambang menatapnya lama. Wajah dokter senior itu keras, tetapi matanya tidak menyimpan keraguan seperti kemarin. Ia sudah terlalu sering melihat Rangga melakukan hal yang seharusnya mustahil.

"Baik. Buktikan."

Pintu laboratorium tertutup.

Di balik kaca buram itu, dunia Rangga menyempit menjadi meja stainless, tabung steril, larutan bening, cahaya lampu putih, dan formula Trombosin Plus yang berputar di dalam kepalanya seperti peta yang sudah jadi.

Ia tidak melihat sistem.

Ia tidak mendengar suara dingin itu.

Tetapi setiap kali tangannya bergerak, ia tahu mana cairan yang terlalu pekat, mana suhu yang terlalu tinggi, mana tahapan yang harus ditahan beberapa menit lebih lama. Pengetahuan itu tidak datang seperti hafalan. Ia terasa seperti naluri seorang ahli yang sudah menghabiskan puluhan tahun di laboratorium.

Ekstraksi bahan aktif mengisi jam pertama. Pemurnian dimulai dua jam kemudian, lalu tahap stabilisasi berjalan pada jam keenam.

Di luar, UGD masih berisik. Sirene datang dan pergi. Nama pasien dipanggil lewat pengeras suara. Seorang perawat beberapa kali mengetuk pintu untuk memastikan ia belum pingsan.

Rangga hanya menjawab singkat, lalu kembali menunduk.

Menjelang malam, pintu terbuka pelan.

dr. Alya berdiri di sana membawa satu kantong makanan dan dua botol air mineral.

"Aku tahu kamu pasti lupa makan," katanya.

Rangga mengangkat kepala. Baru saat itu ia sadar perutnya kosong sejak pagi.

"Terima kasih, Dokter."

"Kalau di luar kamar pasien kamu bisa panggil Alya."

Kalimat itu ringan, tetapi membuat tangan Rangga berhenti setengah detik.

dr. Alya menaruh makanan di sudut meja yang bersih, jauh dari area kerja. Ia tidak banyak bertanya. Ia hanya melihat tabung-tabung kecil di depan Rangga, lalu menatap wajahnya yang pucat karena kurang tidur.

"Jangan mati sebelum obatmu jadi," katanya pelan.

Rangga hampir tersenyum.

"Saya belum sempat mati, Alya. Pak Karto masih menunggu."

Nama Pak Karto membuat suasana kembali berat.

dr. Alya mengangguk. "Aku jaga bangsalnya malam ini. Kalau ada perubahan, aku kabari."

"Terima kasih."

Ketika pintu tertutup lagi, Rangga membuka makanan itu, makan dalam lima menit, lalu kembali ke meja.

Tengah malam, cairan pertama selesai.

Warnanya hampir tidak menarik perhatian: bening, sedikit kental, dan tanpa bau tajam seperti obat suntik biasa. Perubahan baru tampak ketika Rangga meneteskan sedikit cairan ke sampel trombus untuk uji awal.

Gumpalan gelap di bawah kaca objek mulai retak.

Retakan itu menyebar seperti es tipis yang disentuh air panas.

Satu menit.

Dua menit.

Bagian yang sebelumnya padat berubah menjadi partikel halus, lalu larut dalam medium tanpa meninggalkan serpihan kasar.

Rangga menahan napas.

Ia mengganti preparat, menguji ulang dengan konsentrasi lebih rendah, lalu memeriksa sel darah di sampel terpisah.

Eritrosit tetap utuh.

Trombosit tidak pecah liar.

Tidak ada tanda kerusakan masif pada komponen darah.

Rangga meletakkan kedua tangannya di pinggir meja.

"Berhasil," bisiknya.

Itu baru uji awal.

Masih terlalu dini untuk menyebutnya obat.

Untuk pertama kalinya sejak serangan Pak Karto berulang, Rangga melihat cara memukul sumber masalahnya dan menghentikan ancaman kematian.

Pagi berikutnya, Pak Bambang datang dengan mata merah.

"Kamu tidur?"

"Dua puluh menit."

"Itu bukan tidur. Itu berkedip panjang."

Rangga menunjuk mikroskop. "Pak, lihat ini."

Pak Bambang menunduk.

Semenit kemudian, ia tidak lagi bercanda.

"Ini sampel yang sama?"

"Sampel trombus yang disiapkan dari bank sampel laboratorium. Saya sudah ulang enam kali dengan variasi konsentrasi."

"Dan darahnya?"

"Komponen darah tetap stabil pada pengamatan awal."

Pak Bambang mundur satu langkah. Ia menatap tabung kecil berisi Trombosin Plus seperti menatap sesuatu yang bisa meledakkan sejarah medis.

"Rangga, ini harus diuji di luar rumah sakit. Dengan protokol hewan. Dengan orang yang mengerti biologi farmasi."

"Saya punya satu orang."

"Siapa?"

"Kevin Halim. Teman kuliah saya."

Pak Bambang mengerutkan dahi. "Bisa dipercaya?"

"Dia lebih cerewet soal data daripada saya."

"Kalau begitu, telepon sekarang."

Kevin datang sore itu ke sebuah warung tenda kecil di dekat rumah sakit, mengenakan kemeja kusut dan membawa tas laptop yang terlihat terlalu berat. Begitu duduk, ia langsung menatap Rangga seperti menatap orang yang baru meminta bantuannya menyelundupkan bulan.

"Lo bilang punya kandidat obat trombolitik baru."

"Ya."

"Rangga, gue kerja di biologi farmasi. Kandidat obat tidak bisa dibuat seperti kopi. Ada skrining, toksisitas, stabilitas, hewan coba, uji klinis, BPOM. Bisa bertahun-tahun."

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa muka lo santai?"

Rangga mengeluarkan map tipis.

Di dalamnya ada foto mikroskop, catatan pengamatan, kurva pelarutan awal, dan ringkasan formula yang sudah disamarkan di bagian sensitif.

Kevin membaca sambil makan dua sendok. Sendok ketiga tidak pernah sampai ke mulut.

"Ini data asli?"

"Asli."

"Enam kali pengulangan?"

"Enam."

"Komponen darah stabil?"

"Pengamatan awal, iya. Belum bisa disimpulkan tanpa uji lanjutan."

Kevin menurunkan kertas. Matanya yang tadi sinis berubah menjadi tajam.

"Lo sadar kalau ini benar, perusahaan besar bisa saling bunuh buat pegang haknya?"

"Karena itu aku butuh orang yang bukan cuma pintar, tapi juga tidak mudah dibeli."

"Jangan muji gue. Gue belum bilang iya."

"Kita bentuk perusahaan sendiri."

Kevin tertawa pendek. "Dengan modal apa? Doa ibu?"

Rangga menatapnya tenang. "Aku punya dana awal. Cukup untuk mendirikan PT, menyewa fasilitas, dan membayar uji awal. Nama perusahaannya PT Nusantara BioFarma."

Kevin berhenti tertawa.

Angin malam menggoyang plastik bening di sisi warung. Di meja sebelah, orang-orang masih membicarakan harga bensin dan jadwal bola. Tidak ada yang tahu bahwa di meja kecil itu, sebuah perusahaan yang kelak mengguncang dunia obat sedang lahir dari dua piring makan malam sederhana.

"Lo serius?" tanya Kevin.

"Aku tidak pernah seserius ini."

"Hak paten?"

"Kita susun setelah uji awal. Bagian ilmiah dan produksi kamu pimpin. Klinik dan arah medis aku tanggung. Kepemilikan kita atur adil."

Kevin menatap data itu lagi. Lama sekali.

Lalu ia menghela napas.

"Gila. Gue harusnya menolak."

"Tapi?"

"Tapi kalau ini benar dan gue menolak, seumur hidup gue bakal menyesal."

Rangga mengulurkan tangan.

Kevin menyambutnya.

"PT Nusantara BioFarma," kata Kevin pelan, seolah mencoba rasa nama itu di lidahnya. "Jangan sampai lo bikin gue masuk penjara, Rangga."

"Kita jalan lewat aturan."

"Bagus. Karena mulai malam ini, gue yang akan cerewet soal aturan."

Malam itu juga, Kevin menghubungi Rini dan Andi, dua peneliti yang biasa menangani uji hewan di sebuah laboratorium biologi di Kota Cakrawala.

Sampel Trombosin Plus dikirim dengan rantai dingin, disertai dokumen sumber, kode batch sementara, dan catatan keamanan. Pak Bambang menandatangani surat pengantar sebagai saksi medis dari RSUD Harapan Bangsa, tetapi ia menulis satu kalimat dengan huruf tebal:

Belum untuk penggunaan manusia.

Rini membaca data awal dengan kening berkerut.

"Pak Kevin, ini klaimnya terlalu bersih."

Andi yang sedang memeriksa daftar tikus putih bahkan tertawa kecil.

"Biasanya kalau klaimnya terlalu indah, masalahnya muncul di jam keenam."

Kevin tidak tersinggung. "Makanya kita lihat jam keenam, jam kedua belas, dan jam kedua puluh empat."

Rangga berdiri di balik kaca observasi. Ia melihat tikus-tikus putih itu, kecil, rapuh, tidak tahu bahwa hidup mereka sedang menjadi gerbang antara formula di kepala seorang dokter muda dan harapan ribuan pasien.

Ia tidak merasa bangga.

Ia merasa berat.

Ilmu selalu meminta pembuktian. Dan pembuktian, kadang, tidak pernah terasa bersih sepenuhnya.

Pak Bambang berdiri di sampingnya.

"Kamu masih bisa berhenti."

Rangga menggeleng. "Kalau kita berhenti di sini, Pak Karto mungkin tidak punya waktu."

Protokol dimulai.

Kelompok kontrol, kelompok dosis rendah, dosis sedang, dosis tinggi. Semua dicatat. Tidak ada teriakan kemenangan. Tidak ada janji. Hanya jam dinding, grafik monitor kecil, dan mata lelah para peneliti.

Jam keenam.

Rini keluar dengan laporan pertama.

"Trombus mengecil signifikan. Tidak ada tanda perdarahan abnormal."

Jam kedua belas.

Andi membuka pintu dengan wajah yang lebih pucat daripada sebelumnya.

"Kelompok dosis sedang menunjukkan pelarutan hampir penuh. Fungsi gerak normal. Nafsu makan tetap ada."

Kevin memaki pelan. Data di depannya terlalu bagus untuk segera dipercaya.

Jam kedua puluh empat.

Rini meletakkan laporan akhir di meja.

Tangannya sedikit gemetar.

"Trombus larut total pada kelompok efektif. Pemeriksaan awal organ tidak menunjukkan kerusakan. Parameter darah stabil. Tidak ada efek samping teramati dalam periode uji."

Ruangan itu sunyi.

Bahkan mesin pendingin terdengar terlalu keras.

Andi melepas sarung tangannya, lalu menatap Rangga.

"Dokter, saya sudah ikut banyak uji hewan. Saya belum pernah melihat obat trombolitik bekerja sebersih ini."

Kevin menatap laporan, lalu menatap Rangga.

Kali ini tidak ada candaan.

"Rangga," katanya serak, "kita tidak sedang membangun perusahaan kecil. Kita sedang memegang bom nuklir medis."

Pak Bambang menyambar laporan itu dan membacanya tiga kali.

"Laporkan ke BPOM," katanya akhirnya.

Rini ragu. "Sekarang, Pak?"

"Sekarang. Kalau data ini benar, setiap jam penundaan punya harga nyawa."

Laporan awal dikirim melalui jalur resmi. Nama Bu Farah muncul di ujung koordinasi, seorang pejabat BPOM yang dikenal tidak mudah terkesan dan lebih sering mencoret dokumen daripada memuji penelitian.

Tiga jam kemudian, mobil dinas berhenti di depan laboratorium.

Bu Farah masuk dengan jas kerja rapi, rambut terikat, dan map kosong di tangan. Ia tidak banyak basa-basi. Ia meminta data mentah, catatan batch, rekaman observasi, foto mikroskop, dan log suhu penyimpanan.

Rini menjawab satu per satu.

Andi menunjukkan kandang observasi.

Kevin menjelaskan rencana pendirian PT Nusantara BioFarma dan batas penggunaan bahan uji.

Pak Bambang menegaskan, "Belum ada penggunaan pada manusia. Kami menunggu jalur resmi."

Bu Farah mengangguk tipis, lalu membuka laporan terakhir.

Kevin membaca tiga halaman pertama tanpa mengangkat kepala.

Semakin jauh ia membaca, semakin dalam kerutan di dahinya.

Akhirnya ia melepas kacamatanya.

Ruangan itu menahan napas.

"Ini... ini tidak mungkin. Obat seperti ini seharusnya memerlukan puluhan tahun riset dan miliaran rupiah."

Ia mengangkat wajah, menatap Rangga langsung.

"Siapa sebenarnya kamu?"

1
Hasan Basri
kagum untuk rangga, maju terus
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!