Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Pedang yang Menelan Takdir
BOOM... BOOM...
Setiap langkah kaki Penjaga Makam Elite mengguncang seluruh gua bawah tanah.
Tubuh raksasanya terbungkus zirah hitam. Zirah itu memantulkan cahaya redup dari lumut di dinding batu.
Pedang raksasa di tangannya diseret di atas lantai batu. Suara gesekannya memilukan telinga.
GREEEK...
Bulu kuduk Lin Yuan meremang. Dia merasakan aura kematian yang sangat pekat dari pedang itu.
Di belakang Penjaga Elite, delapan puluh Penjaga Makam yang tersisa berdiri diam. Mereka tidak bergerak.
Mereka seperti menunggu raja mereka bertarung. Mereka memberi hormat kepada yang terkuat di antara mereka.
Lin Yuan mengatur napasnya yang memburu. Kedua tangannya menggenggam pedang besi dengan erat.
Tubuhnya dipenuhi luka baru, tapi sorot matanya tetap tenang dan fokus.
Suara sistem bergema di dalam benaknya.
[Target terkunci. Penjaga Makam Elite. Kekuatan setara Pengumpul Qi Tingkat Ketiga.]
[Peluang kemenangan Tuan hanya 3%. Tingkat ancaman ekstrem.]
Lin Yuan tersenyum tipis mendengar laporan itu.
"Tiga persen ya..." bisiknya pelan.
"Itu jauh lebih baik daripada tidak ada peluang sama sekali."
Lelaki tua berjubah hitam mengamati dari kejauhan. Tatapannya penuh rasa ingin tahu.
Sudah sangat lama dia tidak melihat seseorang yang masih bisa tersenyum saat peluang hidupnya hanya sedikit.
Penjaga Makam Elite perlahan mengangkat pedang raksasanya. Aura hitam pekat berkumpul di sekeliling bilah pedang.
Udara di dalam gua mendadak menjadi berat. Setiap tarikan napas Lin Yuan terasa menyesakkan dada.
Lututnya sedikit bergetar. Bukan karena takut, tapi karena tekanan aura yang menghantam tubuhnya.
Retakan kecil muncul di lantai batu di bawah kakinya. Itu menunjukkan betapa dahsyatnya energi yang terkumpul.
"Kuat sekali..." batin Lin Yuan.
"Kekuatannya jauh lebih besar dari Zhao Feng."
Belum selesai berpikir,
WHOOSH!
Penjaga Makam Elite menghilang dari pandangan dalam sekejap.
Mata Lin Yuan membelalak. "Cepat sekali!"
[Serangan dari atas! Segera menghindar ke samping!]
Lin Yuan menghentakkan kakinya ke samping dengan sisa kekuatannya.
Detik berikutnya,
DUAAAAAR!
Pedang raksasa menghantam tempat Lin Yuan berdiri tadi dengan kekuatan dahsyat.
Lantai gua langsung terbelah menjadi dua. Gelombang kejut menghancurkan batu-batu di sekitarnya menjadi debu.
Tubuh Lin Yuan terpental puluhan meter akibat hempasan angin dari ledakan itu.
BUUK!
Punggungnya menghantam pilar batu besar hingga pilar itu retak.
"UGH..." darah segar mengalir dari mulutnya.
Sebelum sempat berdiri, Penjaga Makam Elite sudah berada tepat di depannya. Pedangnya terangkat tinggi.
Lin Yuan mengangkat pedang besinya untuk menahan.
CLAAAAANG!
Benturan keras mengguncang kedua lengan Lin Yuan. Pedang besi di tangannya melengkung hampir patah. Kedua kakinya membelah lantai batu karena terdorong.
Rasa kebas menjalar dari telapak tangan sampai ke bahunya. Pegangannya menjadi goyah.
"Mustahil... tenaganya terlalu besar untuk ditahan langsung," bisik Lin Yuan dengan napas tersengal.
[Peringatan! Kerusakan senjata mencapai 68%. Hindari benturan langsung dengan pedang raksasa.]
Lin Yuan melompat mundur untuk menciptakan jarak. Tapi Penjaga Makam Elite tidak memberi kesempatan.
WHOOSH!
Pedang raksasa kembali berayun. Sebuah tebasan hitam berbentuk bulan sabit melesat keluar.
Kecepatannya jauh melebihi ayunan pedang biasa. Mata Lin Yuan menyipit mencoba membaca arah serangannya.
Dia memutar tubuhnya sekuat tenaga.
SWISH!
Gelombang pedang itu nyaris menyentuh dadanya. Hanya berjarak beberapa milimeter dari kulit.
Bagian depan jubahnya robek dan kulit di dadanya tergores tipis.
Jika dia terlambat setengah napas saja, tubuhnya pasti sudah terbelah dua.
Lin Yuan menatap bekas tebasan itu dengan ngeri.
Dinding gua yang ratusan langkah di belakangnya kini telah terbelah lurus. Daya hancurnya luar biasa.
"Begitu kuatkah perbedaan antara Tubuh Fana dan Pengumpul Qi?" bisiknya sambil menahan sakit.
Untuk pertama kalinya, Lin Yuan merasakan jurang kekuatan yang sangat besar antara dirinya dan lawannya.
Lelaki tua berjubah hitam menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau hanya mengandalkan kekuatan kasar, kau tidak akan pernah menang."
Seolah mendengar ucapan itu, Gerbang Pemakan Takdir di dalam kesadaran Lin Yuan kembali bergetar hebat.
KLANG!
Salah satu rantai emas yang retak mulai memancarkan cahaya hitam yang misterius.
Suara sistem berubah menjadi lebih dalam dan berat.
[Energi Takdir mencukupi syarat minimum. Mencoba membuka otoritas tersembunyi Gerbang Pemakan Takdir.]
Mata Lin Yuan membelalak. "Membuka kemampuan baru?"
Belum sempat bertanya lebih jauh, Penjaga Makam Elite kembali melangkah maju. Tekanan auranya meningkat dua kali lipat.
Seluruh gua berguncang hebat seolah akan runtuh. Bahkan delapan puluh Penjaga Makam di belakangnya berlutut memberi hormat kepada rajanya.
Pedang raksasa itu terangkat kembali untuk serangan berikutnya.
Naluri Lin Yuan berteriak keras. Serangan ini akan jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
Penjaga Makam Elite mengayunkan pedangnya dengan gerakan yang tidak terlalu cepat tapi penuh tekanan energi.
Udara di sekitarnya bergetar. Lin Yuan menggertakkan giginya sambil mencari celah untuk bertahan.
Naluri bertarungnya berkata serangan ini tidak boleh ditangkis langsung.
WHOOM!
Pedang raksasa turun menghantam lantai gua dengan ledakan energi yang luar biasa.
Lantai gua meledak hancur. Batu-batu sebesar kereta kuda beterbangan ke segala arah.
Lin Yuan menghentakkan kakinya sekuat tenaga, melesat ke samping tepat sebelum ledakan itu mengenai tubuhnya.
Ledakan itu hanya berjarak beberapa jengkal darinya, tapi gelombang kejutnya tetap menghantam tubuhnya dengan keras.
BUUK!
Lin Yuan terpental puluhan meter. Pedang besi di tangannya terlepas dan menghunjam tanah.
"UGH..." darah segar kembali menyembur dari mulutnya yang pucat. Tubuhnya semakin berat untuk digerakkan.
Suara sistem terdengar semakin cepat.
[Vitalitas tersisa 18%. Kerusakan organ dalam meningkat. Proses membuka otoritas Gerbang mencapai 32%.]
Penjaga Makam Elite tidak memberi kesempatan untuk bernapas. Dia kembali mengangkat pedang raksasanya dengan tenang.
Mata birunya yang dingin menatap Lin Yuan tanpa emosi. Seolah dirinya hanyalah seekor semut.
Lin Yuan memaksa dirinya berdiri kembali. Tangannya gemetar saat mencabut pedang besinya dari tanah yang hancur.
"Aku... belum selesai denganmu!" teriaknya dengan tekad, meski tubuhnya sudah di ambang batas.
BOOM!
Penjaga Makam Elite menghilang lagi dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Insting Tempur kesulitan mengikuti.
[Peringatan! Lintasan serangan target berubah mendadak! Menghitung ulang lintasan!]
Lin Yuan terkejut. Berubah? Lawannya mampu mengubah arah serangan pedang di tengah ayunan.
CLAAANG!
Lin Yuan nyaris berhasil menangkis, tapi ayunan pedang raksasa itu tiba-tiba berbelok dengan lincah.
Ujung bilah pedang menggores bahu kanan Lin Yuan dengan dalam.
SRET!
Darah segar langsung muncrat.
Tubuh Lin Yuan berputar beberapa kali di udara sebelum jatuh berlutut dengan napas tersengal.
Pedang besinya kini dipenuhi retakan halus. Senjata itu hampir mencapai batas kekuatannya.
Lelaki tua berjubah hitam menghela napas pelan.
"Kalau hanya mengandalkan insting tempur dasar, kau pasti akan mati hari ini. Tunjukkan padaku, mengapa Gerbang Agung itu memilihmu."
Lin Yuan menundukkan kepalanya. Napasnya memburu hebat sementara darah terus menetes ke lantai batu yang dingin.
Di dalam lautan kesadarannya, Gerbang Pemakan Takdir bergetar semakin keras. Suara dentingan rantai memekakkan jiwa.
KLANG! KLANG!
Retakan pada rantai emas pertama semakin melebar, memancarkan cahaya hitam yang pekat.
Suara sistem berubah menjadi sangat dalam dan berwibawa, seolah berasal dari zaman kuno yang sudah lama terlupakan.
[Energi Takdir mencukupi syarat. Membuka Otoritas Gerbang... Proses mencapai 84%. Kemampuan baru akan segera aktif.]
Penjaga Makam Elite telah tiba tepat di depan Lin Yuan. Pedang raksasanya terangkat tinggi untuk serangan penghabisan.
Aura hitam memenuhi seluruh gua, sementara delapan puluh Penjaga Makam lainnya tetap berlutut dengan penuh hormat.
Lin Yuan perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya masih dipenuhi tekad baja yang tidak goyah.
"Aku tidak pernah hidup dengan mengandalkan peluang," ucapnya sambil mengepalkan tangan kirinya dengan kuat.
"Aku sendiri yang akan menciptakan peluangku!"
Saat kalimat itu bergema, rantai emas pertama di dalam jiwanya akhirnya pecah berkeping-keping.
KRAAAK!
Seluruh lautan kesadarannya dipenuhi cahaya hitam yang menyilaukan, sementara Gerbang Pemakan Takdir perlahan terbuka sedikit.
Hanya selebar satu jari, tapi dari celah kecil itu keluar seberkas cahaya hitam yang langsung masuk ke mata Lin Yuan.
Mata kanannya berubah menjadi hitam pekat secara total, dengan pupil yang menampilkan sebuah gerbang kecil yang terus berputar.
Suara sistem bergema memenuhi seluruh benaknya.
[Kemampuan Baru Berhasil Dibuka: Mata Takdir. Aktif selama tiga tarikan napas. Gunakan dengan bijak untuk membalikkan keadaan!]
Dalam sekejap, dunia di penglihatan Lin Yuan berubah drastis. Dia tidak lagi melihat Penjaga Makam Elite seperti sebelumnya.
Di sekeliling tubuh raksasa itu muncul ribuan benang tipis berwarna emas dan hitam yang saling bersilangan dengan rumit.
Namun, hanya ada satu benang yang memancarkan cahaya merah yang sangat terang di mata kanannya.
Benang merah itu menunjukkan lintasan serangan berikutnya secara akurat. Bibir Lin Yuan perlahan terangkat membentuk senyum tipis penuh kemenangan.
"Akhirnya... aku bisa melihat celah gerakanmu dengan jelas sekarang," bisiknya.
Pada saat yang sama, pedang raksasa Penjaga Makam Elite ditebaskan kembali dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat.
Namun kali ini, Lin Yuan sudah melangkah lebih dulu seolah dia telah mengetahui masa depan.
SWISH!
Tebasan yang seharusnya mustahil dihindari hanya menyapu bayangan Lin Yuan. Sosok aslinya telah muncul di sisi musuh.
Pedang besinya menusuk lurus ke arah celah kecil di dada zirah hitam milik sang penjaga elite.
CRAAAK!
Retakan halus langsung menjalar di permukaan zirah yang sangat keras itu.
........
Bersambung...