Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 007: Uang Bulanan
"Livia. Urusannya seratus kali lebih kotor daripada buku tabungan."
Kalimat itu tidak langsung berubah menjadi tindakan.
Margaret bukan lagi perempuan yang bergerak hanya karena marah. Kalau ia ingin mencabut akar busuk, ia harus lebih dulu mengunci pintu, menghitung uang, dan memastikan tidak ada orang di rumah ini bisa lari sambil membawa pisau ke punggungnya.
Seminggu setelah buku tabungan Vanessa disita, hari pertama bulan November datang.
Pagi itu, Margaret meletakkan buku tulis bergaris di atas meja ruang tamu. Di halaman pertama, ia menulis besar-besar: Uang Bulanan Keluarga Lim.
Daniel duduk di kursi samping, memegang gelas kopi yang belum diminum. Sejak kejadian Teo dan buku tabungan BCA, ia lebih sering diam. Tetapi diamnya kali ini bukan menghindar. Ia seperti sedang belajar membaca istrinya dari awal.
"Mulai hari ini dicatat," kata Margaret.
Daniel melihat buku itu. "Semua?"
"Semua. Uang yang masuk, uang yang keluar, siapa yang memberi, untuk apa dipakai. Rumah yang tidak punya catatan akan dimakan orang yang paling pintar menangis."
Daniel batuk pelan. "Kamu masih marah pada Vanessa?"
"Aku sedang bicara soal rumah."
Jawaban itu membuat Daniel tidak bertanya lagi.
Adrian datang pertama.
Ia sudah berpakaian kerja, rambut disisir licin, tas kantor di tangan. Wajahnya sopan seperti biasa, tetapi sejak malam buku tabungan itu terbongkar, ia tidak lagi berani menatap Margaret terlalu lama.
"Ma," katanya sambil mengeluarkan amplop. "Ini untuk bulan ini."
Margaret membukanya.
Rp 1.500.000.
Jumlah itu tidak kecil, tetapi juga tidak murah hati untuk seorang pegawai BPR yang selama ini membawa istri dan tiga anak tinggal di rumah orang tua.
Margaret mencatat angka itu tanpa komentar.
Adrian menunggu. Mungkin ia berharap dimarahi. Mungkin ia sudah menyiapkan jawaban.
Margaret justru berkata, "Bulan depan jangan sampai kurang."
Adrian mengangguk. "Iya, Ma."
"Dan Vanessa tidak pegang uang belanja dapur tanpa catatan."
Rahang Adrian bergerak sedikit.
"Iya."
Setelah Adrian pergi, Jason muncul dari halaman belakang dengan kaus bengkel dan rambut acak-acakan. Ia belum berangkat kerja, tetapi wajahnya sudah seperti orang dipanggil kepala sekolah.
"Ma, aku belum gajian penuh," katanya sebelum duduk. "Bengkel telat bayar lembur."
Margaret membuka buku. "Aku belum tanya."
"Aku jelaskan dulu."
"Penjelasan biasanya muncul sebelum uang kalau orangnya berniat kurang."
Jason menggaruk leher. "Ma, aku ini kerja di bengkel, bukan di bank seperti Ko. Uangku tidak banyak."
"Gaji pokokmu bulan lalu berapa?"
Jason diam.
"Uang lembur?"
Ia makin diam.
"Uang dari perbaikan motor tetangga yang kamu kerjakan malam-malam?"
Jason langsung mendongak. "Mama tahu dari mana?"
Margaret menatapnya datar. "Aku Mama-mu, bukan patung di ruang tamu."
Daniel menunduk menyembunyikan senyum kecil.
Jason mengeluarkan dompet dengan gerakan kesal, lalu menghitung uang di meja. "Ini Rp 900.000 dulu."
Margaret tidak menulis.
Jason menatap buku itu, lalu menatap ibunya. "Ma..."
"Rp 1.200.000."
"Aduh, Ma!"
"Kalau kamu bisa beli rokok, nongkrong, dan mentraktir teman bengkel, kamu bisa bayar makan sendiri di rumah."
"Teman bengkel itu jaringan, Ma. Orang laki-laki perlu..."
Margaret mengangkat mata.
Jason menutup mulut, mengambil tiga lembar uang lagi, dan meletakkannya di meja.
"Nah," kata Margaret. "Ternyata bisa."
Jason bergumam, "Di rumah ini sekarang lebih seram dari mandor bengkel."
"Mandor bengkel tidak melahirkanmu."
Jason langsung mengangkat kedua tangan. "Iya, iya. Aku kalah."
Yang terakhir datang justru Oscar.
Ia masih tampak lesu setelah urusan Felicia, tetapi matanya tidak sekosong minggu lalu. Ia meletakkan amplop kecil di meja dengan dua tangan.
"Ma, gajiku bulan ini tidak banyak. Restoran juga potong karena aku izin ke rumah sakit. Tapi ini ada Rp 900.000."
Margaret membuka amplop.
Jumlahnya memang Rp 900.000.
"Aturannya untukmu Rp 800.000," kata Margaret.
Oscar menggaruk kepala. "Yang Rp 100.000 buat Ethan dan Mia. Aku belum sempat ke rumah sakit lagi."
Tangan Margaret berhenti.
Anak bodoh ini.
Terlalu mudah ditipu, terlalu lambat membaca orang, tetapi hatinya masih lembut.
Ia mengambil Rp 100.000 itu dan menyelipkannya kembali ke amplop lain.
"Aku catat sebagai uang untuk bayi."
Oscar mengangguk cepat. "Iya, Ma."
"Dan mulai sekarang, kalau ada perempuan menangis di depanmu, jangan langsung keluarkan uang."
Wajah Oscar memerah. "Ma, itu masih dibahas?"
"Sampai kamu pintar."
Daniel benar-benar tertawa kali ini, pendek dan cepat, lalu pura-pura minum kopi.
Sore harinya, uang bulanan pertama itu berubah menjadi makanan.
Margaret pergi ke pasar sendiri. Ia membeli ayam, bumbu soto, tauge segar, seledri, kerupuk, dan sedikit buah. Vanessa yang biasanya menguasai dapur hanya berdiri di dekat kompor, wajahnya masam, tetapi tidak berani mengambil keputusan tanpa bertanya.
"Ayamnya digoreng semua?" tanya Vanessa kaku.
"Sebagian. Sisanya untuk soto."
"Banyak sekali."
"Biar semua orang tahu uang rumah kalau tidak bocor bisa jadi makanan."
Vanessa menunduk, tertusuk tetapi tidak bisa membalas.
Malam itu, meja makan rumah Lim untuk pertama kalinya dalam waktu lama tampak hidup. Ayam goreng tersusun di piring besar, kulitnya renyah dan kuning keemasan. Semangkuk soto Semarang mengepul, harum bawang putih, daun bawang, dan kaldu ayam memenuhi ruangan.
Anak-anak Adrian makan sampai mulut mereka berminyak. Jason mengambil ayam kedua sebelum Margaret meliriknya, lalu cepat-cepat meletakkan kembali setengah.
"Ambil," kata Margaret. "Hari ini memang untuk dimakan."
Jason tersenyum lebar seperti anak kecil.
Oscar makan pelan, tetapi untuk pertama kalinya setelah pembatalan pertunangan, ia meminta tambah kuah soto. Elisa membantu membagikan kerupuk. Bella makan sambil sesekali melihat buku di sampingnya. Bahkan Ama tidak banyak mengeluh karena di mangkuknya ada potongan ayam yang empuk.
Margaret duduk di ujung meja, melihat semua itu.
Suara mangkuk, sendok, anak-anak, dan keluhan kecil memenuhi rumah.
Tiba-tiba, ia teringat bubur dingin di panti.
Mangkuk melamin.
Sendok plastik.
Tidak ada yang menyuapi.
Matanya panas.
Ia menunduk, pura-pura mengambil sambal.
Tidak ada yang boleh melihatnya menangis hanya karena meja makan ramai.
Setelah makan, saat piring mulai diangkat, telepon rumah berdering.
Jason yang paling dekat mengangkatnya.
"Halo? ... Iya."
Wajahnya berubah.
Margaret melihat perubahan itu dari ujung meja.
"Siapa?" tanyanya.
Jason menutup gagang telepon dengan telapak tangan. "Livia."
"Apa katanya?"
Jason tampak ragu. "Dia bilang malam ini tidak pulang. Toko serba ada ada stok opname. Katanya harus lembur."
Vanessa yang sedang membawa piring langsung melirik. Livia memang belum pulang sejak sore, tetapi tidak ada yang berani membahasnya sebelum ini.
Margaret meletakkan sumpit.
Pelan.
"Stok opname," ulangnya.
Jason mengangguk, tetapi matanya tidak yakin.
Di kehidupan sebelumnya, alasan seperti ini datang berkali-kali. Lembur. Rapat. Urusan supplier. Membantu manajer. Semua terdengar masuk akal sampai perut Livia membesar dan Jason baru sadar sudah tiga bulan tidak menyentuh istrinya sendiri.
Margaret tersenyum dingin.
"Bilang padanya," katanya, "lembur boleh. Tapi besok pagi, aku yang antar sarapan ke tokonya."