Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 7 : Gosip di Kantor
Hari itu, suasana di kantor pusat Mahendra Group terasa jauh lebih tegang daripada biasanya. Bukan karena target kuartalan yang belum tercapai, melainkan karena sebuah artikel investigasi dari salah satu media hiburan digital terbesar yang rilis tepat pada pukul delapan pagi. Artikel itu memuat foto buram, namun cukup jelas untuk memperlihatkan sosok Arka Mahendra yang keluar dari gedung pencatatan sipil bersama seorang wanita bersahaja. Judulnya bombastis: *“Pernikahan Rahasia Sang Pewaris: Siapakah Wanita Misterius di Balik Senyum Dingin CEO Mahendra Group?”*
Kabar tersebut meledak seketika. Di koridor, di area kubikel, hingga di kafetaria lantai lima, semua orang berbisik-bisik. Ponsel pintar menyala bergantian, menampilkan ruang obrolan grup yang dipenuhi spekulasi.
Di sudut ruang pantri lantai eksekutif, Selena berdiri sambil menggenggam cangkir kopinya erat-erat. Matanya menatap tajam layar ponsel, membaca setiap baris komentar netizen dengan saksama. Wajahnya yang biasanya dipulas kosmetik mahal kini tampak mengeras menahan amarah yang membakar dada.
Selena telah menghabiskan waktu bertahun-tahun membangun citra sebagai wanita yang paling pantas mendampingi Arka. Sebagai manajer hubungan publik sekaligus putri dari salah satu kolega bisnis senior keluarga Mahendra, ia merasa memiliki hak istimewa. Namun sekarang, posisi yang ia incar justru direbut oleh seorang wanita asing yang bahkan tidak pernah terdengar namanya di kalangan sosialita ibu kota.
"Selena, kamu sudah lihat beritanya?" Nita, salah seorang staf humas, menghampiri dengan wajah cemas sekaligus penasaran. "Apa itu benar? Tuan Arka sudah menikah?"
Selena menarik napas dalam-dalam, memaksakan sebuah senyuman sinis di bibirnya. Ia memutar tubuh menghadap Nita, menaruh cangkir kopinya di atas meja dengan ketukan yang sengaja diperkeras.
"Menikah? Oh, tolonglah, Nita. Jangan mudah percaya dengan apa yang ditulis media receh seperti itu," ujar Selena dengan nada meremehkan yang dibuat-buat.
"Tapi fotonya terlihat sangat meyakinkan, Selena. Dan sekretaris Tuan Arka sama sekali tidak mengeluarkan bantahan resmi sampai jam sekarang. Biasanya kalau itu hoaks, tim kita sudah disuruh *take down* artikelnya dalam waktu tiga puluh menit," sahut Nita berbisik, memajukan tubuhnya.
Selena mendengus, matanya berkilat licik. Ini adalah kesempatannya. Jika ia tidak bisa menghentikan pernikahan itu secara hukum, ia bisa menghancurkan reputasi wanita itu secara sosial. Ia harus memastikan bahwa seluruh orang di perusahaan ini—dan dunia luar—memandang istri baru Arka tidak lebih dari seorang oportunis rendahan.
"Kamu mau tahu cerita sebenarnya?" Selena menurunkan volume suaranya, memancing Nita agar mendengarkan lebih dekat. "Aku tahu siapa perempuan di foto itu. Namanya Nadira. Dia hanya seorang guru TK biasa dari pinggiran kota. Tidak punya latar belakang keluarga yang jelas, apalagi koneksi bisnis."
Nita membelalakkan mata, menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Guru TK? Bagaimana bisa seorang guru TK menikah dengan Tuan Arka? Hubungan mereka dari mana?"
"Nah, itu dia intinya," Selena tersenyum penuh kemenangan, memutar-mutar anting mutiaranya dengan jemari yang lentik. "Keluarga Mahendra tidak mungkin menerima menantu tanpa asal-usul yang jelas kecuali ada... *strategi khusus* yang digunakan perempuan itu. Kudengar dari orang dalam, dia sengaja mendekati nenek Tuan Arka saat beliau sedang sakit di rumah sakit beberapa bulan lalu. Menjual cerita sedih, berpura-pura menjadi gadis lugu yang berbakti, sampai akhirnya berhasil memikat hati orang tua."
"Jadi... maksudmu dia menjebak Tuan Arka menggunakan jalur keluarga?" tanya Nita, terpancing sepenuhnya oleh narasi yang dibangun Selena.
"Lebih dari sekadar menjebak," bisik Selena, nadanya terdengar sangat meyakinkan seolah ia menyaksikan sendiri kejadian tersebut. "Perempuan seperti itu tahu persis di mana harus meletakkan umpannya. Dia tahu Tuan Arka adalah cucu yang sangat berbakti. Begitu dia berhasil memegang restu dari orang tua, Tuan Arka tidak punya pilihan lain. Ini bukan pernikahan karena cinta, Nita. Ini adalah bentuk pemerasan emosional. Dia memanfaatkan kesederhanaannya untuk menutupi ambisi besarnya mengeruk kekayaan keluarga Mahendra."
Nita mengangguk-angguk, wajahnya kini dipenuhi ekspresi tidak suka. "Astaga, keterlaluan sekali. Berarti dia hanya mengincar hartanya saja? Padahal Tuan Arka sangat dihormati di sini."
"Tentu saja. Dan yang paling parah, dia menolak untuk melepaskan pekerjaannya sebagai guru. Kamu tahu kenapa?" Selena menjeda kalimatnya, memberikan efek dramatis. "Bukan karena dia tulus atau cinta anak-anak. Itu hanya pencitraan agar publik mengira dia adalah wanita suci yang tidak gila harta. Dia ingin bermain sebagai korban jika suatu saat rahasianya terbongkar. Tuan Arka sendiri sangat dingin padanya. Pernikahan ini hanya di atas kertas."
Tanpa mereka sadari, gosip yang disebarkan oleh Selena mulai menjalar seperti api di atas rumput kering. Hanya dalam hitungan jam, cerita tentang "Nadira si guru TK yang licik dan gila harta" telah menyebar dari divisi humas, ke divisi keuangan, hingga ke meja para staf operasional di lantai bawah. Narasi tersebut terus berkembang menjadi lebih liar, menambah bumbu-bumbu negatif yang menyudutkan posisi Nadira.
---
Sementara itu, di lantai tertinggi gedung, suasana di dalam ruangan CEO justru berbanding terbalik dengan kegaduhan di luar. Ruangan berndinding kaca besar itu sangat hening.
Arka Mahendra duduk di balik meja kerjanya yang luas, menatap lurus ke arah dokumen kerja sama yang baru saja ia tanda tangani. Namun, fokusnya tidak sepenuhnya berada di sana. Pikirannya berulang kali kembali pada kejadian kemarin siang di TK Harapan Ceria.
Bayangan Nadira yang duduk di lantai beralaskan karpet tipis, tertawa lepas bersama anak-anak tanpa beban, terus berputar di kepalanya. Di rumah, Nadira selalu bersikap formal, berbicara dengan suara yang sangat pelan, dan selalu memastikan ada jarak yang aman di antara mereka. Namun di sekolah itu, wanita itu memancarkan energi yang sepenuhnya berbeda. Kehangatan yang dipancarkannya terasa begitu nyata hingga mampu membuat Arka—yang terbiasa hidup dalam dunia bisnis yang kaku dan penuh kepura-puraan—merasa tertegun.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Arka.
"Masuk," ucap Arka dingin, seketika mengembalikan topeng ketegasannya.
Sekretarisnya, Yudha, melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang tampak lebih serius dari biasanya. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet digital yang menampilkan halaman utama sebuah situs berita.
"Tuan, ada hal penting yang harus saya laporkan terkait situasi pagi ini," ujar Yudha sambil meletakkan tablet tersebut di hadapan Arka.
Arka melirik layar tablet. Matanya menyipit melihat foto dirinya dan Nadira yang terpampang di sana. Ia membaca judul artikel tersebut, namun ekspresi wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan yang berarti. Sebagai seorang pemimpin konglomerasi besar, ia sudah terbiasa dengan intrik media.
"Apakah mereka tahu identitas lengkap Nadira?" tanya Arka datar.
"Belum secara mendalam, Tuan. Media baru mengetahui bahwa wanita di dalam foto bekerja di sektor pendidikan anak usia dini. Namun, masalah utamanya bukan pada media luar," Yudha menjeda kalimatnya, tampak ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Tetapi pada situasi internal perusahaan kita."
Arka mengangkat alisnya sebelah. "Internal?"
"Sejak berita ini naik, muncul rumor yang sangat tidak menyenangkan mengenai Ibu Nadira di kalangan karyawan. Seseorang sengaja menyebarkan cerita bahwa Ibu Nadira memanfaatkan kondisi kesehatan keluarga Anda untuk memaksakan pernikahan ini demi keuntungan finansial. Rumor ini berkembang sangat cepat dan mulai mengganggu fokus kerja beberapa divisi."
Mendengar hal itu, garis rahang Arka mengencang. Ada kilatan kemarahan yang dingin di dalam matanya. Meskipun pernikahan mereka didasarkan pada kontrak tertulis yang sah dan tanpa melibatkan perasaan, Arka memiliki prinsip yang sangat kuat: Nadira adalah istrinya yang sah di mata hukum dan keluarga. Menyerang Nadira dengan fitnah keji di lingkungan perusahaannya sendiri sama saja dengan menghina otoritasnya sebagai kepala keluarga dan CEO.
"Siapa yang pertama kali menyebarkannya?" tanya Arka, suaranya terdengar rendah namun penuh penekanan yang mengancam.
Yudha memperbaiki posisi kacamatanya. "Tim keamanan siber kami telah melacak sumber obrolan pertama di platform internal, dan beberapa saksi mata di lantai lima mengonfirmasi bahwa Nona Selena dari divisi hubungan publik yang aktif membicarakan hal ini sejak pagi tadi, dengan narasi yang menyudutkan pihak Ibu Nadira."
Arka bersandar pada kursi kerjanya. Jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme yang lambat namun konstan. Selena. Arka tahu betul tabiat wanita itu yang selalu ambisius dan kerap melewati batas profesionalitas demi menarik perhatiannya. Namun kali ini, Selena telah bertindak terlalu jauh dengan menyentuh wilayah pribadinya.
"Yudha," panggil Arka.
"Baik, Tuan."
"Panggil Selena ke ruangan saya sekarang juga. Dan pastikan tim hukum menyiapkan draf peringatan keras untuk seluruh karyawan mengenai penyebaran pencemaran nama baik di lingkungan kerja."
"Dimengerti, Tuan. Saya akan segera memanggil Nona Selena." Yudha membungkuk hormat lalu segera melangkah keluar dari ruangan.
---
Di lantai lima, Selena menerima panggilan dari sekretaris CEO dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa senang karena akhirnya Arka memanggilnya ke ruangan pribadi—sesuatu yang jarang terjadi kecuali untuk urusan pekerjaan yang sangat mendesak. Ia berpikir bahwa Arka mungkin butuh bantuannya sebagai manajer humas untuk meredam berita pernikahan tersebut. Di sisi lain, ada sedikit rasa cemas yang menyelinap di hatinya melihat ketegasan suara Yudha di telepon.
Selena merapikan pakaiannya, memastikan penampilannya sempurna sebelum naik ke lantai eksekutif. Ketika ia melangkah masuk ke dalam ruangan CEO, ia melihat Arka sedang berdiri membelakanginya, menatap pemandangan kota dari balik dinding kaca besar.
"Tuan Arka, Anda memanggil saya?" sapa Selena dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, berusaha menunjukkan empati. "Saya sudah melihat berita di luar pagi ini. Jika Anda membutuhkan tim humas untuk membuat pernyataan bantahan atau mengalihkan isu, kami sudah siap—"
"Siapa yang memberimu izin untuk mengusik kehidupan pribadi saya, Selena?"
Pertanyaan itu memotong kalimat Selena dengan sangat tajam. Arka membalikkan badannya lambat-lambat. Tatapan matanya begitu dingin dan menusuk, membuat senyuman di wajah Selena langsung membeku.
"M-maksud Anda apa, Tuan?" Selena mendadak gagap, detak jantungnya berpacu cepat melihat aura intimidasi yang dipancarkan oleh pria di hadapannya.
Arka berjalan mendekat, berhenti tepat di depan meja kerjanya. "Jangan berpura-pura bodoh. Kamu tahu persis apa yang kamu lakukan di pantri lantai lima pagi ini. Menyebarkan cerita bohong tentang istri saya, menuduhnya melakukan pemerasan emosional, dan merendahkan martabatnya di depan staf lain."
Wajah Selena seketika memucat. Ia tidak menyangka bahwa kabar tersebut akan sampai ke telinga Arka dalam waktu yang begitu singkat, apalagi sampai diidentifikasi bahwa dirinyalah sumbernya.
"Tuan Arka... itu... itu hanya kesalahpahaman," Selena mencoba membela diri, suaranya gemetar. "Saya hanya mengkhawatirkan Anda. Media mulai menggali informasi, dan saya hanya ingin memastikan bahwa reputasi Anda tidak jatuh karena... karena menikah dengan seseorang yang tidak setara dengan posisi Anda. Saya hanya mengatakan apa yang logis dipikirkan oleh orang-orang."
"Apa yang logis menurutmu adalah sebuah fitnah yang menjijikkan," kata Arka, suaranya tenang namun setiap kata yang keluar terdengar seperti hantaman keras bagi Selena. "Nadira adalah istri saya. Pernikahan kami adalah urusan keluarga Mahendra, bukan konsumsi publik, dan jelas bukan bahan gosip untuk karyawan yang digaji oleh perusahaan ini."
"Tapi dia tidak pantas untuk Anda, Arka!" Selena akhirnya kehilangan kendali atas emosinya, melupakan batasan profesionalitasnya karena rasa cemburu yang membakar. "Dia hanya seorang guru TK! Dia tidak tahu apa-apa tentang duniamu, tentang bisnis, atau bagaimana cara membawa diri di lingkungan kita! Dia hanya memanfaatkan kebaikan keluargamu!"
Arka menatap Selena dengan pandangan muak. Mengingat bagaimana Nadira memperlakukan anak-anak dengan ketulusan yang tanpa pamrih kemarin, tuduhan Selena terasa sangat kontras dan tidak berdasar. Nadira yang ia lihat di sekolah adalah wanita yang mandiri dalam kesederhanaannya, jauh dari gambaran wanita gila harta seperti yang dituduhkan.
"Kamu di sini untuk bekerja, Selena, bukan untuk menilai siapa yang pantas atau tidak pantas berada di samping saya," ucap Arka dingin. "Kualifikasi seorang Nadira sebagai istri saya tidak diukur dari sudut pandangmu yang dangkal."
Arka mengambil sebuah map dari atas mejanya dan melemparkannya ke depan Selena.
"Ini adalah surat mutasi dan peringatan pertama. Kamu dipindahkan ke kantor cabang di luar kota, efektif mulai besok pagi. Jika saya mendengar satu kata lagi keluar dari mulutmu atau orang lain mengenai istri saya, tim hukum Mahendra Group sendiri yang akan menyelesaikan ini di pengadilan atas tuduhan pencemaran nama baik."
Selena menatap map di depannya dengan mata terbelalak, air mata mulai menggenang karena rasa terkejut dan malu yang luar biasa. "Arka... Anda memutasi saya hanya karena perempuan itu?"
"Saya memutasimu karena kamu telah melanggar kode etik perusahaan dan bertindak tidak profesional," tegas Arka, matanya sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. "Sekarang, silakan keluar dari ruangan saya."
Dengan tubuh yang bergetar menahan amarah dan malu, Selena mengambil map tersebut dan berbalik, melangkah keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa.
Setelah pintu tertutup kembali, Arka menghela napas panjang. Ia berjalan kembali ke arah jendela, menatap ke luar. Pengalamannya hari ini membuat sebersit perasaan aneh kembali muncul di hatinya. Mengapa ia merasa begitu terdorong untuk melindungi nama baik Nadira dengan cara sekeras ini? Apakah ini hanya demi menjaga nama baik kontrak mereka, atau ada alasan lain yang mulai tumbuh di sudut hatinya yang paling dalam?
Satu hal yang pasti, keyakinan Arka bahwa pernikahan ini tidak akan melibatkan perasaan sedikit pun kini mulai goyah, perlahan tapi pasti, terkikis oleh kehadiran sosok Nadira yang apa adanya.