NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Tiga hari penuh yang dihabiskan di puncak bukit akhirnya berakhir. Perjalanan pulang terasa lebih singkat dan menyenangkan dibandingkan saat berangkat, karena suasana di dalam mobil Elio kini terasa jauh lebih hangat dan akrab. Tidak ada lagi keheningan canggung atau tatapan yang saling menghindar. Sebaliknya, Alena duduk bersandar dengan nyaman, sesekali menoleh menatap wajah Elio, dan setiap kali pandangan mereka bertemu, keduanya akan tersenyum malu-malu namun penuh makna.

Bagi orang lain, mungkin tidak ada yang berubah secara mencolok. Namun bagi Alena dan Elio sendiri, dunia mereka telah berputar 180 derajat. Apa yang dulunya hanya kesepakatan untuk membatalkan perjodohan, kini berubah menjadi perasaan cinta yang tumbuh subur setelah malam berbintang itu. Meskipun belum secara terang-terangan mengumumkan pada siapa pun, keduanya sudah memahami isi hati masing-masing dengan sangat baik.

Kini, seminggu telah berlalu sejak mereka kembali dari perkemahan. Aktivitas sehari-hari kembali seperti biasa—bangun pagi, bersiap, dan berangkat ke sekolah. Namun, ada perbedaan kecil yang terasa di setiap detiknya: tatapan yang lebih lembut, perhatian yang lebih tulus, dan senyum yang selalu terukir di wajah saat bertemu.

Hari ini adalah hari biasa di sekolah, namun Alena merasa ada yang sedikit berbeda. Sejak jam pelajaran pertama hingga menuju jam istirahat, ia belum melihat sosok Elio sama sekali. Biasanya, laki-laki itu akan menyempatkan diri melintas di depan kelasnya atau mengirimkan pesan singkat sekadar bertanya sudah makan atau belum. Namun hari ini, tidak ada kabar apa pun.

Saat bel istirahat berbunyi, Alena berjalan bersama Sari dan Rina menuju kantin dengan langkah yang agak lambat. Matanya terus melirik ke kiri dan kanan, berharap bisa melihat sosok yang dicarinya.

“Kamu cari Elio lagi ya?” goda Sari tiba-tiba, menyadari gerak-gerik temannya yang gelisah.

Alena langsung memalingkan wajah, pipinya sedikit memerah. “Tidak… aku hanya melihat-lihat saja. Lagipula, dia kan punya kegiatan sendiri.”

Rina tertawa kecil sambil menyenggol lengan Alena pelan. “Sudah tidak perlu menyembunyikan lagi. Semua orang sudah melihat perubahan sikap kalian berdua. Dulu kalau bertemu pasti saling berteriak, sekarang malah saling melirik dan tersenyum sendiri. Lucu sekali rasanya melihatmu seperti ini.”

Alena hanya bisa mendengus kesal, namun senyumnya tidak bisa disembunyikan. “Dia ada kegiatan ekstrakurikuler basket hari ini, kan? Mungkin sibuk latihan sampai lupa waktu.”

Benar saja, saat mereka melewati lapangan olahraga, terlihat sekelompok siswa laki-laki sedang sibuk berlatih melempar dan memantulkan bola. Di antara mereka, sosok Elio terlihat paling menonjol. Dengan kaos olahraga yang sedikit basah oleh keringat dan rambut yang sedikit berantakan, ia terlihat sangat bersemangat mengikuti instruksi pelatih. Sesekali ia melompat dan memasukkan bola ke dalam ring, disambut sorak semangat dari teman-temannya.

Melihat itu, Alena hanya bisa menghela napas panjang. “Nah, dia memang sedang sibuk. Tidak heran tidak sempat lewat.”

“Sudahlah, biarkan dia berlatih. Nanti sepulang sekolah pasti dia sudah menunggumu seperti biasa,” hibur Sari sambil menarik lengan Alena menuju kantin.

Sepanjang jam istirahat, Alena terus memikirkan Elio. Ia membayangkan bagaimana rasanya laki-laki itu lelah berlatih dan apakah sudah sempat makan atau belum. Pikiran-pikiran itu membuatnya tersenyum sendiri, membuat kedua temannya semakin sering meledeknya sepanjang waktu.

Setelah jam istirahat berakhir, pelajaran berjalan seperti biasa. Pikiran Alena sesekali melayang, namun ia berusaha tetap berkonsentrasi mendengarkan penjelasan guru. Hingga akhirnya, bel tanda pelajaran terakhir berbunyi nyaring, menandakan waktu pulang telah tiba.

Alena membereskan bukunya dengan cepat, lalu berpamitan pada Sari dan Rina. Saat ia melangkah keluar dari pintu kelas, matanya langsung terbelalak dan langkah kakinya terhenti seketika.

Di koridor depan kelas, berdiri sosok Elio yang sedang bersandar santai di dinding. Ia sudah berganti pakaian seragam yang rapi, meskipun masih terlihat sedikit basah di bagian kerah bajunya tanda baru saja selesai berlatih. Wajahnya terlihat sedikit lelah, namun matanya bersinar cerah begitu melihat Alena keluar.

“Elio? Kamu sudah menunggu di sini?” tanya Alena dengan nada terkejut sekaligus senang.

Belum sempat Elio menjawab, Sari dan Rina yang keluar tepat di belakang Alena langsung bersorak riang sambil melambaikan tangan dengan gaya menjahili.

“Wah, sudah ditunggu di depan pintu kelas! Romantis sekali!” seru Sari keras-keras, membuat beberapa siswa yang lewat melirik dengan senyum penasaran.

“Jangan lupa jaga diri ya, Alena! Jangan pulang terlalu larut!” tambah Rina sambil tertawa terbahak-bahak, lalu segera menarik Sari menjauh sambil melambaikan tangan, meninggalkan Alena yang terkejut dan wajahnya memerah padam.

Alena menoleh ke arah Elio dengan perasaan campur aduk antara malu dan kesal. “Lihatlah mereka! Bisa-bisanya berteriak begitu keras, membuat semua orang melihat ke arah kita.”

Elio hanya tertawa kecil mendengar reaksi gadis itu, lalu melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapannya. “Biarkan saja mereka bercanda. Lagipula, tidak ada yang salah kan kalau aku menjemputmu di depan kelas?”

Ia mengangkat tangannya, lalu menyeka pelan keringat yang masih tersisa di dahi Alena dengan gerakan yang sangat lembut dan alami. Sentuhan itu membuat jantung Alena berdegup kencang, namun ia tidak berusaha menghindar lagi.

“Kamu baru saja selesai latihan basket ya? Kenapa tidak pulang saja dan istirahat di rumah? Aku bisa pulang sendiri kok,” tanya Alena sambil menatap wajah Elio yang terlihat sedikit lelah namun tetap tampan.

Elio menggeleng pelan, lalu tersenyum. “Tidak mau. Aku sudah berjanji akan mengantarmu pulang, dan aku juga ingin bertemu denganmu sesegera mungkin setelah seharian tidak bertemu. Lagipula, aku punya sesuatu yang ingin kita bicarakan. Bagaimana kalau kita tidak langsung pulang dulu? Ada tempat yang ingin aku ajak kau kunjungi.”

Alena mengerutkan dahi sedikit, penasaran. “Tempat apa?”

“Sebuah kafe kecil yang cukup tenang dan enak. Tidak jauh dari jalan pulang kita. Kita bisa duduk santai, minum kopi atau cokelat panas, dan mengobrol tanpa harus terburu-buru,” jawab Elio dengan nada lembut.

Mendengar ajakan itu, hati Alena terasa senang. Ia mengangguk setuju tanpa ragu. “Baiklah, aku ikut. Tapi jangan terlalu larut ya, nanti Kakek menungguku.”

“Tenang saja, aku pastikan kau pulang sebelum matahari terbenam,” janji Elio sambil tersenyum lebar.

Mereka pun berjalan berdampingan menuju tempat parkir. Seperti biasa, Elio membukakan pintu mobil untuk Alena terlebih dahulu sebelum masuk ke sisi kemudi. Selama perjalanan, suasana terasa sangat menyenangkan. Elio menceritakan keseruan sekaligus kelelahan saat latihan basket hari itu, sementara Alena mendengarkan dengan antusias, sesekali menyela dengan tanya atau komentar yang membuat percakapan semakin hidup.

Tak butuh waktu lama, mereka tiba di sebuah kafe kecil yang terletak di pinggir jalan raya namun agak tersembunyi di antara pepohonan rindang. Bangunannya bergaya klasik dengan dinding kayu dan jendela kaca yang lebar, menciptakan suasana yang hangat, tenang, dan sangat nyaman. Begitu masuk, aroma kopi yang harum langsung menyambut hidung mereka, bercampur dengan wangi kue dan cokelat yang menggugah selera.

Mereka memilih duduk di meja dekat jendela, tempat yang cukup sepi dan memiliki pemandangan taman kecil di luar. Pelayan datang menghampiri dan menyerahkan daftar menu.

“Kamu mau pesan apa? Bebas saja, jangan sungkan,” kata Elio sambil menatap Alena.

Alena membaca daftar menu sebentar, lalu menjawab, “Aku pesan cokelat panas dan sepotong kue keju saja. Kamu sendiri?”

“Kalau begitu aku pesan kopi hitam dan roti bakar,” jawab Elio sambil menyampaikan pesanan kepada pelayan.

Setelah pelayan pergi, suasana menjadi sedikit hening namun tidak terasa canggung. Hanya suara musik lembut yang mengalun mengisi ruangan. Elio menatap Alena dalam-dalam, membuat gadis itu menunduk malu sambil memainkan ujung jarinya.

“Kenapa menatapku terus? Ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Alena pelan.

Elio menggeleng sambil tersenyum lembut. “Tidak ada yang salah. Justru aku sedang berpikir, betapa beruntungnya aku bisa bertemu denganmu. Dulu aku mengira perjodohan ini adalah bencana terbesar dalam hidupku, tapi ternyata justru ini adalah kebahagiaan yang tak pernah kuduga.”

Kata-kata itu membuat wajah Alena memerah, namun ia mengangkat wajahnya kembali dan menatap mata Elio dengan tatapan tulus. “Aku juga merasakan hal yang sama. Dulu kita selalu bertengkar, saling ejek, dan menganggap satu sama lain sebagai musuh. Tapi sekarang… rasanya tidak bisa membayangkan hari-hariku tanpa kehadiranmu.”

Tidak lama kemudian pesanan mereka datang. Cangkir cokelat panas yang mengepul dan secangkir kopi hitam yang harum terhidang rapi di meja, disertai makanan ringan yang terlihat sangat lezat.

Mereka pun menikmati minuman dan makanan sambil melanjutkan obrolan yang lebih dalam. Elio bercerita tentang impiannya ingin melanjutkan studi ke luar negeri setelah lulus SMA, sementara Alena bercerita tentang keinginannya untuk menjadi seorang penulis. Mereka saling mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan pendapat dan dukungan satu sama lain.

“Kalau nanti kita sudah lulus, bagaimana dengan kesepakatan satu tahun ini?” tanya Alena tiba-tiba, memecah suasana yang santai. “Waktunya akan segera habis dalam beberapa bulan lagi.”

Elio meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu menjangkau tangan Alena yang tergeletak di atas meja. Ia menggenggamnya dengan lembut namun mantap. “Mengenai itu… aku ingin bicara jujur padamu. Dulu kita berjanji akan membatalkan perjodohan ini jika dalam satu tahun tidak ada kecocokan. Tapi sekarang, perasaanku sudah berubah total. Aku tidak ingin membatalkannya lagi. Justru aku ingin menjadikannya kenyataan, jika kamu juga menginginkannya.”

Jantung Alena berdegup kencang mendengar pengakuan itu. Ia menatap genggaman tangan Elio yang terasa hangat dan kuat, lalu mengangkat wajahnya dengan senyum yang terukir lebar di bibirnya. “Aku pun tidak ingin membatalkannya lagi. Meskipun awalnya dipaksakan, tapi perasaan ini tumbuh dengan sendirinya. Aku mencintaimu, Elio.”

Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Alena, Elio merasa hatinya meluap-luap bahagia. Ia menarik tangan Alena lebih dekat, lalu mencium punggung tangannya dengan lembut dan penuh rasa hormat. “Dan aku juga mencintaimu, Alena. Lebih dari apa pun.”

Mereka duduk berhadapan, saling memandang dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh hati mereka sendiri. Di tengah kafe yang tenang itu, dua hati yang dulunya saling bermusuhan kini bersatu dalam ikatan cinta yang tulus dan kuat.

Obrolan mereka berlanjut hingga matahari mulai condong ke barat, mengubah langit menjadi warna jingga keemasan. Waktu terasa berjalan sangat cepat saat mereka bersama, hingga akhirnya Elio sadar sudah waktunya mengantar Alena pulang.

“Kita harus pulang sekarang, nanti Kakekmu mulai khawatir,” kata Elio sambil membayar tagihan.

Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa lebih hangat dari sebelumnya. Alena menyandarkan kepalanya di bahu Elio yang sedang mengemudi, sementara tangan mereka saling tergenggam erat di atas paha. Tidak banyak kata yang diucapkan, karena kehadiran satu sama lain sudah cukup untuk menyampaikan segala perasaan yang ada.

Sesampainya di depan rumah Alena, Elio menurunkan kaca jendela dan menatap gadis itu dengan senyum bahagia. “Terima kasih untuk hari ini. Besok pagi aku akan datang menjemputmu seperti biasa.”

Alena mengangguk sambil tersenyum malu. “Terima kasih juga sudah mengajakku ke tempat yang indah itu. Hati-hati di jalan ya.”

Sebelum Alena turun, Elio menunduk sebentar dan mendaratkan ciuman singkat namun lembut di kening gadis itu. “Istirahatlah yang cukup. Sampai besok.”

Alena masuk ke dalam rumah dengan langkah yang ringan dan senyum yang tak kunjung hilang dari wajahnya. Malam itu, keduanya tidur dengan perasaan yang sangat damai dan bahagia, menyadari bahwa jalan yang mereka lalui bersama ke depannya akan penuh dengan kebahagiaan, meskipun mungkin masih ada rintangan yang harus dihadapi. Namun, selama mereka saling mendukung, mereka yakin bisa melewati semuanya dengan baik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!