NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah dan Kehangatan

Sulit bagiku memejamkan mata malam itu, meskipun kasur yang disiapkan Ishar jauh lebih nyaman daripada tempat mana pun yang kupakai untuk beristirahat sejak meninggalkan istana. Kasurnya tidak terlalu besar dan sedikit melesak pada bagian tengah, tetapi berisi wol tebal yang menyangga punggungku dengan lembut. Seprai yang membungkusnya bersih dan berbau sabun, bunga kering, serta sedikit kayu cedar dari lemari di sudut kamar. Kainnya terasa dingin ketika menyentuh kulit, lalu perlahan menghangat mengikuti tubuhku.

Seluruh tubuhku seharusnya cukup lelah untuk langsung tertidur. Telapak kakiku masih berdenyut setelah berjalan seharian, rusuk yang ditendang salah seorang teman Reiss terasa nyeri setiap kali aku menarik napas terlalu dalam, dan kulit di sekitar bibirku menegang akibat minyak obat yang dioleskan Ishar. Namun rasa lelah hanya membuat tubuhku berat. Pikiranku tetap terjaga.

Lilin di atas meja kecil telah kupadamkan sejak lama. Sisa asap dari sumbunya sempat melayang di udara sebelum menghilang, menyisakan aroma tipis lilin lebah. Cahaya bulan masuk melalui jendela sempit di sisi kamar, jatuh sebagai bidang pucat di atas lantai kayu dan kaki ranjang. Tirainya tidak tertutup sepenuhnya. Setiap kali angin bergerak di luar, kain tipis itu bergeser dan cahaya bulan ikut berubah bentuk.

Kamar tersebut berada tepat di bawah atap. Langit-langitnya rendah dan balok-balok kayunya terlihat jelas. Sesekali terdengar bunyi kecil dari rumah yang sedang menyesuaikan diri dengan dingin malam: papan lantai berderit, kayu atap mengerang pendek, lalu suara api di perapian dari lantai bawah yang mulai mengecil. Dari luar datang gemericik aliran sungai yang membelah Arlenville, cukup jauh untuk terdengar lembut tetapi tidak pernah benar-benar berhenti.

Aku berbaring telentang dengan kedua tangan di atas perut, menatap garis-garis gelap pada balok langit-langit. Setiap kali menutup mata, wajah pemuda di Mitenn Highroad muncul kembali.

Bukan saat ia mengejek keluargaku.

Bukan ketika tangannya bergerak menuju tudungku.

Yang kulihat justru matanya sesaat setelah pedangku menembus lehernya. Tatapan yang berubah dari kesombongan menjadi kebingungan dalam waktu begitu singkat hingga ia mungkin belum memahami apa yang telah terjadi. Tangannya tetap terangkat. Mulutnya terbuka. Darah mengalir melalui sela zirahnya dan membasahi lambang singa Valdyr pada dada.

Aku menarik selimut lebih tinggi, meskipun kamar tidak terlalu dingin.

Tanganku masih bisa mengingat hentakan itu. Bilah pedang tidak melintas dengan mudah seperti ketika memotong udara atau boneka jerami. Ada perlawanan dari daging, lalu bagian yang lebih keras, kemudian rasa ringan mendadak saat pedang berhasil melewatinya. Ingatan tersebut tertinggal pada pergelangan dan siku, seolah tubuhku menyimpannya lebih baik daripada pikiranku.

Aku pernah menyebabkan orang lain jatuh sebelum itu.

Ketika pertama kali melarikan diri dari istana, beberapa tentara mengejarku sampai ke jembatan. Aku memotong salah talinya, dan jembatan terbalik ke bawah. Aku masih mengingat jeritan mereka, tubuh-tubuh mereka dan kuda-kuda mereka yang kehilangan pijakan, dan suara kayu patah sebelum semuanya menghilang dalam kegelapan di bawah jurang.

Aku tidak tahu apakah mereka mati.

Mungkin beberapa berhasil berpegangan. Mungkin ada yang jatuh ke air. Mungkin yang lain menghantam batu dan tidak sempat merasakan apa pun. Saat itu aku tidak melihat tubuh mereka setelahnya. Tidak merasakan darah mengenai kulit. Tidak berdiri cukup dekat untuk melihat kehidupan meninggalkan mata seseorang.

Di Mitenn Highroad, tidak ada jarak yang bisa melindungiku dari kenyataan.

Pemuda itu mati karena tanganku. Pedangku. Amarahku.

Aku membalikkan badan menghadap dinding, tetapi gerakan itu menekan rusuk dan membuatku meringis. Rasa sakit tersebut hanya berlangsung beberapa saat. Wajah pemuda itu tetap ada.

Di bawah, Marlow mungkin sudah tertidur di dipan dekat perapian. Aku mencoba membayangkan dirinya berbaring dengan mata terpejam, tetapi bayangan yang muncul justru Marlow di jalan suci. Pedangnya bergerak tanpa ragu, memotong, menusuk, dan berpindah dari satu lawan ke lawan berikutnya. Tidak ada kepanikan pada wajahnya. Tidak ada jeda setelah tubuh pertama jatuh. Ia membunuh para tentara itu seperti seseorang menyelesaikan pekerjaan yang tidak disukainya tetapi telah dilakukan terlalu sering untuk dianggap luar biasa.

Setelahnya, tangannya tetap tenang ketika mengambil pedang dariku.

Ia tidak muntah. Tidak gemetar. Tidak memandangi tubuh-tubuh itu lebih lama daripada yang diperlukan untuk memastikan mereka tidak akan bangkit lagi.

Mungkin ia pernah mengalami hal yang sama denganku. Mungkin bertahun-tahun lalu, sebelum rambut pirangnya mulai memutih di pelipis, ia pernah duduk sendirian di ruangan gelap dan melihat wajah orang pertama yang dibunuhnya setiap kali menutup mata. Aku tidak tahu berapa lama perasaan itu bertahan. Aku juga tidak tahu kapan seseorang berhenti merasakan apa pun.

Marlow adalah seorang Nightingale. Ia pernah mengakui bahwa organisasi itu melakukan pekerjaan yang tidak dapat diakui kerajaan, termasuk membunuh orang-orang yang dianggap terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup. Aku tidak pernah bertanya berapa banyak orang yang telah mati oleh tangannya. Setelah melihat apa yang dilakukannya di Highroad, aku tidak yakin ingin mengetahui jawabannya.

Jubahku tergantung pada sebuah pasak kayu di dekat pintu. Dalam cahaya bulan, bentuknya tampak seperti seseorang yang berdiri membelakangiku. Di salah satu kantungnya tersimpan koin perak berukir burung yang diberikan Dad sebelum aku meninggalkan istana.

Aku dapat merasakan beratnya bahkan dari ranjang.

Koin itulah yang membuat Marlow membuka pintunya untukku di Gisa. Koin itu pula yang mengubahku dari orang asing yang basah kuyup menjadi tanggung jawab yang tidak bisa ia tolak. Dad pasti membuat kesepakatan dengannya, entah kapan dan dalam keadaan seperti apa. Mungkin Marlow pernah berjanji bahwa ia akan melindungiku bila sesuatu terjadi. Mungkin perjanjiannya lebih rumit daripada itu.

Marlow tidak pernah menjelaskan.

Namun ia menjalankannya dengan keteguhan yang nyaris menakutkan. Ia meninggalkan rumahnya, mengorbankan jalur aman, membunuh tentara Izengard, dan terus membawaku menuju tempat yang bahkan tidak ingin ia jelaskan secara lengkap. Ia tidak tampak mempertanyakan apakah semua itu layak dilakukan. Selama koin tersebut berada padaku dan aku masih hidup, ia akan terus berjalan.

Aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya Dad harapkan darinya.

Apakah Marlow hanya diminta melindungiku, atau membentukku menjadi sesuatu?

Dad pernah menjauhkan Nightingale dari istana. Ia tidak menyukai cara Agraf menggunakan mereka, setidaknya itu yang dikatakan Marlow. Namun ketika semuanya runtuh, orang terakhir yang dipercaya Dad justru seorang pembunuh kerajaan.

Mungkin tidak ada pilihan lain.

Mungkin Dad tahu aku akan membutuhkan seseorang seperti Marlow untuk bertahan hidup.

Kengerian kecil mulai tumbuh di dadaku ketika membayangkan bahwa bertahan hidup mungkin berarti menjadi seperti dirinya. Seorang pria yang bisa membunuh enam orang dan tetap membersihkan pedangnya dengan tangan tenang. Seseorang yang menganggap darah sebagai bagian biasa dari perjalanan.

Aku menatap jari-jariku di atas selimut. Dalam cahaya bulan, kulitnya terlihat bersih. Tidak ada lagi darah di sana. Namun aku masih dapat melihatnya jika memusatkan perhatian terlalu lama, mengisi garis-garis telapak dan menghitam di bawah kuku.

Bagaimana jika suatu hari aku tidak lagi muntah setelah membunuh seseorang?..

Bagaimana jika wajah pertama itu memudar, lalu digantikan wajah kedua, ketiga, dan seterusnya sampai semuanya tidak lagi berarti?...

Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan, tetap merasa seperti ini setiap kali mencabut pedang, atau kehilangan perasaan itu sepenuhnya.

Meski demikian, Marlow adalah satu-satunya orang yang kupercaya.

Kesadaran tersebut hampir membuatku tersenyum, tetapi rasa sakit di bibir mengingatkanku untuk tidak melakukannya. Aku baru mengenalnya beberapa hari. Belum sampai seminggu sejak aku berdiri di depan pondoknya di Gisa dan menyebut nama yang diberikan Dad. Aku tidak mengetahui hampir apa pun tentang masa lalunya selain bahwa ia pernah membunuh atas perintah kerajaan.

Namun sejak malam itu, aku telah menyerahkan hidupku kepadanya.

Aku mengikuti arah yang ia pilih, memakan makanan yang ia berikan, tidur ketika ia menyuruhku tidur, dan berlari saat ia menarik tanganku. Bahkan setelah kemarahannya di tepi sungai, aku tidak pernah benar-benar berpikir untuk pergi sendirian. Dunia di luar dinding istana ternyata jauh lebih besar dan lebih kasar daripada yang pernah kubayangkan. Tanpa Marlow, aku mungkin sudah tertangkap di Gisa, dikenali di Highroad, atau mati kedinginan sebelum mencapai Arlenville.

Aku mencoba membayangkan perjalanan tanpa punggungnya berjalan beberapa langkah di depanku. Tidak ada orang yang mencari jalan, menghitung tentara, atau memastikan makanan kami cukup. Tidak ada orang yang akan berdiri di antara pedang dan tubuhku.

Bayangan itu segera berubah menjadi wajah Dad.

Kemudian Mom.

Lalu Cecil.

Dad terbaring berlumur darah. Mom jatuh sebelum sempat mencapai pintu. Cecil... aku menghentikan pikiran itu sebelum selesai terbentuk.

Dad, Mom, dan Cecil mati karena tidak ada seorang pun yang mampu membawa mereka keluar. Kalau Marlow tidak ada, mungkin aku akan segera menyusul mereka. Mungkin hanya soal waktu sebelum Dann menemukan tempat persembunyianku dan menyelesaikan apa yang dimulainya di istana.

Aku menarik napas panjang, lalu menahannya ketika rusuk terasa sakit. Kamar kembali sunyi setelah napasku keluar perlahan.

Pikiranku akhirnya beranjak kepada sesuatu yang lebih ringan.

Ishar.

Wajahnya muncul dengan jauh lebih mudah daripada yang kuharapkan. Rambut pirang yang hampir putih di bawah bulan, mata hijau yang menatap tajam ketika ia menolak Reiss, lalu senyum kecilnya setelah selesai membersihkan luka di wajahku.

Ia tidak seperti gadis-gadis bangsawan yang datang ke istana bersama keluarga mereka. Aku pernah melihat banyak dari mereka dalam perjamuan, perayaan musim, dan jamuan makan yang tidak pernah benar-benar ingin kuhadiri. Mereka selalu berpakaian terlalu rapi, dengan rambut disusun berjam-jam dan wajah yang dibubuhi bedak sampai warna kulit asli nyaris hilang. Mereka tertawa sebelum aku selesai mengatakan sesuatu dan tersenyum seolah sudah memutuskan bahwa apa pun yang keluar dari mulutku pasti menarik.

Sebagian besar tidak pernah berbicara kepadaku sebagai manusia biasa. Mereka berbicara kepada gelar, nama keluarga, dan takhta yang suatu hari akan kududuki.

Ishar tidak memiliki masalah seperti itu.

Ia memukul kepalaku karena aku mengumpat, memaksaku menunggu makanan, lalu menyuruhku diam ketika aku terlalu banyak bergerak. Ia tidak peduli bahwa aku sedang marah, baginya aku hanya Kal Primm. Mungkin ia akan melakukan hal yang sama seandainya mengetahui siapa aku sebenarnya.

Anehnya, pikiran itu tidak lagi menggangguku.

Aku mengangkat satu tangan dan menyentuh pelan kulit dekat bibir, berhati-hati agar tidak mengenai lukanya. Minyak cengkih masih meninggalkan aroma tipis. Aku teringat jemari Ishar menahan rahangku, hangat dan cukup lembut untuk membuatku lupa pada perih selama beberapa saat.

Perasaan aneh kembali muncul di dada.

Tidak kuat, tetapi cukup untuk membuat napasku berubah. Hangat, sedikit menekan, sekaligus ringan. Aku pernah tertarik pada wajah cantik sebelumnya. Banyak gadis bangsawan memang cantik, dan beberapa dari mereka terlalu sadar akan hal itu. Namun apa yang kurasakan ketika Ishar berada dekat denganku terasa berbeda.

Mungkin karena ia tidak berusaha membuatku menyukainya.

Mungkin karena ia bahkan tidak tahu siapa aku.

Aku tidak perlu duduk tegak seperti seorang pangeran di hadapannya. Tidak perlu memikirkan apakah setiap kata akan dibawa pulang kepada seorang bangsawan yang ingin mendekati keluarga kerajaan. Baginya aku hanyalah pemuda yang membutuhkan bantuan membersihkan darah dari wajah.

Ada bagian kecil dalam diriku yang ingin tetap tinggal.

Pikiran itu muncul begitu tenang hingga aku hampir tidak menyadarinya. Aku membayangkan bangun besok tanpa harus kembali berjalan. Makan di meja Rosh, membantu Ishar membawa keranjang, melewati jembatan kayu, atau sekadar duduk di dekat perapian ketika malam tiba. Rumah itu kecil, tetapi kehangatannya terasa jauh lebih nyata daripada banyak ruangan besar di istana.

Aku bisa menjadi Kal Primm di sana.

Bukan pewaris takhta. Bukan buronan. Bukan putra yang gagal menyelamatkan keluarganya.

Hanya Kal.

Namun keinginan itu tidak bertahan lama sebelum kenyataan mengikutinya. Pasukan Dann sudah bergerak melewati Gisa. Kabar dari Mitenn Highroad akan menyebar, dan cepat atau lambat seseorang akan mencari dua pengelana yang meninggalkan jalan suci menuju barat. Kalau aku tetap di Arlenville, bahaya itu akan datang ke rumah Danmer.

Aku membayangkan tentara berdiri di depan pagar kayu, menginjak pot-pot bunga di teras, lalu menyeret Rosh keluar dengan tangan tuanya yang masih menggenggam tongkat. Aku membayangkan Ishar mengangkat pisau kecilnya terhadap orang-orang bersenjata lengkap.

Rasa hangat dalam dadaku berubah menjadi sesuatu yang lebih berat.

Aku tidak bisa tinggal. Bukan karena aku tidak menginginkannya, tetapi justru karena untuk pertama kalinya sejak meninggalkan istana aku menemukan tempat yang tidak ingin kubawa ke dalam kehancuranku.

Marlow pasti sudah mengetahui itu sejak kami mendekati desa. Mungkin itulah sebabnya ia ingin berangkat pagi-pagi. Semakin singkat kami berada di Arlenville, semakin kecil kemungkinan keberadaan kami menyeret keluarga Danmer ke dalam urusan Dann.

Aku membalikkan badan kembali menghadap jendela. Bulan berada lebih tinggi, membuat cahaya di lantai bergeser mendekati ranjang. Di luar, angin menggerakkan daun-daun dan air sungai terus mengalir ke arah Blue Lake.

Aku membayangkan Ishar berada di kamar lain, mungkin sudah tertidur tanpa memikirkan kami. Besok pagi ia mungkin hanya akan tersenyum, memberikan bekal, lalu melihat kami pergi. Setelah itu kami akan menjadi cerita singkat tentang dua pengelana yang membantunya menghadapi Reiss.

Pikiran tersebut meninggalkan rasa tidak nyaman yang tidak ingin kuakui.

Namun semakin lama aku memikirkan rambut pirangnya, mata hijaunya, dan telapak tangan yang menepuk kepalaku tanpa ragu, semakin berat kelopak mataku. Ketegangan di bahu perlahan mengendur. Suara sungai berubah menjadi dengung yang tenang, bercampur derit rumah dan bunyi api yang hampir padam dari lantai bawah.

Wajah pemuda di Mitenn Highroad tidak benar-benar menghilang. Ia hanya bergerak semakin jauh, ditutupi wajah lain yang tersenyum dalam cahaya perapian.

Aku tidak tahu kapan tepatnya pikiranku berhenti bergerak. Pada suatu saat aku masih menatap cahaya bulan di lantai, dan pada saat berikutnya kamar, rumah Danmer, serta seluruh Arlenville tenggelam ke dalam gelap.

Aku akhirnya tertidur.

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!