Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Teman
“Wah, jadi ini yang namanya Melati. Cuantik, pol. Kayak ibunya.”
Suara parau itu memecah keheningan, membuat bulu kuduk Melati meremang seketika. Itu suara pria. Genit dan nakal.
Membuat Melati tersentak. Ia reflek melepaskan pegangan Mawar. Melangkah mundur selangkah dengan tubuh yang gemetar hebat karena takut.
“Aku dulu ditolak Lestari, eh, sekarang malah mau dapat anaknya, hahaha.” Gelak tawa bergaung kencang, mengguncang ruangan tamu yang sempit.
‘Kenapa dia bisa tahu nama ibuku?’ batin Melati bertanya.
“Inggih Juragan. Sesuai janji. Melati saya serahkan. Dan utang saya dianggap lunas.” Turi membalas dengan senyum licik. Ia melangkah mendekati Melati, mendorong punggung keponakannya itu tanpa belas kasih sedikit pun.
Melati langsung tahu. Itu … suara Juragan Herwanto. Membuat tubuhnya seketika kaku. Tak berkutik.
“Hahaha. Itu bisa diatur.” Sang juragan mengibaskan tangan, kegirangan. “Kalau begini sih, lebih baik buat aku saja. Nggak dijual kalau ini, mah.”
Saat tengah diliputi kebingungan. Melati merasakan ada tangan nakal, terulur menyentuhnya. Cengkeraman jemari kasarnya mulai merayap naik ke bahu pakaiannya yang terbuka.
Namun Melati dengan sigap menepis. Ia mengibaskan tangannya panik. Memukul mundur sentuhan haram tersebut.
“Eh, berani kamu sama saya.” Herwanto membentak kasar. Melati tak bisa melihat. Akan tetapi, dari suaranya, ia tahu pria marah. Nadanya seakan menggaungkan luapan emosi.
“Jangan berani sama Juragan ya, kamu!” Melati mendengar sang bibi membentak. Ditambah cengkeraman dua tangan, menahannya. “Kamu diam!”
Melati menelan ludah. Tubuhnya tak bisa bergerak.
Tepat saat sang juragan baru akan menyentuhnya, sekali lagi. Suara gertakan terdengar. Diiringi langkah kaki yang menghentak keras mendobrak pintu depan rumah.
“Jangan kurang ajar sama Melati!” bentak suara bariton yang teramat familiar di telinga Melati, membelah ketegangan yang hampir memuncak.
“Satya?” Melati bernapas lega. Merangsek hendak maju. Namun langkahnya tertahan oleh dua tangan yang mencekalnya. “Lepas!”
Cekalan tangan itu terlalu kuat. Membuat sang gadis hilang daya.
Melihat Melati diperlakukan tak pantas. Satya merangsek masuk. Menerobos pertahanan orang-orang Juragan Herwanto. Ia berdiri kokoh di depan Melati, menyembunyikan parut luka bakar di wajahnya di balik tatapan mata yang menyalang penuh dendam, sisa masa lalu.
“Siapa kamu?” Herwanto menunduk Satya, matanya melotot tajam.
Sang juragan mengepalkan tangan kuat-kuat, memberi isyarat kepada para preman di belakangnya untuk siap menghabisi pemuda buruk rupa yang berani mengacaukan rencana besarnya.
"A-aku ... saudara Melati," aku Satya. Ia tetap berdiri tegap. Meski dua preman berbadan kekar mulai mengikis jarak dan menekannya hingga ke sudut dinding. Ketegangan di dalam ruangan kian pekat merayap.
"Jangan bohong!" Herwanto menggertak, "Lestari mati, usai melahirkan gadis cacat ini." Tangannya menjambak rambut Melati kasar. Membuatnya mendongak.
Air mata Melati langsung menetes, merusak riasan bedak tipis yang dipoles Mawar tadi. "Setahun kemudian, bapaknya mati. Ketabrak. Kok bisa kamu ngaku saudara itu lho.”
"Jangan kasar sama wanita, ya!" Satya hendak merangsek maju, tapi tertahan oleh beberapa pria bertubuh besar.
Dada Satya naik turun memburu amarah, sementara lengannya dikunci paksa oleh dua pasang tangan kekar.
"Turi punya utang sama aku. Ratusan juta. Aku akan melunaskan utangnya. Tapi sebagai ganti, Melati jadi istri mudaku. Hahahaha." Herwanto menantang, semakin menarik kuat rambut Melati. Membuat si gadis meringis. Cengkeraman itu begitu bertenaga hingga membuat Melati terpekik menahan perih yang luar biasa di kulit kepalanya.
"Aneh. Yang punya utang siapa, yang dipaksa jadi ganti siapa." Satya mulai melancarkan rencana yang sudah disusunnya. Ia mengabaikan rasa sakit di lengannya, lalu melempar tatapan penuh intrik ke arah Herwanto. "Lagian kamu juga bodoh, Pak Tua, harusnya kalau niat ngasih pinjaman itu, mbokya harus ada jaminan."
Herwanto mengeram kesal. Melirik Turi tajam. Satya langsung menebak ada sesuatu di antara juragan dan Bibi Melati.
Sementara, rahang sang juragan mengatup rapat, menyadari kelalaian administrasinya sendiri yang telah dimanfaatkan.
"Nggak ada jaminan ya?" lanjutnya, sengit. Seakan meniup api yang sedang berkobar.
Satya sengaja memajukan wajah rusaknya, menantang ego sektoral sang penguasa wilayah kecil kota 'T'.
"Diam kamu! Makanya aku kasih Melati, buat nutup jaminan!" hardik Turi. Ada getaran ketakutan di balik kata.
Wanita paruh baya itu melangkah maju dengan panik, wajah kurusnya pias. Mungkin ada ketakutan, kalau rahasia busuknya dibongkar habis-habisan.
Satya menghela napas sesaat. Melirik ke arah Mawar yang menatapnya jijik. Gadis itu, seusia Melati. Cukup cantik, dandanannya juga menor. "Kenapa ... Melati? Kan kamu juga punya anak perempuan?" Ia menunjuk Mawar. Membuat gadis dengan pakaian minim itu mendelik tajam. "Lihat, dia tidak buta. Lebih sempurna dari Melati."
Herwanto mulai bimbang. Niatnya mulai goyah, saat melihat kemolekan tubuh Mawar. "Kamu benar." Tanpa sadar ia melepas Melati.
Pandangan mesum sang juragan kini beralih sepenuhnya memindai lekuk tubuh Mawar yang langsung mati kutu di tempatnya berdiri.
Sigap. Satya menarik Melati. Mencengkeram tangannya kuat. Dengan satu sentakan kuat. Ia melepaskan diri dari dua preman yang ikut lengah menonton drama internal tersebut.
"Kamu, tenang, habis ini, kita pergi," bisiknya, menenangkan.
Melati mengangguk menjawab. Gadis buta itu bersandar sepenuhnya pada dada bidang Satya. Dengan napas yang masih tersengal-sengal.
Saat semua perhatian teralih ke Mawar. Tak membuang waktu. Satya membopong tubuh Melati. Membawanya lari, ke luar pintu.
Ia bahkan melompati anak tangga teras dengan cepat. Memacu sisa tenaganya menembus pekatnya intrik keluarga yang nyaris menghancurkan hidup wanita yang dicintainya.
“Kita mau ke mana?” tanya Melati, saat Satya menurunkannya. Tangannya meraba panik. Mencari pegangan di tengah guncangan debar dadanya yang belum reda.
“Cepat naik,” jawab Satya, mengacuhkan pertanyaan si gadis. Ia melirik spion dengan tegang, memutar tuas gas dengan tergesa demi menghindari kepungan anak buah Juragan Herwanto, yang mungkin sudah menyadari pelarian mereka.
Melati menurut. Motor melaju. Membela hari yang masih pagi. Embusan angin dingin menerpa wajah ayu Melati, menerbangkan sisa ketakutan dari rumah jahanam tadi.
“Satya,” bisik Melati, saat mereka dalam perjalanan. Ia memajukan tubuhnya, menempelkan dada kirinya ke punggung tegap sang pemuda.
“Apa?” tanya Satya, suaranya sedikit meninggi melawan deru angin. Meski fokus matanya tetap waspada menatap jalanan di depan.
“Terimakasih ya.” Di balik punggung pemuda buruk rupa, si gadis buta tersenyum malu. “Kamu sudah banyak menolongku.” Melati memberanikan diri mengeratkan pelukan lengannya di pinggang baju Satya.
Menyandarkan seluruh sisa hidupnya pada kebaikan pria itu.
“Ya.”
Hanya jawaban dingin yang terdengar.
Tanpa si gadis buta tahu. Jantung Satya berdebar tak karuan. Seirama dengan jantung Melati, yang juga berdebar kencang.
Satya menggenggam stang motor lebih erat. Menyembunyikan rahasia besar di hatinya yang begitu mendamba sang gadis dalam diam abadi mereka.
—
"Satya."
Suara pria tua membuat Melati menajamkan telinga. Langkah kakinya yang masih terasa lemas setelah pelarian menegangkan. Mendadak terpaku di dekat standar motor yang diturunkan kasar.
Motor berhenti. Ia mulai turun dari motor, dengan menjadikan pundak Satya tumpuan. Cengkeraman jemari Melati pada kain jaket Satya terasa amat kencang. Menyiratkan sisa trauma dari ancaman Juragan Herwanto yang baru saja mereka lewati.
"Kok sudah balik? Katanya lama?"
Suara pria tua kembali terdengar. Diselingi langkah kaki turun dari anak tangga teras rumah.
"Iya, Wak. Saya cuma mau jemput teman." Satya mendorong bahu Melati sedikit, menggeser tubuhnya agar posisi gadis itu lebih maju. "Ini Melati. Teman saya. Dulu satu panti. Yang pernah saya ceritakan.”
"Saya Melati." Melati mengulurkan tangan. Mencoba bersikap ramah. Ia mendongakkan kepalanya yang berbalut riasan tipis peninggalan Mawar. Berusaha menebak ke mana intrik nasib akan membawanya kali ini.
Tak ada uluran balasan. Namun dari balasan bicara, "Saya Wak Kaji. Tetangga Satya." Melati langsung bisa merasakan, kalau orang ini baik. Nada suara pria tua itu terdengar begitu teduh, kontras dengan makian kasar Turi dan Herwanto beberapa saat lalu.
"Ayo masuk." Wak Kaji mempersilakan keduanya masuk. Ke ruang lebih dalam. Pria tua itu melambaikan tangan. Memberi kode, supaya keduanya menjauh dari pandangan mata, orang-orang asing yang berlalu-lalang di jalan depan rumah.
Satya membantu Melati. Menuntun si gadis buta. Sampai di ruang tamu. Ia masih membantunya duduk. Satya dengan telaten memastikan jaketnya, menutup aurat si gadis. Sebab ia tahu, Wak Kaji orang yang sedikit agamis. Tajur ada salah sangka.
"Ehem." Wak Kaji melirik sambil tersenyum. Beliau berdeham sengaja, melipat tangan di dada sembari memperhatikan gerak-gerik canggung kedua anak muda itu. "Belum muhrim kok sudah pegang-pegang?”