NovelToon NovelToon
Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:39.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

"Selama ini, aku bertahan bukan karena masih mencintaimu, Arsen. Bukan juga karena aku lemah. Tapi, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuat kalian menyesal."

Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.

Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.

Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.

Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.

Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.

Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Tidak Peduli Lagi

Alena akhirnya tiba di rumah saat langit mulai gelap.

Tubuhnya terasa remuk setelah seharian berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Ditambah lagi, hasil yang didapat sama sekali tidak sesuai harapannya.

Begitu masuk ke dalam rumah, ia langsung meletakkan tasnya di atas meja dan menjatuhkan tubuh ke sofa ruang keluarga.

Kepalanya bersandar pada sandaran sofa. Matanya terpejam sesaat.

"Aku lelah sekali," gumamnya lirih.

Bukan hanya tubuhnya yang lelah, tapi pikirannya juga.

Setiap penolakan yang ia terima hari ini seolah mengingatkan betapa jauhnya ia tertinggal dari dunia kerja.

Alena mengembuskan napas panjang lalu, memaksa dirinya bangkit. Ia berniat langsung masuk ke kamar dan beristirahat.

Namun, baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama, gerakannya terhenti. Tatapannya beralih ke arah ruang makan.

Meja makan panjang itu telah dipenuhi berbagai hidangan. Ada sup hangat, aneka lauk, serta makanan favorit Arsen.

Pemandangan yang begitu familiar.

Pemandangan yang selama bertahun-tahun selalu menjadi bagian dari rutinitasnya.

Biasanya, pada jam seperti ini, ia akan sibuk memastikan semuanya sempurna sebelum Arsen pulang. Tapi kini, perasaan yang muncul justru berbeda.

Ia tidak lagi berantusias untuk menunggu, apalagi untuk menyenangkan suaminya, seolah sesuatu dalam dirinya telah mati.

"Nyonya."

Suara pelan seseorang membuat Alena menoleh.

Santi berdiri tidak jauh darinya dengan wajah hati-hati.

"Ada apa, Santi?" tanya Alena.

Santi tampak ragu sesaat sebelum menjawab. "Tuan berpesan kalau beliau akan pulang larut malam ini."

Alena hanya terdiam beberapa detik. Pesan yang sama, yang Santi sampaikan saat ia pulang.

Jika itu terjadi beberapa minggu yang lalu, mungkin ia akan langsung bertanya apakah Arsen sudah makan atau belum. Mungkin ia akan meminta Santi menghangatkan kembali makanan saat pria itu pulang.

Namun sekarang, perasaannya nyaris tidak terusik.

"Oh."

Hanya itu respons yang keluar dari bibirnya.

"Kalau begitu, tolong bereskan meja makan."

Santi tampak terkejut. "Semuanya, Nyonya?"

"Iya."

"Tapi, makanan ini baru saja selesai disiapkan."

Alena menatap meja makan sekilas. Lalu mengalihkan pandangannya.

"Aku tidak lapar."

Setelah mengatakan itu, ia kembali melangkah menaiki tangga dengan langkah lambat dan berat. Rasa lelah yang menguasai tubuhnya jauh lebih besar daripada rasa lapar yang ia rasakan.

Santi hanya bisa memandang punggung Alena yang semakin menjauh. Entah kenapa, akhir-akhir ini majikannya itu terlihat sangat berbeda.

Di sisi lain kota, tepatnya di kamar VIP rumah sakit. Suasana tampak tenang dalam cahaya lampu malam yang redup.

Kakek Rendra sudah tertidur pulas setelah dokter memastikan kondisinya stabil. Sementara di dekat jendela, seorang pria berdiri dengan postur tegap.

Tangannya berada di saku celana, tatapannya mengarah ke arah gemerlap lampu kota di luar sana.

Wajah tampannya terlihat datar. Sampai-sampai sulit untuk ditebak apa yang sedang pria itu pikirkan.

Setelah beberapa saat, pria itu menoleh sekilas ke arah ranjang, memastikan kakeknya benar-benar tertidur. Baru kemudian, ia mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Ia memilih salah satu nomor lalu menekan tombol panggil.

Panggilan pun tersambung hanya dalam hitungan detik.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya seseorang dari seberang.

"Cari tahu identitas wanita yang menolong Kakek sore tadi," perintahnya.

"Baik."

Panggilan terputus.

Pria itu memasukkan kembali ponsel ke dalam saku dan kembali menoleh ke arah kakeknya.

***

Keesokan paginya, Alena sudah duduk di meja makan. Di hadapannya hanya ada dua lembar roti panggang dan segelas susu hangat. Ia makan perlahan sambil memikirkan bagaimana cara agar ia bisa secepatnya mendapatkan pekerjaan.

Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki menuruni tangga.

Arsen muncul dengan setelan jas yang rapi seperti biasa.

Begitu melihat Alena sedang sarapan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang lebih menyerupai sindiran.

Ia berjalan mendekati meja makan. "Sudah puas kelayapan beberapa hari ini?" tanyanya sinis.

Alena yang baru saja menggigit roti, seketika berhenti mengunyah. Namun, ia hanya mengangkat kepala sekilas, lalu kembali melanjutkan sarapannya seolah tidak mendengar pertanyaan itu.

Sikap acuh tersebut membuat Arsen mengernyit. Pria itu menarik kursi di hadapan Alena dan duduk dengan wajah datar.

Dahinya berkerut menatap menu di meja makan.

"Mana kopi ku?" tanyanya.

Alena menelan roti yang ada di mulutnya terlebih dahulu sebelum menjawab dengan tenang.

"Tidak ada."

Arsen menatapnya tajam. "Apa maksudmu?"

Alena meletakkan gelas susunya di atas meja.

"Bukannya kamu tidak pernah sarapan di rumah. Jadi, aku pikir tidak perlu lagi membuatkan kopi," ucap Alena dengan nada datar.

Arsen terdiam untuk sesaat karena kehilangan kata-kata.

Alena bangkit dari kursinya sambil membawa piring kotornya. Ia berjalan menuju dapur tanpa sedikit pun menoleh

"Alena, apa ini caramu menunjukkan kalau kamu sedang marah?"

Wanita itu berhenti melangkah, tetapi tidak berbalik. "Aku hanya menyesuaikan kebiasaan mu saja."

Jawaban itu membuat rahang Arsen mengeras. Ia menatap punggung Alena dengan tatapan tajam.

Entah sejak kapan wanita itu berubah. Biasanya, Alena akan meminta maaf lebih dulu, meski bukan dirinya yang bersalah. Atau, buru-buru membuatkan kopi jika ia mengeluh.

Tapi sekarang, wanita itu justru terlihat begitu asing.

Arsen mendengus pelan. "Sudahlah." Ia berdiri sambil merapikan jasnya.

"Oh ya. Papa dan Mama akan datang siang nanti."

Jantung Alena seolah berdetak lebih cepat. Tanpa sadar ia memegang piring dengan erat.

Arsen melanjutkan ucapannya tanpa menyadari perubahan ekspresi istrinya.

"Temani mereka di rumah. Dan, jangan kelayapan terus," seru Arsen dengan suara terdengar seperti perintah.

Tanpa menunggu jawaban, Arsen mengambil tas kerjanya lalu melangkah keluar.

Tidak lama kemudian, suara pintu utama tertutup, disusul deru mesin mobil yang perlahan menjauh meninggalkan rumah.

Suasana kembali sunyi. Alena masih berdiri mematung beberapa saat. Kemudian, ia berjalan ke dapur, meletakkan piring kotornya ke dalam wastafel.

Tatapannya seolah kosong. Pikirannya dipenuhi oleh ibu dan ayah mertuanya

"Papa dan Mama akan datang," gumamnya lirih.

Alena mengusap wajah nya kasar. Selama ini, kedua mertuanya selalu memperlakukannya dengan baik. Mereka selalu membelanya, dan tidak segan menegur Arsen jika melakukan kesalahan.

Jika mereka tahu putra kesayangan mereka telah berselingkuh, apa yang akan terjadi?

Alena memejamkan mata sejenak.

"Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada mereka?" gumamnya lirih.

Pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalanya.

Di satu sisi, ia ingin semua kebohongan Arsen terbongkar dan mendapat balasannya. Tapi di sisi lain, ia tahu kabar itu pasti akan sangat melukai hati kedua mertuanya.

Alena menghela napas. Kepalanya menunduk dalam. "Apa yang harus aku lakukan?"

1
Muft Smoker
jgn marah2 kek ,, namany juga ank2 ,, 😂😂😂😂 ,,
nakal sdkit gpp ,, yg penting nnti kek dapet cucu menantu idaman ,,
nunik rahyuni
bocah nakal lg kasmaran kakek..relakan saja hp jadulnya...untuk kelancaran menjemput calon cucu menantu🤣🤣🤣
Ma Em
Alena semangat ya dan kamu jgn mau direndahkan Arsen , Kenan pasti bohong pada Alena bahwa dia menggantikan kakek Rendra .
sunaryati jarum
Orang panik juga bisa lupa.sampai menggandeng tangan.orang tidak merasa.Untuk.Arsen Emak beritahu ya kamu memiliki masalah kesuburan jadi diaknosa saat masih jadi suami Alena kemungkinan kecil membuat pasangan kamu hamil
Muft Smoker: atuh perlu di pertanyakan atuh mak ,, ank di kandungan erina????😲😲😲😲😲
total 1 replies
sunaryati jarum
Astaga kirain emak Kenan baca pesan di Hp Alena, ternyata.hp kakek Rendra dibaea🤣🤣🤣
sunaryati jarum
O yang baca Tuan Kenan,ya.Sudaj berani baca pesan di Hp Alena
Yeni Astriani
ternyata saingan terberat Kenan dalam mendapatkan perhatian Alena Kakek Rendra sampai mencuri hape kakek nya sendiri biar gak bisa kencan sama Alena.
aduhh😂😂😂
nunik rahyuni
kan...kenan nakal..orsng tua dikerjai...sampai seisi rumah di balik cuma cari hp..tp sang cucu yg licik menguntit nya🤣🤣g ada nyali nya kenan...klo suka bilang bos
Heny
SUAMI YG GK BERSYUKUR DPT ISTRI SETIA DAN BAIK HATI
Heny
Main cabtik Alena
Heny
Alena yg sabar
nunik rahyuni
yg di beri kbr si kakek tp notif nya msuk di hp kenan jg🤣🤣🤣l modus kenan licik
Muft Smoker
jgn2 yg nerima pesan bukan kek rendra tp si kenan ,,
😂😂😂😂
sunaryati jarum
Bosnya suka kamu,dia bayar dengan dana pribadi ,dia mengatakan dana perusahaan agar kamu tidak menolak.Untuk urusan Arsen di perusahaan ASN kamu tidak perlu kawatir,dari hasil sidang dan terungkapnya fitnah Arsen padamu, Arsen sudah tidak mendapatkan kepercayaan lagi.Apalagi jika perselingkuhannya diungkap, mungkin para pemegang saham memintanya mundur
sunaryati jarum
Semangat dan sukses Alena.Dan emak ingin segera melihat kehancuran Arsen dan keluarganya termasuk selingkuhannya
sunaryati jarum
Kenan Pepet Alena dengan dalih menemani kakek Rendra.Cerdas juga bisa memanfaatkan kedekatan kakeknya dengan Alena 🤣🤣🤣👋👋
Ma Em
Semangat Alena semoga kamu makin sukses selalu bahagia tinggalkan masa lalu menuju masa depan yg bahagia , semoga Arsen tdk akan pernah bahagia bersama selingkuhan nya dan mendapatkan balasan yg lbh menyakitkan .
Muft Smoker
tdk perlu memandang lg kebelakang Alena ,, anggap aj mereka mimpi buruk yg perlu km lupain ,,
Muft Smoker
tkuut kesaing ma kakek ny sndriii yx kenan😂😂😂😂😂
sunaryati jarum
Arsen yang menghubungi atau ada bukti baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!