NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Mobil mewah berwarna hitam mengkilap yang dikendarai Samuel melaju perlahan menuju pusat kota. Lalu lintas pagi itu cukup padat, sehingga saat sampai di perempatan jalan utama, mobil itu terpaksa berhenti tepat di garis berhenti karena lampu lalu lintas yang masih menyala merah.

Samuel duduk bersandar di jok belakang, matanya menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Pikirannya masih terbagi antara urusan pekerjaan dan rasa gelisah yang tak kunjung hilang memikirkan sikap Bima yang semakin sulit diatur. Di sampingnya, Gio juga hanya diam, sesekali melirik berkas kerja yang ada di tangannya.

Di jalur sebelah kanan, sebuah mobil berwarna putih bersih juga berhenti sejajar dengan mobil Samuel. Di dalamnya duduk Samantha, yang hari ini mengenakan pakaian sopan berwarna krem dengan hijab yang rapi menutupi tubuhnya. Di kursi sebelah pengemudi duduk seorang gadis remaja berusia sekitar 13 tahun, mengenakan seragam SMP lengkap dengan dasi dan topinya yang terlihat rapi.

Gadis itu adalah Aisyah Alexander, putri dari kakak sulung Samantha, Aslan, dan istrinya Amara. Hari ini Samantha bersedia mengantarkan keponakannya itu ke sekolah karena kedua orang tuanya harus berangkat lebih pagi untuk urusan bisnis ke luar kota.

“Tante, sebentar lagi lampunya pasti berubah hijau, kan?” tanya Aisyah dengan suara ceria sambil menatap ke arah lampu lalu lintas.

Samantha tersenyum lembut menanggapi keponakannya itu. “Sebentar lagi, Sayang. Kita sudah hampir sampai ke sekolah kok, nanti Tante antar sampai di gerbang ya.”

“Terima kasih, Tante Sam. Senang sekali hari ini bisa diantar Tante, biasanya aku diantar sopir saja,” jawab Aisyah sambil tersenyum lebar.

Saat sedang mengobrol ringan, Samantha tanpa sengaja memutar kepalanya sedikit ke samping untuk melihat keadaan jalan. Dan tepat saat itu juga, pandangannya langsung bertemu dengan sepasang mata yang selama ini tak pernah ia lupakan mata milik Samuel Nugroho.

Samuel yang awalnya hanya melamun, seketika matanya terfokus pada sosok wanita yang ada di jendela sebelah. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Wajah itu… meski tertutup hijab dan tidak lagi terlihat seperti saat masa kuliah dulu, namun sorot matanya dan garis wajahnya terasa sangat akrab. Ia tertegun, tidak mampu mengalihkan pandangannya, begitu pun Samantha.

Detik-detik itu terasa berjalan sangat lambat. Mereka hanya saling menatap dalam diam, seolah dunia di sekitar mereka menghilang sejenak. Di hati Samuel muncul kembali rasa penasaran yang sempat ia tolak keras-keras kemarin, sedangkan hati Samantha berdebar kencang, bingung apakah harus menyapa atau tetap berpura-pura tidak mengenalinya seperti kejadian di kafe dulu.

Namun keheningan itu tidak berlangsung lama. Terdengar suara klakson panjang dari mobil di belakang mereka yang sudah tidak sabar karena lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Suara itu membuyarkan lamunan keduanya sekaligus memecah keheningan yang terasa canggung.

Samantha segera menarik napas pendek, mengalihkan pandangannya dengan wajah yang sedikit memerah karena gugup. Ia memutar setir perlahan dan menginjak gas dengan tenang, melajukan mobilnya menjauh meninggalkan perempatan itu.

Di dalam mobil, Aisyah menyadari perubahan sikap bibinya. Ia menatap Samantha dengan pandangan penasaran.

“Tante, kenapa wajahmu terasa agak merah? Tadi Tante menatap siapa di mobil sebelah itu?” tanya Aisyah polos.

Samantha tersenyum tipis berusaha menenangkan diri, sambil tetap memusatkan pandangannya ke jalan di depan. “Tidak apa-apa, Sayang. Tadi hanya melihat sekilas saja, ternyata bukan orang yang Tante kenal. Cuma kebetulan saja pandangannya bertemu.”

“Begitu ya… Tadi orang yang di dalam mobil sebelah itu juga menatap lama sekali ke arah kita, lho,” kata Aisyah lagi tanpa sadar, membuat jantung Samantha berdebar kembali.

Samantha hanya mengangguk pelan sambil mengatur napasnya agar kembali tenang. “Mungkin dia juga sedang melihat sekilas saja. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sebentar lagi kita sampai di sekolahmu.”

Sementara itu, di dalam mobil Samuel, pandangannya tetap mengikuti mobil putih itu hingga menghilang di tikungan jalan. Ia masih terdiam, raut wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya. Gio yang memperhatikan reaksi sahabatnya itu segera bertanya.

“Sam, ada apa? Tadi kau menatap ke arah mana saja sampai tertegun begitu?” tanya Gio penasaran.

Samuel mengedipkan matanya perlahan, baru sadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Gio, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

“Di mobil sebelah tadi… ada wanita yang rasanya sangat tidak asing lagi. Sorot matanya… persis seperti yang aku ingat selama ini,” jawab Samuel dengan nada lirih.

Gio mengangkat alisnya, matanya melebar mendengar ucapan itu. “Apakah maksudmu wanita yang kita temui di kafe kemarin? Apakah dia orang yang sama?”

Samuel tidak langsung menjawab. Ia hanya mengerutkan dahi, pikirannya dipenuhi keraguan dan rasa ingin tahu yang semakin kuat.

“Entahlah… tapi rasanya semakin sering aku bertemu dengan sosok yang terasa mirip, semakin aku merasa ada yang tidak biasa. Mungkin saja benar seperti dugaanku, atau mungkin hanya kebetulan belaka,” gumam Samuel pelan.

Gio menepuk bahu sahabatnya itu perlahan. “Kalau memang takdir mempertemukan kalian lagi, suatu saat nanti pasti akan terjawab semuanya. Sekarang fokus saja dulu ke pekerjaan, nanti kita lihat bagaimana kelanjutannya.”

Samuel hanya mengangguk singkat, namun hatinya sudah tidak lagi setenang seperti sebelum bertemu pandang tadi. Ia merasa ada sesuatu yang baru saja mulai bergerak dalam kehidupannya, dan ia belum tahu apakah itu akan membawa kebaikan atau justru membawa masalah baru.

 Setelah beberapa menit perjalanan, Samantha melambatkan laju kendaraannya dan menghentikan mobil tepat di depan gerbang utama SMP tempat Aisyah bersekolah. Pagi itu suasana sekolah terlihat ramai; banyak siswa yang baru tiba, berjalan berkelompok, dan saling menyapa satu sama lain. Samantha mematikan mesin, lalu turun dari mobil untuk membukakan pintu bagi keponakannya.

“Sudah sampai, Sayang. Hati-hati di dalam ya, belajar yang rajin,” ujar Samantha sambil tersenyum lembut membantu Aisyah menata ranselnya.

“Baik, Tante. Terima kasih sudah mengantarkan Aisyah hari ini,” jawab Aisyah sambil tersenyum lebar, lalu berdiri di samping bibinya menunggu sebentar sebelum melangkah masuk.

Belum sempat mereka melangkah lebih dekat ke gerbang, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap tiba-tiba berhenti tepat di samping mobil Samantha. Suara mesinnya mati perlahan, menarik perhatian keduanya. Samantha mengerutkan dahi sedikit, menatap mobil itu dengan pandangan bertanya-tanya, sedangkan Aisyah juga menoleh dengan rasa penasaran.

Pintu samping terbuka, dan keluarlah seorang anak laki-laki berusia sekitar 13 tahun, mengenakan seragam sekolah yang rapi namun dipakainya dengan gaya yang sedikit santai. Wajahnya terlihat datar dan dingin, tanpa senyum sedikit pun, seolah tidak ada satu pun hal di sekitarnya yang menarik perhatiannya. Begitu ia berdiri tegak dan mengangkat wajahnya, pandangannya langsung tertuju ke arah Samantha dan Aisyah.

Seketika itu juga, ekspresi wajahnya berubah sekejap terlihat keterkejutan samar yang hanya berlangsung sebentar, lalu segera digantikan oleh senyum tipis yang terasa sangat tidak ramah, bahkan terkesan mengejek dan sinis.

Samantha yang mengenali sosok itu langsung terdiam. Ia merasa jantungnya berdebar lebih kencang; inilah anak laki-laki yang kemarin sore terlibat perundungan dan bersikap kasar padanya. Wajahnya yang kemarin hanya sekilas terlihat, kini terlihat jelas dan semakin membuatnya teringat akan kemiripan yang sempat ia pikirkan tadi malam.

“Kenapa dia menatap kita begitu, Tante?” bisik Aisyah pelan sambil sedikit mendekatkan tubuhnya pada Samantha. Ia mengenali anak itu dan langsung menjelaskan, “Dia itu Bima Nugroho, anak yang cukup terkenal di sekolah ini karena sering berulah dan membuat masalah. Dia juga kelas 2 SMP sama sepertiku, cuma beda ruang kelas saja.”

Mendengar nama itu, Samantha mengerutkan kening lebih dalam. Bima Nugroho? Nama belakang itu terasa sangat akrab dan langsung mengaitkan segala potongan teka-teki di pikirannya. Namun ia segera menenangkan diri, berusaha tidak menunjukkan reaksi apa pun.

Bersambung...

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!