Kesempatan hidup kedua yang kudapatkan, akan aku manfaatkan dengan baik.
Aku berpikir siuman dari pingsan, tapi pada kenyataannya aku kembali ke waktu satu tahun sebelumnya.
Akan aku balas mereka yang telah menyakiti ku selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerak Cepat
Kevin masih berada di resto X bersama pria yang tadi. Melihat wajah sumringah nya, pasti hati Kevin merasa senang.
Tak lama datang seorang wanita yang sudah lumayan berumur.
"Pas banget timing ku datang ke sini," gumam pria berkacamata yang duduk di seberang mereka.
"Musuh bebuyutan Sean sedang rapat meja bundar," gumam pria yang ternyata adalah Andrew, teman baik Sean. Dia juga yang mengirimi foto Kevin tadi.
Ponsel Andrew berdering, "Halo brother!" sapa Andrew dengan sedikit memelankan suara.
Entah apa yang dikatakan oleh Sean, tapi Andrew menyanggupi.
"Oke, siap. Apa sih yang enggak buat kamu," balas Andrew seraya tertawa.
Andrew memanggil karyawan resto yang melintas di dekatnya.
"Bro...," panggil Andrew dan memberi isyarat agar karyawan itu mendekatkan telinga nya ke arahnya.
"Iya tuan," karyawan itu membungkuk di dekat Andrew.
"Kamu lihat meja di belakang ku, tiga orang yang di sana," seru Andrew. Dan karyawan itu melirik ke arah yang dimaksud.
"Tempel alat ini di bawah meja mereka," suruh Andrew memberi sebuah alat kecil kepada karyawan itu.
"Tapi tuan...," pria muda itu meragu. Karena resiko dipecat sangat besar jika ketahuan.
"Kalau dipecat bisa kerja di tempat ku," ujar Andrew seakan tahu arah pikiran pria itu.
"Tip buat kamu," Andrew memberikan sebuah kartu.
"Ada sepuluh juta di sana," bisik Andrew.
"Ba... Baik tuan," karyawan itu menerima dua barang yang diberikan Andrew.
Sementara Andrew kembali fokus dengan ponsel canggih yang dibawa nya, sambil melihat aksi pria barusan.
"Tuan-tuan, permisi. Boleh saya bereskan yang sudah nggak terpakai?" pria yang disuruh Andrew tadi di meja Kevin dan temannya.
Kevin dan rombongan tak begitu memperhatikan dan mengiyakan saja. Dalam detik yang sama, tangan pria suruhan Andrew menempel sesuatu di bawah meja mereka.
Andrew tertawa puas, setelah di telinga nya terdengar sesuatu.
Andrew memberi tanda jempol pada pria muda yang mengangguk sambil mengangkat piring kotor dari meja Kevin. Pria itu mengangguk pelan.
.
"Orang-orang suruhan kamu gimana? Aku dengar proyek di sana terhambat. Hari ini Sean Rahardjo bak kebakaran jenggot... Ha ..ha....," tawa Kevin terdengar memekakkan telinga Andrew.
"Beres bos, orang-orang itu bisa diandalkan," balas pria di depan Kevin.
"Jangan lengah kalian, Sean itu orang yang cerdas. Jangan memberi celah sekecil apapun buat dia," terdengar Yola menyela.
"Tentu saja Mah. Mama sendiri gimana?" tanya Kevin.
"Pengeluaran dari keuangan sudah sesuai dengan kebutuhan proyek, jadi mama yakin Sean tak akan menemukan celah dari sana," kata Yola yakin.
Andrew manggut-manggut mendengar obrolan mereka. Mereka tak tahu jika Sean telah membereskan masalah yang ada di lokasi.
"Eh, kalian tadi lihat Abimanyu sama sekretaris genit nya nggak?" tanya Yola di luar konteks bahasan utama.
"Papa pergi setengah jam yang lalu sama di Astrid," bilang Kevin.
"Mama cemburu sama si Astrid?" tanya Kevin.
Yola menampakkan wajah kesal.
"Nggak level lah Mah. Astrid itu siapa, mama itu siapa? Nggak mungkin papa jatuh cinta pada cewek macam itu," bahasan Kevin membuat Andrew tertawa geli.
Sama-sama cewek cem-ceman saja pake standar level segala. Batin Andrew merasa lucu.
"Oke, mama balik dulu. Mama tak mau kecolongan. Tau sendiri, hanya tuan Abimanyu yang menjadi aset terbesar mama," bilang Yola.
"Oke Mah. Jangan sampai ketahuan," setuju Kevin.
"Bye Kevin," terlihat Yola pergi meninggalkan dua pria itu.
Ponsel pria yang menjadi lawan bicara Kevin berdering, hingga memekakkan telinga Andrew.
'Hadech, nada deringnya nggak banget deh,' umpat Andrew.
"Halo," sapa nya.
"Apa? Bowo dan pak mandor tertangkap? Dibawa kemana mereka? Kantor polisi?Pastikan mulut mereka terbungkam sempurna," perintah pria itu terdengar jelas oleh Andrew.
"Apa yang terjadi?" suara Kevin terdengar.
"Anak buahku tertangkap," jelas pria di depan Kevin.
"Bodoh. Kalau sampai gagal maka sisa bayaran tak akan aku beri," umpat Kevin kesal.
"Aku pastikan semua berjalan baik tuan Kevin. Anak buahku yang berada di penjara akan aku kerahkan," bahas lawan bicara Kevin.
"Buktikan itu. Kalau sampai proyek ini gagal, nama baikku taruhannya," Kevin pergi dengan hati dongkol.
"Awas saja kalau kamu sampai tak membayar ku. Semua perintah mu sudah aku simpan, buat bukti jika kamu berkelit," gumaman pria itu terdengar di telinga Andrew.
Andrew mengusap tengkuk nya, "Sean, hidupmu memang tak mudah," Andrew ikut bergumam.
.
Sebuah notif pesan didapat Sean saat masuk di lobi perusahaan. Pesan suara yang lumayan panjang durasinya diterima oleh Sean Rahardjo.
"Celline, aku langsung ke bagian keuangan," beritahu Sean.
"Baik, saya langsung ke ruangan saja," tukas Celline. Mereka berpisah arah.
Sean langsung menemui manager keuangan pengganti Yola.
"Selamat siang tuan Sean, ada yang bisa kami bantu?" sapa hormat manager keuangan.
Sean duduk menyilangkan kaki.
"Bisa tunjukkan bukti transaksi selama sebulan terakhir?" pinta Sean.
"Terutama yang terkait dengan proyek pembangunan timur kota yang menjadi tangung jawab saya. Kirim ke email, saya tunggu hari ini juga," lanjut Sean memberi perintah.
"Tapi tuan, ada beberapa yang masih dibawa beberapa staf saya," ulas manager itu.
"Saya nggak mau tahu, hari ini harus sampai di meja saya," tegas Sean.
"Baik," balas manager keuangan.
.
Ponsel Yola berdering saat kakinya menginjak lobi perusahaan.
"Siapa sih?" Yola mengambil ponsel yang tersimpan di tas mewahnya. Niat hati sampai perusahaan akan langsung ke ruangan Abimanyu untuk mengajaknya makan siang, keburu ponselnya bunyi.
"Halo pak, selamat siang," sapa Yola yang ditelpon oleh manager nya. Manager yang dulu nya adalah bawahannya sendiri.
"Bu Yola, tolong segera balik ke ruangan. Tuan Sean membutuhkan semua bukti transaksi terkait proyek yang dikerjakan oleh nya," kata manager itu tergesa.
"Tapi pak... Beberapa bukti transaksi masih ada di lapangan," jawab Yola by ponsel.
"Saya nggak mau tahu. Semua yang sudah ditransaksikan sebaiknya laporkan sekalian bukti transaksi," suruh manager itu memberi perintah kepada Yola.
Yola hanya bisa menggerutu setelah panggilan dari bos nya berakhir.
"Sialan Sean," umpat Yola sambil jalan menuju lift.
Niat hati ingin menemui Abimanyu, meski tersendat karena ulah Sean.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
To be continued, happy reading
Suasana cerah di Minggu pagi, angin sepoi burung pun berkicau#update baru terangkai lagi, baca sambil rebahan hilang galau
Like, komen n' subscribe readers tercinta
Lope sekebon deh buat kalian 💖
atau pling gk nendang bpk nya biar miskin kl miskin yola pasti gk mau kn. 🤣.
pdhl Dr segi umur Sean sdh dewasa.