NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:783
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Liar

“Atas nama Kak Satya.”

Suara panggilan pesanan membuyarkan peta pikiran Satya. Ia kembali beranjak dari kursi, pamit. “Aku ambil pesanan dulu ya.” Sambil menepuk pundak Melati.

“Iya.” Melati mengangguk.

Usai mengambil makanan. Keduanya makan bersama. Satya meletakkan nampan berisi ayam goreng krispi, kentang, dan burger di depan Melati.

"Wah, baunya wangi sekali, Satya. Ini makanan apa namanya?" Melati meraba potongan ayam goreng dengan binar wajah yang begitu bahagia.

"Ini ayam goreng krispi dan kentang goreng, Mel. Ayo, dicoba, dicocol ke sausnya." Satya menuntun tangan Melati untuk mencicipi hidangan barat tersebut.

Melati menggigit ayamnya, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit indah. "Enak banget! Dagingnya empuk, kulitnya garing. Aku baru pertama kali makan makanan se-enak ini, Satya!"

"Syukurlah kalau kamu suka. Makan yang banyak, ya." Satya tersenyum pilu. Teringat masa kecilnya dulu. Saat ia masih ada di puncak kebahagiaan. Bersama Ayah dan ibunya. Makanan begini, bahkan sudah menjadi jajanan sehari-hari.

Ironi memang. Mengingat nasibnya saat ini yang berubah drastis. Dari yang dulunya berada di puncak. Sekarang, seakan menjadi ada di bawah tanah.

"Kamu juga harus makan, Satya. Jangan hanya melihatku saja." Melati mengingatkan, menyodorkan burger bagiannya ke arah Satya.

"Iya, ini aku juga makan kok." Satya tersenyum, menjawab lembut, meraih burger itu lalu menggigitnya pelan.

Namun, di tengah kehangatan romansa mereka, bisik-bisik mencemooh dari meja sebelah kembali terdengar menusuk telinga. Satya harus terus menunduk. Demi menghindari tatapan jijik orang-orang.

“Terimakasih,” ucap Melati, begitu motor sampai di depan pintu kos.

“Sama-sama.” Satya tersenyum. Mengedarkan pandangan. “Kosong,” cicihnya, lalu tatapannya berhenti ke seroang gadis berusia kisaran hampir empat puluh, yang ia kenal. “Mbak Kristi!” panggilnya.

Wanita bernama Kristi itu langsung menoleh. Mencebik sinis saat tahu Satya yang memanggil. “Ada apa?”

“Mak Tik ke mana?”

“Izin antar Devan periksa katanya. Makanya dia titip kos sama aku.”

“Oh, kalau begitu apa saya bisa minta tolong?”

Kristi bangkit. Meletakkan laptop dengan sekali hentak. Mulai melangkah mendekat. “Minta tolong apa?”

“Tolong antar pacar saya ke kamar atas.” Satya menyerahkan bungkus burger jatahnya ke Kristi. Sebagai pemancing. Sebab ia tahu Kristi agak sulit diajak kerja-sama.

Kristi tersenyum. Menelan ludah saat melihat tulisan di kantong yang disodorkan Satya. “Boleh,” tuturnya, “makasih lho.” Sambil menerima bungkusan. Lalu menatap Melati dengan ramah yang dibuat-buat. “Mari Mbak saya antar.”

Melati mengangguk. Meraba udara. Membuat Kristi sadar kalau gadis itu buta. “Makasih Mbak. Maaf merepotkan.”

Kristi membantu Melati. Memapah tubuhnya untuk berjalan. “Satya, aku ke atas dulu ya.”

“Iya. Aku juga mau balik kok.”

Setelah berkata demikian, Satya membalikan tubuh. Kembali ke motor dan melajukannya.

Sementara Kristi melotot tajam ke Melati.

Tanpa si gadis buta tahu. Meski begitu ia tetap berjalan. Memandu langkah Melati.

Sampai di lantai atas. Kristi bertanya, “Kunci kamarmu mana?”

Melati mengambil kunci dengan nomor di saku. Menyerahkannya. “Ini, Mbak.”

“Oh, kamar paling pojok. Oke.” Kristi kembali menuntun dengan hati tak ikhlas.

Usai sampai dan membuka pintu kamar. Kristi sedikit tercengang, melihat kamar melati yang bersih. “Kamu buta ya?”

“Iya, Mbak.” Malati tersenyum sopan menjawab. Meski nada yang terlontar kurang sopan.

“Pantas.” Kristi mengangguk, tersenyum sinis.

“Pantas apa, Mbak?”

“Pantas kok mau sama si buruk rupa. Eh.” Kristi menutup mulut, bersandiwara keceplosan. Padahal sengaja. “Maaf ya. Mungkin kamu nggak tahu. Kalau Satya itu … wajahnya buruk. Rusak. Seperti kena luka bakar yang lama.”

“Saya tahu, kok, Mbak.” Melati tersenyum kecil. “Saya sudah kenal Satya lama. Sejak di panti.”

“Apa? Kamu sudah tahu tapi masih mau?”

“Iya.” Melati mengangguk.

“Bodoh kamu.” Tanpa diduga Kristi mengolok. Membuat Melati sedikit kaget. “Menurutku ya. Kamu itu cantik. Cuma minesnya buta. Kalau aku jadi kamu. Aku akan cari pria kaya. Lalu operasi mata.”

Melati terkekeh. “Ya ampun, Mbak. Bagaimana bisa saya mencari pria kaya. Lha wong saya tidak tahu dunia luar. Kenalan juga cuma Satya dan orang kos sini saja.”

Kristi tersenyum. “Kamu mau nggak aku kenalin ke klien-ku. Dia kaya. Aku yakin dia pasti mau ….”

“Nggak Mbak, terimakasih,” potong Melati, “saya cuma suka sama Satya. Tak peduli rupanya bagiamana.”

Penolakan itu membuat Kristi membulatkan mata. Melengos tajam. “Ya sudah. Asal jangan nyesel lho kalau melarat. Satya itu dan jelek, miskin pula.” Setelah berkata demikian, Kristi memutar langkah, turun ke lantai bawah.

Meninggalkan Melati yang terdiam bingung, dalam gelap.

Di tempat lain. Mawar tampak menangis di ranjang sang juragan. Meringkuk dengan tubuh polos tanpa busana.

Lembaran sprei satin yang berantakan, menjadi saksi bisu kehancuran harga dirinya, setelah malam yang panjang dan penuh paksaan.

“Sudah jangan menangis.” Herwanto melempar kain di wajahnya. Pria bertubuh gempal itu berdiri di sisi ranjang sambil membetulkan letak sarungnya dengan santai.

“Masih bagus. Utang ibumu aku anggap lunas. Toh, aku juga nggak ngikat kamu dalam pernikahan.”

Mawar menelan ludah. Meratapi nasibnya yang sial. Ia menepis kain itu dari wajahnya, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang sarat akan dendam. “Seharusnya Melati yang ada di sini,” desisnya geram.

"Kenapa malah aku yang menggantikannya?!”

Suaranya meninggi, penuh luapan emosi. “Ibu juga cuma diam saja saat aku dibawa. Teman melati yang jelek itu juga … ini gara-gara dia, aku jadi harus ada di ranjang ini. Arkkkkkh!” Mawar mengacak rambutnya, melampiaskan kesal.

Herwanto memiringkan bibir sinis. Menarik kepala Mawar dalam pelukannya.

Cengkeraman tangannya yang kasar memaksa wajah Mawar mendongak, menatap langsung pada seringai penuh kemenangan sang juragan.

“Wes, jangan nangis. Masih mending aku yang meniduri kamu,” tuturnya sok bijak. “Justru yang goblok itu … anak Lestari. Masa iya, dia kabur sama pria jelek, nggak jelas asal-usulnya lagi. Kalau aku … karuan, banyak duit. Dia bisa juga operasi mata dengan hartaku. Dasar bodoh.”

Tak sampai di situ, ia menyeringai licik ke arah Mawar. “Semalaman sama aku, bagaimana? Enak toh?” Herwanto mengusap dagunya yang berjanggut kasar, menuntut pengakuan dari gadis muda di bawah kuasanya.

Mawar merengut. Tak dipungkiri dia menikmati. Namun, melihat wajah kusam sang juragan. Ia tetap saja merasa jijik.

Intrik demi intrik dalam kepalanya mulai berputar, mencari cara bagaimana memanfaatkan situasi kelam ini demi keuntungan dirinya sendiri.

Seperti tahu, Herwanto melanjutkan, “Awalnya memang nggak cinta. Tapi lama-lama, kalau sering melakukan. Kamu pasti nyariin aku … hahaha.”

Gelak tawanya menggema di dalam kamar, memutus sisa asa Mawar untuk melarikan diri dari takdir barunya.

Tanpa peduli kesakitan Mawar. Juragan bertubuh gempal itu, bangkit. Membuka laci, mengeluarkan gepokan uang. Lembaran merah yang berikatan tebal dengan bunyi bergemerisik pelan. Menciptakan melodi yang seketika menghipnotis kesadaran Mawar.

“Ini buat kamu. Pakai sesukamu. Kalau kamu butuh lagi, aku bisa kasih. Tapi kamu juga harus melayaniku.”

Mata Mawar membulat. Ia yang bekerja mati-matian di kantor saja, belum pernah mendapat uang sebanyak ini. “Ini buat aku? Beneran?” Tangannya gemetar, langsung menyambar gepokan uang itu dari genggaman Herwanto.

“Tentu saja.” Herwanto mengangguk, matanya menatap lapar pada keindahan tubuh Mawar yang tak lagi terlindungi.

Mawar hampir melompat kegirangan. Saat memikirkan akan dibuat apa uang di tangannya. Ia bahkan lupa, kalau tidak mengenakan pakaian sama sekali.

Membuat sang juragan kembali merapatkan tubuh. Aroma tembakau dan keringat pria itu kembali mengepung indra penciuman Mawar secara agresif.

“Eh.” Mawar berusaha melepaskan diri. Namun pangutan liar sang juragan, membuatnya tak sempat menghindar. Genggaman Herwanto semakin mengencang pada pergelangan tangannya, mengunci pergerakan Mawar di atas kasur.

"Lepaskan dulu, Juragan! Uang ini ... kalau aku mau minta tambah, boleh?" bisik Mawar penuh siasat, menahan napasnya saat bibir Herwanto mulai menjalar ke lehernya. Ia sengaja mengumbar senyum menggoda, menggunakan tubuhnya sebagai alat tukar.

"Berapa pun yang kamu minta, aku kasih! Asal kamu tunduk malam ini!" geram Herwanto, langsung menyetujui tanpa ragu. Pria itu mencengkeram pinggul Mawar dengan kasar, membalikkan tubuh gadis itu tanpa memedulikan rintihan kesakitan yang tertahan.

Herwanto menyerang Mawar kembali dengan brutal, meluapkan hasratnya yang menggebu tanpa sedikit pun kelembutan.

Mawar hanya bisa menggigit bibir bawahnya erat-erat, membiarkan tubuhnya dikuasai dalam drama pergolakan ranjang yang panas dan penuh paksaan. Demi tumpukan uang yang kini didekapnya erat-erat, merelakan harga dirinya tenggelam sepenuhnya dalam kubangan nafsu sang juragan.

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!