NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 07. Rahasia & Reaksi

Tok tok tok.

Naru mengetuk pintu jati ruang kerja yang sedikit terbuka. ​"Bunda," panggilnya lembut.

​"Masuklah, Naru-kun."

​"Ada apa Bunda memanggilku?"

​Di dalam ruangan bernuansa modern itu, Naru mengambil tempat duduk tepat di hadapan sang wanita yang melahirkannya. Atmosfer di sekitar mereka mendadak terasa berat begitu Naru menangkap guratan ekspresi serius di wajah ibundanya.

​"Naru-kun. Ini semua jadwal kegiatan yang harus kamu jalani selama berada di Indonesia. Kakekmu telah mengatur segalanya. Baik untuk dirimu, maupun ... memenuhi kepentingannya," ujar sang bunda dengan suara yang agak tertahan.

​"Baik, Bunda. Naru mengerti."

​Mendengar sang putra menjawab sepatuh itu, hati seorang ibu mana yang tidak teriris-iris. Pengorbanan Naru terlalu besar untuk anak seusianya.

​"Maafkan Bunda, Naru-kun. Bunda tidak berdaya untuk memberimu kebebasan yang selayaknya kamu miliki. Kamu ... harus menjadi jaminan atas kedamaian hidup Bunda di sini," bisik ibundanya, tatapannya menyiratkan rasa bersalah yang teramat dalam.

​"Tidak apa-apa, Bunda. Naru siap menanggung seluruh konsekuensinya," sahut Naru mantap, tanpa ragu sedikit pun.

​Melihat sang ibu menyeka sudut matanya yang mulai basah, hati Naru ikut tersayat. ​"Bunda tidak perlu menangis. Sesibuk apa pun jadwal yang kakek berikan, itu tidak masalah. Bisa pulang setiap saat seperti sekarang saja sudah membuat Naru sangat bersyukur."

​Sang bunda terpaku, speechless. Ia menatap lekat-lekat wajah putranya yang kini telah tumbuh menjadi sosok pria muda yang begitu dewasa, tegar, dan berwibawa.

​"Ini," sang bunda mengulas senyum haru seraya menyerahkan map di tangannya.

​Alih-alih mempelajari seberapa ketat dokumen jadwal itu akan mengikat hidupnya, atensi Naru justru terdistraksi. Di lembar dalam map itu, matanya menangkap beberapa berkas yang tampak asing.

​Kedua alis Naru menukik tajam. Detak jantungnya sempat melewatkan satu ketukan karena terkejut. "Ini ..."

​"Ada apa, Naru-kun?"

Naru justru semakin fokus membaca lembar demi lembar di tangannya. Itu adalah berkas data diri lengkap milik Nuha, lengkap dengan beberapa lembar foto hasil jepretan candid.

​"Bu-- Bunda? Kenapa Bunda melakukan ini?" Naru mengernyit tajam saat matanya terpaku pada sebuah foto yang menunjukkan Nuha sedang duduk menyendiri di sudut halaman sekolah, tampak terkucilkan dari keramaian.

​"Eh?" Sang bunda menoleh.

Begitu menyadari lembaran apa yang dipegang putranya, mata wanita paruh baya itu membelalak panik. Ia langsung bergerak maju dan berusaha menyerobot kertas itu. "Naru-kun, kembalikan! Kenapa kamu harus tahu tentang ini? Itu tidak sopan!"

​"Bunda sendiri yang memberikan ini padaku!" sahut Naru, menaikkan tangannya tinggi-tinggi ke udara untuk menghindari jangkauan ibunya. Wajahnya menampilkan ekspresi kesal campur pasrah melihat kelakuan ajaib sang bunda.

​"Ya, ya, baiklah! Bunda khilaf! Cukup, kamu tidak usah ikut campur. Bunda cuma sedang luang kemarin. Sini, kembalikan!" titah bundanya sambil berjinjit.

​"Jelaskan dulu, Bunda!" Naru bersikeras, tetap menjauhkan berkas itu. Ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja karena dokumen ini menyangkut gadis sepeda yang belakangan ini terus mengusik ketenangannya.

​Melihat putranya yang keras kepala tidak bisa didebat, sang bunda akhirnya menghela napas panjang dan menyerah. Ia kembali duduk di kursinya dengan bahu merosot.

​"Inara Nuha, itu namanya. Dia ... baru tahun pertama saja sudah menjadi korban perundungan oleh teman-teman sekelasnya."

​"Bu-- bully?" Jantung Naru mencelos.

​"Dengerin dulu!"

​"Ba-- baiklah. Naru akan dengarkan." Ia pun kembali duduk dengan posisi tegak yang formal.

"Untung saja Ketua OSIS di sana langsung bertindak tegas menindak mereka dan menyeret para pelaku ke ruang BK," lanjut sang bunda, mengulas senyum tipis.

"Kejadian itu akhirnya cukup meredam suasana supaya perundungan tidak terjadi lagi di kemudian hari. Bunda benar-benar salut kepada Ketua OSIS tersebut."

​Naru menyipitkan matanya, otaknya langsung bekerja cepat. "Siapa nama Ketua OSIS itu, Bunda?"

​"Lemmi Aditya."

​"Beri dia beasiswa penuh, Bunda," titah Naru mutlak dengan aura kepemimpinan klan Rui yang kental. "Naru sendiri yang akan mengurus administrasinya agar dia mendapat perlindungan hukum dan fasilitas penuh dari yayasan kita, di bawah sayap Rui Holding milik Kakek. Dan suatu saat nanti ... Naru akan merekrutnya untuk menjadi pengawal pribadi Naru."

​"Kamu ini berlebihan deh, tapi pemikiranmu luar biasa. Bunda bangga padamu, Naru-kun," kekeh sang bunda geli. "Baiklah, Bunda akan urus rekomendasi beasiswanya."

​Naru terdiam sejenak sebelum melayangkan tatapan menyelidik. "Lalu ... kenapa Bunda sampai secemas dan sekepo itu sama gadis bernama Nuha tadi?"

​Naru sengaja memancing ibunya.

Tanpa sepengetahuan sang bunda, Naru sebenarnya sudah terlebih dahulu bertemu dengan Nuha. Meski pertemuan pertama mereka meninggalkan kesan yang sangat acak-acakan dan tidak menyenangkan bagi Naru.

​"Dia gadis yang cukup unik, dan sukses mengusik rasa penasaran Bunda selaku pemilik yayasan," mulai sang bunda, menopang dagu dengan kedua tangannya.

"Dia mendaftar melalui jalur ... yang dia ciptakan sendiri. Begitu kata panitia penerimaan siswa baru. Nilai ujian nasional SMP-nya sebenarnya tidak lolos passing grade sekolah kita. Lalu saat diberi kesempatan ikut ujian masuk gelombang khusus, dia malah ketiduran di atas meja ujian."

​"Ha?" Naru melongo tak percaya. Gadis itu benar-benar definisi dari kata ceroboh.

​"Iya, dia ketiduran. Ceroboh banget. Bangun-bangun nangis kejer memohon pada panitia agar tetap bisa diterima karena kakaknya alumni dari SMK kita. Dia benar-benar takut dimarahi karena gagal. Sampai akhirnya dia berani menawarkan kesepakatan aneh. 'Saya bisa melukis! Saya juga mahir mengoperasikan komputer! Saya rela pulang sampai sore asal bisa diterima di sekolah ini!' Begitu katanya."

​Naru terdiam, mendadak teringat pada sosok Muha yang galak namun sangat protektif di toko bunga tadi. Pantas saja Nuha sampai ketakutan setengah mati.

​"Dan hebatnya, dia membuktikan kata-katanya hari itu juga," lanjut sang bunda dengan binar kagum yang tidak bisa disembunyikan. "Dia membuat dua lukisan yang sungguh indah hanya dalam hitungan jam. Sekarang lukisan itu Bunda pajang di dinding lobi gedung utama. Bukan cuma itu, melihat panitia pendaftaran yang kewalahan mengisi data, Nuha langsung turun tangan membantu. Ternyata dia bisa menjadi asisten yang sangat bisa diandalkan."

​Naru mendengarkan dalam diam, ada rasa hangat yang aneh perlahan menyusup di dadanya saat mengetahui sisi lain dari gadis tanggul itu.

​"Tapi sayangnya ..." raut wajah bunda kembali meredup, "di hari pertama MOS, dia datang terlambat dengan penampilan berantakan. Dia dihukum di lapangan, dan hal itu menyulut kemarahan teman-teman seangkatannya karena dia dianggap telah mempermalukan Jurusan Multimedia yang baru saja diunggulkan sekolah tahun ini. Ditambah lagi, dia ditertawakan oleh semua orang di aula karena mendadak gugup dan gemetaran saat membaca puisi buatannya sendiri. Padahal, puisinya sangat indah. Lihat ini."

​Sang bunda menggeser sebuah foto jarak dekat ke hadapan Naru. Foto itu menampilkan selembar kertas berisi bait-bait puisi bertulisan tangan rapi yang ditempel di mading sekolah.

​Naru merendahkan pandangannya. Berbekal pemahamannya yang cepat mengenai bahasa indonesia, ia memindai kata demi kata yang tertulis di sana.

Sepasang matanya bergerak lambat membaca baris demi baris puisi yang tertulis di sana. Detik berikutnya, entah kenapa bibirnya melanjutkan bait terakhir. "Sebab kita hanyalah dua asing yang bertabrakan. Lalu kembali hilang, tersapu bisingnya tepuk tangan," tanpa sadarnya.

​"Ini bagus, Bunda! Tapi-- tapi gimana bisa gadis setulus ini harus dirundung habis-habisan oleh mereka?!" amuk Naru hingga spontan bangkit berdiri dari kursinya. Kursi jati di belakangnya bahkan sempat bergeser menimbulkan suara decitan yang nyaring.

​"Naru-kun?"

​Menyadari tindakannya yang terlalu impulsif dan jauh dari kesan tenang klan Rui, Naru langsung gelagapan. Ia berdeham berat, ​"Ma-- maaf, Bunda. Naru hanya ... sedikit terbawa emosi. Kasihan juga melihat nasib murid baru itu," kilah Naru dengan nada suara yang sengaja didatarkan, meski sorot matanya masih memancarkan kilatan gusar.

​Sang bunda tersenyum tipis, memaklumi reaksi putranya meski dalam hati merasa ada sesuatu yang tidak biasa. "Dia jauh lebih kuat dari yang kamu bayangkan, kok. Setelah semua perlakuan tidak menyenangkan itu, Bunda sebagai Kepala Sekolah SMK Bina Naseba Surakarta bersama petinggi sekolah langsung mengadakan rapat penting bersama OSIS untuk menertibkan kejadian itu."

​Naru tertegun mendengarnya.

Rapat itu rupanya membongkar kesenjangan tajam antara jurusan TKJ dan Multimedia, di mana Waka Kesiswaan tengah berbangga hati karena angkatan pertama Multimedia langsung mampu menyaingi TKJ yang selama ini menjadi anak emas sekolah.

Keberhasilan instan ini memupuk rasa superioritas di kalangan murid Multimedia baru hingga merasa kebal hukum, membuat atmosfer rapat memanas akibat manuver Kajur Multimedia yang ambisius memperebutkan anggaran fasilitas lab, hingga para guru mereka sengaja melonggarkan kedisiplinan demi reputasi anak seni yang "bebas dan ekspresif".

​"Ini jelas tidak bisa ditoleransi," timpal Naru tegas, mengalihkan fokusnya kembali pada sang ibu. "Baru minggu pertama efektif belajar, mereka sudah berani menindas teman sendiri. Ini tamparan keras untuk sistem kesiswaan kita."

​"Kamu tenang saja, Naru-kun. Sistem di dalamnya memang sedang dirombak total. Bunda sudah memerintahkan Pak Waka dan guru-guru di sana untuk menertibkannya. Jadi, kamu nggak perlu khawatir tentang dia."

Mata sang bunda mendadak berkilat jahil. "Karena dia kini sudah punya sahabat yang bakal menjadi bentengnya. Gadis itu memang seperti kucing yang punya sembilan nyawa, terlalu tangguh jika dirundung sendirian, dan sekarang dia tidak lagi sendirian. Ada Three Musketeers yang akan melengkapinya menjadi empat serangkai."

​"EEEHHHH???"

.

.

. Next bab 08? Besok yea 👋

1
Filan
gimana mau cerita kalau dia tidur?
Filan
Harusnya Naru ngambil hati Muha bukan mengobarkan perang. Dasar bocah!
Surya Alfian
WKWKWK "BAMBANG" gue ngakak.
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
Surya Alfian
gue kira mau dicipok ini ciwi, deg-degan woy!! 😳❤️ Kelihatan kalau dia udah mulai jatuh hati tanpa sadar.
Surya Alfian
Gue jadi pengen tahu pas Kakeknya nanti turun tangan bakal segila apa. 🍿😏
Surya Alfian
Ending-nya manis banget, asli bikin senyum. 😆💕 Waduh, fix ini mah udah masuk fase salah tingkah. 😂🌸
Surya Alfian
Scene Muha sama Nuha di meja makan tuh adem banget. 🥹☕ Kakaknya galak tapi kelihatan banget sayangnya tulus, sementara Nuha polos banget sampai bikin gue senyum-senyum sendiri. Chemistry kakak-adiknya enak dibaca.
Surya Alfian
Wkwkwk Naru ini licik level dewa.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Surya Alfian
😭📖 Doa Naru ke kakeknya kerasa tulus banget. Gue fix lanjut baca cuma buat tahu kenapa dia sampai harus minta "kebebasan". 🚀
Surya Alfian
🤔❤️ Dia perhatian banget sampai hafal detail-detail kecil tentang Nuha, tapi kalimat "cuma gue yang boleh memahami dia" itu vibes-nya agak posesif. Gue jadi penasaran dia bakal jadi green flag atau malah red flag nantinya. 👀
Surya Alfian
Dilan akhirnya kena mental. 😮‍💨👏
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
Muft Smoker
mereka lucuu kan ,, 😂😂😂😂 ,,



kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Mega Siregar
padahal sebagai seorang dokter jiwa seharusnya tahu bahwa memanjakan anak tanpa ada kasih sayang dan perhatian dan pengajaran tentang hidup dari orang tua, hanya membuat seorang anak menjadi rusak
ginevra
ketikannya.... sumpah alay banget ini dilan....
ginevra
kakeknya keterlaluan sih... nggak heran baru jadi nggak betah. kasih kelonggaran dikit lah ...
Xlyzy
sumpah keterlaluan banget, pengen tak ketuk pala nya pakek martil
Xlyzy
Jahat ih kalian jangan gitu lah aku ketuk nih kening nya kalau nakal
Filan
gimana kalau diajak pacaran sama Naru? apa dia ga mikir ke sana?
Kan dia suka sama Naru.
Miu.Nuha: iya nanti dilemanya disitu...
Nuha blm sadar kalo dia suka, dia cuma lagi seneng2nya jatuh cinta #eh
total 1 replies
Filan
btw, Muha ini emang gampang marah juga ya.
Filan
ya ampun, tidur dua hari?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!