NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Yang Terbongkar

Setelah berjalan kembali, aku masuk lagi ke dalam rumah sakit. Begitu sampai di depan ruangan ayah, kulihat ibu masih duduk diam di tempatnya, seolah tak beranjak semenjak aku pergi. Dalam hatiku berdebar kencang: “Mengapa dia masih di sini? Bagaimana aku harus bilang semuanya? Rasanya takut sekali membuatnya kecewa.”

Aku melangkah perlahan mendekatinya. Berkali-kali ingin membuka mulut, tapi kata-kata itu selalu terjebak di tenggorokan. Takut melihat wajah marah dan kecewa, akhirnya aku memilih diam saja, membiarkan rasa bingung itu terus berputar di kepala.

Saat aku masih berdiri termenung, pikiran kacau tak kunjung hilang, tiba-tiba seorang pria berjalan menghampiri. Penampilannya langsung menarik perhatianku:

Rambutnya hitam pekat, berkilau lembut terkena cahaya lampu, disisir rapi tapi terlihat santai saja—tidak kaku. Tubuhnya tinggi dan tegap, memancarkan wibawa yang kuat. Dia memakai jas hitam yang pas di badan, dipadukan kemeja putih bersih dan dasi senada, terlihat mewah dan berkelas. Garis rahangnya tegas, matanya tajam dan dalam, terasa dingin seolah bisa melihat apa yang ada di dalam hatimu. Di sisi lehernya yang kokoh, terlihat tato bermotif rumit berwarna gelap, membuatnya terlihat misterius—jelas bukan orang sembarangan.

Dia berhenti tepat di hadapanku, lalu bertanya dengan nada sopan tapi tegas:

“Permisi, apakah Anda Nona Zara?”

Aku menjawab sambil sedikit mengerutkan dahi karena heran: “Benar, saya sendiri.” Ibu di sampingku juga menatap pria itu dengan tatapan bingung dan penuh tanya.

Pria itu melanjutkan bicara dengan tenang: “Perkenalkan, nama saya Yamal, sekretaris Tuan Adrian. Saya sudah melunasi seluruh biaya pengobatan dan operasi ayah Anda, jadi tidak perlu khawatir lagi soal itu. Selain itu, Tuan Adrian berpesan agar Anda bersiap mulai besok pagi. Saya akan datang menjemput untuk pergi ke KUA, melangsungkan pernikahan bersamanya.”

Mendengar itu, rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Tubuhku kaku seketika, napas terhenti, jantung berdegup kencang sampai terasa nyeri. Lebih parah lagi—semua itu terdengar jelas di telinga ibu. Wajahnya langsung berubah pucat pasi. Dia berdiri cepat, lalu menghadap pria itu dengan nada cemas tapi tetap tegas:

“Maaf, Anda tidak salah orang? Mengapa harus membawa anak saya ke sana? Siapa sebenarnya majikan Anda, dan apa maksud semua ini?”

Sekretaris itu tetap menjawab dengan sikap hormat: “Mohon maaf, Bu. Saya hanya menjalankan perintah. Beliau membayar semua biaya ini demi kesembuhan ayah. Soal pernikahan, itu permintaan langsung Tuan Adrian, saya yakin tidak salah orang. Kalau tidak ada hal lain, izinkan saya pamit.”

Setelah bicara begitu, dia langsung berbalik dan pergi begitu saja.

Begitu dia hilang dari pandangan, ibu segera memutar wajah ke arahku—matanya terbelalak, penuh keterkejutan dan rasa ingin tahu yang meledak. Dia melangkah cepat, menggenggam kedua bahuku dan sedikit mengguncangnya dengan cemas, suaranya naik sedikit karena emosi yang ditahan:

“Jawab aku sekarang! Apa maksud semua ucapan itu? Apa yang sebenarnya kau lakukan selama di luar? Katakan jujur, jangan sembunyikan apa-apa!”

Hatiku terasa hancur, seluruh tubuhku gemetar ketakutan. Aku menunduk dalam-dalam, tak sanggup menatap wajahnya yang penuh kekhawatiran. Ini pertama kalinya aku melihat ibu semarah ini. Lidahku terasa berat, bibir bergetar hebat tapi tak mampu mengeluarkan suara apa pun meski dia terus meminta jawaban.

Beberapa detik kemudian, ibu perlahan melepaskan genggamannya, mundur selangkah sambil menatapku seolah tak percaya. Butiran air mata mulai menggenang di matanya. Tepat saat aku memberanikan diri mengangkat wajah, dia mengangkat tangan kanannya—dan PLAK! satu tamparan mendarat di pipi kiriku, terdengar jelas di antara keheningan lorong.

Aku hanya menerimanya dengan hati pasrah, air matanya langsung mengalir deras membasahi pipi. Tanganku menyentuh bagian yang terasa perih, tapi jauh lebih sakit adalah rasa bersalah yang menusuk sampai ke dalam tulang. Dengan susah payah aku mengangkat kepala kembali, menatapnya dengan mata penuh penyesalan, dan akhirnya suaraku keluar terbata-bata:

“Ibu… maafkan aku…”

Ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca, suaranya bergetar karena perasaan yang meluap: “Mengapa? Mengapa lakukan ini tanpa bilang apa-apa padaku? Haah… kenapa kau memilih jalan ini?”

Aku mengangguk lemah, menerima semua kekecewaannya, lalu menjawab dengan suara yang pelan tapi mantap:

“Maafkan aku, Bu… ini satu-satunya jalan yang aku temukan. Aku yang mengambil keputusan ini sendiri.”

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!