Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Bayangan Bencana
Di Aula Alkimia, Tetua Guo Rong perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya menembus jendela kayu, mengarah ke utara, tempat siluet Pegunungan Seribu Bintang berdiri kokoh dalam balutan kegelapan.
Ruangan yang semula sibuk mendadak menjadi sunyi.
Bahkan api di beberapa tungku alkimia seolah bergetar mengikuti perubahan Qi Langit dan Bumi.
Liang Chen menelan ludah.
"Guru... suara tadi..."
Tetua Guo tidak langsung menjawab.
Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua orang tetap diam.
Beberapa tarikan napas berlalu.
"Liang Chen."
"Ya, Guru."
"Perintahkan seluruh murid Aula Alkimia. Untuk sementara waktu, tidak seorang pun diizinkan memasuki Pegunungan Seribu Bintang, bahkan hanya untuk memetik tanaman spiritual di wilayah luar."
Liang Chen tampak terkejut.
"Guru, bukankah keputusan itu terlalu..."
Tatapan Tetua Guo menghentikan ucapannya.
"Kau mendengar sendiri laporan kultivator lepas tadi, lakukan saja."
"Ya ,Murid mengerti."
Ia segera berlari keluar untuk menyampaikan perintah.
Bai Hu masih berdiri di samping ranjang tempat kultivator lepas itu dirawat.
Pandangannya tertuju pada bekas luka cakar yang membelah dada pria tersebut.
Luka itu sudah berhenti mengeluarkan darah berkat pil dan teknik penyembuhan Tetua Guo, tetapi bekasnya tetap tampak mengerikan.
"Sedang apa kau?"
Suara Tetua Guo terdengar dari belakang.
Bai Hu menoleh.
"sedang berpikir."
"Apa yang kau pikirkan?"
Bai Hu menggaruk pipinya.
"Kalau Binatang iblis itu benar-benar menjadi lebih kuat bukankah harga Inti Binatang pasti ikut naik."
Tetua Guo terdiam.
ia memandang Bai Hu beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Di saat seperti ini, kau masih memikirkan harga."
Bai Hu mengangguk tanpa malu.
"Kalau banyak kultivator terluka, Pil Penyembuh juga akan menjadi lebih mahal."
"Tanaman spiritual pasti ikut naik."
"Senjata Roh juga mungkin laku lebih banyak."
Tetua Guo menatap bocah itu dengan sorot mata yang berbeda.
Anak ini...Naluri dagangnya benar-benar membuatnya mampu melihat perubahan pasar bahkan di tengah ancaman.
"Itu memang mungkin terjadi tetapi kalau keadaan benar-benar memburuk, batu roh saja tidak akan cukup untuk menyelamatkan nyawa."
Senyum Bai Hu perlahan menghilang.
Ia memahami maksud Tetua Guo.
Kalau Kota Qinghe benar-benar diserang Gelombang Binatang...
Maka orang yang lemah, seberapa banyak pun batu roh yang dimilikinya, tetap bisa kehilangan segalanya.
Pada saat yang sama.
Di Gerbang Utara Kota Qinghe.
Dua sosok berpakaian lusuh berlari sempoyongan menuju kota.
Tubuh mereka penuh luka.
Salah seorang kehilangan telinga kirinya.
Yang lain memegang lengan kanannya yang patah.
Penjaga kota segera mengangkat tombak.
"Berhenti!"
Namun sebelum mereka sempat mendekat...
Kedua kultivator itu roboh tepat di depan gerbang.
"D-di belakang..."
"Binatang..."
"Semuanya..."
"...menjadi gila..."
ucap salah satu kultivator itu,
tepat setelah mengucapkan kalimat itu, ia langsung pingsan.
Penjaga kota saling berpandangan.
Salah seorang segera berlari menuju Istana Tuan Kota.
Sementara yang lain membantu membawa kedua kultivator itu menuju Aula Alkimia.
Di dalam Pegunungan Seribu Bintang.
Malam terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya.
Angin dingin berembus di antara pepohonan .
Namun tidak terdengar suara burung malam.
Tidak ada pula auman Binatang iblis yang biasanya memenuhi hutan.
Kesunyian itu berlangsung beberapa saat.
Seekor rusa liar keluar dari balik semak.
Tubuhnya gemetar.
Ia terus menoleh ke belakang seolah sesuatu sedang mengejarnya.
Tak lama kemudian, belasan rusa lain ikut berlari.
Disusul kawanan babi hutan.
Lalu serigala liar.
Mereka semua berlari ke arah yang sama.
Ke luar pegunungan.
Di belakang mereka...
Seekor Serigala Taring Besi perlahan muncul dari balik pepohonan.
Tubuhnya dipenuhi luka .
Namun sepasang matanya memancarkan cahaya merah redup.
Ia tidak mengejar kawanan rusa.
Tidak pula menerkam babi hutan yang lewat tepat di depannya.
Ia hanya mengangkat kepalanya.
Mengendus udara.
Lalu...
Mengeluarkan raungan rendah.
"Auuuu..."
Raungan itu segera disambut oleh suara lain dari kejauhan.
Kemudian suara ketiga.
Keempat.
Kelima.
Dalam hitungan napas...
Raungan Binatang iblis terdengar dari segala penjuru Pegunungan Seribu Bintang.
Seolah seluruh pegunungan sedang saling memberi isyarat.
Sementara itu...
Di wilayah yang jauh lebih dalam.
Tempat yang bahkan kultivator Inti Emas tidak pernah berani dekati.
Sebuah retakan kecil kembali muncul di permukaan batu hitam raksasa yang telah terkubur selama entah berapa ribu tahun.
Retakan itu sangat kecil.
Hanya sebesar ujung jari.
Namun dari celah tersebut...
Mengalir keluar aura yang tidak di kenal
Aura itu perlahan menyatu dengan Qi Langit dan Bumi.
Lalu menghilang bersama embusan angin malam.
Tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Tidak ada seorang pun yang menyadarinya.
Namun di seluruh Pegunungan Seribu Bintang Ribuan pasang mata Binatang Iblis serentak terbuka.
Fajar baru saja menyingsing ketika lonceng besar di pusat Kota Qinghe berbunyi tiga kali berturut-turut.
Dong...
Dong...
Dong...
Suara berat itu menggema ke seluruh penjuru kota.
Para kultivator yang sedang berkultivasi membuka mata hampir bersamaan.
Pedagang yang baru menyiapkan lapak menghentikan pekerjaannya.
Bahkan para murid keluarga besar keluar dari halaman latihan sambil memandang ke arah menara lonceng.
Lonceng itu tidak pernah dibunyikan tanpa alasan.
Di Istana Tuan Kota.
Seorang pria paruh baya berjubah biru tua berdiri menghadap utara.
Di belakangnya berdiri lebih dari sepuluh kultivator dengan aura yang jauh lebih kuat dibanding kultivator biasa.
Pria itu adalah Tuan Kota Qinghe, Luo Zhentian, seorang kultivator Inti Emas Tahap Awal.
Tatapannya tajam.
"Apa semua laporan Pegunungan Seribu Bintang sudah dikumpulkan?"
Seorang pengawal segera melangkah maju.
"Melapor, Tuan Kota."
"Dalam semalam ada tujuh kelompok kultivator lepas yang kembali dari Pegunungan Seribu Bintang."
"Dua kelompok selamat tanpa korban."
"Tiga kelompok kehilangan anggota."
"Dua kelompok lainnya..."
Pengawal itu berhenti sejenak.
"...musnah."
Ruangan menjadi sunyi.
Luo Zhentian memejamkan mata sesaat.
"Binatang Iblis apa yang menyerang mereka?"
"Serigala Taring Besi."
"Beruang Kulit Baja."
"Ular Sisik Hijau."
"Macan Bayangan Bulan."
"Dan Elang Angin."
Semakin banyak nama disebutkan, semakin dalam kerutan di dahi Luo Zhentian.
Binatang Roh itu berasal dari habitat yang berbeda.
Tidak mungkin muncul bersama dalam satu wilayah.
"Kirim orang ke Aula Alkimia."
"Undang Tetua Guo."
"Lalu kirim undangan kepada seluruh Kepala Keluarga."
"Kita akan mengadakan pertemuan hari ini."
"Baik."
Di Aula Alkimia.
Liang Chen berjalan cepat menuju ruang latihan.
"Guru."
Tetua Guo yang sedang mengawasi para murid meramu pil perlahan menoleh.
"Ada apa?"
"Undangan dari Istana Tuan Kota."
Tetua Guo menerima gulungan bambu itu.
Ia hanya membaca beberapa baris.
Ekspresinya langsung berubah serius.
"Bai Hu."
Bocah gemuk itu yang sedang mengamati proses pemurnian tanaman spiritual segera mengangkat kepala.
"Ya, Tetua?"
"Aku harus pergi ke Istana Tuan Kota."
"Selama aku tidak ada, tetaplah berlatih."
Bai Hu mengangguk patuh.
"Aku mengerti."
Tetua Guo menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berbalik pergi.
Anak itu memang menyukai uang.
Tetapi setiap belajar alkimia.
Kesungguhannya tidak pernah berkurang.
Sementara itu...
Di kaki Pegunungan Seribu Bintang.
Empat orang kultivator lepas berdiri di depan sebuah lembah sempit.
Mereka semua adalah kultivator Pembentukan Fondasi.
Pemimpin kelompok itu memiliki kultivasi Pembentukan Fondasi Tahap Akhir.
Di pinggangnya tergantung sebuah Pedang berwarna hijau tua.
Namanya Xu Kang.
Ia sudah lebih dari dua puluh tahun mencari tanaman spiritual di Pegunungan Seribu Bintang.
Tidak ada jalur luar yang tidak dikenalnya.
Namun hari itu...
Ekspresinya jauh lebih serius.
"Saudara Xu."
Seorang wanita berpakaian hijau berbicara pelan.
"Apa kita tetap masuk?"
Xu Kang mengangguk.
"Kita hanya memeriksa wilayah luar ,Kalau ada sesuatu yang tidak beres, kita langsung mundur."
Ketiga rekannya mengangguk.
Mereka mulai melangkah memasuki hutan.
Beberapa ratus langkah pertama...
Tidak ada yang aneh.
Burung-burung masih berkicau.
Angin bertiup pelan.
Namun semakin jauh mereka berjalan.
Suasana mulai berubah.
Tidak ada seekor pun Binatang Iblis yang terlihat.
Biasanya...
Serigala Taring Besi sering berkeliaran di daerah ini.
Namun sekarang...
Hutan terlihat sepi.
Wanita berjubah hijau menggenggam gagang pedangnya.
"Sunyi sekali."
Xu Kang mengangguk.
"Jangan lengah."
Mereka terus berjalan.
Tak lama kemudian.
Seorang kultivator di belakang tiba-tiba berhenti.
"Lihat."
Semua menoleh.
Di bawah pohon tua.
Tergeletak bangkai seekor Beruang Kulit Baja.
Tubuhnya penuh luka gigitan.
Namun tidak ada bagian tubuh yang dimakan.
Xu Kang segera berjongkok.
Tangannya menyentuh bulu beruang itu.
"ini baru mati."
Ia mengangkat kepala.
"Bahaya!!."
Dengan satu gerakan jari.
empat pedang melayang di udara.
Aura tajam segera memenuhi sekitar mereka.
Namun belum sempat mereka melangkah.
Terdengar suara ranting patah dari balik pepohonan.
Krak...
Krak...
Krak...
Suara itu datang dari berbagai arah.
Xu Kang mengangkat tangan.
"Jangan bergerak."
Semua langsung berhenti.
Beberapa detik kemudian...
Seekor Serigala Taring Besi keluar dari balik semak.
Tubuhnya dipenuhi bekas luka.
Sepasang matanya berwarna merah tua.
Xu Kang mengerutkan dahi...
aura yang dipancarkan binatang iblis tersebut.
"Tingkat 2 puncak..."
Xu Kang bergumam pelan.
"Itu mustahil."
Serigala Taring Besi di wilayah luar...
Paling tinggi hanya Tingkat 1 puncak.
Bagaimana mungkin...
Tiba-tiba muncul yang setara Pembentukan Fondasi?
Belum sempat ia selesai berpikir.
Seekor lagi keluar.
Lalu seekor lagi.
Kemudian...
Belasan.
Puluhan.
Serigala Taring Besi memenuhi hutan.
Namun...
Tidak satu pun menerjang.
Mereka hanya berdiri.
Menatap keempat manusia itu.
Wanita berjubah hijau mulai berkeringat.
"Saudara Xu..."
"...jumlah mereka terlalu banyak."
Xu Kang perlahan mengangguk.
"Jangan menyerang, Mundur."
Keempat kultivator mulai bergerak perlahan.
Tidak membelakangi kawanan itu.
Tidak memancing serangan.
Beberapa puluh langkah berlalu.
Tiba-tiba...
Seluruh Serigala Taring Besi serentak mengangkat kepala.
Seolah mendengar sesuatu.
Mereka sama sekali tidak lagi memedulikan Xu Kang dan kelompoknya.
Semuanya menoleh ke arah terdalam Pegunungan Seribu Bintang.
Detik berikutnya...
Auuuuuuuuuuuu—!
Raungan panjang mengguncang seluruh lembah.
Namun...
Raungan itu bukan berasal dari para serigala.
Melainkan dari tempat yang sangat jauh.
Sangat dalam.
Xu Kang merasakan bulu kuduknya berdiri.
Kaki kanannya mundur setengah langkah.
"Itu..."
Salah seorang rekannya menelan ludah.
"Binatang Iblis apa yang mampu mengeluarkan tekanan sebesar itu...?"
Xu Kang tidak menjawab.
Karena pada saat yang sama...
Seluruh kawanan Serigala Taring Besi berbalik.
Lalu berlari menuju arah datangnya suara itu.
Tanah bergetar.
Debu membumbung tinggi.
Dalam beberapa tarikan napas saja.
Puluhan Binatang Iblus telah menghilang di balik pepohonan.
Hanya menyisakan empat kultivator yang berdiri membeku.
Xu Kang menggenggam pedangnya,
Ia telah hidup puluhan tahun.
Sudah berkali-kali memasuki Pegunungan Seribu Bintang.
Namun...
Belum pernah sekali pun ia melihat pemandangan seperti ini.
Perlahan...
Ia mengangkat kepalanya ke arah puncak Pegunungan Seribu Bintang yang tertutup kabut.
Ia merasakan ketakutan yang sangat nyata.
Dengan suara pelan, ia berkata,
"Kita harus keluar dari pegunungan... sekarang juga."
Suara Xu Kang terdengar berat.
Tidak ada seorang pun yang membantah.
Selama bertahun-tahun mereka hidup sebagai kultivator lepas. Mereka bertarung dengan Binatang Iblus, bersaing memperebutkan tanaman spiritual, bahkan beberapa kali nyaris kehilangan nyawa.
Namun pengalaman justru mengajari mereka satu hal.
Keempat kultivator segera mempercepat langkah.
Mereka tidak lagi berjalan perlahan.
Qi spiritual mengalir ke telapak kaki, membuat kecepatan mereka meningkat beberapa kali lipat.
Pepohonan berlalu dengan cepat di sisi kanan dan kiri.
Xu Kang berada paling depan.
Kesadaran Spiritualnya terus menyebar hingga puluhan zhang ke depan, memastikan tidak ada Binatang Iblus yang menghadang.
Awalnya perjalanan berjalan lancar.
Tidak ada satu pun Binatang Iblis yang muncul.
Namun beberapa saat kemudian...
Xu Kang tiba-tiba mengangkat tangan.
"Berhenti!"
Ketiga rekannya langsung menghentikan langkah.
Mereka mengikuti arah pandang Xu Kang.
Sekitar seratus langkah di depan...
Puluhan bangkai Binatang Roh berserakan di atas tanah.
Seekor Macan Bayangan Bulan tergeletak dengan dada berlubang.
Di dekatnya terdapat tubuh Ular Sisik Hijau yang putus menjadi dua.
Tidak jauh dari sana, bangkai Elang Angin bergelimpangan di antara ranting-ranting pohon.
Wanita berjubah hijau menarik napas pelan.
"Mereka saling membunuh?"
Xu Kang menggeleng.
"Mustahil."
Ia berjongkok di samping bangkai Macan Bayangan Bulan.
Lukanya terlalu bersih.
Seolah sesuatu telah menembus tubuhnya hanya dengan satu serangan.
Xu Kang memperhatikan bekas luka itu cukup lama.
Semakin lama ia melihat...
Semakin dingin ekspresinya.
"Bukan Binatang Iblis."
"Ini bukan bekas gigitan ataupun cakar."
"Lihat sendiri."
Ketiga rekannya segera mendekat.
Mereka baru menyadari bahwa luka itu berbentuk memanjang.
Tipis.
Lurus.
Seperti...
Bekas sayatan pedang.
Salah seorang kultivator menelan ludah.
"Masih ada orang lain di sini?"
Xu Kang berdiri perlahan.
"orang itu, jauh lebih kuat daripada kita."
Kalau benar seseorang mampu membunuh belasan Binatang Iblis hanya dengan beberapa tebasan...
Maka kultivasinya setidaknya telah mencapai Inti Emas.
Xu Kang tidak ingin bertemu orang seperti itu di tengah keadaan yang tidak menentu.
"Mari pergi."
Mereka kembali mempercepat langkah.
Pada saat yang sama.
Di Istana Tuan Kota.
Aula pertemuan utama telah dipenuhi banyak orang.
Pemimpin keluarga besar.
Tetua Aula Alkimia.
Perwakilan Paviliun Penempa.
Aula Rune.
Beberapa kultivator lepas yang memiliki reputasi tinggi di Kota Qinghe.
Semua hadir.
Suasana terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.
Luo Zhentian duduk di kursi utama.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
"Aku yakin kalian semua sudah mendengar apa yang terjadi di Pegunungan Seribu Bintang."
Beberapa orang mengangguk.
Tetua Guo Rong tetap diam.
Seorang tetua berjubah abu-abu membuka suara.
"Mungkin hanya perpindahan kawanan Binatang Roh."
Tetua lain langsung menggeleng.
"Kalau hanya perpindahan kawanan, tidak mungkin begitu banyak kultivator terluka."
"Benar."
"Belum lagi laporan mengenai Binatang Iblis yang kekuatannya meningkat."
Perdebatan mulai terdengar.
Sebagian menganggap keadaan masih bisa dikendalikan.
Sebagian lagi mulai khawatir.
Luo Zhentian membiarkan mereka berbicara.
Sampai akhirnya...
Seorang pria tua yang sejak tadi duduk diam perlahan membuka mata.
Rambutnya telah memutih seluruhnya.
Namun aura yang dipancarkannya jauh lebih kuat dibanding semua orang di ruangan itu.
Pria tua itu adalah Tetua Agung Keluarga Feng, Feng Jianhong.
Beliau berbicara dengan suara tenang.
"Aku pernah mendengar kejadian seperti ini."
Semua orang langsung menoleh.
Luo Zhentian ikut memperbaiki posisi duduknya.
"Tetua Feng pernah mendengarnya?"
Feng Jianhong mengangguk pelan.
"aku mendengar dari guruku, Lebih dari seratus tahun lalu."
Ruangan kembali sunyi.
"Tahun itu ,beberapa Binatang Iblis meninggalkan wilayahnya secara bersamaan ,semua orang mengira hanya perpindahan biasa."
"Tiga hari kemudian..."
Beliau berhenti sejenak.
"...Gelombang Binatang Iblis menghancurkan dua kota."
Mendengar itu, beberapa tetua langsung berubah pucat.
Gelombang Binatang Iblis...
Sudah puluhan tahun tidak pernah terjadi di wilayah Kerajaan Ombak Surgawi.
Generasi muda bahkan hanya mengenalnya dari catatan kuno.
Luo Zhentian bertanya pelan.
"Apakah Tetua Feng menganggap kejadian kali ini sama?"
Feng Jianhong menggeleng.
"Tidak."
Jawaban itu membuat semua orang sedikit lega.
Namun kalimat berikutnya membuat suasana kembali membeku.
"Mungkin ini lebih buruk."
Kalau bahkan Tetua Agung Keluarga Feng mengatakan demikian
Berarti situasinya benar-benar serius.
Sementara itu.
Di luar Kota Qinghe.
Xu Kang dan kelompoknya akhirnya melihat gerbang kota dari kejauhan.
Mereka menghela napas lega.
Namun...
Belum sempat mereka mendekat.
Tanah kembali bergetar.
Buk...
Buk...
Buk...
Buk...
Getaran kali ini jauh lebih kuat.
Xu Kang segera menoleh.
Dari balik pepohonan...
Debu membumbung tinggi.
Ribuan burung beterbangan meninggalkan hutan.
Disusul kawanan rusa liar.
Babi hutan.
Harimau liar.
Bahkan ular-ular biasa ikut melata keluar tanpa arah.
Mereka bukan Binatang Iblis.
Hanya hewan liar.
Namun naluri mereka jauh lebih peka terhadap bahaya.
Xu Kang menggenggam Pedangnya.
Ekspresinya berubah semakin suram.
Kalau bahkan hewan-hewan biasa mulai melarikan diri...
Berarti sesuatu yang jauh lebih mengerikan sedang bergerak di dalam Pegunungan Seribu Bintang.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian berkata dengan suara rendah,
"tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman."
Di kejauhan...
Kabut putih perlahan menyelimuti puncak Pegunungan Seribu Bintang.
Tidak seorang pun menyadari.
Di balik lautan kabut itu...
Sepasang mata perlahan terbuka.
Qi Langit dan Bumi di seluruh Pegunungan Seribu Bintang mulai berubah sedikit demi sedikit.
Perubahan itu begitu kecil.
Belum ada seorang pun yang mampu menyadarinya.
Namun roda takdir telah mulai berputar.
Dan tidak ada yang mampu menghentikannya.
Bersambung...
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut