NovelToon NovelToon
Second Chance

Second Chance

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.

Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.

Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?

Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat Belas

Mereka tiba di kamar Aruna dan Abi membantu menopang tubuh kecilnya agar tidak jatuh. Memastikan Aruna terduduk dengan nyaman di ranjang sebelum ia akan pamit pergi.

"Baiklah, istirahat dan jangan memikirkan apa pun, oke?"

Aruna hanya mengangguk dan membiarkan Abi keluar dari kamar setelahnya. Anak itu belum terlalu lelah untuk kembali tidur. Ia bahkan sudah menghabiskan waktu seharian untuk tidur kemarin dan sekarang dirinya terasa segar bugar. Untuk membunuh waktu, Aruna mengambil ponselnya di atas nakas meja dan membalas beberapa pesan dari Ganesha. Kemudian ia mengabaikan pesan lainnya karena tidak penting.

Tok..tok..

Apa itu Abi?

Kenapa datang lagi, mungkin ada barangnya yang tertinggal.

"Masuk," jawab Aruna tanpa menoleh sama sekali karena ia sibuk membalas pesan Ganesha.

Cklek.

Pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam tanpa mengatakan apa-apa.

"Kak Abi, ada yang ketinggalan?" tanya Aruna.

Namun, tak ada yang menjawabnya hingga Aruna mendongak dan kaget karena mendapati Antares yang berdiri di sana.

Mau apa lagi anak itu?

"Tuan muda ada perlu denganku?" tanya Aruna karena Antares hanya diam tanpa mengatakan apa pun.

"Maaf," suara Antares terdengar begitu pelan dan lirih. Aruna sampai melongo dan menatap anak itu tak percaya. Kenapa bocah menyebalkan dan arogan yang selalu mengganggunya bahkan bersikap jahat padanya itu tiba-tiba minta maaf?

Kali ini kejahilan apa lagi yang di rencanakan olehnya?

Aruna menghela nafas sembari mengurut keningnya pelan, "Tuan muda, aku sedang dalam kondisi tidak sehat. Jadi, apa pun yang kau rencanakan bisa kau hentikan dulu? Aku akan mati jika kau tak bisa menahan diri untuk tidak menjahiliku saat ini."

Anehnya, Antares malah menatapnya marah dengan tatapan yang terlihat seperti ingin menangis. Apa ini? Rasanya ia tak melakukan sesuatu yang menyinggung anak itu. Seharusnya ia yang marah dan ingin menangis sekarang jika Antares benar-benar akan menjahilinya lagi.

"Tuan Muda—"

"Hentikan itu!" Antares tiba-tiba saja berteriak sekuat tenaga dan menatap Aruna marah. Membuat gadis kecil itu menatapnya bingung.

"Kenapa Tuan Muda—"

"Sudah kubilang hentikan itu! Jangan memanggilku begitu!"

Ha?

Tunggu, Aruna tidak paham.

Antares meremat kedua tangannya kesal sembari menatap Aruna yang masih nampak tak mengerti.

"Aku minta maaf, aku minta maaf selalu menjahilimu dan membuatmu menangis. Aku minta maaf karena menyakitimu, jadi jangan memanggilku begitu. Kau memanggilnya dengan sebutan 'kakak', kenapa aku tidak?"

Setelah berdiam diri beberapa saat, Aruna baru memahami maksudnya. Bocah lelaki itu kesal karena ia memanggil Abi dengan kakak sedangkan dirinya tidak. Apa-apaan itu? Apa ia terbentur sesuatu?

Bukankah anak itu yang paling benci mendengar Aruna memanggilnya juga kedua saudaranya yang lain dengan sebutan "kakak"?

Lalu apa ini?

"Apa aku perlu menjelaskannya kepada anda, Tuan Muda?"

"Aruna!"

"Kau sendiri yang bilang bahwa kau benci mendengar kata itu terucap dari mulutku, Tuan Muda. Jadi, seperti permintaanmu saat itu, aku takkan memanggilmu begitu lagi. Bukan kah seharusnya kau senang?"

Antares terdiam. Ia bahkan tak bisa mengatakan apa pun untuk membela dirinya karena apa yang di ucapkan Aruna itu benar. Dulu ia bahkan sampai mendorong Aruna hingga jatuh ke kolam renang hanya karena ia benci mendengar anak itu memanggilnya "kakak". 

Lalu kenapa sekarang ia berubah pikiran? Apalagi saat mendengar Aruna memanggil Abi dengan embel-embel kakak di depannya, sementara anak itu memanggilnya dengan sebutan "Tuan Muda" membuat Antares merasa di jauhi olehnya.

Kenapa ia merasa kesal?

Kenapa ia tak terima hanya Abi yang di panggil "kakak" oleh Aruna?

Bukankah ia membenci keberadaan anak itu?

"Ar-Aruna, aku—"

"Tuan Muda, aku tahu ini kasar tapi bisa kah anda keluar sekarang? Aku lelah dan ingin tidur," ucap Aruna langsung tanpa membiarkan Antares menyelesaikan omongannya. Ia benar-benar tidak berniat meladeni anak itu sekarang, jangan sampai kepalanya kembali sakit dan ia berakhir demam lagi.

Antares menundukkan kepalanya, "Maaf," gumamnya lalu berjalan keluar begitu saja. Tanpa Aruna ketahui, Antares menangis pelan di depan kamarnya. Anak itu berusaha menahan suaranya meski ia tak berhasil menahan airmata di wajahnya.

Ia kesal sekali tapi ia tak bisa melakukan apapun untuk membuat Aruna memaafkannya. Maka anak itu pergi begitu saja entah kemana, tidak menyadari keberadaan Abimanyu yang memperhatikannya dari ujung koridor.

***

Aruna sudah kembali sehat seperti sedia kala dan ia sudah mulai masuk sekolah hari ini. Seperti biasanya, ia sedang mematut dirinya di kaca dengan seragam sekolah yang membalut tubuh kecilnya.

"Sepertinya beratku turun lagi. Iya, kan, Mia?" tanya Aruna sembari melihat dirinya sendiri di cermin satu badan. Mia yang berdiri di belakang anak itu mengangguk setuju dengan raut wajah cemas.

"Anda perlu makan banyak, Nona. Padahal tubuh anda sudah kurus dan setelah sakit anda semakin terlihat kurus. Saya cemas anda tak bisa mengikuti aktivitas di sekolah nantinya," ucap Mia.

Aruna terkekeh pelan, "Kau benar. Tapi tenang saja, aku tidak selemah itu. Nah, ayo," katanya lagi lalu meraih ransel dan akan berjalan keluar.  Namun, ia kaget karena mendapati Abimanyu sedang menunggunya di depan pintu kamarnya.

"Oh! Astaga! Kak Abi!" pekik Aruna kesal karena ia benar-benar terkejut dengan kehadiran pria itu.

Sementara Abi tertawa saja, "Maaf membuatmu kaget. Aku baru saja akan mengetuk dan kau sudah membuka pintunya duluan. Bukankah kita sehati?"

"Tch, berhenti mengatakan omong kosong, kak. Aku tahu kakak sudah menunggu lama di depan pintu," dengus Aruna.

"Oops, ketahuan. Nah, ayo sarapan," ajak Abi.

"Aku akan langsung ke sekolah saja," tolak Aruna cepat.

Namun, baru ia melangkah, ia terkejut karena Abi mengangkat tubuhnya tiba-tiba dari kaki, mengapitnya lalu membiarkan Aruna menduduki lengannya.

"Kak Abi!" protes Aruna. Ia menatap tajam pria itu yang malah tersenyum lebar.

"Aku sudah tahu kau akan menolak, tapi kau baru sehat adikku. Kau perlu sarapan untuk aktivitas pagi ini di sekolah," jelas Abi.

Aruna mendengus, "Bisa tidak jangan melakukan hal seenaknya?"

"Akan ku pikirkan. Ngomong-ngomong kau ringan sekali, Mia benar, kau harus banyak makan. Aku bahkan tak bisa merasakan berat badanmu meski aku hanya menggendongmu dengan satu tangan begini, "kata Abi lagi.

"Berhenti menguping pembicaraan oranga lain, kak. Itu tidak sopan," desis Aruna. Anak itu tidak protes minta turun dan membiarkan Abimanyu menggendongnya hingga ke ruang makan. Toh, takkan ada siapa pun di sana nanti, jadi tak masalah sih sebenarnya. Lagipula, ini bukan pertama kalinya Aruna sarapan bersama dengan Abimanyu, jadi ia sudah mulai terbiasa.

"Oh! Selamat pagi Tuan Muda, selamat pagi Nona Muda," sapa Sammy saat ia akan masuk ke ruangan makan dan bertemu dengan Abimanyu juga Aruna. Pria tua itu nampak terkejut mendapati Aruna yang berada di gendongan Abi, pemandangan langka yang mungkin takkan pernah ia lihat lagi kedepannya nanti—mungkin.

Biasanya keberadaan Aruna akan di abaikan, tapi Abimanyu tampak begitu bahagia dengan Aruna di gendongannya.

"Selamat pagi, Sam," Abi balas menyapa sopan.

Sementara Aruna mendengus malas, "Aku tahu apa yang kau pikirkan, Sam. Jadi, jangan tanyakan apa pun."

Sammy tersenyum lalu membungkuk sopan, "Baik, Nona."

"Nah, apa yang kau tunggu? Buka pintunya, Sam. Adikku pasti sudah kelaparan saat ini," kata Abi lagi.

"Jangan bawa-bawa aku jika faktanya kak Abi yang kelaparan," dengus Aruna.

"Ops! Aku ketahuan, ya?"

"Meh,"

Sammy membuka pintu ruang makan dan mempersilahkan kedua majikannya itu masuk. Namun, saat pintu terbuka, Aruna terkejut karena mendapati seluruh anggota keluarga Adijaya sudah berada di sana dan terduduk di tempat masing-masing.

"Ah! Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, kak Al juga Ares," sapa Abi yang sepertinya nampak terkejut juga dengan kehadiran anggota keluarga lainnya.

Alvaro mendengus, "Tch, lama sekali dan apa-apan itu Abi? Memangnya ia tak bisa jalan?"

Sebelah alis Aruna naik. Apa maksudnya dengan lama? Memangnya ia menyuruh mereka untuk menunggunya? Toh, sebenarnya ia hanya akan sarapan bersama Abi saja, lalu kenapa mereka jadi ikut juga berada di sini?

"Aruna baru sembuh sakit, kak. Makanya aku berinisiatif menggendongnya begini agar ia tidak kelelahan. Lagipula, tubuhnya ringan sekali, mungkin hanya 15 kilo."

"Kak Abi jangan berlebihan! Dan biarkan aku duduk di kursi," protes Aruna saat Abi tidak juga menurunkannya.

"Aku serius, bahkan aku sanggup membawamu seperti ini seharian tanpa merasa lelah, kau tahu?"

"Terserah, turunkan aku, kak!"

Abi tertawa dan memberikan isyarat pada Sammy untuk menarik kursi milik Aruna, kemudian ia mendudukkan anak itu di sana dan ikut terduduk di sebelahnya juga.

"Bagaimana keadaanmu, Aruna?" sang Kepala Keluarga membuka mulutnya tiba-tiba. Menatap Aruna yang bahkan tidak melihat ke arahnya.

"Seperti yang anda lihat, aku baik-baik saja, Tuan," jawab Aruna.

1
Heni Setiyaningsih
semoga di kehidupan kedua aruna jd strong woman
Heni Setiyaningsih
cerita ttg reinkarnasi, semoga bagus cerita nya Thor 👍💪💪
QueenBwi
Ayo baca! 💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!