Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Topeng-Topeng yang Retak
...----------------...
Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa berkas-berkas cahaya keemasan yang perlahan menyelinap masuk menembus celah-celah gorden sutra tebal bertingkat di kamarku. Hari ini tanggal 18 Juni 2017. Sebuah tanggal yang sudah dilingkari merah di kalender dinding sejak awal tahun.
Aku membuka kelopak mataku perlahan, menatap langit-langit kamarku yang luas, tinggi, dan dipenuhi arsitektur mewah bergaya minimalis modern. Senyuman tipis langsung terukir di sudut bibirku begitu kesadaranku terkumpul sepenuhnya dari sisa-sisa mimpi semalam. Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 18. Sebuah angka sakral yang menandai pencapaian usia dewasa, sebuah hari yang sudah sangat lama kunanti nantikan karena di usia ini, aku merasa duniaku akan menjadi jauh lebih bebas dan luas tanpa batas.
Begitu turun dari atas tempat tidur, aku langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu menyantap sepiring sarapan pagi berupa american breakfast premium yang sudah disiapkan oleh pelayan di atas meja kayu kecil di sudut kamarku.
Hari ini sama sekali tidak ada waktu untuk bermalas-malasan atau sekadar bergulingan di atas kasur. Selepas sarapan, aku langsung mengambil alih ponsel, membuka beberapa dokumen digital bertuliskan draf acara, dan mulai melakukan koordinasi intensif via telepon dengan seluruh vendor dekorasi, pihak katering, serta tim event organizer yang bertanggung jawab atas pesta nanti malam.
Di balik seluruh sifat negatif ku yang dinilai orang, sebenarnya aku memiliki satu kelebihan tersembunyi yang sangat jarang diketahui orang luar. Aku adalah orang yang sangat perfeksionis, memiliki kemampuan manajerial yang sangat baik, dan teramat cakap dalam mengurus serta memimpin jalannya sebuah acara besar. Aku tahu bagaimana cara bernegosiasi yang ketat dengan para vendor untuk menekan anggaran tanpa mengurangi kualitas estetika sedikit pun, dan aku sangat hebat dalam menebak serta menganalisis harga pasar agar tidak mudah ditipu atau dimanfaatkan oleh para penyedia jasa yang nakal. Bagiku, sebuah pesta bukan sekadar tentang hura-hura, melainkan sebuah panggung eksistensi diri yang harus berdiri tanpa ada satu pun cacat.
Tepat saat aku sedang sibuk mencatat beberapa poin evaluasi mengenai tata letak lampu sorot dan susunan pengeras suara di lembar catatan ponselku, benda persegi di tanganku itu mendadak bergetar hebat. Nama 'Ibu' tertera di layar dengan latar belakang foto beliau yang anggun. Aku segera menggeser tombol hijau dan mengangkatnya dengan senyuman lebar. Di seberang telepon, suara lembut dan penuh kasih milik Ibu langsung memenuhi indra pendengaranku. Beliau menghujaniku dengan berbagai macam doa, harapan terbaik, serta ucapan selamat ulang tahun yang teramat hangat langsung dari kediaman utama keluarga Albian. Suara Ibu terdengar begitu tulus, membuat dadaku berdesir hangat mendengar kasih sayang seorang ibu yang selalu mengalir untuk putranya ini.
Namun, belum sempat aku menyelesaikan kalimat balasan untuk Ibu di telepon, daun pintu jati kamarku yang kokoh mendadak didorong terbuka secara kasar dan tiba-tiba dari luar.
BRAAAK!
"SURPRISE!!!"
Suara teriakan yang teramat kompak, nyaring, dan menggelegar itu seketika memecah keheningan kamarku yang luas. Aku tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan ponsel dari genggamanku. Di ambang pintu, Kak Zalya, Kak Hendra, dan si bungsu Ellisya melangkah masuk secara beriringan dengan langkah yang sengaja dibuat heboh.
Tidak hanya mereka bertiga, di belakang mereka tampak barisan panjang para pelayan senior dan asisten rumah tangga mansion berbaris sangat rapi sembari menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan penuh semangat dan tepuk tangan yang meriah. Suasana makin riuh saat terdengar bunyi letupan keras dari dua buah confetti atau petasan kertas yang ditembakkan oleh para pelayan. Potongan-potongan kertas warna-warni yang berkilauan beterbangan di udara, lalu jatuh perlahan mengotori lantai marmer kamarku.
Di tengah formasi yang heboh itu, Kak Zalya berjalan paling depan dengan langkah anggun khasnya, kedua tangannya memegang sebuah kue ulang tahun cokelat mahal berdesain elegan bertingkat dua dengan lilin angka 18 yang menyala terang di atas permukaannya.
Aku benar-benar terkejut, diam terpaku di tempat dudukku dengan mulut yang sedikit terbuka. Ponsel yang masih terhubung dengan saluran telepon Ibu perlahan kujauhkan dari telinga, lalu kuletakkan begitu saja di atas meja. Semburat rasa haru, bahagia, dan kehangatan yang teramat tulus langsung membuncah hebat di dalam dadaku melihat kejutan manis dari saudara-saudaraku yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing ini.
"Selamat ulang tahun ya, adik kecilku yang paling bandel, paling hobi bikin kepala orang rumah pusing!" ucap Kak Zalya dengan tawa cerianya yang khas dan nyaring, menyodorkan kue itu tepat ke hadapan wajahku agar aku segera meniup lilinnya sebelum lelehannya merusak dekorasi cokelat.
"Selamat ulang tahun, Kak Arka! Semoga di umur yang ke 18 ini Kakak bisa makin sehat, dan makin sayang sama Ellisya," timpal Ellisya dengan senyuman manis khas remaja putri, melangkah maju dan memeluk lenganku sekilas dengan penuh kasih sayang.
Kak Hendra yang berdiri di samping Ellisya dengan gaya santainya hanya menepuk pundak kananku agak keras sebanyak beberapa kali, sebuah gestur maskulin untuk menunjukkan perhatian dan rasa sayangnya dengan gayanya sendiri yang kaku. "Selamat ulang tahun, Ka. Semoga makin sukses kuliahnya, makin matang berpikir, dan semua rencana lo ke depannya bisa tercapai."
Setelah ketiga saudaraku selesai menyampaikan barisan doa dan harapan mereka, para pelayan yang ikut meramaikan suasana di dalam kamar juga bergantian membungkuk hormat, memberikan ucapan selamat, dan mendoakan kebaikan untukku dengan raut wajah penuh sukacita. Aku menarik napas panjang, meresapi setiap kebahagiaan yang melingkupiku pagi ini, lalu meniup lilin angka 18 di atas kue hingga padam sepenuhnya. Letupan lilin yang mati langsung disambut oleh tepuk tangan riuh dan sorak-sorai dari seisi ruangan.
"Makasih banyak ya buat semuanya... beneran deh, gue gak nyangka sama sekali bakal dikasih kejutan seheboh ini pagi-pagi buta," ucapku dengan nada suara yang tulus sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, menatap wajah-wajah hangat di depanku. Namun, ada satu sosok yang kurasa hilang dari formasi keluarga inti di kamar ini. Aku mengernyitkan alis, menatap Kak Zalya penuh tanya. "Ngomong-ngomong... Kak Andra mana? Kok dari tadi subuh gue gak ada lihat batang hidungnya sama sekali? Dia gak ikut?"
Mendengar nama si sulung disebut, Kak Zalya langsung mendengus pelan, memutar bola matanya malas seolah sudah sangat bosan mendengar nama itu. "Tuh orang mana ada waktu buat ikutan acara beginian, Arka. Dia belum pulang ke rumah dari kemarin siang tahu! Sibuk banget dia di kantor pusat, buat ngurusin berkas perusahaan baru di luar negeri. Udah kayak robot yang gak butuh tidur dan gak punya kehidupan sosial," cerocos Kak Zalya dengan nada menyindir yang tajam.
Aku hanya bisa mengangguk-angguk paham, sangat maklum dengan dedikasi gila kerja tingkat dewa milik Kak Andra yang memang dipersiapkan untuk memimpin lini bisnis utama keluarga. Setelah pembicaraan tentang Kak Andra mereda, atmosfer di dalam kamarku berubah menjadi sangat hangat dan santai.
Para pelayan mulai undur diri untuk memotong kue, sementara aku, Kak Zalya, Kak Hendra, dan Ellisya memilih untuk duduk berkumpul bersama di atas sofa panjang kamarku. Kami mengobrol, bercanda gurau, dan saling melemparkan lelucon dalam waktu yang sangat lama, menikmati setiap detik momen kebersamaan yang teramat jarang bisa kami rasakan di tengah kesibukan dan tekanan masing-masing sebagai anak-anak dari Dinasti Albian.
...****************...
Di belahan sudut kota Jakarta yang lain, tepat pukul tiga sore, atmosfer hangat kekeluargaan dan ketulusan yang kurasakan pagi tadi sama sekali tidak berbekas di tempat ini. Di dalam sebuah unit apartemen mewah Jakarta, suasana terasa sunyi dan dipenuhi keheningan yang janggal. Di depan sebuah cermin besar setinggi langit-langit yang terpasang di dinding kamar utama, sosok Sania sedang berdiri tegak.
Dia sedang mengenakan sebuah gaun malam rancangan desainer ternama berwarna gelap yang berpotongan sangat ketat, mengekspos setiap lekuk tubuh dan siluetnya dengan sempurna. Gaun mewah tanpa lengan itu sengaja dia persiapkan dan pilih jauh-jauh hari khusus untuk menghadiri acara pesta perayaan ulang tahun Arka nanti malam, agar dia bisa terlihat paling menonjol di samping sang pemilik acara.
Sania memutar tubuhnya perlahan di depan cermin, mengagumi penampilannya sendiri dari berbagai sudut. Dia tersenyum puas, lalu menoleh ke arah sofa besar yang terletak di sudut kamar dengan tatapan mata yang teramat manja dan penuh binar godaan. "Sayang... gimana penampilan aku? Cantik gak aku kalau pakai gaun malam warna gelap kayak gini?" tanyanya dengan nada suara yang mendayu-dayu, sengaja dibuat selembut mungkin.
Di atas sofa, seorang pria sedang duduk bersandar dengan santai sembari memegang segelas minuman dingin di tangan kanannya. Pria itu menatap Sania dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan mata yang penuh gairah terselubung, sebuah tatapan yang menyiratkan kepemilikan yang rahasia.
Pria itu meneguk minumannya sedikit sebelum menjawab. "Cantik banget, sayang. Sangat pantes dan kelihatan luar biasa, makanya gak heran si Putra Albian yang bodoh dan naif itu bisa sampai tergila-gila banget dan nurut apa aja sama kamu," ucap pria misterius itu dengan nada suara yang meremehkan, merendahkan nama Arka seolah-olah aku hanyalah pion kecil di dalam permainan mereka.
Sania tersenyum manis, melangkah anggun mendekati sofa tempat pria itu duduk. Tanpa ada rasa ragu atau canggung sedikit pun, dia langsung mendudukkan dirinya di atas pangkuan pria itu, melingkarkan kedua lengan lentiknya di sekeliling leher sang pria, lalu memeluknya erat-erat seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih resmi yang hubungannya disahkan oleh dunia.
"Ayaang... tapi sampe kapan sih kita berdua harus terus sembunyi-sembunyi dan tutup-tutupin hubungan ini dari orang-orang?" keluh Sania sembari mengerucutkan bibirnya, menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Aku beneran udah mulai bosen dan capek tahu, harus pura-pura pasang wajah manis, pura-pura peduli, dan akting jadi pacar yang baik di depan anak manja yang egois itu."
Sebuah fakta baru yang teramat mengerikan dan menjijikkan akhirnya terungkap di balik kamar apartemen mewah itu. Pria misterius yang selama ini menjadi selingkuhan Sania di belakangku, pria yang diam-diam menikmati kemewahan dan kasih sayang Sania, ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah Pedro. Ya, Pedro. Sahabat karibku sendiri sejak masa sekolah, orang yang selama ini selalu berada di dalam lingkaran pertemanan terdekatku, orang yang selalu tertawa bersamaku dan kuanggap sebagai saudara sendiri di luar rumah.
Pedro matanya memancarkan kilatan dingin yang penuh dengan kalkulasi licik. Tangannya bergerak lembut mengusap rambut panjang Sania yang terurai, mencoba menanamkan pengaruh buruknya lebih dalam lagi ke dalam otak gadis itu.
"Sabar dulu, sayang. Kamu harus bisa nahan diri sebentar lagi. Ini semua kan kita lakukan demi masa depan kita berdua juga nanti," ucap Pedro dengan nada berbisik yang manipulatif, menatap langsung ke dalam manik mata Sania.
"Kamu harus berhasil dan pintar-pintar main cantik buat dapetin aliran sebagian besar uang atau aset dari anak Albian yang bodoh itu. Otaknya kan pendek, gampang dihasut kalau udah menyangkut nama lo. Ingat rencana awal kita, kita mau buat suatu usaha waralaba besar yang bakal terkenal dan sukses nantinya. Makanya, kita butuh modal yang gak sedikit, dan anak bodoh Albian itu adalah sumber dana paling pas buat kita manfaatin sampai kering tanpa dia sadari sedikit pun."
Sania terdiam sejenak mendengar untaian rencana Pedro. Ada gurat kecemasan dan ketakutan yang mendadak melintas di wajah cantiknya yang dilapisi riasan tebal. "Tapi... sebenernya aku tetep punya rasa takut kalau sampai aksi kita di belakang dia ini ketahuan sama kakak-kakaknya atau orang tua Arka, Ped. Lo tahu sendiri kan gimana ngerinya jaringan mata-mata dan kekuasaan keluarga Albian kalau udah menyangkut urusan internal mereka? Kalau sampai ketahuan, kita bisa habis dalam semalam."
Pedro tertawa meremehkan, menepuk-nepuk pipi Sania pelan untuk mengusir ketakutannya. "Tenang aja, sayang. Selama lo tetep mainnya rapi, pasang wajah polos di depan dia, dan gak bertingkah mencurigakan di luar, semuanya bakal aman terkendali. Serahkan sisanya sama gue."
Beberapa saat kemudian, setelah menyudahi obrolan rahasia yang penuh busuk itu, Sania mulai merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang ke rumahnya sendiri demi melakukan persiapan akhir sebelum pesta nanti malam dimulai. Pedro mengantarnya turun menggunakan lift hingga ke lobi utama apartemen.
Setelah mobil milik Sania bergerak melaju pergi, Pedro yang merasa perutnya sedikit lapar memutuskan untuk berjalan kaki santai menuju ke arah depan kompleks apartemennya, berniat menuju ke sebuah minimarket yang terletak tepat di seberang jalan raya.
Tepat di sebelah bangunan minimarket tersebut, di bawah rindangnya sebatang pohon peneduh jalan yang besar, terdapat sebuah gerobak ketoprak pinggir jalan yang tampak cukup ramai dikunjungi pembeli. Di salah satu sudut meja panjang kayunya, tampak seorang cowok berkaos oblong hitam polos sedang duduk dengan posisi santai, menikmati satu porsi makanan ketoprak dengan sangat lahap tanpa memedulikan bisingnya suara kendaraan di sekitarnya. Sosok cowok itu tidak lain adalah Kak Hendra.
Dia baru saja menyelesaikan sesi latihan fisik yang teramat berat di sebuah tempat gym komersial yang terletak tak jauh dari kawasan apartemen mewah tersebut.
......................
Dari seluruh anak-anak kandung Herman Albian, memang hanya Kak Hendra lah yang memiliki anomali sifat paling unik, aneh, dan membumi; dia adalah satu-satunya anak Albian yang paling sering dan sama sekali tidak memiliki rasa gengsi sedikit pun untuk terlihat makan di warung kaki lima atau warung tenda di pinggir jalanan kota. Kak Hendra memang sejak dulu jauh lebih suka menikmati makanan langsung di tempat-tempat sederhana dan merakyat seperti ini daripada harus selalu makan makanan formal berharga jutaan di rumah mewah atau restoran bintang lima sebuah kebiasaan hidup yang terbentuk secara alami karena faktor lingkungan tempat kuliahnya di kota Bandung yang didominasi oleh mahasiswa-mahasiswa dari latar belakang sederhana dan pekerja keras, membuatnya hanya memiliki sedikit sekali teman dekat dari kalangan anak-anak orang kaya yang manja.
......................
Saat sedang mengunyah kerupuk ketopraknya, pandangan mata Kak Hendra yang terkenal tajam dan mendadak menangkap sebuah pergerakan dari dua orang yang baru saja berjalan keluar dari area gerbang utama apartemen mewah di seberang jalannya. Dia menghentikan pergerakan sendoknya di udara, mengunci pandangannya ke satu titik. Matanya menyipit dengan sangat teliti, memperhatikan dengan saksama sosok Sania yang baru saja naik ke dalam mobilnya setelah melambaikan tangan mesra, dan sosok Pedro yang sekarang sedang berjalan kaki sendirian menuju ke arah minimarket yang terletak tepat di sebelah tempat Kak Hendra makan.
Kak Hendra terus mengawasi setiap gerak-gerik Pedro dengan tatapan mata yang sinis, dingin, seperti ciri khas wajah keluarga Albian. Di dalam otaknya yang cerdas dan terbiasa mengingat detail, dia merasa sangat tidak asing dengan wajah kedua orang itu.
Sebagai kakak, dia tahu betul kalau wanita bergaun ketat dan pria berjaket itu bukanlah orang asing di dalam lingkaran kehidupan adiknya, Arka; mereka adalah pacar dan sahabat terdekat Arka. Melihat kebersamaan rahasia mereka berdua di sebuah apartemen di jam-jam krusial seperti ini, sebuah catatan kecurigaan besar langsung tersimpan rapat dan tersusun rapi di dalam kepala Kak Hendra malam itu, siap menjadi senjata yang mematikan di waktu yang tepat.
...****************...
Malam yang dinanti-nantikan pun akhirnya tiba. Jarum jam tepat menunjukkan pukul tujuh malam ketika atmosfer di sekitar lokasi acara perayaan ulang tahunku yang ke-18 bertransformasi total menjadi panggung sandiwara yang teramat megah, berkilauan, dan penuh kepalsuan. Di tempat acara, ratusan tamu undangan yang terdiri dari teman-teman sekolahku, anak-anak konglomerat sirkel atas, jajaran model, selebriti mikro, hingga barisan kolega bisnis penting milik Ayah sudah memenuhi setiap sudut area lahan luas yang telah disulap sempurna bak negeri dongeng modern, dikelilingi oleh kilauan ribuan lampu kristal gantung dan dekorasi floral yang mewah.
Aku menghadiri pesta penting dan bersejarah di hidupku ini bersama dengan seluruh anggota keluarga utuh Albian tanpa terkecuali. Kedatangan kami ke lokasi acara sudah diatur dengan sangat terstruktur dan penuh perhitungan matang. Ayah dan Ibu berada di dalam satu mobil sedan mewah yang dikendarai oleh sopir pribadi kepercayaan keluarga di barisan paling depan.
Sementara aku, Kak Andra, Kak Zalya, Kak Hendra, dan si bungsu Ellisya berada di dalam satu mobil sport SUV mewah berukuran besar di barisan belakangnya, yang dikendarai langsung oleh supir kak Andra, kaku, dan tanpa cela sedikit pun di balik kemudi.
Keluarga Albian sengaja menerapkan strategi taktis untuk datang terlambat beberapa menit dari jadwal resmi yang tertera di kartu undangan acara pesta. Hal itu dilakukan bukan karena kami tidak menghargai waktu atau tidak disiplin, melainkan sebuah taktik psikologis kelas atas yang sengaja dirancang agar saat ban mobil kami menyentuh area lobi, seluruh pandangan mata, atensi, dan perhatian dari ratusan orang penting yang sudah hadir di dalam ruangan akan langsung tertuju secara mutlak dan serempak pada kedatangan agung keluarga kami.
And, as expected, rencana itu berjalan dengan sangat sempurna. Begitu iring-iringan dua mobil mewah keluarga kami berhenti tepat di depan lobi utama, suasana riuh pesta mendadak berubah menjadi hening seketika. Seluruh pasang mata menoleh ke arah pintu mobil yang terbuka. Kami semua turun dari mobil secara berurutan, melangkah tegap, dan langsung menjadi pusat perhatian utama malam itu, membelah barisan tamu yang menatap kami dengan pandangan penuh kekaguman dan rasa hormat yang mendalam.
Malam ini, Ayah tampil sangat berwibawa dan penuh karisma kekuasaan mengenakan kemeja lengan pendek berwarna hitam polos bermerek terkenal, sementara Ibu tampak begitu cantik, awet muda, dan anggun mengenakan gaun malam hitam bermanik-manik yang sangat pas melekat di tubuhnya yang proporsional.
Kak Zalya juga tampil tidak kalah memukau dari Ibu; dia mengenakan gaun malam model asimetris berwarna gelap yang sedang menjadi tren terpanas di kalangan sosialita muda dunia saat ini. Sedangkan si bungsu Ellisya terlihat sangat manis, sopan, dan menggemaskan dengan gaun pesta hitam berpotongan simpel yang sangat cocok untuk anak seusianya.
Di barisan para pria, Kak Andra tampil begitu dominan dan mengintimidasi dengan mengenakan kemeja lengan pendek berwarna kombinasi hitam coklat tua tebal dari bahan premium. Jika disejajarkan berdiri tepat di samping Ayah, postur tubuhnya yang tegap, tatapan matanya yang sedingin es, hingga gaya pakaian yang dikenakan Kak Andra membuat dirinya terlihat bagai pinang dibelah dua dengan Herman Albian seorang sosok penerus takhta kerajaan bisnis yang sempurna tanpa celah.
Di sisi lain, Kak Hendra tampil dengan gayanya yang lebih santai namun tetap memancarkan aura kemewahan yang tidak bisa disembunyikan; dia hanya mengenakan baju polo lengan pendek hitam bergaris minimalis yang dipadukan dengan celana kain mahal. Ya, memang benar kata pepatah lama, jika seseorang sudah memiliki jutaan dolar di dalam rekening banknya, mau mengenakan baju kaos sederhana atau murah sekalipun tetap akan terlihat sangat cakep, necis, dan berkelas tinggi di mata orang-orang yang melihatnya.
Sementara aku sendiri sebagai sang bintang utama malam ini, mengenakan kemeja kemeja hitam coklat lengan pendek dengan motif, corak, dan merek yang persis sama seperti yang dipakai oleh Kak Andra. Malam ini, atas kesepakatan bersama, seluruh keluarga Albian memilih untuk tampil kompak mengenakan pakaian bertema warna gelap yang elegan.
Pesta pun dimulai dengan sangat meriah dan megah. Acara dibuka secara resmi dengan sesi pidato singkat dariku di atas panggung utama, menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran para tamu yang langsung disambut oleh riuh tepuk tangan dan sorak-sorai. Setelah sesi formal selesai, kemeriahan pesta berlanjut ke sesi makan malam bersama yang menyajikan hidangan internasional kelas bintang lima, ditemani oleh alunan live musik dari band papan atas yang membawakan lagu-lagu asyik bertempo sedang, membuat atmosfer malam itu terasa makin hidup, hangat, dan menyenangkan bagi semua orang.
Sepanjang acara pesta berlangsung, aku terus ditemani oleh pacarku, Sania. Dengan gaun malam gelapnya yang ketat dan riasan wajah yang glamor, dia selalu menempel erat di lengan kiriku, menggandengku dengan gestur posesif seolah enggan bergeser satu sentimeter pun dari sisiku, memamerkan status sosialnya sebagai kekasih resmi dari seorang Arka Zayn Albian.
Saat kami sedang berjalan santai di dekat area katering makanan berat, aku menoleh ke arahnya dengan senyuman hangat. "Sayang, kamu mau makan atau minum apa lagi malam ini? Biar aku yang ambilin langsung atau aku pesenin ke staf pelayan buat diantar ke meja kita."
Sania tersenyum manja, menyebutkan satu menu steak daging sapi premium yang dia inginkan. Setelah mendengar jawabannya, dia langsung berbalik badan dan mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan untuk memanggil pelayan katering yang sedang membawa nampan makanan. Namun, tatapan mata Sania mendadak berhenti pada dua orang cowok yang sedang berdiri dengan posisi agak canggung, kikuk, dan terisolasi di sudut paling pinggir area pesta, dekat dengan pilar belakang.
Tanpa bertanya atau meminta persetujuan dariku terlebih dahulu, Sania langsung mengangkat tangan kanannya, melambai-lambaikan jarinya dengan gestur tubuh yang teramat merendahkan dan sombong, lalu berteriak memanggil mereka berdua dengan nada suara yang keras karena mengira mereka adalah bagian dari staf pelayan katering malam ini yang kurang cekatan.
"Heh, pelayan yang di pojok baju kotak-kotak! Sini dong lo, budeg ya? Anterin steak premium satu porsi ke meja VIP depan sekarang juga, gak pakai lama!" seru Sania dengan nada ketus dan membentak.
Dua orang cowok yang dipanggil dengan kasar itu menoleh serempak dengan wajah bingung. Jantungku rasanya langsung berhenti berdetak seketika, dan seluruh darah di tubuhku mendadak berdesir dingin saat melihat dengan jelas siapa wajah kedua orang itu. Mereka adalah Rafqi dan Revan.
Malam ini, mereka berdua datang memenuhi undangan resmi yang kukirimkan lewat WhatsApp, dengan mengenakan kemeja flanel kotak-kotak bersih yang rapi, hanya saja mereka berbeda kombinasi warna. Pakaian yang bagi ukuran standar hidup mereka sudah merupakan pakaian terbaik dan tersopan yang mereka miliki, namun kini terlihat sangat kontras, murah, dan mencolok bagai noda di tengah lautan jas mewah, tuksedo, dan gaun malam berharga puluhan juta milik para tamu undangan lainnya. Rafqi dan Revan tampak cukup terkejut, tersinggung, dan raut wajah mereka berubah menjadi sangat merah menahan malu ketika menyadari bahwa Sania memanggil mereka dengan sebutan pelayan kasar di depan kerumunan banyak orang.
Aku yang didera rasa panik luar biasa langsung memegang pundak Sania dengan erat, menarik tubuhnya sedikit mundur dan berbisik setengah panik di dekat telinganya untuk mengoreksi ucapannya yang fatal. "Sania, stop! Jaga mulut kamu! Mereka berdua itu bukan pelayan katering di sini... mereka itu teman baik gue zaman SMP dulu yang sengaja gue undang resmi buat datang ke sini."
Mendengar penjelasanku yang panik, Sania sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, canggung, atau berniat meminta maaf sedikit pun. Sebaliknya, dia justru langsung meledakkan tawa kencang yang mengejek, tertawa terpingkal-pingkal tepat di depan wajah Rafqi dan Revan yang kini terpaksa menundukkan kepala mereka dalam-dalam menahan rasa terhina yang luar biasa.
"Hah?! Apa, Arka? Teman SMP kamu? Ya ampun, sumpah demi apa, aku pikir tadi mereka berdua itu beneran pelayan baru katering yang gak becus kerja, habisnya tingkahnya kayak begitu mirip banget sama pelayan gudang atau kuli tahu gak! Hahaha, kok bisa-bisanya sih seorang anak Albian kayak kamu punya sirkel pertemanan sama orang-orang miskin dan gak punya kelas kayak mereka?" ucap Sania dengan suara lantang tanpa memikirkan sedikit pun bagaimana hancurnya perasaan kedua temanku itu yang mendengarnya langsung.
Sebenarnya, situasi malam itu sudah terasa sangat buruk, tidak nyaman, dan menyiksa bagi Rafqi dan Revan bahkan sebelum aku dan Sania menghampiri sudut tempat mereka berdiri. Sejak pertama kali mereka melangkahkan kaki masuk melewati pintu gerbang depan pesta, mereka berdua sudah habis-habisan dijadikan bahan olokan, lelucon, dan sindiran halus oleh teman-teman sirkel orang kayaku yang lain yang berpapasan dengan mereka, karena ada beberapa alumni sekolah yang mengenali wajah Rafqi dan Revan sebagai anak orang biasa yang hidup pas-pasan tanpa status sosial, tanpa kekuasaan, dan tanpa harta sedikit pun di kota ini. Kedatangan mereka dianggap sebagai sebuah lelucon salah alamat.
Tak berselang lama dari insiden memalukan katering itu, acara hiburan pesta berlanjut ke sesi utama pertunjukan stand-up comedy. Komedian tunggal papan atas yang sengaja kusewa mahal dengan kontrak khusus langsung naik ke atas panggung utama yang megah, memegang mikrofon, dan memulai bit komedinya dengan sangat baik, memancing tawa riuh dari para penonton di awal sesinya. Awalnya semua penonton tertawa terhibur dan situasi pesta berjalan normal serta kondusif, sampai tiba-tiba atmosfer yang menyenangkan itu dipecah secara kasar oleh sebuah interupsi lantang dari arah meja bundar bagian depan.
"Bro, bro, komedian yang di atas panggung! Bentar deh, potong dulu materi lo!"
Suara lantang, sombong, dan penuh percaya diri itu berasal dari Iksan, salah satu teman dekat sirkelku sejak zaman SMP yang juga berasal dari keluarga konglomerat hitam ternama. Iksan berdiri dari kursi empuknya, melangkah maju beberapa tindak mendekati bibir panggung sembari membalikkan badannya, menunjuk tepat ke arah sudut pilar tempat Rafqi dan Revan berdiri dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa penghinaan yang teramat kejam.
"Lu mau tahu gak, hal apa yang sebenarnya jauh lebih lucu, jauh lebih lawak, dan paling menggelikan dari semua materi komedi sampah yang lo bawain dari tadi di atas sana, hah?" Iksan berteriak lantang menggunakan suara perutnya, memastikan suaranya menggema di seluruh ruangan kafe. "Hal yang paling lucu malam ini adalah... ada dua bocah kampung miskin yang gak tahu diri, nekat hadir, nyelinap masuk, dan berdiri sok asyik di dalam pesta mewah orang-orang berstatus sosial tinggi kayak kita semua di sini! Lihat tuh baju mereka, flanel murah! Hahaha!" teriak Iksan yang langsung meledakkan tawa terpingkal-pingkal dari mulutnya sendiri.
Detik itu juga, tawa kejam Iksan langsung menular bagai virus yang mematikan ke seluruh penjuru ruangan, diikuti oleh gelak tawa mengejek secara massal dari hampir seluruh tamu undangan anak muda yang berada di area pesta itu. Ratusan orang tertawa serempak, menjadikan Rafqi dan Revan sebagai pusat hinaan, tontonan, dan badut dadakan malam itu yang dikuliti harga dirinya di depan umum. Karena dulu satu sekolah, Iksan tahu betul latar belakang ekonomi keluarga Rafqi dan Revan.
Mendengar olok-olokan yang teramat kejam, merendahkan, dan dilakukan secara terbuka oleh Iksan serta gemuruh tawa ratusan orang kaya yang sangat menyayat hati dan menghancurkan mental itu, Rafqi dan Revan tidak membalasnya dengan makian ataupun amarah fisik. Dengan sisa-sisa harga diri terakhir yang mereka miliki sebagai manusia, mereka berdua justru melangkah tegap dengan dagu terangkat, berjalan membelah lautan manusia yang sedang menertawakan mereka, berjalan lurus menghampiriku yang sedang berdiri mematung membisu di dekat meja VIP utama.
Rafqi menatap langsung ke dalam kedua mataku dengan seulas senyuman tipis yang teramat tulus, namun menyiratkan luka batin yang teramat sangat dalam. Tangannya yang sedikit kasar menyodorkan sebuah kantong kertas atau paper bag kecil berwarna cokelat sederhana yang sudah agak lecek ke arah telapak tanganku.
"Arka... makasih banyak ya buat undangannya malam ini. Makanan di pesta lo beneran enak banget dan mewah. Tapi... kayaknya kita berdua emang beneran gak cocok, gak pantas, dan gak punya tempat di dalam ruangan megah kayak begini. Ini ada hadiah kecil dari kami berdua buat ulang tahun lo yang ke 18, semoga lo suka ya, bro. Selamat ulang tahun," ucap Rafqi dengan nada suara yang teramat tenang, tegap, dan penuh wibawa seorang pria, sebelum akhirnya dia dan Revan berbalik langkah bersama, berjalan cepat meninggalkan area pesta membelah kerumunan manusia yang masih terus menertawakan punggung mereka hingga menghilang di balik pintu keluar malam yang dingin.
Begitu mereka berdua melangkah keluar, teman-teman dekat sirkelku yang lain justru makin keras menertawakan bingkisan paper bag murah yang ditinggalkan oleh Rafqi dan Revan di tanganku, melemparkan tebakan-tebakan kasar dan menganggap barang di dalamnya hanyalah sampah murahan yang sama sekali tidak layak untuk diterima atau disimpan oleh seorang anak dari keluarga Albian.
Sedari tadi, sejak awal rentetan ledekan, hinaan, dan diskriminasi kejam yang dilontarkan untuk Rafqi dan Revan bergemuruh di dalam ruangan, aku hanya bisa terdiam membeku tanpa suara di tempatku berdiri. Lidahku mendadak kelu bagai terkunci, kakiku terpaku rapat di atas lantai. Perasaan di dalam dadaku bergolak campur aduk dengan sangat hebat dan menyiksa; di satu sisi batin kecilku berteriak histeris, menyuruhku untuk segera berlari mengejar mereka, membela harga diri Rafqi dan Revan di depan semua orang, dan membungkam mulut sampah Iksan.
Tetapi di sisi lain yang jauh lebih dominan, rasa ego, gengsi kelompok, dan ketakutanku yang teramat sangat akan kehilangan reputasi, nama baik, serta status sosialku sebagai anak gaul sirkel elite atas di mata teman-teman kayaku justru jauh lebih besar dan mengunci seluruh pergerakan tubuhku. Aku terlalu pengecut malam itu. Aku memilih untuk diam, mengorbankan ketulusan sebuah pertemanan sejati demi mempertahankan sebuah pengakuan dan topeng kemewahan palsu yang melekat di wajahku.
Saat insiden memilukan dan memalukan itu terjadi di lantai bawah, tanpa sepengetahuanku, Kak Andra dan Kak Zalya ternyata sedang duduk di kursi khusus di sudut balkon VIP lantai atas, menyaksikan seluruh drama kepengecutanku dari ketinggian dengan mata kepala mereka sendiri. Namun, tidak ada satu pun tindakan atau suara pembelaan yang terdengar dari mereka berdua untuk membantuku keluar dari situasi canggung itu.
Tatapan mata Kak Zalya yang biasanya selalu dipenuhi oleh keceriaan, tawa, dan kehangatan kini meredup total, memancarkan gurat kekecewaan yang teramat sangat dalam melihat bagaimana watak asli adiknya yang tumbuh menjadi manusia angkuh, sombong, dan pengecut. Begitu pula dengan Kak Andra; dia hanya berdiri dengan posisi bersedekap dada, menatap lurus ke arah posisiku di bawah sana dengan sepasang mata elangnya yang memancarkan rasa kecewa yang luar biasa dingin dan mati, seolah menganggapku telah gagal total menjadi seorang pria sejati yang memiliki kehormatan malam ini.
Sementara itu, di samping mereka berdua, si kecil Ellisya yang masih terlalu muda dan awam tampak sangat bingung melihat atmosfer ketegangan yang mendadak tercipta. Banyak rentetan pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepalanya melihat situasi aneh tersebut. Dia mendongak, menatap kedua kakaknya bergantian dengan wajah polos. "Kak Zalya... Kak Andra... itu orang-orang kenapa pada ketawa keras banget sih? Terus itu temen-temennya Kak Arka yang pakai baju flanel kenapa pergi dan diusir kayak gitu? Mereka salah apa?" tanya Ellisya penuh rasa ingin tahu.
Kak Zalya tidak membalas sepatah kata pun pertanyaan adiknya, dia memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah lain dengan helaan napas berat. Untuk pertama kalinya di dalam hidup, Ellisya melihat raut wajah Kak Zalya berubah menjadi sangat dingin, kaku, tegang, dan tanpa ekspresi sedikit pun—sebuah topeng emosi yang persis sekali dengan ciri khas mutlak lini utama keluarga Albian.
Melihat Kak Zalya yang memilih bungkam, dengan suara yang berat, rendah, Kak Andra singkat membalas pertanyaan adik bungsunya sembari matanya tetap menatap tajam ke arahku di bawah sana.
"Suatu saat kamu bakal paham, untuk sekarang dan seterusnya jangan menjadi seperti Arka yang saat ini" ucap Kak Andra dengan nada dingin yang menusuk tulang. Ellisya pun langsung tersentak, terdiam seribu bahasa, dan tidak berani lagi melontarkan pertanyaan tambahan apa pun walaupun di dalam hatinya dia belum paham sepenuhnya arti kalimat mendalam dari sang kakak sulung.
Di sudut lain area pesta, Ayah yang sedang duduk di meja utama bersama para kolega bisnis pejabat tinggi sempat mengerutkan keningnya tajam, merasa terganggu melihat keributan kecil di dekat panggung utama. Namun, sebelum amarah Ayah meledak dan merusak citra keluarga, Ibu dengan gerakan cepat langsung memegang punggung tangan Ayah di bawah meja, menenangkannya dengan sebuah senyuman lembut khasnya sembari berbisik pelan bahwa malam ini adalah acara perayaan hari bahagia putra mereka, sehingga tidak perlu merusak suasana sakral ini dengan keributan anak remaja yang tidak penting.
Sedangkan di saat kejadian memalukan dan penuh air mata itu berlangsung di dalam aula utama, Kak Hendra ternyata sedang berada di area halaman luar paling belakang yang sepi dan tenang. Dia memang sejak awal tidak terlalu suka berlama-lama berada di dalam ruangan VIP yang penuh dengan kepalsuan formalitas kaum atas dan bau parfum mahal yang menyengat. Sembari memegang segelas minuman dingin di tangannya, pandangan mata Kak Hendra yang sedang menatap ke dalam lewat kaca besar mendadak terkunci fokus pada sosok wanita bergaun malam ketat yang sejak sore tadi terus berdiri menempel di sebelah Arka. Kak Hendra mempertajam fokus matanya, mencocokkan ingatan visualnya dengan kejadian jam tiga sore tadi di depan kompleks apartemen mewah dekat gerobak ketoprak.
Detik itu juga, Kak Hendra tersenyum sinis dengan keyakinan seratus persen di dalam kepalanya; dia percaya dan tahu betul kalau perempuan jalang yang sedang berakting manis di sebelah adiknya itu adalah orang yang sama persis yang dia lihat keluar dari dalam kamar unit apartemen milik Pedro siang tadi. Sebuah bom waktu informasi tentang pengkhianatan terbesar kini telah digenggam erat oleh Kak Hendra, siap diledakkan di waktu yang paling tepat untuk menghancurkan Sania dan Pedro sekaligus.
...****************...
Ketika di dalam lokasi acaraku malam ini sedang bertransformasi menjadi momen spesial yang dipenuhi oleh gemerlap kebahagiaan semu, kemewahan harta yang melimpah, di belahan sudut kota Jakarta yang lain, di sebuah kawasan pemukiman padat yang gelap dan berdebu, malam ini justru menjadi malam paling kelam, mengerikan, mematikan, dan menjadi sebuah malam terpahit sepanjang sejarah perjalanan hidup Astrid.
WIIUUUUUU... WIIUUUUUU... WIIUUUUUU...
Suara lengkingan sirine dari sebuah mobil ambulans rumah sakit terdengar membelah kesunyian dan dinginnya malam dengan sangat nyaring, memekakkan telinga, dan bergema mengerikan di sepanjang jalanan raya menuju ke arah gedung rumah sakit umum daerah.
Pintu belakang besi mobil ambulans tersebut didorong terbuka secara kasar dan tergesa-gesa begitu roda kendaraan berdecit berhenti darurat tepat di depan selasar lobi utama ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Di dalam lorong rumah sakit yang bernuansa putih dingin, berlantai keramik kusam, dan dipenuhi oleh bau obat serta cairan antiseptik yang menyengat, sebuah brankar darurat beroda besi tampak didorong dengan sangat cepat, brutal, dan tergesa-gesa oleh dua orang dokter jaga malam dan beberapa perawat yang wajahnya dipenuhi ketegangan.
Di atas brankar besi yang dingin itu, terbujur lemah, kaku, dan tak berdaya sosok Ibu dari Astrid, Raisya Ningsih. Beliau berada dalam kondisi yang sudah tidak sadarkan diri sepenuhnya, dengan sebuah masker oksigen bening melekat erat menutupi wajahnya yang sudah berubah menjadi sangat pucat pasi, sedingin es. Beliau mendadak tumbang, kolaps, dan jatuh kritis.
Tepat di sebelah brankar besi yang sedang melaju cepat membelah lorong itu, Astrid terus berlari kencang dengan langkah kaki yang terseok-seok, di mana air mata kesedihan dan ketakutan yang teramat sangat sudah membanjiri seluruh permukaan wajah pucatnya yang dipenuhi peluh. Kedua telapak tangannya yang gemetar hebat mencengkeram sangat erat sisi besi pembatas brankar, seolah-olah jika dia melepaskan cengkeraman itu, nyawa Ibunya akan melayang pergi saat itu juga. Tubuh ramping Astrid bergetar hebat, dikuasai sepenuhnya oleh rasa panik dan trauma psikologis yang luar biasa akan kenyataan bahwa dia mungkin akan kehilangan satu-satunya malaikat pelindung dan harta paling berharga di dalam hidupnya.
Astrid menangis dengan sangat histeris, meluapkan seluruh rasa sakit di dadanya. Suaranya terdengar begitu parau, pecah, dan bergetar hebat di antara derit keras gesekan roda besi brankar yang sedang berpacu dengan waktu melawan maut di sepanjang koridor rumah sakit yang sunyi.
"Mamaaa!!! Bangun, Ma... Astrid mohon sama Mama, tolong buka mata Mama sekarang, jangan bikin Astrid takut kayak gini!!! Jangan pernah tinggalin Astrid sendirian di dunia ini, Mamaaa!!!" teriak Astrid dengan suara histeris yang menyayat hati siapa saja yang mendengarnya malam itu.
Dia terus berlari sekuat tenaga yang tersisa di dalam tubuhnya, mendorong brankar darurat itu masuk melewati pintu ganda ruangan penanganan kritis atau, meninggalkan segala keriuhan dunianya yang kini telah runtuh, hancur berkeping-keping menjadi abu dalam waktu satu malam yang teramat kejam.
...----------------...