NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Gerbang Menuju Dunia Lain

Hujan turun tiada henti sepanjang sore itu, membasahi setiap sudut kota hingga jalanan menjadi licin dan berkabut tebal. Suara gemuruh guntur sesekali memecah kesunyian, diiringi kilatan cahaya yang menyinari langit kelabu. Elara melangkah tergesa di atas jembatan batu tua yang sudah mulai lapuk dimakan waktu. Ia baru saja menyelesaikan tugasnya dan ingin segera pulang ke rumah sebelum badai semakin parah.

Namun, takdir seolah punya rencana lain. Saat kakinya menginjak bagian tengah jembatan, tiba-tiba batu pijakan di bawahnya terasa bergetar hebat. Sebuah kilatan cahaya keemasan menyambar dari celah-celah batu, membentuk pusaran angin yang berputar kencang dan menarik segala sesuatu di sekitarnya. Elara terkejut, mencoba berpegangan pada pagar, namun kekuatan tarikan itu terlalu kuat. Sebelum sempat mengeluarkan suara teriakan, tubuhnya terangkat dan tersedot masuk ke dalam lubang cahaya yang tak berdasar.

Rasa berputar, dingin menusuk tulang, dan kesadaran perlahan memudar. Ia merasa seolah melayang melintasi ruang dan waktu, melewati lapisan kabut yang tak kasat mata, hingga akhirnya rasa itu menghilang begitu saja.

Saat perlahan membuka matanya, Elara merasakan tubuhnya terbaring di atas hamparan rumput yang sangat lembut, sehalus beludru. Udara yang terhirup ke paru-parunya terasa segar, beraroma bunga-bunga yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Hujan dan suara guntur sudah tak terdengar lagi. Ia duduk perlahan, menggosok matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya bukanlah mimpi.

Pemandangan di hadapannya sungguh di luar nalar. Tak ada lagi gedung-gedung tinggi, lampu jalan, atau kendaraan yang biasa ia lihat. Sebaliknya, terbentang luas sebuah taman yang sangat indah. Pepohonan menjulang tinggi dengan daun yang berkilau samar bagai diselimuti embun bercahaya. Bunga-bunga bermekaran dengan warna yang hidup, ada yang berwarna keperakan, keemasan, hingga ungu tua yang memancarkan cahaya lembut. Di kejauhan, berdiri megah sebuah istana yang tampak tak nyata. Dindingnya tersusun dari batu pualam putih yang memantulkan sinar matahari, atapnya berlapis emas dan perak, serta menara-menara runcing yang menjulang tinggi seolah hendak menyentuh langit biru yang cerah.

“Ini… di mana saya?” gumam Elara dengan suara bergetar, tangannya memegang dadanya yang berdebar kencang. Ia menunduk, melihat pakaiannya yang basah dan kotor berlumpur—sangat kontras dengan pakaian sutra berwarna cerah yang dikenakan orang-orang yang berjalan lewat di jalan setapak tak jauh dari tempatnya.

Belum sempat ia bangkit berdiri, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat. Dua orang penjaga muncul dari balik semak, mengenakan baju zirah yang diukir dengan motif daun dan bintang, serta memegang tombak yang ujungnya berkilau seperti kristal. Tatapan mereka tajam dan penuh kewaspadaan.

“Berhenti di tempat! Siapakah engkau, dan dari mana datangnya?” tanya salah satu penjaga dengan nada tegas namun tetap terasa sopan. “Wajahmu asing, pakaianmu pun tak kami kenal gaya dan bahannya. Apakah engkau penyusup yang masuk secara diam-diam ke wilayah Kerajaan Aetheris?”

Elara terdiam sesaat, lalu berusaha menjelaskan dengan nada gugup. “Saya bernama Elara. Sebelumnya saya berada di jembatan batu yang terkena hujan, lalu tiba-tiba ada cahaya yang menarik saya ke sini… Saya tidak tahu bagaimana caranya sampai di tempat ini, sungguh.”

Kedua penjaga itu saling berpandangan, tampak ragu namun tetap waspada. Cerita Elara terdengar mustahil bagi mereka. Namun melihat gadis itu tampak ketakutan dan tidak membawa senjata apa pun, mereka memutuskan untuk membawanya menghadap pemimpin tertinggi.

“Baiklah. Jika ucapanmu benar atau salah, hanya Yang Mulia yang bisa menilainya. Ikutlah kami,” perintah penjaga itu.

Elara tak punya pilihan selain mengikuti. Ia berjalan di antara mereka, menatap sekeliling dengan mata terbelalak kagum sekaligus takut. Mereka melintasi gerbang raksasa yang dihiasi ukiran naga dan burung suci, melewati halaman luas yang dipenuhi air mancur dengan air yang jernih berkilau, hingga akhirnya tiba di dalam ruang singgasana yang sangat megah.

Langit-langit ruangan itu tinggi dan dihiasi lukisan langit serta bintang-bintang yang terlihat seolah bergerak perlahan. Dindingnya dipenuhi permata dan cermin besar yang memantulkan cahaya. Di ujung ruangan, di atas takhta yang terbuat dari marmer putih murni dan bertatahkan kristal biru, duduk seorang laki-laki muda yang memancarkan wibawa luar biasa.

Itu adalah Raja Valerius, penguasa Kerajaan Aetheris. Wajahnya tampan dengan garis tegas, rambutnya berwarna keperakan yang jatuh terurai di bahunya, dan matanya sewarna danau di bawah langit cerah—dingin namun menyimpan kedalaman yang sulit dibaca. Di sekelilingnya berdiri para penasihat dan bangsawan yang langsung menatap Elara dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.

“Yang Mulia,” ucap salah satu penjaga sambil menunduk dalam-dalam. “Kami menemukan gadis ini tergeletak tak sadarkan diri di taman luar istana. Ia mengaku datang dari tempat yang jauh dan asing, namun ceritanya terdengar sangat aneh.”

Semua mata kini tertuju pada Elara. Ia menunduk, merasakan tekanan yang berat menimpa hatinya. Napasnya terasa sesak, dan kakinya gemetar hebat.

Raja Valerius menatapnya dalam-dalam, seolah menembus ke dalam jiwa gadis itu. Suaranya terdengar tenang namun bergema keras memenuhi seluruh ruangan.

“Angkat kepalamu, gadis. Katakanlah dengan jujur, dari mana asalmu dan apa maksud kedatanganmu ke kerajaanku?”

Elara perlahan mengangkat wajahnya, menatap langsung mata sang Raja. Di balik ketakutannya, ada ketulusan yang terlihat jelas di sorot matanya. Ia menceritakan kembali semuanya—tentang dunianya, jembatan itu, cahaya aneh, hingga bagaimana ia terbangun di tempat ini.

Setelah mendengarnya hingga selesai, ruangan hening sejenak. Para penasihat saling berbisik, sebagian merasa curiga, sebagian lagi merasa kasihan. Namun Raja Valerius tetap tenang, masih menatap Elara dengan pandangan yang sulit ditebak.

“Apa yang kau katakan sungguh di luar kebiasaan,” ucap Valerius akhirnya. “Namun aku bisa merasakan bahwa tidak ada niat jahat dalam hatimu. Masalahnya, di tanah Aetheris ini, tidak ada tempat bagi orang yang tak memiliki tujuan, tempat tinggal, maupun sanak saudara. Jika aku membiarkanmu pergi begitu saja ke luar tembok istana, bahaya apa pun bisa menimpamu, dan kau tidak tahu jalan pulang.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan keputusannya dengan nada tegas namun tidak kejam.

“Maka ini keputusanku. Mulai hari ini, kau akan tinggal di dalam istana. Sebagai ganti tempat tinggal dan makanan, kau akan bekerja sebagai pelayan. Kau akan belajar adat istiadat di sini, mematuhi segala peraturan yang berlaku, dan membuktikan dirimu bisa dipercaya. Itu satu-satunya kesempatan bagimu untuk bertahan hidup di dunia ini. Apakah kau menerima?”

Jantung Elara berdegup kencang. Dunianya berubah total dalam waktu singkat—dari kehidupan yang ia kenal, kini terlempar ke tempat ajaib yang asing, dan harus menjalani hidup sebagai pelayan. Namun ia sadar, ini satu-satunya jalan yang aman baginya. Ia mengangguk perlahan dengan suara lirih namun mantap.

“Saya terima, Yang Mulia.”

Tanpa disadarinya, jawaban sederhana itu telah menandai awal dari sebuah kisah panjang. Di balik tembok istana yang megah ini, di antara tugas-tugasnya sebagai pelayan, perlahan benih-benih pertemuan dan perasaan mulai tumbuh—sesuatu yang akan melampaui batas kedudukan, dunia, dan segala hal yang dianggap mustahil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!