NovelToon NovelToon
Ketika Rekor Bertemu Rindu

Ketika Rekor Bertemu Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Ella

Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.

Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.

Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.

"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Kenzo tertawa rendah, suara tawanya bergema halus di area kolam yang kini kembali sepi setelah kepergian Rindu di balik pintu ruang ganti. Ia menurunkan ponselnya sejenak, memandangi pintu yang beberapa detik lalu sempat ditatap maut oleh sang Ratu Lintasan.

"Dikasih porsi santai malah ngajak berantem. Dasar atlet aneh," gumam Kenzo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, senyum geli masih tercetak jelas di wajahnya.

Kenzo memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia tahu betul apa yang baru saja terjadi. Rindu tidak benar-benar marah karena menolak menu latihan santai itu, melainkan karena ego dan mekanisme pertahanan dirinya sedang diguncang.

Sepanjang hidupnya, Rindu dikondisikan untuk percaya bahwa nilainya sebagai manusia hanya diukur dari seberapa keras ia disiksa di dalam kolam. Ketika Kenzo datang dan meruntuhkan aturan kolot itu hanya dalam waktu satu jam, gadis itu jelas kebingungan harus merespons seperti apa selain dengan kekesalan.

Kenzo bangkit dari kursinya, berjalan mendekati meja juri untuk merapikan lembar biodata dan catatan analisisnya ke dalam map jepit. Hari pertama berjalan jauh lebih baik dari dugaannya. Rindu tidak mogok, tidak menangis, dan yang paling penting gadis itu mau mendengarkan arahannya walau sambil ngedumel.

"Satu sama, Rindu," ucap Kenzo pelan pada dirinya sendiri sembari mengancingkan ritsleting ranselnya.

Ia melirik jam dinding, bersiap menunggu Rindu keluar untuk memastikan gadis itu pulang dengan aman. Langkah pertama untuk menjinakkan "singa betina yang terluka" sudah berhasil ia lewati dengan mulus. Sore nanti, ia tinggal memikirkan strategi baru untuk menghadapi babak selanjutnya.

Di dalam ruang ganti, Rindu membanting tas olahraganya ke atas bangku kayu dengan kasar. Bunyi ‘debuk’ yang keras menggema di ruangan yang sepi itu. Ia menyentak ikat rambutnya sampai terlepas, membiarkan rambut panjangnya yang basah terurai berantakan.

"Gila! Itu orang beneran pelatih atau cuma mahasiswa gabut yang hobi nyari perkara sih?!" gerutu Rindu setengah berteriak pada dinding ruang ganti.

Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajahnya sendiri yang memerah karena dongkol. Tangannya bergerak cepat menyalakan keran pancuran shower, membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya untuk membilas sisa-sisa kaporit. Namun, bahkan kehangatan air itu sama sekali tidak bisa meredakan rasa kesalnya yang sudah setengah mati pada Kenzo.

Bagaimana tidak kesal? Di saat ia sudah menurunkan ego tingginya, membuang gengsinya sebagai atlet elite demi menuruti arahan cowok itu, dan bahkan sempat merasa ‘nyaman’... Kenzo malah mengibaskan tangan dengan ekspresi 'bodo amat' yang sangat membagongkan!

"Bisa-bisanya dia cuek kayak gitu setelah bikin jantung gue mau copot!" omel Rindu lagi sambil menggosok rambutnya dengan sampo secara brutal.

Rindu merasa seperti dipermainkan. Selama ini, semua orang di sekitarnya mulai dari pengurus klub, Coach Hermawan, sampai ayahnya sendiri selalu memperlakukannya dengan penuh ketegangan, seolah dia adalah porselen mahal yang bisa pecah kapan saja, atau robot yang harus terus dipompa.

Tapi Kenzo? Cowok itu memperlakukannya seperti anak kucing yang sedang ngambek, lalu ditinggal pergi begitu saja demi sebuah ponsel!

"Awas aja lo, Kenzo Adhyaksa. Jangan harap besok-besok gue bakal luluh lagi sama omongan sok bijak lo itu!"

Rindu menyugar rambutnya ke belakang di bawah guyuran air. Meskipun mulutnya terus merutuk dan menyumpah serapah, ada satu hal aneh yang tidak bisa ia bohongi di dalam cermin: sepasang matanya yang biasanya redup dan penuh tekanan, sore ini terlihat jauh lebih hidup dan bersinar. Kekesalannya pada Kenzo entah bagaimana telah membakar habis rasa depresi yang mengurungnya selama berbulan-bulan.

Suasana di area kolam indoor sore itu mulai berubah riuh. Bunyi langkah kaki, tawa renyah, dan gema obrolan mulai memenuhi ruangan. Beberapa mahasiswi yang tergabung dalam UKM Renang Universitas tampak berjalan masuk sambil menenteng papan luncur dan pull buoy, sementara beberapa pengunjung umum juga mulai bersiap di tepi lintasan lain untuk sekadar berenang santai.

Pintu ruang ganti cewek terbuka dengan sentakan pelan. Rindu melangkah keluar, sudah rapi dengan jaket olahraga tebal dan celana training-nya. Rambut panjangnya yang masih setengah basah ia biarkan tergerai, membingkai wajahnya yang ditekuk masam.

Begitu kakinya menginjak lantai porselen kolam, sepasang mata indahnya langsung bergerak liar ke penjuru ruangan. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mengarahkan seluruh fokus penglihatannya untuk mencari keberadaan si "pelatih bagong" yang sukses membuatnya kesal setengah mati itu.

Di antara keramaian anak-anak UKM yang mulai berseliweran, Rindu menyipitkan mata. Ia mencari sosok jangkung berkaos hitam polos dengan ransel besar yang tadi dengan teganya mengibaskan tangan seolah berkata 'bodo amat' kepadanya.

"Mana sih itu orang? Awas aja kalau dia berani pulang duluan dan ninggalin gue di sini," gumam Rindu ketus, sambil terus mengedarkan pandangan ke arah kursi juri dan tribun penonton.

"Cari siapa, cantik?"

Sebuah suara berat yang familier tiba-tiba berbisik dari arah belakang, tepat di dekat telinga kanan Rindu. Suara itu begitu dekat hingga hembusan napasnya sempat menyapu tengkuk Rindu, membuat gadis itu tersentak kaget dan hampir saja melompat dari tempatnya berdiri.

Rindu buru-buru membalikkan badan dengan wajah yang seketika memerah sempurna bukan cuma karena kaget, tapi juga karena panggilan "cantik" yang diucapkan dengan nada sesantai itu berhasil membuat jantungnya kembali berdegup tidak karuan.

Di hadapannya, Kenzo sedang berdiri tegak sambil tersenyum jahil. Ransel besarnya sudah terpasang rapi di kedua pundaknya, dan tangannya kini sedang sibuk memasukkan sebuah botol minum ke dalam kantong jaring di samping tasnya. Ternyata sejak tadi cowok itu tidak ke mana-mana; ia hanya sedang berdiri di dekat dispenser air yang terhalang oleh pilar tribun.

Melihat wajah Rindu yang syok dan kesal bercampur jadi satu, senyum di bibir Kenzo makin lebar.

"Mata lo sampai muter-muter kayak nyari barang hilang gitu. Nyariin gue, ya?" goda Kenzo, sama sekali tidak merasa berdosa setelah membuat Rindu senewen di dalam ruang ganti tadi.

"Dih, geer lo! Siapa juga yang nyariin lo? Gue mau pulang!" sembur Rindu cepat, berusaha menutupi rasa gugupnya dengan nada ketus yang dibuat-buat.

Tanpa menunggu jawaban Kenzo, Rindu langsung memutar tubuhnya dan melangkah lebar-lebar menuju pintu keluar area kolam. Langkah kakinya begitu cepat, seolah-olah ia sedang melarikan diri dari kejaran sesuatu atau lebih tepatnya, melarikan diri dari tatapan mata Kenzo yang entah mengapa selalu bisa membuatnya salah tingkah.

Di balik sikap ketusnya itu, Rindu sama sekali tidak menyadari satu hal. Kalimat yang baru saja ia ucapkan adalah sebuah bentuk pamitan. Bagi seorang Rindu Prameswari yang terkenal dingin, angkuh, dan tidak peduli pada sekitar, berpamitan kepada seorang pelatih adalah hal yang sangat langka. Secara tidak sadar, ia sudah mulai mengakui keberadaan Kenzo di hidupnya.

Mendengar ucapan itu, Kenzo tidak membalas dengan godaan lagi. Ia justru tersenyum lebar, sebuah senyuman hangat yang tulus. Menyesuaikan posisi ransel di kedua pundaknya, Kenzo mulai melangkah, berjalan santai mengekor di belakang Rindu.

Ia sengaja menjaga jarak beberapa langkah, membiarkan gadis itu memimpin jalan di depan sambil menggerutu pelan. Kenzo tahu, meski mulut Rindu terus berkata benci dan kesal, langkah kaki gadis itu hari ini terasa jauh lebih ringan daripada saat ia pertama kali datang ke kampus ini tadi siang. Dan bagi Kenzo, itu adalah sebuah kemenangan kecil.

Sore yang mulai beranjak senja menyambut mereka begitu pintu kaca area indoor terbuka. Udara luar yang sedikit berembus membuat beberapa helai rambut Rindu yang masih basah bergoyang. Sekarang mereka berdua berdiri di koridor pintu keluar yang langsung menghadap ke arah area parkiran kampus yang cukup luas.

Meskipun Rindu sejak tadi memasang wajah ketus dan berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, Kenzo tetap dengan setia mengikuti setiap langkah kakinya. Langkah kaki cowok itu konstan, santai, dan tidak terburu-buru, namun selalu berhasil menjaga jarak aman tepat beberapa langkah di belakang Rindu.

Dari kejauhan, sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat familier bagi Rindu sudah terparkir rapi di bawah pohon peneduh, mesinnya menyala halus siap untuk menjemput sang Ratu Lintasan.

Rindu menghentikan langkahnya tepat beberapa meter sebelum mencapai mobil, membuat Kenzo ikut mengerem langkah kakinya. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, lalu membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Ia menatap pelatih barunya itu dengan dahi yang masih sedikit berkerut, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawa dinginnya yang sempat runtuh di dalam kolam tadi.

"Ngapain lo masih ngintilin gue sampai sini?" tanya Rindu, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Kenzo penuh selidik. "Kan gue udah bilang, gue mau pulang."

Kenzo menurunkan sedikit pandangannya, menatap Rindu sambil tersenyum tipis tanpa beban. Ia melepaskan satu tali ranselnya, membiarkan tas besar itu menggantung santai di bahu kirinya.

"Ya emang mau nganterin lo sampai mobil, Rin," jawab Kenzo renyah, nadanya kembali kasual seperti di awal pertemuan mereka. "Sebagai pelatih yang baik, gue harus mastiin atlet gue aman sampai masuk jemputannya. Lagian, kalau lo tiba-tiba diculik atau kabur ke mall, bokap lo pasti bakal langsung nyoret nama gue dari daftar kelulusan skripsi."

Rindu mendengus mendengar alasan menyebalkan itu, walau jauh di dalam lubuk hatinya, ada kehangatan kecil yang menggelitik. Belum pernah ada pelatih yang repot-repot memperlakukannya seperti ini setelah latihan selesai. Biasanya, begitu kaki keluar dari air, ia langsung dilepas begitu saja ke dalam mobil jemputan tanpa ada yang peduli.

"Alasan aja lo, bilang aja emang hobi gangguin gue," gumam Rindu pelan, memutar bola matanya malas sebelum berbalik menuju pintu mobil yang sudah dibukakan dari dalam oleh sang sopir.

"Hati-hati di jalan ya, Rin. Besok jangan sampai terlambat datangnya," ucap Kenzo setengah setengah berteriak kecil agar suaranya tidak tenggelam oleh deru halus mesin mobil. Ia melambaikan tangannya santai, masih dengan senyum khasnya yang menyebalkan tapi sekaligus menenangkan.

Rindu tidak menjawab. Ia langsung masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk, lalu pintu sedan mewah itu tertutup rapat dengan bunyi klek yang solid.

Pak Joko, sopir pribadinya, mulai memindahkan tuas transmisi dan perlahan melajukan mobil membelah area parkiran kampus. Seharusnya, seperti hari-hari biasanya, Rindu akan langsung menyandarkan kepala ke kursi, memakai earphone dan menutup diri dari dunia luar.

Sore ini, ada dorongan aneh yang menggelitik hatinya. Tanpa Rindu sadari, jemarinya bergerak menyentuh tombol di pintu mobil. ‘Bzzzt’ Kaca mobil itu perlahan turun, menembus lapisan privasi kaca film yang gelap. Rindu menoleh ke belakang, menatap sosok jangkung Kenzo yang makin mengecil di area parkiran.

Gerakan menurunkan kaca itu persis seperti seseorang yang sedang memberikan salam perpisahan yang manis. Begitu matanya menangkap sosok Kenzo yang masih berdiri di sana memperhatikannya, Rindu mendadak salah tingkah. Ia buru-buru memasang wajah datar andalannya, lalu hanya memberikan anggukan super singkat sebagai respons gaya khas Ratu Lintasan yang jaim setengah mati.

Di kejauhan, Kenzo yang melihat kaca mobil terbuka dan mendapat anggukan dari Rindu justru tertawa lepas. Ia kembali melambaikan tangannya lebih tinggi, tahu betul kalau gadis itu sebenarnya sudah mulai luluh.

Rindu segera menaikkan kembali kaca mobilnya dengan cepat begitu sadar pipinya mulai terasa panas lagi. Ia bersandar pada kursi kulit mobilnya, menatap lurus ke depan dengan senyum tipis yang akhirnya gagal ia sembunyikan.

"Besok ya..." gumam Rindu pelan pada dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kata 'besok' dan 'latihan renang' tidak lagi terdengar seperti awal dari sebuah mimpi buruk.

**

"Siapa dia, Nzoo?!"

Sebuah lengkingan suara bernada tinggi tiba-tiba memecah keheningan sore dari arah belakang Kenzo. Suara yang sangat familier itu seketika membuat senyum di wajah Kenzo lenyap tanpa bekas. Bahunya menegang, dan raut mukanya berubah drastis menjadi dingin saat ia membalikkan badan.

Tria. Pacarnya itu sudah berdiri di sana, beberapa meter dari tempat Kenzo berdiri, dengan kedua tangan bersedekap di dada dan tatapan mata yang menghunus tajam ke arah mobil sedan Rindu yang baru saja bergerak menjauh.

Kenzo mengembuskan napas panjang lewat hidung, mencoba menahan kepalanya agar tidak berdenyut. Akhir-akhir ini, Tria memang seperti sengaja mencari-cari gara-gara. Sikapnya makin tidak masuk akal, protektif yang dibuat-buat, seolah sengaja memancing pertengkaran besar agar ada alasan kuat untuk lepas dari hubungan mereka yang sudah terasa sangat *toxic*.

Bukannya merasa bersalah, Kenzo justru merasa muak. Kecemburuan Tria kali ini benar-benar sudah dinilai keterlaluan dan berlebihan olehnya.

"Dia atlet yang gue latih, Tria," jawab Kenzo, suaranya terdengar datar, lelah, dan tanpa emosi. Ia sengaja memakai kata 'gue-lo' yang menandakan batas jarak yang tebal di antara mereka.

"Atlet sampai harus dianterin ke mobil? Sampai dadah-dadah pake turunin kaca segala?" cibir Tria dengan tawa sinis yang dipaksakan, melangkah mendekat dengan mata memicing menuduh. "Lo pikir gue buta? Gaya lo melatih udah berubah jadi gaya orang PDKT ya sekarang?"

Kenzo menatap Tria lurus-lurus, tidak ada lagi kehangatan atau rasa bersalah di sepasang matanya. "Gue di sini kerja, profesional, sesuai perintah bokapnya. Dan lo? Lo dateng ke tempat magang gue cuma buat bikin keributan yang nggak penting kayak gini?"

Kenzo membetulkan letak tali ranselnya, lalu melangkah melewati Tria begitu saja tanpa niat untuk merayu atau meredakan amarah gadis itu.

"Kalau lo ke sini cuma mau nyari alasan buat berantem, mending kita selesaiin aja sekarang, Tria. Gue capek."

Tria tertawa sumbang, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menyembunyikan fakta bahwa tuduhannya sebenarnya tidak berdasar. Ia membalikkan badan dengan cepat, menatap punggung Kenzo yang terus melangkah menjauh tanpa ada niat untuk berbalik menahannya.

"Lo sengaja pengen putus karena cewek yang lo sebut atlet itu kan?!" teriak Tria egois, suaranya melengking di area parkiran yang mulai sepi.

"Jangan jadi penakut, Kenzo! Bilang aja kalau lo udah dapet yang lebih kaya, makanya lo sengaja nyari alasan buat lepas dari gue!"

Mendengar kalimat manipulatif itu, langkah kaki Kenzo mendadak berhenti. Cowok itu terdiam selama beberapa detik, membiarkan angin senja berembus melewati mereka. Kata-kata Tria tidak membuatnya merasa bersalah, melainkan justru memperjelas betapa rusaknya hubungan mereka saat ini.

Tria benar-benar menggunakan kehadiran Rindu sebagai tameng untuk memutarbalikkan fakta, seolah-olah Kenzo-lah penjahatnya di sini.

Kenzo membalikkan tubuhnya perlahan. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak di wajahnya. Yang ada hanya tatapan kosong dan dingin yang membuat suasana di antara mereka mendadak mencekam.

"Jangan bawa-bawa orang lain ke dalam masalah yang lo bikin sendiri, Tria," ujar Kenzo, suaranya sangat rendah namun penuh penekanan yang menusuk. "Gue pengen putus bukan karena orang lain. Tapi karena lo yang selalu cari gara-gara, lo yang bikin hubungan ini jadi racun, dan lo juga yang sebenarnya dari kemarin nyari celah biar bisa bebas dari gue, kan?"

Tria agak tersentak mendengar ucapan Kenzo yang tepat sasaran. Ia sempat terbata-bata, "G-gue cuma nanya..."

"Gak usah akting lagi. Gue lepasin lo sekarang," potong Kenzo datar, mengakhiri semua drama yang melelahkan itu. "Kita selesai. Dan tolong, jangan pernah dateng lagi ke tempat latihan gue."

Tanpa menunggu balasan apa pun dari Tria yang kini terpaku di tempatnya, Kenzo berbalik arah dan melanjutkan langkah kakinya menuju halte bus kampus. Pikirannya malam ini sudah cukup penuh dengan skripsi dan program latihan Rindu, ia tidak punya sisa energi lagi untuk meladeni ego seorang Tria.

—bersambung—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!