Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Perdana
Sidang perdana perceraian Hana dan Dimas saat ini sedang berlangsung. Hana datang dengan ditemani Farhan dan Heru sang pengacara. Sedangkan Dimas datang dengan di temani ibu Sundari dan tentunya wanita yang sekarang berstatus istri baru Dimas pun ikut.
Jadwal sidang kali ini hanya mediasi, Dimas kekeh tidak mau bercerai. Namun Hana tetap pada pendiriannya, bercerai dari Dimas. Sidang nampak alot, kedua belah pihak tetap pada pendirian masing‑masing. Sehingga hakim pun memutuskan untuk melanjutkan sidang dua minggu lagi.
" Bagaimana? Masih tetap ngotot ingin bercerai? Aku bakalan mempersulit proses perceraian ini jika kamu tetap tidak mau menyetujui syarat yang aku berikan."Ucap Dimas sambil menyeringai licik.
" Jangan harap kamu mendapatkan harta adikku, dasar suami benalu !!."Seru Farhan sambil mengepalkan kedua tangannya.
" Kak, sudahlah. Jangan kak Farhan ladenin dia, nanti kalau dia capek pasti akan berhenti sendiri. Sekarang lebih baik kita pulang, pak Heru sudah pulang duluan tuh. Dia masih ada pekerjaan yang lain."Seru Hana sambil mengusap punggung Farhan.
Ibu Sundari dan Sintia pun sudah bergabung, tatapan keduanya sinis ke arah Hana dan Farhan.
" Hana, lebih baik kamu mengalah saja. Daripada perceraianmu dipersulit dan hubungan kalian menggantung tidak ada kejelasan. Lebih baik berikan apa yang seharusnya menjadi haknya Dimas. Kamu itu jangan serakah, apa yang kamu miliki itu juga milik Dimas."Ucap ibu Sundari lagi‑lagi masalah harta yang dia bicarakan.
Harta mana lagi yang dia maksud milik Dimas? Sudah berapa puluh kali Hana jelaskan jika semua itu tidak ada campur tangan Dimas sama sekali. Mobil ? Hana membelinya dengan uang tabungannya sendiri. Rumah ? Rumah itu pemberian dari Farhan dan sertifikat rumah saja masih atas nama Farhan.
Farhan dulu memang sengaja membuat sertifikat itu atas nama dia. Dia lakukan itu demi kebaikan Hana, untuk berjaga‑jaga jika suatu hari ada hal yang tidak diinginkan. Dan ternyata apa yang ditakutkan Farhan terjadi juga.
Dimas sama sekali tidak tahu jika sertifikat atas nama Farhan, yang dia tahu atas nama Hana sehingga dia ngotot ingin meminta bagian dari rumah itu.
" Wanita serakah, awas tidak laku kamu."Seru Sintia melirik sinis Hana.
" Serakah sama hartaku sendiri ya tidak masalah. Daripada kamu? Serakah sama suami orang, dasar pelakor !!."Ucap Hana tak kalah ketus membantah ucapan Sintia.
" Heehh aku bukan pelakor !! Aku dan Dimas itu saling cinta, sadar diri dong kenapa suami kamu lebih memilih aku daripada kamu? Goyangan kamu kurang yahut dan kurang memuaskan suami. Jadi deh suami berpaling."Seru Sintia tanpa sadar dia sudah mempermalukan dirinya sendiri.
" Wanita murahan, tak ubahnya seperti lacur !!."Seru Farhan menghina Sintia.
Farhan laki‑laki yang tidak banyak bicara saja bisa sampai mengatakan Sintia wanita murahan. Itu berarti Farhan benar‑benar geram dan marah dengan kelakuan Sintia. Wanita kok bodoh, dengan bangganya dia mempermalukan dirinya sendiri.
" Jangan menghina istriku kak. Bagaimanapun, Sintia ini istriku."Seru Dimas membela Sintia yang kini sudah gelondotan manja di lengan Dimas tanpa tahu malu.
" Hana, kita pulang."Seru Farhan tegas.
" Iya kak."Jawab Hana singkat dan patuh.
" Hana ! Ingat permintaanku tadi, bagi dua harta kita dan aku akan segera memenuhi permintaan ceraimu !." Seru Dimas sedikit berteriak.
Farhan dan Hana yang sudah mulai menjauh tidak memperdulikan teriakan Dimas. Mereka menganggap itu anjing yang sedang menggonggong karena kelaparan.
Sesampainya di rumah, Farhan segera beristirahat. Sebab selepas asar nanti dia akan pulang ke kampung, dan akan datang lagi saat Hana akan sidang ke dua. Perjalanan ke kampung halaman Hana memakan waktu sekitar 5‑6 jam dengan mengendarai mobil.
Seminggu berlalu
Hari ini Dimas sudah mulai bekerja, dia bekerja di cafe sebagai pramu saji. Sementara hanya pekerjaan itu yang bisa dia kerjakan. Tepatnya hanya menjadi pelayan yang dia dapatkan sebab tidak ada perusahaan yang memperkerjakannya.
" Dimas, ini untuk meja nomor 13 ya. Awas jangan sampai lupa, tidak mau kan dipecat dihari pertama kerja." Ucap salah satu pelayan mengingatkan Dimas.
" Iya, iya bawel amat sih."Jawab Dimas ketus.
" Dasar sombong, masih beruntung cafe ini mau menerima kamu kerja itupun karena cafe benar‑benar sedang membutuhkan tenaga baru."Ucap nya dengan menggerutu.
Ccceekkk
Dimas berdercak kesal, dia pun mengangkat nampan yang berisi dua piring nasi goreng seafood dan 2 gelas jus alpukat serta satu botol air mineral. Dimas mengantarkan makanan itu sesuai dengan yang diberitahu temannya, meja nonor 13.
" Silahkan dimakan."Seru Dimas berusaha untuk ramah.
" Mas Dimas."Seru seorang wanita remaja.
" Lastri ? Kamu kenapa ada di sini? Bukannya hari ini kamu ada jadwal kuliah dan praktek? Kenapa malah ada di sini? Tadi pagi kamu sudah meminta uang 300 ribu lagi dengan alasan untuk praktik. Siapa laki‑laki kucel ini?."Seru Dimas bertanya secara beruntun.
Lastri hanya menundukkan kepala sambil meremas tangannya yang sudah mulai keringat dingin. Kali ini dia tidak bisa berbohong lagi, sebenarnya sudah ada 1 bulan Lastri tidak masuk kuliah. Bagi Lastri kuliah itu hanya untuk gaya‑gayaan, yang penting menyandang status mahasiswa. Namun ternyata dunia kuliah membuat dia bosan, sampai akhirnya dia bolos kuliah sampai 1 bulan lebih.
" Tunggu dulu !! Ini bukannya tukang ojek yang sering mengantar jemput kuliahkan? Kamu bilang dia ini tukang ojek pangkalan langganan kamu? Jangan bilang ini pacar kamu, Lastri?." Seru Dimas berbicara dengan nada bergetar.
Lastri dan pacarnya sama‑sama menundukkan kepalanya. Dan hal itu berhasil memancing kemarahan Dimas. Tanpa sadar Dimas memukul meja dengan keras sehingga mengundang perhatian pengunjung cafe yang lainnya.
Bbrraakkk
" Jawab Lastri !!."Seru Dimas marah.
" Emmm... maaf kan Lastri mas. Saya, saya Bobi pacarnya Lastri. Kami sudah berpacaran sekitar 4 bulan yang lalu."Jawab Bobi sang pacar Lastri.
Hhhuuuhhh
Dimas membuang nafas dengan kasar, ternyata adiknya sudah berpacaran. Yang membuat Dimas marah, Lastri bolos kuliah dan lebih memilih jalan dengan pacarnya. Mana pacarnya juga tidak ada tampang tampannya sama sekali, bahkan hanya mengendarai motor matic butut.
" Maafkan Lastri mas. Lastri sudah bohong, sebenarnya sudah 1 bulan lebih Lastri tidak kuliah."Ucap Lastri takut‑takut.
Ingin sekali Dimas menghajar kedua remaja yang ada di hadapannya. Saat Dimas mengangkat tangannya hendak menampar Lastri tiba‑tiba dia dihentikan oleh temannya.
" Dimas, ini di tempat kerja. Jangan buat keributan !! Jika ada masalah keluarga selesaikan di rumah, jangan di sini. Mengganggu pelanggan yang lainnya."Seru teman kerja Dimas.
Aargghhhh
Dimas hanya bisa berteriak dari dalam batinnya saja. Dia merutuki kebodohannya sendiri, bagaimana dia bisa lupa jika sekarang sedang ada di cafe tempat kerjanya.
" Sorry, aku terbawa emosi."Jawab Dimas menyadari kesalahannya.
" Pulang lah, Lastri. Jangan sampai aku menghajar kalian berdua di tempat ini. Jangan lupa bayar dulu makanan kalian, karena aku tidak sudi membayarkannya."Seru Dimas masih ingat dengan makanan Lastri dan Bobi yang belum dibayar. Bahkan di makanpun belum.
" Mas, biar kami makan dulu ya. Sayang kalau tidak dimakan."Seru Bobi malu‑malu.
Dimas tidak menjawab nya, dia meninggalkan mereka berdua begitu saja.
" Kamu tidak bawa mobil kan? Aku antar pulang ya, Han?."Seru Aldo ingin mengantar Hana pulang.
Tidak tahu kenapa, pagi tadi Hana sangat malas sekali mengendarai mobil. Sehingga dia memilih untuk naik taksi online saat berangkat ke kantor.
" Maaf, terima kasih. Tapi aku sudah pesan taksi online, Do. Ini lagi dalam perjalanan ke sini."Jawab Hana menolak secara halus.
" Di cancel saja, biar saya antar pulang."Seru Aldo sedikit memaksa.
Hana tetap menggelengkan kepalanya. Dia sadar diri dengan statusnya, sedang proses cerai dan tidak mungkin untuk berdekatan dengan laki‑laki lain. Tidak mau dibilang wanita gatal dan tidak mau ada fitnah yang tidak‑tidak.
" Itu mobil nya sudah datang. Maaf ya Do, aku duluan. Byeee."Seru Hana sambil melambaikan tangannya.
Aldo mengulas senyuman, ternyata mendekati Hana tidak semudah yang dia bayangkan. Dia butuh perjuangan yang lebih gigih lagi untuk membuat Hana membuka hatinya.
" Hana, Hana. Kenapa aku sangat mencintaimu, tidak dapat gadismu dapat jandamu pun tidak masalah."Seru Aldo sambil senyum‑senyum sendiri.
" Kenapa kamu senyum‑senyum sendiri? Mana Hana? Katanya tadi mau mengantar Hana pulang?."Tanya Vera secara beruntun.
" Hana lebih memilih naik taksi online , Ver. Ternyata susah ya mendapatkan Hana ? Apa aku harus berguru dulu sama si Dimas? Pakai cara apa dulu dia bisa mendapatkan cintanya Hana?."Ucap Aldo sudah bicara yang tidak‑tidak.
" Pakai pelet nyai ronggeng bin mak lampir." Jawab Vera asal‑asalan.
Bbbuugghhh
Buku yang sedari tadi di tangan Aldo dia pukulkan di punggung Vera yang bicara dengan asal.
" Kalau mau mai dukun, kamu dulu itu yang aku dukunin. Dukunin mulut kamu biar diam dan tidak cerewet dan bawel terus."Seru Aldo mulai lagi jika sudah bertemu dengan Vera.
" Sialan loh, rasakan ini."Ucap Vera lalu dia mencubit dengan kuat lengan kekar Aldo sampai Aldo meringis kesakitan.
" Awas saja kamu, Ver. Aku pecat baru tahu rasa kamu, aku ini bos kamu."Seru Aldo mengancam.
" Bodo amat ! Byeee..." Seru Vera sama sekali tidak takut, sebab sudah bukan jam kerja lagi jadi dia bisa dengan mudah meledek Aldo.
Vera pun menghampiri mobil nya, lalu melaju meninggalkan halaman parkir perusahaan.