NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Hujan Tengah Malam

Hari presentasi akhirnya tiba.

Sejak pagi, suasana kantor terasa jauh lebih tegang dibanding biasanya.

Semua orang sibuk memeriksa ulang dokumen.

Laptop terbuka di mana-mana.

Telepon berdering tanpa henti.

Dan di tengah semua kekacauan itu, Damar tetap terlihat tenang.

Seolah tidak ada apa pun yang bisa menggoyahkan fokusnya.

Nara diam-diam memperhatikan pria itu dari mejanya.

Entah sejak kapan, ia mulai sering melakukan hal tersebut.

Mungkin karena penasaran.

Atau mungkin karena alasan lain yang belum ingin ia akui.

"Nara!"

Suara Siska membuatnya tersentak.

"Hah?"

"Kamu menatap Damar lagi."

"Aku tidak menatap."

"Kalau begitu aku astronaut."

Nara langsung melempar tisu ke arah sahabatnya.

Siska tertawa puas.

---

Pukul sembilan pagi.

Seluruh tim berkumpul di ruang rapat utama.

Klien sudah datang.

Beberapa petinggi perusahaan juga hadir.

Ini adalah momen yang menentukan.

Jika presentasi berhasil, proyek besar itu hampir pasti jatuh ke tangan mereka.

Jika gagal...

Berbulan-bulan kerja keras akan sia-sia.

Nara menarik napas panjang.

Tangannya sedikit dingin.

Meski sudah berlatih berkali-kali, tetap saja ada rasa gugup.

Namun saat ia menoleh ke samping...

Damar terlihat sangat tenang.

Tatapan pria itu bertemu dengannya.

"Siap?"

tanya Damar.

Nara mengangguk.

"Siap."

"Bagus."

Hanya satu kata.

Namun anehnya, rasa gugup Nara berkurang.

---

Presentasi dimulai.

Satu demi satu bagian berjalan lancar.

Tim desain menjelaskan konsep visual.

Tim keuangan menjelaskan proyeksi anggaran.

Lalu giliran Nara.

Ia berdiri.

Membawa laptop dan alat presentasi.

Puluhan pasang mata langsung tertuju padanya.

Jantungnya berdebar.

Namun begitu mulai berbicara...

Semua berjalan seperti yang telah dilatih.

Ia menjelaskan strategi digital.

Target pasar.

Rencana kampanye.

Serta berbagai pendekatan kreatif yang telah mereka siapkan.

Beberapa klien terlihat mengangguk.

Yang lain mencatat sesuatu.

Dan ketika presentasi berakhir...

Tepuk tangan terdengar.

Nara mengembuskan napas lega.

Ia berhasil.

Benar-benar berhasil.

---

Dua jam kemudian.

Kabar baik datang.

Klien menyetujui proposal mereka.

Seluruh tim langsung bersorak.

Bahkan beberapa orang hampir berpelukan karena terlalu senang.

"Akhirnya!"

teriak salah satu staf.

"Kita berhasil!"

Siska langsung memeluk Nara.

"Aku mau menangis."

"Jangan di bajuku."

"Aku serius."

Nara tertawa.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, suasana kantor terasa sangat ringan.

Semua orang tersenyum.

Semua orang bahagia.

Kecuali Damar.

Pria itu tetap terlihat tenang.

Meski Nara sempat melihat senyum tipis di wajahnya.

Senyum yang cepat menghilang.

---

Sebagai bentuk perayaan kecil, perusahaan memesan makan malam untuk seluruh tim.

Sore berubah menjadi malam.

Dan untuk pertama kalinya sejak proyek dimulai, mereka tidak perlu memikirkan deadline.

"Rasanya aneh."

kata Siska.

"Apa?"

"Tidak lembur sambil panik."

Raka tertawa.

"Berarti kalian sudah kecanduan."

"Jangan kutuk hidup kami."

jawab Siska cepat.

Mereka kembali tertawa.

Sementara Nara menikmati suasana itu.

Sampai seseorang datang.

Bianca.

Wanita itu mengenakan gaun hitam elegan.

Seperti biasa, penampilannya sempurna.

Ia langsung berjalan menuju Damar.

"Selamat."

ucapnya.

"Terima kasih."

jawab Damar.

Bianca tersenyum.

Kemudian menggandeng lengan pria itu.

Gerakan yang sederhana.

Namun cukup membuat suasana di sekitar mereka berubah.

Nara langsung mengalihkan pandangan.

Entah kenapa.

Dadanya terasa sedikit sesak.

---

Perayaan berakhir sekitar pukul sepuluh malam.

Sebagian besar anggota tim pulang lebih awal.

Namun Nara memilih tinggal sebentar untuk membereskan beberapa berkas.

Ketika akhirnya selesai...

Ia menyadari satu hal.

Kantor hampir kosong.

Dan hujan turun sangat deras di luar.

"Lagi-lagi."

gumamnya.

Cuaca memang tidak bersahabat akhir-akhir ini.

Nara membuka aplikasi transportasi online.

Tidak ada pengemudi.

Ia mencoba lagi.

Tetap sama.

"Hebat."

Ia menghela napas.

Persis seperti beberapa malam lalu.

"Nara."

Suara yang familiar membuatnya menoleh.

Damar masih berada di kantor.

Pria itu sedang memakai jasnya.

"Kamu belum pulang?"

tanya Nara.

"Belum."

jawab Damar.

"Kamu?"

"Tidak dapat kendaraan."

Damar melirik hujan di luar.

Lalu berkata,

"Tunggu sampai reda."

Nara mengangguk.

---

Mereka akhirnya duduk di area lounge kantor.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya...

Tidak ada pekerjaan.

Tidak ada rapat.

Tidak ada deadline.

Hanya hujan.

Dan keheningan.

Awalnya suasana terasa canggung.

Namun perlahan Nara mulai terbiasa.

"Kamu selalu bekerja seperti itu?"

tanyanya.

"Seperti apa?"

"Berlebihan."

Damar mengangkat alis.

"Itu bukan pujian."

"Memang bukan."

jawab Nara santai.

Anehnya, Damar tidak marah.

Justru terlihat berpikir.

"Ayah saya dulu selalu bilang, kalau melakukan sesuatu, lakukan dengan benar."

Nara sedikit terkejut.

Jarang sekali Damar berbicara soal dirinya sendiri.

"Kamu dekat dengan ayahmu?"

Pertanyaan itu membuat Damar terdiam.

Beberapa detik.

Cukup lama.

"Sangat dekat."

jawabnya akhirnya.

Nada suaranya berbeda.

Lebih pelan.

Lebih dalam.

Dan untuk pertama kalinya, Nara merasakan kesedihan di balik kalimat itu.

"Beliau sudah meninggal."

lanjut Damar.

Nara membeku.

"Oh."

Ia langsung menyesal telah bertanya.

"Maaf."

"Tidak apa-apa."

Namun jelas itu bukan topik yang mudah bagi pria tersebut.

---

Hujan terus turun.

Malam semakin larut.

Dan entah bagaimana, percakapan mereka mulai mengalir.

Tidak seperti biasanya.

Nara bercerita tentang keluarganya.

Tentang ibunya.

Tentang adiknya.

Tentang perjuangannya mendapatkan pekerjaan.

Sementara Damar lebih banyak mendengarkan.

Sesekali bertanya.

Sesekali memberi komentar singkat.

Namun itu sudah cukup.

"Jadi kamu ikut taekwondo karena sering berkelahi?"

tanya Damar.

Nara langsung protes.

"Aku tidak sering berkelahi."

"Kata orang yang mengunci tangan pria mabuk di pusat perbelanjaan."

"Itu berbeda."

Damar tertawa kecil.

Dan lagi-lagi.

Nara merasa senyum pria itu terlalu berbahaya.

---

Tanpa mereka sadari.

Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.

Hujan mulai mereda.

Jalanan di luar terlihat lebih sepi.

"Kamu lapar?"

tanya Damar tiba-tiba.

"Sedikit."

"Saya juga."

Lima belas menit kemudian.

Mereka berada di warung makan yang buka dua puluh empat jam.

Tempat yang sama seperti beberapa hari lalu.

Pemilik warung bahkan langsung mengenali Damar.

"Seperti biasa?"

tanya pria paruh baya itu.

Damar mengangguk.

Nara memperhatikan.

Berarti pria ini memang sering datang ke sini.

Bukan hanya sekali dua kali.

"Aku masih tidak percaya."

ucap Nara.

"Apa?"

"Kamu lebih sering makan di sini daripada restoran mahal."

Damar menatapnya.

"Lalu?"

"Entahlah."

Nara tersenyum.

"Membuatmu terlihat lebih manusia."

Damar hampir tersedak minumannya.

Untuk pertama kalinya, Nara berhasil membuat pria itu kehilangan kata-kata.

Dan itu terasa sangat memuaskan.

---

Namun kebersamaan mereka malam itu ternyata tidak berlangsung lama.

Saat hendak kembali ke mobil...

Suara seseorang terdengar.

"Damar."

Mereka berdua menoleh.

Bianca.

Wanita itu berdiri beberapa meter dari mereka.

Wajahnya sulit dibaca.

Tatapannya bergantian antara Damar dan Nara.

Lalu berhenti pada Nara.

Dan untuk pertama kalinya...

Nara melihat sesuatu yang jelas di mata wanita itu.

Kecemburuan.

Bianca tersenyum.

Tetapi senyum itu terasa dingin.

"Saya tidak tahu kalian masih bersama sampai jam segini."

ucapnya.

Suasana langsung berubah.

Udara malam terasa lebih berat.

Sementara Damar hanya berdiri diam.

Dan Nara memiliki firasat buruk.

Sangat buruk.

Karena sepertinya...

Masalah yang selama ini perlahan mendekat akhirnya mulai menunjukkan dirinya.

Bersambung...

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!