Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
Sementara badai tak kasat mata mulai mengepung rumah petak di pinggiran Sidoarjo, episentrum badai yang sesungguhnya di Jakarta justru sedang menghantam menara kembar Adiguna Tower. Malam telah jatuh sepenuhnya di ibu kota, namun lampu-lampu di lantai eksekutif gedung pencakar langit itu masih menyala benderang, merefleksikan ketegangan yang sanggup meruntuhkan salah satu pilar ekonomi terbesar di negeri ini.
Di dalam ruang rapat utama yang kedap suara, atmosfer terasa begitu menekan hingga oksigen seolah-olah menipis. Di ujung meja jati panjang, Hutomo Adiguna duduk dengan wajah yang menyerupai pahatan batu granit tua. Kedua tangannya bertumpu berat pada tongkat berkepala perak, sepasang matanya yang biasanya memancarkan otoritas mutlak kini dipenuhi oleh kilatan amarah yang tertahan.
Di sebelah kanannya, Gautama Adiguna berdiri dengan wajah tegang, sesekali menyeka keringat dingin di dahinya meski pendingin ruangan disetel pada suhu terendah. Di hadapan mereka berdua, berdiri dua orang yang membawa kabar buruk: Rendra Adiguna, sang Kepala Penasihat Hukum, dan seorang pria berjas abu-abu yang merupakan perwakilan dari konsorsium bank asing utama yang mendanai proyek-proyek raksasa Adiguna Group.
"Ini bukan lagi sekadar urusan domestik atau kenakalan anak bungsu Anda, Tuan Hutomo," ujar perwakilan bank asing itu, meletakkan sebuah tablet digital di tengah meja.
Layar tersebut menampilkan grafik pergerakan saham Adiguna Land (ADLA) yang menukik tajam, berwarna merah darah.
"Sentimen pasar terhadap Adiguna Group telah mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir. Isu keterlibatan Direktur Pengembangan Bisnis Anda dalam kasus penculikan pewaris Rotasi Company telah memicu kepanikan massal di kalangan investor asing."
Rendra Adiguna menghela napas panjang, lalu membuka berkas hukum yang ia bawa.
"Bukan hanya itu, Paman. Reynald Pratama baru saja mengirimkan somasi resmi melalui firma hukumnya. Pratama Logistics mengancam akan memutuskan seluruh kontrak distribusi material konstruksi untuk proyek strategis nasional kita di Kalimantan dan Sumatera jika Zahran tidak diserahkan dalam waktu dua puluh empat jam."
"Potong jalur distribusi?" Gautama menyela, suaranya naik satu oktav karena panik.
"Jika Pratama memboikot logistik kita, pembangunan mega-proyek di Kalimantan akan mangkrak! Kita akan terkena penalti wanprestasi dari pemerintah yang nilainya triliunan rupiah! Kita bisa bangkrut, Paman!"
Hutomo Adiguna tidak langsung merespons. Ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap Gautama dengan tatapan menghina yang membuat anak tirinya itu seketika bungkam.
"Kamu panik seperti seorang amatir, Gautama," suara Hutomo terdengar rendah, namun getarannya membuat seisi ruangan merinding.
"Kamu pikir aku membangun Adiguna Group dari nol hanya untuk digertak oleh anak ingusan seperti Reynald Pratama?"Hutomo kemudian mengalihkan pandangannya kepada Rendra.
"Di mana posisi Zahran sekarang? Apakah tim keamanan internal kita belum berhasil melacaknya?"
Rendra menggelengkan kepala dengan raut wajah serba salah.
"Zahran menggunakan protokol keamanan tingkat tinggi, Paman. Dia menghapus seluruh jejak digitalnya. Namun, intelijen lapangan kami baru saja melaporkan bahwa Reynald tidak lagi mempercayai polisi. Dia telah menyewa Bramantyo, mantan agen intelijen militer yang sekarang menjadi detektif swasta. Dan dari informasi terakhir, Bramantyo sudah bergerak menuju Jawa Timur."
Mendengar nama Bramantyo, rahang Hutomo mengencang. Ia tahu siapa Bramantyo—seorang pemburu manusia yang tidak akan ragu menggunakan cara-cara kotor dan berdarah untuk menyelesaikan tugasnya. Jika Bramantyo menemukan Zahran dan Alea terlebih dahulu, konsekuensinya tidak hanya akan menghancurkan reputasi Adiguna Group, melainkan bisa berakhir dengan kematian putra bungsunya.
Tiba-tiba, ponsel pribadi Hutomo Adiguna yang terletak di atas meja bergetar. Layarnya tidak menampilkan nomor telepon, melainkan sebuah pesan teks terenkripsi dari nomor yang tidak dikenal.
Hutomo meraih ponsel tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar karena usia, namun matanya tetap tajam membaca deretan kalimat di layar:
'Kepada Patriark Adiguna. Hentikan perburuan tim internal Anda terhadap kami. Jika dalam dua puluh empat jam Gautama tidak mencabut laporan pembekuan rekening operasional proyek mandiriku, atau jika tim Bramantyo menyentuh seujung rambut Alea, aku akan merilis berkas audit internal Adiguna Land tahun 2023 ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Paman Rendra tahu persis berkas mana yang kumaksud—dana taktis untuk perizinan lahan hotel di Yogyakarta. Mari kita lihat, siapa yang akan hancur lebih cepat. — Zahran.'
Hutomo menatap pesan itu selama beberapa menit tanpa berkedip. Kemarahan di dalam dadanya mendadak berubah menjadi rasa takjub yang bercampur dengan kengerian. Putra bungsunya, Zahran yang selama ini ia anggap terlalu lembek dan terlalu idealis sebagai seorang arsitek, ternyata telah memegang belati yang diarahkan tepat ke leher imperium keluarganya sendiri. Berkas audit Yogyakarta tahun 2023 adalah rahasia paling berdarah yang bisa menjebloskan seluruh direksi Adiguna Group ke dalam penjara.
"Paman? Ada apa?" tanya Gautama yang menyadari perubahan ekspresi wajah ayah tirinya.
Hutomo perlahan meletakkan ponselnya kembali ke meja. Ia menatap Gautama, lalu ke arah Rendra dengan pandangan dingin.
"Zahran baru saja mengirimkan ancaman langsung kepadaku," ucap Hutomo datar.
"Apa?!" Gautama terbelalak.
"Anak tidak tahu diri itu berani mengancam Anda? Kita harus mengerahkan seluruh kekuatan untuk menyeretnya pulang dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa!"
"Diam, Gautama!" bentak Hutomo, kali ini suaranya menggelegar hingga memantul di dinding kaca ruangan. Ia berdiri, bertumpu pada tongkat peraknya dengan kekuatan penuh.
"Zahran memegang berkas korupsi lahan Yogyakarta. Jika dia menekannya, Adiguna Group akan runtuh sebelum bursa saham besok pagi dibuka!"
Rendra Adiguna seketika pucat pasi. Sebagai Kepala Penasihat Hukum, dialah yang mengeksekusi aliran dana taktis tersebut atas perintah Gautama setahun yang lalu. Ia tidak menyangka bahwa Zahran, yang selama ini terlihat sibuk dengan desain dan lapangan, diam-diam telah mengkloning data sensitif tersebut sebagai kartu as miliknya.
"Bagaimana bisa... bagaimana bisa dia mendapatkan data itu?" gumam Gautama, lututnya mendadak terasa lemas. Ia menyadari bahwa posisinya sebagai calon tunggal pewaris Adiguna Group kini berada di ujung tanduk. Jika ayahnya tahu bahwa kebocoran ini terjadi karena kelalaian sistem keamanan yang ia pimpin, ia akan tamat.
Hutomo menarik napas panjang, berusaha menstabilkan detak jantungnya. Di dalam hatinya yang paling dalam, ada sebersit rasa bangga yang aneh. Zahran telah bertransformasi menjadi seorang Adiguna yang sesungguhnya—kejam, taktis, dan tidak ragu menghancurkan apa pun demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Namun di sisi lain, ancaman ini adalah tamparan keras bagi kekuasaannya.
"Rendra!" perintah Hutomo, suaranya kembali tenang namun sarat akan otoritas yang berbahaya.
"Aktifkan kembali seluruh rekening operasional mandiri milik Zahran detik ini juga. Cabut semua laporan internal yang mempersulit ruang geraknya secara korporat."
"Tapi Paman, bagaimana dengan Reynald Pratama?" tanya Rendra.
"Biarkan Reynald dengan mainan detektif swastanya," jawab Hutomo sambil berjalan menuju jendela besar, menatap gemerlap lampu Jakarta yang tampak seperti hamparan berlian di bawah kegelapan malam.
"Katakan pada Reynald bahwa Adiguna Group tidak akan tunduk pada somasinya. Jika dia ingin memboikot logistik kita, katakan padanya kita akan membeli perusahaan logistik kompetitornya besok pagi untuk menggantikan posisinya. Kita tidak akan membiarkan anak ingusan itu mendikte kita."Hutomo berbalik, menatap Gautama dengan tatapan mengancam.
"Dan kamu, Gautama... jika aku tahu kamu melakukan pergerakan rahasia lagi di belakangku untuk mencelakai adikmu demi ambisi pribadimu, aku sendiri yang akan mencoret namamu dari seluruh akta waris keluarga Adiguna. Apakah kamu paham?"
Gautama hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah yang pucat pasi. Ancaman dari Zahran telah mengubah seluruh peta permainan di Jakarta. Di bawah bayang-bayang kehancuran korporasi, keluarga Adiguna kini terpaksa mundur satu langkah, membiarkan putra bungsu mereka menjalankan rencananya di Jawa Timur. Pertempuran sesungguhnya kini bergeser sepenuhnya ke tangan Zahran, yang dengan satu pesan teks telah membuktikan bahwa dia bukan lagi mangsa yang bisa diburu, melainkan predator baru yang siap menerkam siapa saja yang berani menghalangi jalan kebebasannya bersama Catalea Yoora.