"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sahabat
Jakarta, 7 Juni 2025 | 19.30 WIB
Semua efek samping dari melompati waktu kini menghantam tubuhnya kembali tanpa ampun. Kesadaran Samuel merosot tajam, dan ia pun pingsan—persis seperti yang terjadi di lini masa sebelumnya.
Makassar, 11 Februari 2015 | 11.00 WITA
Panas Makassar menyengat begitu terik di atas aspal Jalan A.P. Pettarani. Jalanan dipenuhi oleh masyarakat yang lalu lalang demi mencari pundi-pundi rupiah; para pedagang kaki lima mengadu peruntungan lewat adonan tepung mereka di pinggir jalan.
Samuel terduduk diam di tepi jalan, menatap kosong arus lalu lintas. Dari kejauhan, ia melihat Mas Dimas berjalan menghampirinya sambil membawa kantong berisi pakaian. Itu adalah baju dinas Samuel, seragam BPI.
Samuel berbeda dengan penyelidik lainnya. Ia bisa masuk ke dunia ini karena direkrut langsung oleh Mas Dimas yang terpukau oleh keahlian luar biasa Samuel dalam mengumpulkan informasi. Sebelum hari ini, Samuel sempat terjerat kasus pidana, namun Mas Dimas datang bagai malaikat penyelamat untuk membebaskannya. Kata-kata dan lokasi kejadian saat itu masih terekam sangat jelas di memori Samuel. Kejadiannya baru saja berlalu beberapa jam yang lalu.
Di kantor polisi, Samuel sempat ditahan karena nekat mencuri sebuah mobil Lexus. Di sana, Mas Dimas—yang kala itu pangkatnya masih sama dengan pangkat Samuel di masa depan—melihat langsung jalannya interogasi. Samuel melakukan negosiasi cerdik agar bisa bebas: ia membocorkan seluruh peta jaringan narkoba, daftar geng motor, hingga pergerakan anak-anak jalanan kepada pihak kepolisian. Banyak polisi yang awalnya mencemooh dan tidak percaya, namun Mas Dimas tahu kebenarannya. Mas Dimas tahu semua yang dikatakan remaja di depannya ini akurat, karena kebetulan beliau memang sedang memegang tugas menyelidiki kasus tersebut.
Mas Dimas kemudian mendekati kerumunan polisi yang sedang menginterogasi anak muda bernama Samuel itu.
"Eeee, begini," potong Mas Dimas, membuat semua mata di ruangan langsung tertuju kepadanya. "Bagaimana kalau anak muda ini saya yang pegang dulu? Saya yang akan menjadi penanggung jawab penuh atas dirinya. Bagaimana?"
Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang berani berdebat dengan Mas Dimas. Reputasi Mas Dimas sudah terkenal kejam; ia bisa menghancurkan karier seseorang hanya dalam sekejap jika ada yang berani menghalangi tugasnya. Dengan wajah masam dan tak senang, pihak kepolisian akhirnya menyerahkan Samuel kepada Mas Dimas, sementara mobil Lexus hasil curian tersebut dikembalikan kepada pemiliknya.
Kembali ke pinggir Jalan Pettarani, Mas Dimas mendekati Samuel yang masih menatap kosong ke depan.
"Nih, pakaian dinas lu. Lu bantuin gue, dan sebagai gantinya lu dapet pekerjaan tetap," ujar Mas Dimas sambil menyodorkan kantong baju tersebut.
Samuel hanya mengangguk pelan. Sejak hari itu, ia resmi membantu Mas Dimas menyelesaikan berbagai kasus pelik di Makassar. Kinerjanya gila-gilaan. Hanya dalam kurun waktu satu tahun, 10 bandar pengedar, 2 geng motor besar, dan 1 jaringan narkoba kelas kakap di Makassar berhasil diruntuhkan total. Semua itu terjadi hanya bermodalkan akurasi informasi dari seorang Samuel.
Melihat bakat mentah yang mengerikan itu, Samuel langsung ditarik masuk ke dalam instansi BPI pusat sebagai asisten penyelidik dan ditempatkan di Jakarta. Konsekuensinya, Samuel harus merantau dan meninggalkan kakaknya yang saat itu sedang menempuh pendidikan spesialis kedokteran di Universitas Hasanuddin.
Sesampainya di Jakarta, Samuel diberikan fasilitas kamar di asrama BPI. Di dalam kamarnya terdapat dua ranjang, namun salah satunya masih kosong.
"Sepertinya teman sekamar lu lagi pergi deh, Sam. Lu istirahat di sini aja dulu, ya. Gue ada tugas lagi di kantor," kata Mas Dimas sambil menepuk bahu Samuel, meninggalkan remaja berusia 17 tahun itu sendirian di kamar asing tersebut.
Melangkah lebih dalam ke dalam kamar, mata Samuel berbinar kagum. Di dinding kamar itu terpajang banyak sekali poster anime dan pajangan game. Kamar asrama itu terbilang sangat nyaman: dilengkapi kamar mandi dalam, dapur mini, dua meja kerja, dua kasur, serta pendingin ruangan (AC).
Sesaat setelah Samuel menaruh barang-barangnya di lantai, pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar. Sosok pria bertubuh tinggi dan atletis melangkah masuk. Pria itu menatap Samuel, lalu tiba-tiba berpose dengan gaya yang sangat eksentrik mirip karakter fiksi.
"Aaah~ jadi kau yang diceritakan oleh Dimas? Sang Pencari Informasi?! Sa-sa-sa... Samuel, kan?!" seru pria itu dengan tangan kanan menutupi mata kanannya, sementara tangan kirinya menunjuk dramatis ke arah Samuel.
Samuel yang melihat tingkah aneh itu alih-alih merasa risi, justru tersenyum lebar dan mengangguk maklum. Merasa frekuensinya cocok, pria itu mendekat dan menjabat tangan Samuel dengan erat.
"Aku Ahmad. Umurku twenty-three, lulusan Kriminologi Universitas Indonesia. Salam kenal!"
"Samuel. Umur 17, lulusan SMA."
Mendengar Samuel hanya lulusan SMA di usia semuda itu, Ahmad sempat terlonjak kaget seolah tidak percaya. Namun, mengingat jejak prestasi gila yang dibawa Samuel dari Makassar, Ahmad langsung tersenyum bangga dan menerima partner barunya itu dengan tangan terbuka.