NovelToon NovelToon
PENGGANTI

PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Angst / Pengganti
Popularitas:841
Nilai: 5
Nama Author: nona yeppo

Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.


Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.


Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.


Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan

Namun siapa yang dapat menyangka kejadian naas itu akan datang bagaikan angin yang menyesakkan di tengah dinginnya malam.

Segala rencana yang sangat matang telah dipersiapkan kini berakhir menjadi angan belaka. Ditengah sejuk nya sinar mentari yang menyapa, ditengah-tengah sepinya jalanan yang ditutupi oleh rimbun nya pepohonan yang tinggi.

Sang penguasa kegelapan seolah telah rampung menyusun strategi yang mumpuni, sehingga dalam sekali tarikan nafas, dengan pijakan yang hampir melewati batas, armada besar itu berhasil mendorong mobil sedan mini yang hanya bermuatkan empat orang itu hingga terpelanting tak tentu arah.

Mobil yang semula melaju dengan tenang, meliuk-liuk mengikuti jalanan yang berkelok kini terpelanting jatuh dan berulang kali terguling hingga mencapai dasar jurang.

Tidak ada mimpi buruk, maupun mimpi indah. Tidak ada aba-aba atau setidaknya pertanda buruk.

Semuanya terjadi begitu saja secepat angin pantai yang berlalu dengan begitu kencangnya. Membuat kendaraan lain yang mungkin ada disekitar tempat itu jelas tidak menyadari nya.

Sebelum menutup mata dan menghilang dari zona batas kesadaran, dengan samar-samar Yura masih mendengar teriakan papa Bryan yang spontan memanggil nama putrinya dengan panik.

Hingga akhirnya dunia seolah berhenti berputar.

...

Disudut kota yang lain, sangat jauh dari keberadaan Yura dan keluarganya. Yura yang lain juga seolah merasakan keperihan yang sama seolah takdir diantara mereka memang nyata adanya.

Satu jam setelah dirinya tiba dikediaman kedua orang tuanya, ia tiba-tiba mimisan parah yang membasahi pakaian yang dikenakannya.

Mama Zura dan papa nya langsung panik dan bergegas memeluk putri mereka. Sedangkan Liam yang sudah terbiasa menghadapi kepanikan tentu dapat bertindak dengan lebih tenang namun cepat.

Terlebih dahulu ia memanggil sang asisten yang selalu ikut kemana pun Yura pergi. Lalu segera menyiapkan mobil dan segera meluncur setelah semuanya masuk kedalam.

Kepanikan terlihat menyelimuti wajah mereka begitu pun dilokasi tempat kejadian terperosoknya mobil keluarga Yura.

Para polisi segera berusaha melakukan evakuasi. Suara sirine ambulan seketika memenuhi udara. Terik matahari yang kian meninggi telah terabaikan dibalik genting nya proses yang sangat mendebarkan itu.

"Detak jantung nya masih ada, tapi sangat lemah... " teriak salah satu petugas ketika salah satu korban telah berhasil dievakuasi.

Kemudian petugas segera melakukan pertolongan pertama dan kemudian membawa gadis itu kerumah sakit terdekat.

"Darurat, pasien kecelakaan dan mengalami pendarahan hebat.... " begitulah teriakan petugas yang baru saja turun dari mobil ambulan itu.

Teriakan itu Membuat Petugas jaga yang telah bersiap segera bergegas dengan cekatan, seolah nyawa pasien adalah tanggung jawab mutlak yang lebih genting dari apapun tanpa memandang jenis maupun kepentingannya .

Lampu ruangan operasi segera menyala, persis sama dengan keadaan diruangan Yura a dilokasi yang berbeda.

Liam dan kedua orang tua Yura tidak bisa duduk tenang. Mereka sibuk berjalan kesana kemari, karena kejadian ini baru pertama kali mereka rasakan.

"Walaupun aku merasa kasihan melihat nya selama ini menderita, tetap saja aku tidak ikhlas melepaskannya... "

Mama Zura menangis histeris yang berusaha ditenangkan oleh suaminya. Seolah dirinya menyesal telah mengucapkan kalimat ikhlas yang sempat ia ucapkan beberapa hari yang lalu.

. ..

Ditempat kejadian kecelakaan, para petugas sudah menyelesaikan pekerjaan mereka mengevakuasi para korban.

Petugas lain terlihat sibuk melakukan olah tkp guna mengetahui penyebab pasti kecelakaan tersebut.

Sedang petugas yang lainnya juga dengan sigap segera mencari ponsel korban untuk menghubungi pihak keluarga korban.

Sebuah ponsel kebetulan ditemukan tak jauh dari lokasi. Namun kondisi nya sama memprihatinkan seperti keempat korban itu.

Petugas yang lain segera membawa nya untuk diperbaiki agar mereka bisa menghubungi keluarga para korban.

Tak perlu menunggu hingga satu jam, ponsel itu dapat dipulihkan dengan baik. Kebetulan yang sangat mendukung, para petugas akhirnya dapat menyelesaikan salah satu tahapan pemeriksaan.

Nomor darurat yang tertera di tombol nomor satu dalam ponsel itu tertulis atas nama Yura. Para petugas segera menghubungi nomor tersebut namun tak segera mendapat jawaban.

Sedangkan Yura yang coba mereka hubungi kini telah tertidur dengan tenang untuk selamanya. Seolah takdir diantara keduanya masih terhubung untuk terakhir kali nya.

Kedua gadis itu tertidur di ranjang yang sama, namun dengan lokasi dan kejadian yang berbeda. Liam menunduk dengan mata terpejam, seolah mencoba memutar kembali waktu.

Mencari celah, darimana semua ini berawal. Namun satu hal yang pasti, Yura a telah menyelesaikan perjuangan akhirnya nya. Kini tersisa air mata dari orang-orang yang mengasihinya.

Dokter yang bertugas merapikan jasad Yura segera keluar setelah menyelesaikan tugas mulia mereka.

Terlihat helaan nafas yang berat sebagai ritual permanen saat mereka telah selesai menjalankan tugas itu.

Digedung yang dingin ini, banyak nyawa yang datang dan kemudian pergi. Rasanya sudah sangat biasa bagi mereka menyaksikan semua kepedihan itu.

Melihat kondisi kedua orang tua itu, Liam segera bertindak sebagai keluarga inti lain untuk mengurus segala kepentingan kepulangan Yura.

Disaat itu pula ponsel gadis itu berbunyi membuat fokus Liam segera teralihkan. Ia melihat nama Yura tertera disana membuat jantung Liam segera berdetak dengan kencang mengingat dirinya sudah lama tidak mendengar suara gadis itu.

"Halo... "

Pandangan Liam nanar memandang kesembarang arah saat suara yang menyambut nya disana bukanlah suara gadis yang dirindukannya itu.

"Nomor anda dibuat sebagai panggilan favorit, karena itu kami menghubungi anda... "

Lalu beberapa detik kemudian, pria itu terduduk dengan lemas setelah mendengar kalimat lain dari suara diseberang itu.

Jantung nya semakin berpacu, bukan karena kerinduan yang membuncah lagi, melainkan musibah yang seolah tidak menemukan titik akhirnya.

Setelah berhasil mendapatkan apa yang ia cari, Liam segera bergegas dengan tergesa-gesa bahkan hampir lupa jika dirinya hanyalah seorang manusia biasa sama seperti manusia lainnya.

Nafas nya memburu, diikuti oleh matanya yang memerah karena baru saja menangis. Wajahnya tak kalah kusut disertai rambutnya yang ikut acak-acakan.

"Mama, maafkan aku.... "

"A-aku.... " Ia terbata dan mengambil nafas sejenak. Ia kembali menangis sambil mengusap-usap wajah dan rambutnya.

"Yura sedang kritis, tidak ada wali yang bisa dihubungi selain aku mah... "

Mama Zura dapat melihat aura kehancuran sekaligus cinta didalam wajah pria muda dihadapannya itu.

Wanita dewasa itu dapat menangkap Yura yang mana yang dimaksud oleh Liam. Ia sudah mengenal gadis itu dengan baik berkat putri nya sendiri.

Setelah mendapat kan anggukan dari mama Zura, Liam segera berlari secepat kilat dan menghubungi siapa saja guna mempercepat segala urusannya.

Sepeninggal nya Liam, fokus wanita dewasa itu tertuju pada sebuat amplop yang berada diantara lembaran kertas lainnya.

Merasa tertarik, ia kemudian membuka nya dan ternyata adalah surat peninggalan yang sengaja dibuat oleh putrinya itu.

"Mah, jika aku telah tiada, tolong angkat Yura sahabatku menjadi anakmu. Kelak itu akan sangat berguna untuknya. Salam Yura Sebastian... "

Tak butuh waktu lama, Liam sudah tiba dirumah sakit tempat Yura dan keluarganya berada. Ia bahkan tidak sempat memikirkan perutnya yang entah sudah berapa lama ia biarkan kosong.

.

.

.

.

Bersambung...

1
anggita
like👍iklan☝., Liam, Yura.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!