Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Saat Serigala Belajar Menggigit
Kabar mengenai kelumpuhan total faksi Bratva di perbatasan Eropa Timur tiba di Mansion Utama dinasti Garrick tepat saat matahari mencapai puncaknya. Tasha Sterling melangkah masuk ke dalam paviliun dengan ketenangan profesionalnya yang biasa, melaporkan bahwa Ivan Volkov kini tengah merangkak di dalam bunkernya, bersiap menandatangani surat perjanjian penyerahan diri tanpa syarat yang telah disiapkan Alana. Taktik catur tanpa suara itu sukses besar. Sektor utara kini berada di bawah kendali mutlak Monako tanpa ada satu pun peluru dinasti Garrick yang terbuang.
Namun, di balik kemenangan yang elegan itu, Alana duduk merenung di dalam kamarnya yang luas. Gadis remaja itu menatap pantulan dirinya di cermin besar. Kulitnya pucat, tubuhnya mungil, dan meskipun otaknya mampu meruntuhkan aliansi global, fisiknya masih terlalu rapuh. Kejadian penyerangan di masa lalu dan luka di punggungnya yang baru saja sembuh menjadi pengingat yang sangat kuat.
Alana tahu kelima kakaknya adalah monster yang siap meratakan dunia demi melindunginya. Namun, dia tidak ingin menjadi kelemahan terbesar mereka. Dia tidak ingin suatu hari nanti, abang-abangnya terluka atau tewas hanya karena harus menjadi perisai manusia untuk tubuhnya yang tak bisa membela diri. Alana memutuskan; dia harus belajar menggunakan senjata dan menguasai bela diri dasar.
Pertikaian domestik itu dimulai pada malam harinya, tepat di ruang makan mewah saat jamuan makan malam formal berlangsung. Suasana yang awalnya hangat oleh suara Adrian yang memamerkan kode siber terbarunya, mendadak membeku ketika Alana meletakkan garpunya dengan pelan ke atas piring porselen.
"Kak Dominic, Kak Cedric," panggil Alana, suaranya jernih dan tenang, memotong pembicaraan di meja makan. "Mulai besok pagi, aku ingin kalian mengajariku cara menembak dengan pistol dan teknik bela diri dasar."
Hening.
Suara denting pisau Xavier yang sedang memotong daging steak mendadak berhenti. Julian yang sedang menyesap anggur merahnya hampir tersedak, sementara Adrian mematung dengan sendok yang menggantung di udara. Dominic dan Cedric, yang duduk di kedua ujung meja besar itu, langsung menegakkan punggung mereka. Ekspresi wajah mereka berubah menjadi sangat kaku.
"Tidak boleh," jawab Dominic dengan suara baritonnya yang berat, datar, dan mengandung penolakan mutlak tanpa kompromi.
"Tugas memegang senjata dan mematahkan leher musuh adalah tugas kami, Alana," sambung Cedric, rahangnya mengeras, menatap adiknya dengan pandangan yang luar biasa protektif. "Tangan mungilmu itu tidak diciptakan untuk memegang besi panas yang berlumuran mesiu. Terlalu berbahaya."
Xavier meletakkan pisaunya, lalu condong ke depan meja dengan ekspresi wajah yang sangat defensif. "Alana, jika kamu merasa kurang aman setelah insiden Rusia itu, katakan saja padaku. Aku bisa mengeluarkan beberapa puluh juta euro lagi besok pagi untuk menyewa satu batalion tentara bayaran elit dari Inggris. Mereka akan membuat benteng berjalan di sekelilingmu dua puluh empat jam penuh. Kamu tidak perlu mengotori tanganmu dengan latihan fisik yang melelahkan."
"Xavier benar, Dik," Julian menimpali, membetulkan letak kacamatanya dengan tatapan cemas yang jarang dia tunjukkan. "Kulitmu terlalu halus. Bagaimana jika tanganmu tergores saat mengisi peluru? Bagaimana jika jarimu melepuh karena panasnya pelatuk senjata? Kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Dan latihan bela diri itu sangat kasar, Alana!" seru Adrian, ikut pasang badan. "Satu memar saja di tubuhmu, dan seluruh mansion ini akan kehilangan akal sehat."
Alana menatap kelima kakak laki-lakinya satu per satu. Penolakan mereka begitu kompak, kokoh, dan tidak menyisakan ruang untuk bernegosiasi. Kelima monster dunia bawah tanah ini benar-benar memperlakukannya seperti sebuah porselen langka yang bisa pecah hanya karena embusan angin.
Alana tidak berteriak. Dia tidak membantah atau mendebat argumen mereka dengan teori taktisnya yang panjang. Sebaliknya, Alana hanya mengembuskan napas pendek, mengangguk pelan, lalu berdiri dari kursinya.
"Aku sudah kenyang. Terima kasih untuk makan malamnya," ucap Alana dengan nada suara yang sangat datar, dingin, dan tanpa ekspresi. Dia berbalik dan melangkah keluar dari ruang makan menuju kamarnya, meninggalkan kelima kakaknya yang mendadak diselimuti rasa tidak enak yang luar biasa pekat.
Itulah awal mula dimulainya salah satu senjata paling mematikan milik Alana: Mode Mengambek
Selama dua puluh empat jam berikutnya, Mansion Utama dinasti Garrick yang biasanya mulai menghangat sejak Alana memegang takhta, mendadak berubah menjadi sedingin Kutub Utara. Alana mengeksekusi taktik mogok bicaranya dengan sangat elegan dan menyiksa psikologis kakak-kakaknya.
Pagi harinya, koki pribadi yang disewa Xavier telah memasak sup sirip hiu dan makanan manis kesukaan Alana, namun pelayan kembali ke dapur dengan nampan yang masih utuh. Alana mengunci diri di kamar dan menolak menyentuh makanan mewah tersebut.
Siang harinya, Dominic dan Cedric yang sedang berpatroli di koridor lantai dua berpapasan dengan Alana yang hendak menuju perpustakaan. Biasanya, Alana akan menyapa mereka dengan senyuman tipis atau panggilan "Kakak" yang lembut. Namun kali ini, Alana hanya berjalan melewati mereka begitu saja. Tatapan matanya lurus ke depan, wajahnya cemberut dingin, dan dia memperlakukan dua pria bertubuh masif itu seperti hantu yang tak kasat mata.
Hanya dalam waktu singkat, dampak dari silent treatment Alana membuat kelima penguasa dunia bawah itu kehilangan akal sehat dan didera rasa frustrasi yang gila.
Sore harinya, kelima kakak Alana berkumpul di ruang tengah dengan wajah-wajah yang luar biasa stres, kontras dengan reputasi kejam mereka di luar sana.
"Ini konyol!" geram Cedric, mengacak rambutnya dengan frustrasi. "Dia bahkan tidak mau melirikku saat aku membukakan pintu untuknya tadi! Tatapannya... demi Tuhan, tatapannya lebih dingin daripada saat dia menginterogasi mata-mata!"
"Ini semua karena kalian langsung menolaknya mentah-mentah semalam," cibir Julian, meski wajahnya sendiri terlihat sangat cemas. "Adrian, apakah kamu tidak bisa meretas sistem kunci kamarnya agar kita bisa masuk dan membujuknya?"
"Kamu gila, Julian?!" semprot Adrian dengan panik. "Kalau aku meretas kamarnya tanpa izin, dia mungkin tidak akan pernah mau memanggilku 'Kakak' lagi seumur hidup! Aku tidak mau mengambil risiko itu!"
Dominic mengembuskan napas berat, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Pria yang biasanya mampu mengendalikan ribuan pasukan militer tanpa berkedip itu kini tampak benar-benar tak berkutik hanya karena diabaikan oleh adik kecilnya.
Xavier berdiri dari sofa dengan frustrasi, melemparkan dompet kulitnya ke atas meja. "Uangku tidak berguna sama sekali jika dia mengunci diri seperti ini! Sudahlah... aku menyerah. Berikan saja apa yang dia mau sebelum mansion ini benar-benar berubah menjadi kuburan salju!"
Akhirnya, dengan kekalahan mutlak, kelima pria perkasa itu berjalan beriringan menuju kamar Alana. Dominic mengetuk pintu kayu jati itu dengan sangat pelan dan hati-hati—sebuah ketukan yang jauh dari kesan otoriter.
"Alana," panggil Dominic dengan suara baritonnya yang mendadak melembut drastis. "Buka pintunya, Dik. Kita... kita perlu bicara."
Pintu terbuka beberapa detik kemudian. Alana berdiri di ambang pintu dengan gaun tidurnya, melipat tangan di dada sembari menatap kelima kakaknya dengan alis yang bertaut dan wajah cemberut yang luar biasa menggemaskan di mata mereka.
"Ada apa?" tanya Alana singkat, ketus, dan dingin.
Cedric berdeham, mencoba mencairkan suasana dengan senyuman kaku yang dipaksakan. "Mengenai latihan menembak dan bela diri yang kamu katakan semalam... kami... kami setuju. Kami akan mengajarimu. Tapi hanya sedikit, dan harus di bawah pengawasan ketat dari kami berlima. Bagaimana?"
Mendengar kata-kata itu, binar mata Alana langsung kembali hidup. Wajah cemberutnya menghilang dalam sekejap, digantikan oleh senyuman manis kemenangan yang langsung membuat dada kelima kakaknya terasa lega luar biasa. Sifat manusiawi Alana kembali, dan dengan manja dia mengangguk. "Baik. Besok pagi di lapangan belakang."
Keesokan paginya, lapangan latihan pribadi di belakang mansion menyaksikan sebuah sesi latihan fisik yang paling ugal-ugalan dan dipenuhi oleh proteksi berlebih yang konyol.
Sesi pertama adalah latihan menembak. Cedric telah menghabiskan waktu semalaman di ruang persenjataan untuk memodifikasi sebuah pistol Glock kustom. Pistol itu dibuat dengan bahan seringan mungkin, dilapisi warna hitam satin kesukaan Alana, dan dilengkapi dengan sistem peredam getaran ekstrem tingkat militer agar pergelangan tangan Alana yang kecil tidak terkilir saat peluru melesat.
Alana berdiri di garis tembak, memegang pistol tersebut dengan kedua tangannya. Sasarannya adalah sebuah papan target sejauh sepuluh meter.
Namun, posisi latihannya sangat tidak wajar. Dominic berdiri tepat di belakang Alana dengan tubuh masifnya, kedua tangan besarnya memegangi pundak dan lengan atas Alana dengan sangat lembut namun kokoh, bertindak sebagai penyangga manusia agar adiknya tidak terdorong mundur satu sentimeter pun oleh daya dorak senjata.
"Fokus pada titik tengahnya, Alana. Tarik pelatuknya perlahan saat kamu mengembuskan napas," bisik Dominic dengan nada suara yang sangat protektif di dekat telinga adiknya.
DOR!
Peluru melesat tajam dan mengenai tepi luar lingkaran hitam pada papan target. Itu adalah tembakan pertama yang cukup bagus untuk seorang pemula. Alana tersenyum puas, namun reaksi kelima kakaknya jauh lebih berlebihan.
"Luar biasa! Tembakan yang sangat jenius!" seru Adrian dari pinggir lapangan sambil bertepuk tangan heboh, seolah-olah Alana baru saja memenangkan kejuaraan penembak jitu dunia.
"Tanganmu tidak sakit, kan? Apakah pergelangan tanganmu terasa pegal?" tanya Xavier yang langsung mendekat sambil membawa handuk sutra hangat dan botol air mineral premium, wajahnya dipenuhi kecemasan yang gila.
Alana tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja, Kak Xavier. Sekarang, latihan bela diri dasar. Kak Cedric, maju."
Sesi berikutnya berubah menjadi sebuah komedi domestik yang murni. Cedric melangkah ke atas matras latihan dengan wajah kaku. Pria bertato ular yang biasanya mampu meremukkan tulang rusuk musuh dalam sekali hantam itu kini tampak ketakutan setengah mati saat berhadapan dengan Alana.
"Baiklah, Alana... jika musuh mencengkeram pergelangan tanganmu seperti ini," Cedric meraih pergelangan tangan Alana dengan cengkeraman yang sangat longgar dan lembut—bahkan lebih lembut daripada cara seseorang memegang kulit telur. "Kamu hanya perlu memutar sudut tanganmu, lalu mendorong dadaku untuk melepaskan diri."
Alana mengikuti instruksi tersebut. Dia memutar pergelangan tangannya, lalu menggunakan telapak tangan mungilnya untuk mendorong dada bidang Cedric dengan kekuatan yang tidak seberapa.
BRUKK!
Secara luar biasa konyol, Cedric langsung melemparkan tubuh masifnya sendiri ke atas matras, berakting seolah-olah dia baru saja dihantam oleh kekuatan raksasa. Pria bertubuh kekar itu memegangi dadanya dan memejamkan mata dengan dramatis.
"Pukulan yang sangat kuat, Alana... aku... aku langsung kehilangan napas," ucap Cedric dengan akting yang sangat payah demi menyenangkan hati sang adik.
Dominic yang melihat hal itu hanya bisa memutar otaknya dengan pasrah, sementara Julian dan Adrian yang menonton dari pinggir lapangan langsung meledak dalam tawa mengejek yang keras. "Aktingmu sangat menjijikkan, Cedric! Berdiri dari sana!" seru Julian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Alana berdiri di tengah matras dengan tangan di pinggang, menatap Cedric yang perlahan bangkit dengan wajah tanpa dosa. Alana tahu abang-abangnya tidak benar-benar melatihnya dengan keras, karena rasa sayang dan sifat posesif mereka tidak akan pernah membiarkan seujung kuku pun dari tubuh Alana terluka.
Namun, melihat bagaimana kelima monster kejam dunia bawah tanah ini rela menurunkan harga diri mereka, bertingkah konyol, dan pura-pura pingsan hanya untuk membuatnya tersenyum, hati Alana dipenuhi oleh kehangatan yang tak ternilai harganya. Di sinilah, di bawah langit pagi Monako, Alana menyadari bahwa bentuk perlindungan terbaik yang dia miliki bukanlah pistol di tangannya, melainkan cinta ugal-ugalan dari kelima kakaknya yang siap menjadi pelindung abadinya.