Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku harus menyelidikinya
“Alesha!”
Wajah Leon langsung berubah tegang saat melihat Alesha tak sadarkan diri di pelukannya.
Leon segera membawanya menuju mobil.
“Alesha, sadar, Alesha,” ucapnya panik.
Langkah Leon nyaris berlari. Untuk pertama kalinya, ketenangannya benar-benar runtuh.
Tiba di mobil, Leon segera membukakan pintu jok depan.
Dengan hati-hati, ia mendudukkan Alesha di kursi penumpang, memastikan kepalanya tidak terbentur sedikit pun.
“Ssh...”
Saat hendak menutup pintu, bulu mata Alesha bergerak pelan.
Perlahan, ia mulai membuka matanya.
Pandangan Alesha masih sedikit kabur.
Namun sosok pertama yang ia lihat adalah wajah Leon yang terlihat panik di hadapannya.
Tatapan Leon dipenuhi kecemasan, hingga sosok dinginnya nyaris tak terlihat lagi.
"Alesha..."
Suara Leon terdengar bergetar. Kedua tangannya masih memegang bahu wanita itu seolah takut Alesha kembali kehilangan kesadaran.
"Alesha, kamu dengar saya?"
Alesha mengerjapkan mata beberapa kali.
Pandangannya masih buram.
Wajah Leon yang penuh kecemasan menjadi hal pertama yang dilihatnya.
"T-Tuan Leon..."
Leon mengembuskan napas panjang. Ketegangan yang sejak tadi mencengkeram dadanya perlahan mengendur ketika melihat Alesha membuka mata.
Syukurlah.
Alesha sadar.
"Maaf, Alesha. Saya tidak bermaksud membuatmu seperti ini."
Alesha mengernyit pelan. Kepalanya masih terasa sedikit pusing.
"Saya... kenapa?"
"Kamu pingsan."
Deg.
Alesha langsung terdiam.
Pantas saja tubuhnya terasa lemas.
Leon mengambil botol air mineral dari dalam mobil lalu membukanya.
"Minum dulu."
Alesha menerimanya perlahan.
"Terima kasih, Tuan."
Leon tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada wajah pucat Alesha.
"Alesha, saya minta maaf," ucap Leon dengan nada penuh penyesalan. Ia merasa bersalah. Mungkin ucapannya tadi membuat potongan masa lalu Alesha kembali terusik hingga membuat wanita itu pingsan. Namun, hanya itu satu-satunya cara yang terpikir olehnya agar Alesha bisa mengingat semuanya.
Alesha menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, Tuan. Mungkin saya hanya kecapekan," ucap Alesha lirih.
Leon memperhatikan wajah Alesha yang masih terlihat pucat.
"Apa kamu sudah makan?" tanyanya dengan nada lebih lembut dari biasanya.
Alesha mengangguk pelan.
"Iya, Tuan. Apa boleh kita kembali? Sepertinya saya perlu istirahat."
Leon mengangguk.
"Iya, kita kembali."
Leon segera kembali ke kursi kemudi. Tangannya meraih setir, lalu perlahan menjalankan mobil meninggalkan kawasan danau.
Sepanjang perjalanan, suasana kembali dipenuhi keheningan.
Hanya suara mesin mobil yang sesekali terdengar di antara mereka.
Alesha menatap keluar jendela sambil memikirkan danau tadi. Entah kenapa, tempat itu terasa begitu familiar. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan setiap kali mengingatnya.
Padahal, seingatnya, itu adalah pertama kalinya ia datang ke sana.
Sementara itu, Leon sesekali melirik ke arah Alesha dari balik kemudi.
Leon terus menggenggam setir lebih erat. Bayangan Alesha yang pingsan tak kunjung hilang dari benaknya.
Ia tak ingin melihat Alesha kesakitan. Tapi setelah bertahun-tahun mencari, ia juga tak sanggup berpura-pura tidak mengenalnya.
Tak lama kemudian, mobil Leon akhirnya berhenti tepat di depan kontrakan Alesha.
Lampu-lampu jalan yang redup menerangi area kontrakan yang mulai sepi.
Alesha membuka sabuk pengamannya lalu menoleh pada Leon.
"Terima kasih, Tuan," ucapnya dengan tulus.
Leon menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya bertanya,
"Apa perlu saya bawa ke rumah sakit? Saya takut kamu kenapa-kenapa."
Alesha menggeleng pelan.
"Tidak perlu, Tuan. Saya hanya pusing sedikit," jawabnya tenang.
Leon masih memandangi wajah Alesha, seolah ingin memastikan wanita itu benar-benar sudah pulih.
"Kalau ada yang tidak enak badan, segera hubungi saya."
Alesha sedikit terkejut.
"Hah?"
Leon seolah baru menyadari apa yang ia katakan.
"Maksud saya... hubungi perusahaan. Jangan memaksakan diri bekerja kalau sakit."
"Oh... baik, Tuan."
Leon mengangguk pelan.
Alesha membuka pintu mobil lalu turun.
"Terima kasih sudah mengantar saya."
"Hm."
Alesha membungkukkan badan sopan sebelum berjalan menuju kontrakannya.
Namun baru beberapa langkah, Leon masih belum menjalankan mobilnya.
Pandangan Leon tak lepas dari punggung Alesha hingga pintu kontrakan itu tertutup.
Barulah Leon mengembuskan napas panjang.
"Gadis kecil..."
gumamnya pelan.
"Maaf, gadis kecil. Mungkin caraku salah, tapi saya hanya ingin kamu mengingat semuanya."
Matanya memejam sesaat.
Lagi-lagi usahanya belum membuahkan hasil.
Alesha masih belum mengingat apa pun tentang dirinya.
Meski begitu, masih ada sedikit harapan yang tersisa.
Saat berada di danau tadi, Alesha terlihat tidak asing dengan tempat itu.
—
Sementara itu, di dalam kontrakan.
Alesha meletakkan tasnya di atas meja kecil yang berada di dekat kasur.
Sisa pusing itu masih membuat tubuhnya terasa lemas.
Perlahan, ia merebahkan dirinya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar.
Pikirannya terus kembali pada danau itu.
Pada suara anak kecil yang terdengar meringis kesakitan.
Serta perasaan asing yang tak kunjung hilang dari dadanya.
Alesha memejamkan mata sejenak.
Namun, bayangan danau itu justru semakin jelas di kepalanya.
"Kenapa hatiku terasa aneh setiap mengingat danau itu?" lirihnya pelan.
Alesha menggigit bibir bawahnya. Semakin dipikirkan, semakin sulit ia memahami perasaan itu.
"Seakan ada kenangan yang ingin muncul, tetapi tidak bisa kuraih."
Alesha kembali memejamkan mata.
Kepalanya masih terasa sedikit pusing.
Rasa penasarannya justru semakin menyesakkan dada.
Semakin ia mencoba melupakan, semakin kuat perasaan itu menariknya kembali.
Seolah ada bagian dari masa lalunya yang tertinggal di tempat itu.
"Ada sesuatu yang janggal."
Alesha membuka matanya perlahan lalu menatap kosong ke depan.
Sorot matanya berubah menjadi lebih serius.
"Aku harus menyelidikinya sendiri."
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁