Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PENGKHIANATAN DI BALIK MEJA POJOK
Malam itu, motor matik Reyhan melaju membelah angin. Saat melewati polisi tidur yang cukup besar, motor itu terguncang hebat. Vanya, yang tidak siap, refleks melingkarkan tangannya erat-erat ke pinggang Reyhan agar tidak terjatuh. Bagi orang-orang yang melihat di pinggir jalan, mereka tampak seperti pasangan serasi yang sedang menikmati malam.
"Nona, jangan erat-erat pegang pinggangnya," gumam Reyhan dari balik helm. "Aku ini lelaki normal. Nanti kalau ada yang 'berdiri' bagaimana?"
Vanya tersentak, wajahnya memerah di balik kerudung. "Ih! Amit-amit Begal mesum!"
"Mesum sama istri itu harus. Kalau sama yang lain, jangan," sahut Reyhan santai.
"Heh! Ingat janji kontrakmu! Kamu tidak boleh melakukan apa pun padaku, menyentuh pun tidak boleh!" sergah Vanya, mencoba menutupi kegugupannya.
"Lho... bukannya Nona yang menyentuhku? Memang aku ngapain? Apa ada poin di perjanjian yang melarang aku bicara mesum pada istriku sendiri?"
Vanya terdiam, menggigit bibir bawahnya. Sialan, aku kalah melulu bicara dengannya! Awas ya nanti! batinnya cemberut.
Mereka tiba di sebuah resto kelas menengah atas yang cukup mewah. Vanya langsung memilih meja di pojok, tempat yang agak tersembunyi.
"Kita makan di sini?" tanya Reyhan, menatap daftar menu di depan pintu. "Nona, cari uang itu susah. Kamu harus belajar irit."
"Kalau kamu tidak mampu bayar, aku yang bayarin! Pakai uangku sendiri!" tantang Vanya angkuh.
"Oke, kalau Nona memaksa," jawab Reyhan pendek.
"Akhirnya sekarang kamu yang kalah, dasar Begal!" Vanya tersenyum penuh kemenangan, meski ia tidak tahu bahwa harga diri Reyhan jauh lebih tinggi dari sekadar urusan tagihan makan.
Vanya memesan makanan mewah seolah baru keluar dari tahanan—steak wagyu, salad impor, dan dessert cantik. Sementara Reyhan hanya memesan menu paling sederhana.
"Pesan saja, tidak usah malu-malu. Daripada kamu membegal aku, mending minta saja nanti aku kasih!" bisik Vanya dengan nada mengejek.
"Nona, ini tempat umum. Tidak baik bicara seperti itu," tegur Reyhan pelan.
"Kenapa? Memang benar kan? Kamu malu?"
"Aku biasa saja. Tapi Nona sekarang sedang bersamaku. Nanti orang-orang kira Nona juga istrinya begal," sahut Reyhan tenang.
Vanya terdiam. Benar juga. Jika orang tahu ia istri ojol yang dituduh begal, reputasinya sebagai sosialita akan hancur lebur. Ia pun mulai makan dengan lahap, melupakan sejenak kegengsiannya karena perutnya sudah sangat lapar. Reyhan menatapnya sambil tersenyum tipis dalam hati. Kasihan nona manja ini, sampai lupa diri begini.
Selesai makan, Reyhan izin ke toilet. Namun, langkahnya terhenti saat ia menangkap sosok yang sangat ia kenali di meja tengah. Itu Sherly. Wanita yang tadinya ingin ia jadikan pelabuhan terakhir, sedang berbincang seru dengan teman-temannya.
"Sher, bagaimana hubunganmu dengan Reyhan?" tanya salah satu temannya.
"Hubungan kami baik, Reyhan sangat mencintaiku," Sherly menyesap minumannya, wajahnya berubah masam. "Tapi sayang, dia sekarang lagi kere. Aku baru tahu belakangan ini. Pantas saja dia jarang mengajakku jalan atau memberiku hadiah yang aku suka."
"Maksud kamu?"
"Kabar burungnya dia diusir keluarganya, bahkan dicoret dari daftar ahli waris Dirgantara. Jadi buat apa aku lanjutin? Cuma ya... sayang, dia itu terlalu baik dan tampan. Tapi cewek mana yang tahan kalau tidak ada duit?"
Tiba-tiba, seorang pria datang dan langsung mencium pipi Sherly dengan mesra. Reyhan membeku. Pria itu adalah Derian, pengusaha muda yang selama ini dikenal sebagai rekan bisnis ayahnya.
"Eh sayang, kenapa telat?" manja Sherly pada Derian.
"Iya nih, aku banyak kerjaan. Proyek yang diberikan Pak Bram cukup menguras energi. Malas sebenarnya, kalau bukan karena si cewek kolokan yang gampang dirayu itu," tawa Derian sinis.
"Maksud kamu, Der?"
"Aku punya rencana membujuk anak Pak Bram, si anak manja itu, untuk menikah denganku. Asetnya akan kukelola dan perlahan aku kuasai."
"Aku gimana dong?!" Sherly cemburu.
"Tenang sayang. Aku butuh uangnya saja, bukan orangnya. Malas pacaran sama dia. Sudah enam bulan dia tidak pernah sekalipun mau kucium. Pacaran apaan seperti itu? Pernah sekali waktu dia mabuk, tapi sialan dia malah menamparku dan mengadukanku pada Pak Bram. Aku ngeles saja, bilang dia tidak sadar nomongnya gak karuan."
Sherly tertawa manja, menyandarkan kepalanya di bahu Derian. "Huh..dasar, Terus buat aku apa dong?"
"Nanti kalau sudah dapat asetnya, kita menikah. Aku tidak akan lepaskan kamu. Goyangan kamu di ranjang membuat aku candu, sayang..."
Reyhan merasa dunianya runtuh. Sesak luar biasa menghantam dadanya. Bukan hanya dikhianati oleh wanita yang ia cintai, tapi ia juga baru tahu bahwa Derian adalah serigala berbulu domba yang mengincar Vanya—istri kontraknya saat ini. Tanpa suara, Reyhan merogoh ponselnya, merekam percakapan dan kemesraan menjijikkan itu dari balik pilar.
Reyhan segera pergi ke toilet. Ia menatap wajahnya di cermin dengan mata memerah. "Sherly... aku menjagamu agar tidak kusentuh sebelum halal, kamu malah berikan semuanya pada orang lain!" desisnya pilu.
Reyhan kembali ke meja, namun Derian sudah tidak ada di sana. Hanya ada Sherly dan teman-temannya. Reyhan mencoba menghindar, namun teman Sherly melihatnya.
"Sher, itu seperti Rey!"
Sherly panik. "Mana? Aduh, jangan-jangan dia tahu!"
"Rey! Honey! Tunggu!" Sherly mengejar Reyhan yang berjalan cepat ke arah Vanya.
Vanya yang baru saja selesai makan menengadah. "Kamu kemana saja? Lama sekali! Mengeluarkan apa sih di toilet?"
"Sudah, ayo kita pulang!" ajak Reyhan tegas, wajahnya gelap.
Sherly tiba di depan mereka, napasnya memburu. Matanya tertuju pada Vanya yang mengenakan gamis dan kerudung. "Rey! Ini siapa?!"
Reyhan diam, namun Sherly malah menyerang. "Kamu selingkuh dariku, ya?! Heh pelakor!"
Tangan Sherly melayang hendak menampar Vanya, namun dengan sigap Reyhan menangkap pergelangan tangannya. "Cukup, Sherly. Aku tidak ada hubungan lagi denganmu."
"Apa?! Sejak kapan?! Oh, aku tahu, sejak kamu suka sama ibu-ibu qasidah ini?" ejek Sherly menghina pakaian Vanya.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Sherly. Bukan dari Reyhan, tapi dari Vanya. Tangan Vanya bergerak secepat kilat.
"Jangan kurang ajar ya! Bilang aku pelakor dan ibu-ibu qasidah? Aku bisa buat kamu membusuk di penjara!" bentak Vanya, harga dirinya sebagai putri Hutama Group meledak.
"Siapa lo berani sama gue?!" Sherly hendak membalas, namun Reyhan melerai di tengah-tengah.
Orang-orang di resto mulai berkerumun. Sherly yang merasa malu mencoba memprovokasi massa. "Dengar! Semuanya lihat! Reyhan ini calon tunanganku! Ibu-ibu pelakor dari grup qasidah dari band kepret ini mau merebut calon tunanganku!"
Vanya meradang, matanya menyala. "Siapa yang pelakor? Aku dan Bang Rey itu suami istri sah!" Vanya mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto dokumen tanda tangan surat nikah di balai desa kemarin malam.
Sherly membelalak. "Apa? Rey, benar itu? Jadi aku ini apa?"
Reyhan tidak mau banyak bicara. Ia hanya menyodorkan layar ponselnya yang berisi rekaman video singkat saat Derian mencium Sherly tadi. "Ini apa?" tanya Reyhan dingin.
Wajah Sherly pucat pasi. "Ini... aku bisa jelaskan, Rey..."
"Sudah. Aku tidak mau ribut," ucap Reyhan datar.
Petugas keamanan segera datang mengamankan situasi. Sherly yang histeris digiring keluar bersama teman-temannya. Sebelum pergi, ia masih sempat mengumpat, "Awas kamu Rey! Kamu sekarang memang sudah miskin, wajar dapat ibu-ibu qasidah itu! Aku tidak sudi lagi sama kamu!"
Salah satu teman Sherly bahkan menyiramkan sisa minuman ke arah muka Reyhan sebelum pergi. "Dasar lelaki miskin banyak tingkah!"
Reyhan tidak membalas. Ia hanya menyeka air itu dengan tenang. Vanya yang ingin mengejar mereka ditahan oleh tangan kuat Reyhan.
"Sudah, Vanya. Jangan rendahkan dirimu demi orang seperti mereka," bisik Reyhan lembut.
Vanya terdiam, menatap Reyhan dengan perasaan campur aduk. Ia baru saja membela pria yang ia anggap "begal" ini di depan umum, dan ia baru saja menyadari bahwa pria yang dianggapnya sampah jalanan ini memiliki luka yang jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Malam itu, di bawah lampu resto yang mewah, Vanya melihat sisi lain dari suaminya—seorang pria yang hancur namun tetap berdiri tegak dengan sisa-sisa kehormatannya.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan