NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 :

Istana Pusat - Ruang kerja Pangeran Lie, Pukul 22.30

“Baiklah… kau bisa pergi.” Ujar pangeran Lie mengenakan jubah kerajaannya.

Ia mendapat kabar dari salah satu orang kepercayaannya bahwa pangeran Yan membawa seorang gadis dalam pertemuan rapat di wilayah Bingdu. Ia menduga gadis itu adalah orang yang sama, Dokter Yi.

“Cantik.” Sahut Zu Mengxi, calon istri pangeran Lie, “Siapa dia?

Zu Mengxi, seorang bangsawan. Sejak kecil terikat perjodohan dengan putra mahkota. Raja utama, sang kakek Xue Tianji tidak ingin cucunya terbebani masalah percintaan yang dipaksaan. Cukup mereka menanggung beban kenegaraan, maka dari itu hingga saat ini belum ada statu resmi dalam hubungan mereka.

“Bukan siapa-siapa.” Lie mematikan layar ponselnya, tidak ingin ada kegaduhan dimalam itu hanya dari sebuah photo.

“Ada apa kau datang kesini?” Tanya Lie.

“Daftar tamu undangan pertunangan kita,” Zu Mengxi duduk dengan dagu terangkat, meletakkan dokumen di atas meja. “Kau belum memilih satupun. Apa kau ingin aku yang menentukan semuanya sendiri?”

“Aku sudah menyerahkan urusan itu pada Qigu. Lakukan saja dengannya,” jawab Lie tanpa minat.

“Apa hanya aku yang antusias di sini?!” Suara Mengxi meninggi, amarahnya pecah. “Jika kau sebegitu enggan, kenapa tidak kau lepaskan saja takhtamu dan batalkan perjodohan ini?”

Lie bangkit, auranya mengintimidasi. “Sejak awal aku sudah katakan, Zu. Aku melakukan ini hanya karena ini wasiat terakhir ayahku. Jika kau merasa ini beban, biarkan Qigu dan Yan yang mengaturnya.”

“Heh, Yan?” Mengxi tertawa sinis. “Pangeran yang dapat merampas takhtamu itu kapan saja? Kau mempercayainya?”

SRAAAKK!

Lie merangsek maju, mencengkeram bahu Mengxi dan menekannya ke sandaran sofa. Tatapannya tajam menghunus.

“Jaga ucapan mu. Ini istana.” Geram Lie, “Jika Yan menginginkan takhta ini, aku akan memberikannya dengan senang hati,” bisik Lie tepat di telinga Mengxi dengan senyum getir yang mengerikan. “Kenapa? Kau takut gagal menjadi Ratu jika dia yang berkuasa?

“Yan memang sangat mampu menolak tihta raja tidak seperti ku. Yang terlahir dari seorang selir.” Getirnya, “Hanya karena aku terlahir lebih awal, Aku dapat memiliki semuanya. Dan kau— jangan pernah menilai hubungan ku dengan Yan seremeh itu.” Kesalnya menghempas pundak Zu Mengxi hingga wanita itu bersandar pada bantalan sofa dipunggungnya.

“Besok pagi akan aku serahkan daftar namanya. Sekarang kembalilah. Jaga adab mu selama di istana.” Perintah Lie.

Mengxi berdiri, merapikan gaunnya dengan tangan gemetar. Ia membungkuk formal, namun matanya menyala. Baginya, cinta adalah dongeng. Siapa pun yang duduk di takhta itu tidak penting—selama mahkota itu tersemat di kepalanya, ia akan melakukan apa saja.

Obsesi Zu Mengxi untuk menaikkan status sosialnya menjadi tujuannya kini. Entah siapa yang menduduki tahta itu, selama pendampingnya adalah dirinya sendiri, itu sudah lebih dari cukup.

Zu Mengxi memiliki kesulitannya sendiri. Tidak pernah dianggap dalam keluarga besarnya, hingga ia memutuskan untuk mencari sendiri gelar kehormatannya.

...****************...

Bingdu : VIP Suite Hotel, pukul 06.00

“Rei, lepaskan... kau harus bersiap untuk pertemuan pagi ini," bisik Alin lemah.

Rei justru menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat Alin tahu bahwa ia sedang dalam masalah besar. Rei bergerak lebih dekat, mengurung Alin di bawah tubuhnya, menumpukan berat badannya pada kedua tangannya di sisi kepala Alin.

"Yuchen bisa menunggu satu jam lagi," bisik Rei rendah, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Alin. "Kemarin siang kita terganggu. Dan aku bukan tipe pria yang suka membiarkan pekerjaannya terbengkalai, terutama jika pekerjaan itu menyangkut... penjinakan dokter pribadiku."

Alin bisa merasakan deru nafas Rei yang hangat di kulitnya, menghapus sisa-sisa dinginnya pagi Bingdu. Kali ini, tidak ada pintu yang diketuk, tidak ada laporan intelijen yang bisa menyelamatkannya. Alin menyadari bahwa sifat sabar Rei kemarin di perjalanan hanyalah sebuah persiapan untuk badai yang akan ia berikan pagi ini.

"Kau... kau sangat pendendam," desis Alin, meski tangannya kini justru merayap naik memeluk leher Rei.

"Aku lebih suka menyebutnya... gigih," balas Rei, “Bisa kudapatkan kembali?” Izinnya menatap bibir merekah wanita itu, sebelum akhirnya ia menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang jauh lebih dalam dan menuntut daripada sebelumnya, sebuah suara elektronik yang sangat familiar memecah kesunyian.

Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel Rei yang tergeletak di meja nakas bergetar hebat. Layarnya menyala terang, menampilkan nama yang paling tidak ingin didengar Rei saat ini: Yuchen.

Rei membeku tepat di atas bibir Alin. Ia memejamkan mata, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang. Ia mengabaikannya. Getaran itu berhenti selama tiga detik, lalu kembali menyala. Kali ini dengan nada dering darurat yang hanya digunakan untuk kode merah kerajaan.

"I— itu hal penting,” Gugup Alin menahan dasa bidang tubuh Rei dengan kedua tangan kecilnya.

Rei membuka matanya, menatap Alin dengan tatapan yang sarat akan penyesalan sekaligus amarah yang tertahan. Ia mengecup kening Alin dengan tekanan yang dalam sebelum akhirnya menjauhkan tubuhnya.

"Satu kali lagi ponsel itu berbunyi, aku akan memastikan Yuchen dikirim ke pos penjagaan paling utara di negeri ini," geram Rei. Ia meraih ponselnya dengan kasar dan menempelkannya ke telinga tanpa mengubah posisinya yang masih mengurung Alin.

"Katakan sesuatu yang sangat penting, atau kau tidak akan pernah melihat matahari besok," ucap Rei dingin ke arah ponsel.

Suara Yuchen di seberang sana terdengar tenang namun mendesak. "Maaf, Yang Mulia. Tapi ini bukan tentang perbatasan. Pangeran Lie, telah tiba di lobi hotel Bingdu lima menit yang lalu. Beliau ingin sarapan bersama Anda dan—- Dokter Yi."

Seketika, seluruh panas di dalam kamar itu menguap, digantikan oleh ketegangan yang jauh lebih serius. Rei menoleh ke arah Alin yang kini ikut terduduk dengan wajah pucat.

"De—denganku?" Gugup Alin.

Rei tidak menjawab. Ia hanya menatap Alin dengan intensitas yang seolah bisa menembus pikiran wanita itu. Keheningan di antara mereka kini terasa menyesakkan, bukan lagi karena gairah, melainkan karena bayang-bayang otoritas yang baru saja mengetuk pintu privasi mereka.

"Ya, Alin. Denganmu," gumam Rei pelan. Suaranya tidak lagi dingin, namun ada nada protektif yang sangat kental di sana.

Rei mematikan ponselnya dan melemparnya sembarang ke atas kasur. Ia meraih jemari Alin yang dingin, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan keberanian yang ia miliki. Pangeran Lie bukan sekadar kakak bagi Rei; ia adalah sosok yang selama ini menjadi kompas moral sekaligus pelindung bayangannya di istana.

"Kakakku bukan orang yang suka membuang waktu untuk basa-basi. Jika dia menyebut namamu, artinya dia sudah tahu lebih banyak dari yang kita duga," lanjut Rei sembari bangkit dan mulai memungut kemejanya yang berserakan.

...****************...

Tiga puluh menit kemudian, suasana di restoran mewah Hotel Bingdu terasa mencekam meski hanya ada denting sendok yang beradu dengan porselen. Pangeran Lie duduk dengan postur sempurna. Wajahnya memiliki garis tegas yang serupa dengan Rei, namun matanya memancarkan ketenangan air telaga—berbeda dengan mata Rei yang selalu tampak seperti api yang berkobar.

Saat Alin melangkah masuk bersama Rei, tatapan Lie langsung terkunci pada wanita itu. Bukan tatapan menghakimi, melainkan tatapan tajam seorang pengamat yang sedang membedah teka-teki.

Jika dari selembar foto saja bangsawan sekelas Zu Mengxi sudah bisa mengagumi paras cantiknya, maka melihat Alin secara langsung jelas mampu membuat pria mana pun terpaku tanpa berkedip selama beberapa saat

Dan meski Pangeran Lie sudah pernah melihatnya saat pertemuan di istana, namun ia masih tidak memungkiri rupa Alin tanpa riasan jauh lebih menarik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!