NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

POV Ghea

Ghani membantuku turun dari perahu nelayan bercat hijau itu setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 30 menit. Pulau ini tidak terlalu luas, mungkin hanya seluas 3 kali lapangan sepak bola, namun bukit karang yang tertutup vegetasi pantai menjulang menutup sisi yang lain. Pasir putih karang membentang selanjang pinggir pulau dan bersih dari sampah. Masih asri, masih murni.

"Kita akan memutari pulau ini dan menuju ke balik bukit itu." dia menunjuk deretan perbukitan yang melintang di depanku. "Tidak jauh, kita berjalan mungkin hanya sekitar 20 menit."

"Ya." Jawabku singkat

Kami mulai berjalan. Semilir angin menerpa wajahku, dan meluluh lantahkan rambutku yang entah bagaimana rupanya. Sosok Ghani di depan, memimpin jalan, terkadang dia berhenti jika dirasa aku terlalu jauh. Aku seperti kehilangan nafas. Ya, aku jarang olahraga, juga jarang mengikuti kegiatan outdoor, jadi aku tak terbiasa berjalan kaki dengan medan yang buruk, apalagi batu karang. Sesekali Ghani mengulurkan tangannya saat aku cukup kesulitan menaiki sebuah batu atau jalan menanjak yang cukup curam. Harus kuakui, udara disini terasa bersih walaupun cuaca agak panas.

"Masih kuat berjalan?" Tanya Ghani.

"Tentu saja, jangan remehkan aku!" kataku. Tapi kakiku berkata lain. Betisku terasa sangat kencang dan nafasku pun mulai pendek-pendek. Melihat kondisiku, Ghani hanya tersenyum.

"Mari kita istirahat dulu." Ghani duduk di sebuah batu karang bulat yang hangat karena terpaan snar matahari siang itu.

"Masih jauh kah?" tanyaku dengan nafas yang milai berat.

"Tidak, sebentar lagi, ini hanya beberapa puluh meter saja."

"Perutku.. Rasanya.. Tidak.. Kuat.. Lagi.."

Mendengar perkataanku Ghani tertawa terbahak-bahak, wajah misterius itu mulai kehilangan kekuatannya, berubah menjadi cair yang menghangatkan.

"Duduk sini, minum sebentar." Ghani menyodorkan sebotol air minum.

Dia beranjak dari duduknya dan, mulai membungkuk mengitari tempat dimana aku duduk. Dia seperti sedang mencari sesuatu.

"Ghe, ini." dia memberiku batu hitam segenggam tangan. Aku terdiam sejenak, memandangi pria berambut pendek dan kulit sawo matang itu dengan tanda tanya.

"Kata orang dulu, batu bisa meredakan perut sakit saat berjalan." lanjutnya

Aku menerima batu itu dan mengangguk. Batu hitam itu adalah batu dari jenis batu apung, batu yang memiliki pori di seluruh permukannya yang cukup untuk kugenggam.

"Ayo jalan." Kataku mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan.

"Sudah enakan?" tanyanya terheran. Alisnya bertaut sebagai tanda jika dia tidak mempercayaiku.

"Bukankah ada batu hitam ini." jawabku menunjukkan batu itu dengan senyuman yang menghiasi bibirku.

Ghani mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Pertemuan tangannya dengan tanganku membuat perasaan itu mengerjap di hatiku kembali. Diperhatikan seseorang yang merupakan seorang pendiam aku merasakan sesuatu yang berbeda. Bahagia. ya aku merasakan kebahagian. Dan tangan kami terus terkait hingga kami sampai di tempat yang dia tuju.

Aku terkejut dengan apa yang terpampang di depanku. Da*n, pemandangannya sungguh membuatmu merasa bahwa Tuhan sudah membuat surga disini, tak perlu lagi kita pergi ke nanti. Tebing itu membentuk seperti lengkungan dan di bawah lengkungan itu pasir putih menghampar, air laut biru tenang seperti bisa mengisi ruang jiwa yang kosong. Di bawah tebing nyiur kelapa berderet seperti melindungi pulau dengan cinta dan nyanyian rimbun daunnya. Aku berlari menuju air, menenggelamkan kakiku dalam rengkuhan riak air, menikmati hempasan angin di wajahku , kurengkuh air itu dan kulontarkan ke atas. Aku merasa bebas. Seolah aku tak punya mimpi yang harus kugapai, seolah aku tak ada tanggungjawab di pundakku. Lepas, itulah yang kurasakan. Aku berlari dan bermain air laut sepuasnya di pantai. Ghani kulihat hanya tersenyum melihatku. Senyum yang seolah dia berkata bahwa dia akan menjagaku disana dan kamu nikmati saja airnya. Dia hanya mengawasiku, tak ingin mengangguku. Sesekali sepertinya dia mengambil gambar pemandangan, dan sepertinya juga gambar diriku.

Kulihat dia duduk diatas sebuah batu sambil melihat dan menikmati matahari yang sudah mulai condong ke barat. Akupun menyusulnya karena aku sudah puas bermain air.

"Kamu senang?" tanyanya saat aku duduk di sampingnya.

"Ya. Sudah lama aku tak merasa bebas seperti ini." jawabku. "Terima kasih." kuucapkan tulus sembari tersenyum dan menoleh padanya.

"Aku senang jika kamu senang." jawabnya sambil menatapku dan senyum manis menghiasi wajahnya.

"Bolehkah aku mengambil potret kita bersama?" wajah penuh haraplah yang aku baca dar mukanya.

Hatiku berdebar lagi, dan lagi. Entah yang keberapa aku merasa seperti ini hari ini. Dan yah, kuakui hari ini adalah hari terindah dalam hidupku.

"Ya"

Kami melakukan swafoto dalam berbagai angel. Saat bahuku menyentuh dada bidangnya, darahku berdesir kembali. Aku menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya kali ini.

"eh, kamu sering kesini?" tanyaku karena aku sudah tak sanggup lagi untuk menikmati sosok yang indah itu lebih lama.

Dia menatap lurus ke laut. "Tidak cukup sering, beberapa kali kesini. Terkadang camping dengan teman-teman. Akmal, Radit, Saga, dan yang lain. Hanya saat luang."

"Seru sepertinya."gumamku.

"Kamu mau?" tanyanya

Aku tersenyum. "Sebenarnya iya." jawabku ragu.

"Suatu saat, jika ada waktu lagi kita camping." katanya.

"Oya, kenapa tiba-tiba mengajakku membersihkan pantai?"

Dia nampak terkejut dengan pertanyaanku dan segera menoleh padaku. "Kamu tidak suka?"

"Bukan, tidak, bukan itu maksudku. Ya, aku suka, hanya saja.. Jarang ada yang punya kegiatan seperti itu." kataku sambil tersenyum

"Karena disini tidak ada bioskop, jadi aku tak bisa mengajakmu nonton." Jawabnya seraya tersenyum.

"Ghani, maafkan aku jika aku sempat meragukanmu." akhirnya aku memiliki keberanian untuk berbicara dengannya.

"Meragukan bagaimana?"

"Yaahh.. Saat pertama kita bertemu. Waktu itu di toko roti itu aku pikir kamu adalah komplotan penjahat yang ingin mengambil mobilku. Aku mengira kamu bagian dari konvoi itu."

"Tidak. Kupikir itu yang harus kamu lakukan sebagai seorang perempuan mandiri dan sendirian disini. Teruslah bersikap seperti itu jika bertemu dengan orang asing. Jangan pernah percaya dengan orang asing sampai kamu benar-benar yakin bahwa dia orang yang baik, baik laki-laki mau perempuan. Sebenarnya.. saat itu aku kagum padamu, kamu punya pertahanan diri yang luar biasa walaupun seorang perempuan. Tak harus ada kontak fisik, hanya perlu strategi itu sudah cukup yang menandakan bahwa kamu bukan target yang mudah."

"Bagaimana kamu bisa tahu dimana aku tinggal?"

Aku melihat senyumnya mengembang di wajahnya.. "Aku melihatmu masuk ke kompleks Galaxi Residen, dan baru saja kamu sendiri yang memberitahuku jika rumahmu disana. Saat itu aku sendiri juga tak yakin jika rumahmu disana. Ayo kita pulang, nanti keburu malam, angin laut sangat kuat dan kita tidak membawa apapun kesini "

Aku mengangguk dan mulai turun dari batu tempat kami duduk. Ghani megulurkan tangannya untuk membantuku dan akupun menyambutnya. Aku merasa bahwa hari ini dan disini adalah hari dan tempat terindah sepanjang hidupku. Dan genggaman tangan ini tidak terlepas hingga kami berada di atas perahu untuk kembali pulang.

1
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!