NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Kecil Bermata Dingin

Suasana kelas siang itu berjalan jauh lebih kondusif dibanding pertemuan sebelumnya. Mungkin karena semua mahasiswa masih trauma dengan cara Arsen mempermalukan beberapa orang tadi pagi, atau mungkin memang aura pria itu terlalu menekan sampai seisi kelas otomatis berubah menjadi sangat patuh.

Tidak ada lagi suara video TikTok yang bocor dari barisan belakang. Bahkan mahasiswa yang biasanya sibuk bermain game sembunyi-sembunyi, kini mendadak duduk tegak di kursi masing-masing.

Hebatnya, di antara semua mahasiswa yang mendadak tobat itu, Alana adalah yang paling siaga. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke papan tulis tanpa berkedip sedikit pun.

Sejak masuk kelas pengganti ini, Alana sudah berkomitmen dalam hati: Kali ini, gue nggak boleh kelihatan lemah lagi di depan dosen killer itu.

Di depan kelas, Arsen menjelaskan materi kuliah dengan suara rendah dan tenang. Cara bicaranya rapi, tegas, tidak terburu-buru, namun tetap saja terasa menekan batin.

“Konsep ini sering kali dianggap sepele,” ujar Arsen sambil menuliskan beberapa poin penting di papan tulis menggunakan spidol hitam. “Padahal kalau kalian salah memahami dasar logikanya sejak awal, materi berikutnya akan jauh lebih sulit.”

Suara derit spidol memenuhi ruangan yang sunyi. Namun, karena Alana sudah melek total dan mendengarkan dengan serius sejak menit pertama, rasa bosan perlahan mulai melanda.

Alih-alih fokus pada materi, pandangan matanya malah mulai bergeser memperhatikan bagaimana tegasnya rahang pria itu saat berbicara.

Tanpa sadar, jemari Alana yang memegang pulpen mulai bergerak sendiri di atas binder. Karena pikirannya sedang melayang memperhatikan sang dosen, tangannya justru mengalirkan coretan yang sangat jujur. Dia menggambar sketsa ayam, menuliskan kalimat "RIP Harga Diri Alana", dan puncaknya, dia menggambar karikatur wajah Arsen dengan dua tanduk setan kecil di atas kepalanya.

Naira yang duduk di sebelahnya langsung menyikut lengan Alana pelan. “Woi, fokus,” bisiknya super kecil tanpa menoleh.

“Gue fokus kok,” balas Alana pelan melalui sudut bibirnya, padahal tangannya masih asyik menebalkan tanduk setan di gambar Arsen.

“Tatapan lo lurus ke depan tapi tangan lo lagi bikin sekte sesat di kertas.”

Alana tersentak kecil, baru menyadari apa yang baru saja dia gambar. Namun, sebelum dia sempat menghapus atau membalik halaman, bayangan tubuh tegap Arsen mendadak sudah menyelimuti mejanya. Langkah kaki pria itu sama sekali tidak terdengar karena suasana kelas yang terlalu hening.

Refleks, seluruh mahasiswa di sekitar barisan Alana langsung kembali duduk tegak sempurna.

Arsen berhenti tepat beberapa jengkal dari meja Alana. Sebenarnya, Arsen hanya berniat lewat untuk memeriksa barisan belakang. Namun, gerakan panik Alana yang mendadak membeku justru menarik perhatiannya.

Tatapan mata elangnya turun, tertuju lurus pada buku catatan gadis itu yang terbuka lebar—menampilkan dengan sangat jelas karikatur dirinya yang bertanduk setan.

Arsen menghela napas pendek. Pria itu menatap Alana dengan pandangan terganggu, seolah sedang bertanya-tanya mengapa mahasiswi yang satu ini selalu saja berulah di radarnya.

Deg! Jantung Alana rasanya mau copot saat itu juga. Dia refleks menutup buku bindernya dengan gerakan secepat kilat.

Arsen tidak langsung marah, dia hanya mengangkat sebelah alisnya tipis dengan tatapan dingin yang biasa. “Sepertinya kemampuan menggambar mu berkembang dengan cukup baik, Saudari Alana.”

Suasana kelas yang hening langsung dihiasi suara dehaman mahasiswa yang mati-matian menahan tawa.

“Itu… spontan, Pak,” jawab Alana dengan suara sepelan mencicit, tidak berani menatap mata Arsen.

“Kalau energi spontan itu digunakan untuk belajar,” balas Arsen tenang, ketus namun tanpa emosi berlebih, “mungkin nilai kamu akan bisa sedikit tertolong.”

Arsen langsung kembali berjalan ke depan kelas tanpa membuang waktu lebih lama lagi untuk mengurusi Alana. Pria itu benar-benar terlihat tidak mau ambil pusing dengan kelakuan ajaib mahasiswinya, membuat Alana langsung menyembunyikan wajahnya di balik buku saking malunya. Pria itu memang kejam. Benar-benar kejam.

Setelah sisa jam perkuliahan yang penuh tekanan batin itu selesai, kelas akhirnya berakhir juga. Suara riuh kursi bergeser langsung memenuhi ruangan seiring mahasiswa yang mulai sibuk membereskan barang-masing masing.

Alana langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja secara dramatis. “Gue… akhirnya bisa hidup.”

Naira terkekeh sambil memasukkan binder ke tas. “Selamat, ya, lo berhasil melek selama kelas… meskipun tetep aja kena skakmat.”

“Gue kayak habis sidang skripsi padahal cuma kelas biasa,” gerutu Alana lemas.

Damar ikut berdiri dari kursinya di barisan belakang sambil mengulas senyum tipis. “Lebay lo, Na.”

“Lo nggak ngerti rasanya ditatap sama dosen killer tiap lima menit sekali, Mar!”

Naira kembali tertawa. Namun beberapa detik kemudian, ponsel di saku celananya berujung bunyi. Dia melihat layar sebentar, lalu mendesah kecewa. “Yah… Na, Mar, gue harus pulang duluan nih. Mama nyuruh nemenin ke rumah tante sekarang juga.”

“Pengkhianatan lagi…”

“Besok gue gantian pasang badan deh pas lo dihina Pak Arsen. Duluan ya!” Naira melambaikan tangan dan berjalan terburu-buru keluar kelas.

Pada akhirnya, tersisa Alana dan Damar yang berjalan beriringan keluar dari gedung bersama. Koridor kampus sudah mulai sedikit lebih sepi dibanding tadi siang, matahari pun sudah bergeser pelan memancarkan semburat jingga yang hangat di langit sore.

Alana berjalan sambil menyeret langkahnya dengan malas, sedangkan Damar berjalan santai di sampingnya sambil sesekali memainkan kunci motor. “Lo mau langsung jualan lagi nanti?” tanyanya.

Alana mengangguk kecil. “Iya. Kalau gue nggak jualan, gue terpaksa makan daun nanti di belakang kontrakan.”

“Capek nggak sih, Na?”

Pertanyaan sederhana dari Damar itu sempat membuat langkah Alana melambat sedikit. Namun, gadis itu justru tertawa kecil. “Capek, lah. Bohong kalau nggak capek.”

“Terus?”

“Tapi ya udah,” jawabnya santai. “Kalau gue berhenti atau manja-manjaan, nggak ada yang bakal nanggung hidup gue.”

Damar diam selama beberapa detik. Tatapannya sempat mengarah ke wajah Alana yang terlihat lelah setelah sisa kelas tadi, namun entah bagaimana gadis itu selalu bisa menyembunyikannya di balik candaan ringannya.

Begitu mereka sampai di depan gang kontrakan kecil Alana, Damar tidak langsung pamit pulang. Pria itu ikut berjalan ke arah lapak jualan Alana yang masih tutup, lalu tanpa banyak bicara, dia refleks mengangkat tabung gas melon yang baru dibeli Alana dari sudut teras dan memasangkannya ke kompor gas kedai.

“Eh, Mar, nggak usah, bisa sendiri gue,” ujar Alana sungkan.

“Udah, diem,” potong Damar pendek sambil memastikan regulator gasnya terpasang kencang. Setelah selesai, dia berdiri, menepuk-nepuk kedua tangannya yang berdebu, lalu mengambil kunci motornya kembali. “Jangan lupa istirahat, Na. Jualan seadanya aja, jangan dipaksa.”

Alana terpaku sebentar melihat gesture spontan sahabatnya itu sebelum akhirnya memberi hormat asal. “Siap, komandan! Makasih ya, Mar.”

Damar hanya menggeleng geli, lalu berjalan ke motornya dan pergi meninggalkan gang kecil itu.

Tiga puluh menit kemudian, Alana sudah kembali berdiri di dapur kecil kedainya. Apron kain sederhana melingkar di pinggangnya, dan tangannya sudah bergerak cekatan menyiapkan ayam geprek untuk para pelanggan mahasiswa yang mulai berdatangan sore itu.

Meskipun tubuhnya lelah, anehnya Alana selalu terlihat jauh lebih hidup saat sedang berjualan. Mulutnya kembali cerewet, tangannya bergerak cepat membumbui ayam, dan dia sesekali tertawa lepas melayani pelanggannya.

Sampai kemudian, suara bel kecil di depan meja etalase berbunyi pelan. Ting.

“Mau pesan apa, Kak?” tanya Alana refleks dengan ramah, sementara matanya masih fokus membungkus nasi kotak di tangannya.

Namun, tidak ada jawaban dari seberang meja. Merasa heran, Alana akhirnya menghentikan aktivitasnya dan mendongakkan kepala. Detik itu juga, gerakan tangannya mendadak melambat.

Seorang anak laki-laki berdiri tegak di depan meja jualannya. Usianya mungkin baru sekitar dua belas atau tiga belas tahun. Wajah anak itu tampak sangat tampan dengan kulit putih bersih dan rambut hitam yang tertata rapi tanpa cela. Seragam sekolah yang dikenakannya terlihat sangat berkelas dan mahal, tanpa kusut sedikitpun.

Namun, ada satu hal yang paling mencolok dari anak itu: tatapan matanya. Sepasang mata itu terasa begitu dingin, tenang, dan terlampau dewasa untuk anak kecil seusianya. Anak itu berdiri tanpa ekspresi sedikit pun sambil membaca papan menu di depannya.

Dia tidak banyak bicara, tidak terlihat kebingungan, dan sama sekali tidak tampak canggung meskipun datang sendirian ke kedai dalam gang seperti ini.

Alana berkedip pelan beberapa kali, merasa gemas sekaligus heran. "Ya ampun, ganteng banget ini anak... tapi kok auranya bikin merinding ya?" batinnya.

“Dek?” panggil Alana dengan nada selembut mungkin.

Anak itu akhirnya mengangkat kepalanya, menatap Alana lurus-lurus. “Ayam geprek satu porsi,” ujarnya pendek. Suaranya kecil, namun terdengar sangat datar dan formal.

Alana sampai harus menahan diri agar tidak melongo. Kenapa anak sekecil ini bisa punya aura yang mirip sekali dengan dosen killer-nya di kampus?!

“Mau level berapa pedasnya, Dek?” tanya Alana lagi.

“Biasa saja.”

“Minumnya mau apa?”

“Air putih.”

Semua jawabannya pendek dan terkesan to the point. Alana harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak kelepasan tersenyum gemas karena kontrasnya wajah imut si anak dengan bicaranya yang kaku. “Oke… ditunggu ya, Dek. Kamu duduk dulu aja di kursi pojok sana.”

Anak itu hanya mengangguk kecil secara formal, lalu berbalik dan berjalan menuju satu-satunya kursi kosong di pojok kedai. Gerakannya sangat tenang dan cara duduknya pun terlihat sangat rapi—sangat berbeda dari anak-anak seusianya yang biasanya tidak bisa diam.

Sambil terus menyiapkan pesanan, Alana tidak bisa berhenti mencuri pandang ke arah sudut warungnya. Dan entah kenapa, semakin dia memperhatikan wajah kecil yang dingin itu, rasa familiar yang kuat mendadak menyergap benaknya.

Garis rahang itu, dan cara matanya menatap sekitar… terasa sangat tidak asing, seolah dia baru saja melihat versi dewasa dari ekspresi itu beberapa jam yang lalu.

Namun, Alana mengibaskan pikirannya dengan cepat. Ah, mana mungkin. Dia pasti hanya kelelahan karena seharian ini terus-menerus ditekan batinnya oleh Arsen di kampus.

Alana kembali fokus mengemas makanan, sama sekali tidak menyadari bahwa kehadiran remaja yang kini duduk diam di pojok kedai sederhananya itu, justru akan menjadi awal dari benang merah yang membuat kehidupannya perlahan berubah menjadi jauh lebih rumit dan tak terduga.

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!