NovelToon NovelToon
BAYANG BAYANG MASA LALU

BAYANG BAYANG MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinarta Firdaus

Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYERAHAN VONIS KEMATIAN

Aris merasa seluruh sendi di kakinya melosot. Dunianya berputar dengan sangat cepat. "Tidak... tidak mungkin... Bimo, kamu bilang Aegis Capital itu milik investor Singapura! Kamu membohongiku?!" raung Aris, menunjuk Bimo dengan jari yang gemetar hebat.

​Bimo maju satu langkah mendekati mikrofon di samping Kirana. "Aku tidak pernah membohongimu tentang aspek hukumnya, Aris. Dokumen yang kamu tanda tangani adalah legal dan sah. Aku hanya tidak berkewajiban memberi tahu siapa di balik nama nominator asing tersebut. Tugas seorang penasihat hukum adalah melindungi kepentingan pemilik modal terbesar... dan malam ini, pemilik modal terbesarku adalah Kirana."

​Aris menatap Bimo dengan pandangan penuh pengkhianatan yang teramat sangat. Pria yang ia anggap sebagai sahabat karibnya, saudaranya, pelindungnya, ternyata adalah pria yang diam-diam menenun kain kafan untuk seluruh kariernya.

​"Dan satu hal lagi, Aris Utama," Kirana kembali mengambil alih pembicaraan, suaranya kini terdengar sangat dingin, memotong sisa-sisa harapan Aris. "Berkat ketelitian tim hukum kita yang dipimpin oleh Bimo, kami telah menyerahkan seluruh berkas bukti manipulasi pajak, pencucian uang operasional proyek, dan pemalsuan laporan keuangan yang kamu lakukan selama dua tahun terakhir kepada Direktorat Jenderal Pajak dan Komisi Pemberantasan Korupsi sore tadi. Surat panggilan resmi sebagai tersangka... akan sampai di meja kerjamu besok pagi pukul sembilan."

​Kirana berjalan turun dari panggung dengan langkah yang sangat anggun, mendekati Aris yang kini terduduk lemas di atas kursi marmernya dengan pandangan kosong. Seluruh keangkuhan, karisma, dan kekuasaan pria itu telah menguap tanpa sisa. Ia tampak seperti seorang pesakitan yang sedang menunggu algojo mengeksekusinya.

​Kirana berdiri tepat di hadapan Aris. Dari dalam tas tangannya yang mewah, ia mengeluarkan selembar amplop putih panjang yang berisi dokumen gugatan cerai resmi yang telah ia tanda tangani. Ia meletakkan amplop itu di atas meja makan, tepat di samping gelas wine Aris yang tersisa setengah.

​"Ini surat cerai kita, Aris," ucap Kirana pelan, namun suaranya terdengar sangat jelas di antara kerumunan orang yang menahan napas. "Enam tahun lalu, aku masuk ke hidupmu dengan cinta yang murni. Dan malam ini, aku keluar dari hidupmu dengan membawa seluruh kerajaan yang kamu banggakan. Selamat ulang tahun pernikahan yang keenam... dan selamat tinggal."

​Kirana berbalik, tidak memberikan kesempatan bagi Aris untuk mengucapkan satu kata pun. Ia melangkah berjalan menuju pintu keluar utama ballroom dengan kepala tegak, membelah kerumunan wartawan yang terus mengambil fotonya dengan tatapan penuh kekaguman dan rasa hormat.

​Di sampingnya, Bimo berjalan dengan setia, melindunginya dari desakan para jurnalis yang mencoba mengajukan pertanyaan. Mereka berdua berjalan keluar dari Grand Ballroom Hotel Mulia, meninggalkan Aris yang hancur total di tengah reruntuhan istana kesombongannya sendiri, dikelilingi oleh bisik-bisik kehinaan dari dunia yang dulu memujanya. Skakmat telah selesai dijalankan dengan sempurna.

Pagi hari di Jakarta pasca-malam perayaan di Hotel Mulia terasa seperti sebuah distopia yang dingin. Sisa-sisa hujan semalam menyisakan genangan air di jalanan protokol yang memantulkan langit kelabu tanpa matahari. Di halaman depan gedung pencakar langit Utama Tower, pemandangannya jauh dari kata normal. Belasan mobil dari berbagai stasiun televisi dan media digital terparkir sembarangan. Para reporter dengan mikrofon di tangan berdiri di depan lobi, melakukan siaran langsung dengan latar belakang logo perusahaan yang kini terasa seperti monumen kehancuran.

1
Ara putri
mampir ya kak. Jika berkenan mampir juga keceritaku TUAN AYAZ, TOLONG BERHENTI!
Dinarta Firdaus: baik kakak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!