NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Rasa yang Tidak Seharusnya Ada

Sore itu, Shafira Maharani berada dalam suasana hati yang langka—ceria, hampir berbunga-bunga.

Arjuna Pratama benar-benar datang ke lokasi syuting.

Meskipun pria itu tetap menampilkan sikap malas dan angkuhnya seperti biasa—kaki panjang disilangkan di sofa, jari-jari mengetuk sandaran tangan dengan ritme pelan—tetap saja, dia sudah datang. Dan itu cukup bermakna bagi Shafira.

Ini sinyal. Artinya akting jual mahalnya, juga tuduhan penuh gairah di koridor belakang panggung tempo hari, pada akhirnya meninggalkan bekas.

Shafira duduk di depan cermin rias, merapikan riasannya sambil mengamati bayangan pria itu melalui pantulan kaca. Sudut bibirnya melengkung tanpa bisa ditahan.

*Dia tidak akan bisa terus berpura-pura tegar selamanya.*

Setelah pengakuan itu, setelah berhari-hari diam, sudah waktunya mengirimkan sinyal lebih lanjut—bahwa dia belum menyerah, bahwa dia ingin berbaikan. Malam ini, mungkin, semuanya bisa kembali seperti dulu.

"Arjuna," suaranya melunak, diberi sedikit nada yang terasa akrab, "sutradara drama ini Sutradara Firman.

kau pasti tahu betapa ketatnya standar dia."

"Saya berkali-kali gagal di adegan luapan emosi. Tapi untungnya, akhirnya lulus juga."

Arjuna tidak mengangkat kelopak matanya. Responsnya hanya sebuah "em" yang pendek. Pandangannya menyapu pintu ruang tamu,seolah menunggu sesuatu.

*Mengapa gadis itu belum masuk juga? Di luar panas sekali. Tubuhnya yang rapuh bisa tahan?*

Shafira tidak patah semangat. "Ada makan malam kecil untuk kru malam ini, tepat di sebelah studio. Sutradara Firman juga datang. Kalau kamu ada waktu....."

Pintu ruang tamu terdorong pelan, memotong kalimatnya.

Citra Lestari masuk dengan kepala tertunduk, membawa dua cangkir kopi. Kaus oblong, celana jins sederhana, kacamata berbingkai hitam bertengger di pangkal hidung seluruh penampilannya seperti kata-kata: *tolong jangan perhatikan saya.*

Dia meletakkan satu cangkir di sisi meja rias Shafira dengan hati-hati. "Saudari Shafira, kopimu."

Lalu berbalik, melangkah menuju sofa dengan kepala masih menunduk.

Saat tangannya hendak meletakkan cangkir ke meja rendah, Arjuna,yang tadi seolah acuh mengangkat pandangannya. Menatapnya langsung. Sikap dinginnya menguap begitu saja, digantikan kehangatan yang nyata, dan sebuah senyum kecil yang jujur.

Jantung Citra Lestari berdegup keras. Tangannya gemetar; kopi hampir tumpah. Dia menenangkan diri secepat mungkin, menunduk lagi, dan meletakkan cangkir itu dengan tangan yang masih sedikit bergetar.

Arjuna menatap kepala kecilnya yang menunduk itu dengan sudut mulut yang melengkung tipis. Jari-jarinya yang ramping meraih cangkir, tapi pandangannya tidak bergerak,penuh provokasi yang tidak terucap.

Di cermin, Shafira sedang sibuk membetulkan anting-antingnya. Pertukaran diam itu luput dari matanya.

Saat Shafira hendak bertanya mengapa Citra masih berdiri di sana—

"Nona Shafira, kita perlu mengambil ulang adegan close-up." Suara manajer lantai terdengar dari luar pintu. "Sutradara bilang emosinya bagus, tapi butuh close-up tambahan."

Shafira sedikit mengernyit, tapi segera berdiri. Dia memeriksa riasannya sekali lagi, menoleh ke Arjuna. "Tunggu aku ya. Aku segera kembali."

Langkahnya yang anggun menghilang di balik pintu.

Begitu pintu tertutup, seisi ruangan terasa berubah.

Arjuna berdiri. Tangannya yang panjang mengulur, meraih pergelangan tangan Citra sebelum gadis itu sempat bereaksi.

"Ah—"

Satu tarikan, satu putaran, dan punggung Citra sudah tenggelam ke permukaan sofa yang empuk. Belum sempat ia memproses apa yang terjadi, sosok tinggi itu sudah berlutut di tepi sofa—menjepit tubuhnya antara dirinya dan sandaran.

Satu tangan bertumpu di sisi kepalanya. Tangan lainnya dengan tenang melepas kacamatanya dan melemparnya ke samping.

Tanpa lensa penghalang itu, mata almond yang lembap dan jernih terbuka penuh—dipenuhi panik, dipenuhi malu—langsung berhadapan dengan tatapan gelapnya.

"Apa kau merindukanku? Takut ketahuan, hmm?" Suaranya dalam, serak, napas panasnya menyentuh bibirnya.

"Tidak, kau cepat pergi..." Suara Citra nyaris tak terdengar. Jantungnya berdegup seperti akan meledak.

Posisi ini, jarak ini—terlalu berbahaya. Dan pintu tidak terkunci.

Sebelum kalimatnya selesai, bibir Arjuna sudah menutup bibirnya dengan ganas.

"Mmph—!"

Ciuman itu tidak mengenal basa-basi sejak detik pertama. Dia mengisap bibir bawahnya yang lembut dengan pelan, dan hati-hati—membawa rasa yang mendebarkan dari sesuatu yang terlarang.

Citra merintih. Tangannya mendorong dada kerasnya. Sia-sia.

Seolah merasakan kesakitannya, tekanan itu melunak. Bibirnya beralih menjadi lembut,menghisap, menikmati, seperti tidak terburu-buru sama sekali.

Kekuatan di tangan kecilnya perlahan habis. Jari-jarinya hanya mampu mencengkeram kerah kemejanya. Pikiran Citra menjadi kosong; aroma tembakau menyebar pelan memenuhi napasnya.

Di ruang yang sunyi itu, hanya suara ambigu mereka yang tersisa.

Tangan Arjuna bergerak, menelusuri lekuk pinggangnya, menyentuh sisi tubuhnya,dan Citra mengeluarkan suara kecil yang tak disengaja.

Tepat saat itu—

*Klik. Klik. Klik.*

Derap sepatu hak tinggi dari kejauhan. Shafira.

Citra tersadar seketika. Panik meledak di dadanya. Tangannya mendorong keras, meronta.

Arjuna jelas mendengarnya juga. Sekilas rasa kesal melintas di matanya,tapi alih-alih langsung melepaskan, dia mencuri satu ciuman terakhir yang penuh gairah sebelum akhirnya mundur.

Langkah kaki itu hampir sampai di pintu.

Arjuna tidak terburu-buru. Dia mengambil kacamata yang tergeletak di samping, menyelipkannya ke tangan Citra. Lalu, dengan satu tepukan ringan di pinggulnya

"Bangun."

Suaranya mengandung geli yang serak. Tubuhnya sudah kembali ke postur lamban dan angkuh .seolah tak ada yang terjadi.

Citra bangkit dengan pipi yang memanas. Jantungnya masih berdegup gila saat dia memasang kacamatanya dengan tangan gemetar.

Pintu terbuka.

Shafira masuk dengan senyum cerah, pandangannya sekilas menyapu Citra yang berdiri di sisi sofa dengan kepala tertunduk.

"Citra...!, apa yang masih kau lakukan di sini?"

"Kacamata saya jatuh barusan." Suaranya nyaris berbisik. "Baru saja saya temukan. Saya segera pergi, Saudari Shafira."

Dia tidak berani mendongak—tidak mau Shafira melihat bibirnya yang merah, yang masih terasa hangat.

Arjuna menyesap kopinya dengan tenang, ekor matanya mengikuti gadis kecil yang semakin menyusut itu. *Makhluk yang hanya berani galak kalau berduaan.*

Pandangannya beralih ke Shafira. Sudut mulutnya melengkung. "Pengambilan close-up nya lancar?"

"Tentu saja. Sutradara bilang emosinya tepat, langsung oke sekali take."

Di celah percakapan itu, Citra menyelinap keluar.

Begitu pintu tertutup, dia bersandar ke dinding yang dingin dan akhirnya membolehkan dirinya bernapas.

Bibirnya masih terasa panas. Sisi pinggulnya masih sedikit mati rasa bekas tepukan itu.

*Apa ini? Kenapa rasanya seperti berselingkuh? Wuwu.*

Di dalam ruangan, Arjuna menatap pintu yang tertutup. Ujung jarinya menggosok pelan permukaan cangkir, menikmati sisa hangat dari momen tadi yang masih bergemuruh di dadanya.

Gelapnya matanya semakin pekat.

Dia melirik jam tangan. Baru pukul tiga sore. Hingga gelap,masih beberapa jam lagi.

Terlalu lama.

Dia harus meminta kru menyelesaikan semuanya lebih awal.

1
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!