Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Dua dunia yang berbeda (1)
Pintu ruang kerja tertutup rapat, Nara duduk di kursi kebesarannya. Berkas-berkas memenuhi meja di hadapannya, sementara layar laptop masih menampilkan deretan grafik dan angka yang sejak tadi memenuhi kepalanya. Ujung jarinya menekan pelipis perlahan. Empat jam memimpin rapat tanpa jeda cukup membuat kepalanya berat.
Nara memejamkan mata beberapa detik, menarik napas panjang sebelum kembali membukanya. Namun, ruangan luas dengan pendingin udara itu tak banyak membantu mengusir lelah yang menggantung di bahunya.
Tok ... Tok ... Tok.
Suara ketukan tongkat terdengar dari luar, mendekat perlahan. Nara langsung menurunkan tangannya dari pelipis. Punggungnya kembali tegal bahkan sebelum pintu ruangannya terbuka.
Seorang pria lanjut usia masuk dengan langkah tenang. Jas gelap yang dikenakannya tampak rapi tanpa cela. Tongkat berukir di tangannya mengetuk lantai marmer pelan setiap kali ia melangkah.
Tuan Dhanubrata. Seorang pria yang memiliki sorot mata tajam meski usianya tak lagi muda. Aura wibawanya memenuhi ruangan bahkan tanpa perlu banyak bicara.
"Kau terlihat lelah."
Nara menutup map di depannya. "Bukankah ini konsekuensi bekerja?"
Pria tua itu mendengus pelan. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di sofa dekat jendela tanpa menunggu dipersilahkan. "Jawabanmu makin mirip ayahmu."
Tidak berniat menanggapi, Nara justru meraih gelas air di meja dan meminumnya sedikit.
Tuan Dhanubrata memperhatikan cucunya beberapa saat. "Kudengar mobilmu mogok."
"Aku sudah minta Pak Budi menanganinya."
"Kau terlambat rapat hanya karena hal yang tidak seharusnya terjadi."
"Kakek juga tetap memulai rapat setelah aku datang," balas Nara tak mau kalah.
Sudut bibir pria tua itu bergerak tipis. Entah ingin tersenyum atau menyindir.
"Ku dengar kau datang naik motor?"
Kalimat itu membuat gerakan tangan Nara terhenti sepersekian detik.
"Situasinya mendesak," jawab Nara tenang.
"Tetap saja menarik." Tongkat di tangan pria tua itu bergerak pelan menyentuh lantai. "Aku tak pernah membayangkan cucuku mau duduk di motor pria asing."
Nara menatap lurus ke arah kakeknya. "Dia hanya membantu."
"Hmm." Tuan Dhanubrata bersandar. Tatapannya mengarah ke jendela tinggi di samping ruangan. "Orang seperti kita harus berhati-hati pada siapa pun yang mendekat."
Nara diam sejenak sebelum akhirnya berdiri dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela, berdiri tak jauh dari sang kakek. "Aku bisa menjaga diri."
"Aku tahu." Tuan Dhanubrata mengangkat dagu sedikit. "Tapi dunia di luar sana tidak sesederhana yang kau pikir."
Dalam diam, Nara memandang deretan gedung di balik jendela kaca. Namun, pikirannya tiba-tiba tertahan pada satu hal. Mobilnya.
Jemarinya terlipat pelan di depan dada. Alisnya turun sedikit, mengingat kembali pagi tadi. Mesin mobil yang tiba-tiba mati, suara aneh sebelum mobil berhenti total, hingga lampu indikator yang berkedip sesaat.
Aneh. Mobil itu bahkan belum lama digunakan. Semua perawatannya rutin, dan mobil keluaran terbaru itu seharusnya tidak mudah bermasalah.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Tuan Dhanubrata. Tatapan tajam pria itu tertuju pada cucunya yang sejak tadi tampak memikirkan sesuatu.
"Tidak," jawab Nara singkat. "Aku hanya sedang memikirkan mobilku."
Kakek tua itu melangkah mendekati meja kerja Nara. Tongkat di tangannya mengetuk lantai pelan sebelum Ia meraih salah satu berkas di atas meja. "Itu bukan kebetulan," ucapnya tenang. Matanya menyusuri tulisan di sampul berkas itu.
Nara mengangkat pandangan. "Aku tahu."
Meletakkan kembali berkas itu ke atas meja, Tuan Dhanubrata kembali menoleh pada Nara. "Mulai sekarang, kau harus lebih berhati-hati."
Nara mengangguk kecil. Ia paham maksud ucapan sang kakek. Di dunia mereka terlalu banyak orang yang menunggu kesempatan untuk menjatuhkan. Dan mobil yang tiba-tiba mogok itu terasa janggal untuk dianggap sekedar masalah biasa.
****
Di sisi lain.
Suara mesin dan dentingan alat memenuhi sebuah bengkel. Aroma oli bercampur debu memenuhi udara.
Sagara tengah sibuk di bawah sebuah mobil yang sedang diperbaikinya. Kaos kerjanya mulai dipenuhi noda hitam, sementara peluh membasahi pelipisnya. Tangannya bergerak cepat memutar baut, lalu sesekali mengambil alat yang tergeletak di sampingnya.
"Ga, ini mobil yang tadi dibawa derek, kan?" tanya salah satu rekan kerja Sagara yang bernama Andi.
Sagara keluar dari bawah kolong mobil, lalu duduk jongkok sambil mengelap tangannya dengan kain lusuh. "Iya," jawabnya pendek. "Punya atasannya Pak Budi.
Andi tampak terkejut. "Pak Budi yang orangnya royal itu?" tanyanya memastikan.
Sagara terkekeh.
Mereka mengenal Pak Budi sebagai salah satu pelanggan tetap bengkel. Pria berusia paruh baya itu terkenal ramah dan kerap memberi mereka tip yang cukup banyak. Padahal mereka hanya diminta mengecek kondisi mobil dan memastikan semuanya aman.
Sagara mengangguk. "Iya. Tapi kali ini mobilnya datang bukan hanya mengecek kondisi atau servis biasa."
"Rusak parah?"
"Belum tahu." Sagara melirik ke arah mobil yang sedang ia kerjakan.
Andi ikut menoleh. "Mobil mahal masih kinclong begitu."
"Itu dia," gumam Sagara. "Sebelumya, aku sempat menduga sesuatu yang janggal dan setelah ku periksa lebih teliti ...."
"Bang Aga ...."
Seorang wanita datang sambil memainkan rambut pirangnya. Riasan wajahnya cukup tebal, parfum manisnya langsung tercium bahkan sebelum ia berhenti di depan mereka. Atasan yang dikenakannya cukup terbuka, dipadukan celana ketat yang mencolok perhatian.
Wanita itu tersenyum manis pada Sagara. "Bang Aga ... Bisa tolong cek mobil incess nggak?" tanyanya dengan nada dibuat lembut.
Andi yang tadi jongkok langsung berdiri sambil menyenggol pelan bahu Sagara. "Wih, pelanggan setia datang," godanya.
Sagara mendesah kecil. "Apanya lagi yang mau dicek, Mbak?" tanyanya sambil mengambil kain lain. Sagara mengenal wanita itu sebagai salah satu pelanggan tetap dan baru beberapa hari belakangan datang untuk perawatan rutin.
Wanita bernama Rina itu mendekat sedikit. "Nggak tau tuh." Bibirnya mengerucut manja. "Kayanya suara mesinnya aneh."
"Mobilnya mana?"
Rina menunjuk city car merah yang terparkir di depan bengkel. "Itu."
Sagara berjalan mendekat, sementara Rina mengikuti di sampingnya tanpa menjaga jarak.
"Incess sengaja ke sini karena yang lain nggak teliti," ucap wanita itu. "Kalau Bang Aga yang pegang, incess tenang."
Rekan-rekan bengkel langsung saling melirik sambil menahan senyum.
Sagara hanya membuka kap mobil tanpa banyak menanggapi. "Coba dinyalakan."
Rina masuk ke dalam mobil. Mesin menyala halus. Sagara mendengarkan beberapa detik, lalu mengetuk pelan bagian mesin. "Ngga ada masalah. Suaranya juga masih aman."
Rina turun lagi. Bukannya menjauh, ia malah berdiri lebih dekat di samping Sagara. "Bener kok, Bang," katanya manja. "Tadi suaranya nggak enak banget."
Sagara menutup kap mobil perlahan. "Nanti mobil Mbaknya biar dicek ulang sama Andi."
Wajah Rina langsung berubah kecewa. "Kok sama Bang Andi sih?" rengeknya. "Incess kan maunya sama Bang Aga. Jauh-jauh incess ke sini, cari alesan biar bisa deket sama Bang Aga, malah suruh Bang Andi yang ngerjain," keluhnya keceplosan.
Ucapan itu membuat salah satu mekanik di belakang hampir tersedak tawanya.
Sagara terkekeh pelan sambil menggeleng. "Kalau begitu Mbak incess rugi jauh-jauh datang ke bengkel."
"Kenapa rugi?"
"Soalnya tetep harus bayar."
Gelak tawa langsung pecah di dalam bengkel.
"Incess rela kok, Bang ... asal bisa ketemu Bang Aga," ucap Rina tak menyerah.
Andi yang berdiri tak jauh dari mereka menepuk keningnya sendiri. "Waduh parah. Kena pelet nih cewe atu."
Sagara hanya tersenyum kecil. Ia mengambil kembali kain lapnya, lalu membersihkan tangan yang penuh noda oli.
Rina memperhatikan beberapa saat sebelum kembali bersuara. "Bang Aga cakep gini, kok jadi montir sih?"
Belum sempat Sagara menjawab, Andi lebih dulu menyahut. "Emang kalau cakep nggak boleh jadi montir?"
Rina langsung melotot ke arah pria itu. "Bang Andi jangan ikut campur deh."
Tawa kembali terdengar.
Sagara menggeleng pelan melihat tingkah mereka. Suasana bengkel yang panas dan penuh suara mesin terasa lebih hidup dengan ocehan tanpa henti itu.
Rina kembali mendekat sedikit. "Serius, Bang. Kalau Bang Aga kerja di kantor atau jadi model pasti cocok." Ia memindai wajah tampan Sagara dan tubuh tinggi atletisnya.
Sagara memasukkan kain lap ke saku belakang celananya. "Sayangnya saya lebih cocok pegang kunci Inggris."
"Ya Ampun ...." Rina memegang dadanya dramatis. "Bang Aga yang rendah hati ini, bikin incess makin suka lagi."
"Udah, Mbak. Jangan ganggu mekanik produktif," goda rekan Sagara yang lain.
Rina mendecih pelan, tapi sudut bibirnya masih tersenyum. Sementara Sagara kembali melirik mobil di ujung bengkel.
Kilau bodinya masih bersih meski sempat mogok di tengah jalan. Sangat berbeda dengan suasana bengkel yang penuh noda oli dan suara besi beradu. Dan entah kenapa ... sejak tadi pikirannya terus kembali pada wanita pemilik mobil itu.
**** bersambung.