Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 malam penentuan dan runtuhnya menara obsidian
Menara Obsidian berdiri menjulang membelah langit Kota Batu Hitam, seolah tombak raksasa yang menantang dua bulan kembar di angkasa. Bangunan setinggi seratus meter itu adalah simbol otoritas mutlak, kediaman pribadi sekaligus benteng pertahanan Tuan Kota Yan Wu. Dindingnya terbuat dari lempengan batu hitam murni yang menyerap cahaya, dilapisi oleh ratusan formasi pelindung yang bersinar redup membentuk pola jaring laba-laba raksasa.
Di lantai paling atas menara, di dalam sebuah aula luas yang diterangi oleh lentera-lentera kristal yang mengambang, Yan Wu duduk bersila di atas ranjang batu giok dingin. Bahu kirinya yang hancur akibat pukulan Lin Chen beberapa hari yang lalu kini telah dibalut dengan perban sutra emas. Aroma obat-obatan tingkat tinggi yang sangat pekat memenuhi ruangan.
Sang Tuan Kota membuka matanya. Fluktuasi energi Tahap True Immortal Menengah beriak perlahan di sekitarnya, menggetarkan tirai-tirai sutra di dalam aula.
"Jaring Langit Hitam tidak menemukan apa pun," gumam Yan Wu pada dirinya sendiri. Wajahnya yang arogan terlihat sedikit pucat, namun matanya memancarkan rasa lega yang bercampur dengan keangkuhan. "Pemuda cacat itu pasti sudah menggunakan teknik pelarian terlarang untuk keluar dari kota. Sayang sekali, aku tidak bisa mengekstrak Esensi Logam Abadi dari mayatnya. Tapi setidaknya, ancaman itu telah lenyap."
Di luar pintu perunggu raksasa yang menjaga aula tersebut, empat pengawal bayangan pribadinya berdiri mematung. Mereka adalah elit di antara para elit, pembunuh bayaran tingkat Transformasi Fana Puncak yang telah disumpah darah untuk melindungi nyawa Yan Wu. Selama mereka berdiri di sana, tidak ada satu ekor lalat pun yang bisa masuk.
Yan Wu memejamkan matanya kembali, berniat menyerap esensi giok dingin untuk menenangkan meridiannya. Ia tidak tahu, bahwa kematian tidak berencana mengetuk pintu depan. Kematian sedang merayap naik dari luar jendela.
Di dasar Menara Obsidian, tersembunyi di balik bayang-bayang patung gargoyle batu yang besar, Lin Chen berdiri tanpa suara. Topeng besi kelabunya menutupi wajahnya dengan sempurna, menyisakan sepasang mata yang sedingin dasar Jurang Kehampaan.
Angin malam yang membawa debu bintang berhembus kencang, menampar jubah hitamnya. Di sekeliling menara, puluhan penjaga berpatroli dengan ritme yang ketat. Anjing-anjing pelacak spiritual mengendus udara, namun mereka tidak menyadari kehadiran Lin Chen. *Mutiara Ilusi Bayangan* mungkin telah hancur, namun sisa-sisa aroma energi yang tersamarkan semalam masih menempel tipis di jubahnya, mengelabui penciuman hewan-hewan buas itu.
Lin Chen menatap ke arah puncak menara yang tertutup awan gelap. Membantai seluruh penjaga di bawah dan menerobos naik lantai demi lantai adalah tindakan yang sangat tidak efisien. Hal itu hanya akan memberikan Yan Wu waktu untuk melarikan diri atau memanggil bala bantuan penuh.
Tepat saat ia menganalisis rute infiltrasi, layar cahaya biru holografik meledak di depan retinanya, membekukan waktu sesaat.
**[Situasi Infiltrasi Puncak Terdeteksi: Menara Obsidian.]**
**[Target: Yan Wu (Tahap True Immortal Menengah). Kondisi Pertahanan: Sangat Ketat di bagian dalam, Formasi Pelindung Eksternal aktif.]**
**[Silakan tentukan metode invasi Anda:]**
**[Pilihan 1: Susup ke ruang bawah tanah menara, hancurkan inti formasi pelindung, lalu gunakan kekacauan itu untuk menaiki tangga utama secara frontal.
Hadiah: Seluruh pertahanan menara lumpuh. Pasukan kota akan terbangun dan mengepung menara. Anda harus menghadapi ratusan penjaga sebelum mencapai Yan Wu.]**
**[Pilihan 2: Gunakan seragam pengawal yang bisa Anda rampas. Berjalan masuk dan menyusup secara perlahan melalui penyamaran hingga ke lantai atas.
Hadiah: Risiko pertempuran minim di awal. Kemungkinan penyamaran terbongkar di lantai 50 ke atas mencapai 90% karena pemeriksaan sidik aura darah.]**
**[Pilihan 3: Abaikan pintu masuk. Panjat dinding luar menara yang vertikal secara langsung. Gunakan Lengan Logam Abadi untuk menembus lempengan obsidian dan formasi pelindung tanpa memicu alarm.
Hadiah: Anda melewati seluruh pasukan pertahanan bawah. Mencapai target dengan elemen kejutan mutlak. Risiko: Menguras stamina fisik secara masif akibat melawan gravitasi ekstrim Dunia Tengah dan angin badai di ketinggian seratus meter.]**
Lin Chen membaca ketiga opsi tersebut dengan tatapan tanpa emosi. Pilihan pertama dan kedua adalah metode konvensional yang terlalu lambat dan berisiko tinggi menghadapi penundaan. Waktu adalah pedangnya malam ini. Hua Ruge dan Xue Ziyan sedang bergerak dalam bayang-bayang di luar sana; jika ia terlalu lama menyelesaikan eksekusi ini, rencana kudeta mereka akan berantakan.
Pilihan ketiga menuntut pengorbanan fisik yang brutal. Memanjat dinding obsidian lurus setinggi seratus meter di bawah gravitasi Dunia Tengah sama dengan menarik sebuah gunung menggunakan satu tangan.
"Penderitaan ini akan menjadi mahar untuk kepalanya," batin Lin Chen tajam. "Pilihan ketiga."
Layar biru memudar ditelan udara malam. Lin Chen melangkah keluar dari bayang-bayang patung gargoyle, melesat melewati titik buta patroli penjaga, dan menempelkan tubuhnya ke dasar dinding menara yang dingin.
Ia menekan seluruh aliran Qi fananya ke dalam Dantian, menyisakan murni kekuatan fisik. Lengan kirinya yang masih manusia mencengkeram celah kecil antar batu, namun tidak cukup kuat untuk menahan beban tubuhnya menembus formasi pelindung.
Pemuda itu menggerakkan Lengan Logam Abadinya dari balik jubah. Permukaan perak kehitaman itu tidak memantulkan cahaya. Ia tidak menggunakan Qi. Ia murni menggunakan kekuatan fisik dari artefak semi-ilahi tersebut.
Ia meninju dinding obsidian itu dengan pelan namun bertenaga.
*CRASH!*
Kelima jari logam abadi itu menembus batu obsidian sekeras intan itu seolah menembus tahu mentah. Formasi pelindung yang melapisi dinding beriak sesaat, namun karena lengan itu terbuat dari logam abadi murni yang menyerap energi alam, formasi tersebut tidak menganggapnya sebagai serangan Qi musuh, melainkan bagian dari lingkungan. Alarm tidak berbunyi.
Lin Chen menarik tubuhnya ke atas. Ia mencabut jari logamnya, menancapkannya kembali setengah meter lebih tinggi.
*Clank. Tarik. Clank. Tarik.*
Ia merayap naik layaknya laba-laba iblis. Sepuluh meter pertama terasa mudah. Memasuki ketinggian tiga puluh meter, gravitasi Dunia Tengah mulai menunjukkan taringnya. Udara dingin bertiup kencang, berusaha melepaskan cengkeramannya. Otot bahu dan punggung kiri Lin Chen merintih kesakitan, dipaksa menyeimbangkan tarikan absolut dari Lengan Logam Abadi di sebelah kanan.
Lima puluh meter. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Jari-jari tangan kirinya berdarah karena mencengkeram batu yang tajam, sementara tangan kanannya terus menghancurkan obsidian tanpa henti. Setiap otot di tubuh fananya dipaksa bekerja di luar batas toleransi manusia.
Delapan puluh meter. Angin badai di ketinggian menyayat seperti bilah pedang. Lin Chen menggigit bibirnya, matanya menatap tajam ke arah balkon pualam di lantai teratas yang kini tinggal berjarak dua puluh meter. Rasa sakit di bahu kirinya memudar, digantikan oleh mati rasa yang berbahaya. Jika ia melepaskan cengkeramannya sedetik saja, ia akan jatuh dan hancur berkeping-keping di bawah sana.
"Lebih cepat," perintahnya pada dirinya sendiri.
Ia mempercepat ritme panjatannya. Lengan Logam Abadinya bekerja bagai piston mesin pembunuh, menghancurkan batu demi batu dengan presisi mematikan.
Sembilan puluh sembilan meter.
Tangan perak kehitaman itu mencengkeram pinggiran balkon pualam putih di lantai teratas. Dengan satu sentakan tenaga terakhir yang merobek otot perutnya, Lin Chen melontarkan tubuhnya melewati pagar balkon, mendarat tanpa suara di atas lantai yang dilapisi karpet bulu binatang buas.
Ia telah tiba. Napasnya terengah-engah, namun ia menahannya dengan teknik *Napas Karang Esensi*. Ia berjongkok dalam kegelapan balkon, mengamati situasi di dalam melalui tirai sutra tipis yang tertiup angin.
Aula itu sangat luas. Yan Wu duduk di tengah, memunggunginya. Pintu utama dijaga dari luar. Tidak ada penjaga di dalam ruangan ini. Kesombongan seorang True Immortal membuatnya merasa aman dari ancaman udara.
Lin Chen berdiri perlahan. Ia menarik napas panjang, mengubah oksigen tipis Dunia Tengah menjadi bahan bakar murni di Dantiannya. Rasa lelah dari pendakian brutal itu ditekan ke dasar kesadarannya. Saatnya bertransformasi dari pendaki yang tersiksa menjadi algojo bayangan.
Ia melangkah menembus tirai sutra. Suara kain yang bergesekan sangat pelan, namun di telinga seorang True Immortal, suara itu sama kerasnya dengan ledakan petir.
Mata Yan Wu langsung terbuka lebar. Hawa membunuh yang sangat murni menyergap seluruh aula. Tuan Kota itu memutar tubuhnya dengan kecepatan kilat, tangan kanannya refleks meraih sebuah tombak perak yang bersandar di dekat ranjang gioknya.
"Siapa?!" raung Yan Wu.
Matanya melebar saat melihat sosok pemuda berjubah hitam bertopeng kelabu berdiri tepat di tengah aulanya. Topeng itu. Jubah itu. Lengan perak kehitaman yang menggantung santai di sisinya.
"Kau..." Suara Yan Wu tercekat. Keterkejutan menghancurkan postur arogannya. "Bagaimana kau bisa melewati formasi dan penjaga di bawah?! Iblis Satu Tangan... kau berani datang ke sarangku?!"
"Menara ini terlalu rapuh untuk disebut sarang," jawab Lin Chen datar. Suaranya bergema dingin di dalam aula mewah tersebut. "Aku berjanji akan mengambil kepalamu, Yan Wu. Aku benci membuat orang menunggu."
"Sombong!" raung Yan Wu, memulihkan kewarasannya. Amarah membakar wajahnya. Ia adalah Tuan Kota. Ia adalah penguasa mutlak. Dipermalukan dua kali oleh seorang Ascender adalah dosa yang tidak bisa diampuni. "Penjaga! Masuk dan bunuh dia!"
Suara perintah Yan Wu menggema keras. Namun, pintu perunggu raksasa di seberang ruangan tetap tertutup rapat. Tidak ada jawaban.
Yan Wu mengerutkan kening. "Penjaga!!"
Lin Chen tidak tersenyum, namun matanya memancarkan ejekan yang mematikan. Ia melangkah maju perlahan. "Jangan buang napasmu. Mereka tidak akan mendengarmu. Sebelum kau membuka mata, aku telah mematahkan leher keempat anjing penjagamu di luar pintu itu dari celah jendela ventilasi. Saat ini, hanya ada kau dan aku."
Fakta itu menghantam Yan Wu layaknya palu godam. Empat pengawal bayangan setingkat Transformasi Fana Puncak dibunuh tanpa mengeluarkan suara peringatan sedikit pun? Pemuda ini bukan manusia. Ia benar-benar hantu.
"Kalau begitu, aku akan mengulitimu sendiri!" teriak Yan Wu.
Sang Tuan Kota meledakkan seluruh aura True Immortal Menengah miliknya. Tekanan udara di dalam aula meningkat drastis. Perabotan kayu mahal hancur berkeping-keping, lentera kristal meledak, menyisakan pencahayaan dari cahaya bulan yang masuk melalui balkon.
Yan Wu tidak menahan diri. Ia langsung mengaktifkan teknik pamungkasnya. Tombak peraknya memancarkan cahaya merah darah yang menyilaukan.
"Domain Darah Besi!"
Seketika, ruangan itu dipenuhi oleh kabut berwarna merah pekat. Di dalam domain ini, kecepatan dan kekuatan Yan Wu meningkat dua kali lipat, sementara musuhnya akan merasa seolah bergerak di dalam lumpur tebal. Ini adalah keunggulan absolut dari seorang True Immortal: penguasaan ruang.
Yan Wu melesat ke depan. Kecepatannya meninggalkan belasan bayangan di belakangnya. Tombaknya menusuk lurus ke arah jantung Lin Chen, membawa kekuatan yang mampu membelah gunung kecil.
Lin Chen tidak panik. Terjebak di dalam domain musuh, ia merasakan tubuh fananya menjadi luar biasa berat. Namun, *Akar Tanah Besi* miliknya beresonansi. Ia tidak melawan tekanan itu, ia menelannya.
Tepat saat ujung tombak berjarak satu inci dari dadanya, Lin Chen mengangkat Lengan Logam Abadinya.
*CLANGGG!*
Lengan perak kehitaman itu menangkap mata tombak Yan Wu dengan cengkeraman telapak tangannya. Percikan api menyembur liar. Gelombang kejut dari benturan itu menghancurkan lantai batu giok di bawah kaki mereka.
"Kau tidak bisa mengalahkanku di dalam domainku!" raung Yan Wu, memutar gagang tombaknya, berusaha membor tangan Lin Chen.
"Domainmu," suara Lin Chen terdengar rendah dan bergemuruh. Lengan Logam Abadinya tidak mundur satu milimeter pun. "Hanyalah kandang yang kau buat untuk mengurung dirimu sendiri."
Lin Chen memutar *Napas Karang Esensi*. Kali ini, ia tidak menggunakan lengan kirinya untuk membentuk *Telapak Penghancur Bintang*. Ia mengalirkan energi perpaduan Yin dan Yang—dinginnya kematian dan panasnya magma vulkanik—langsung ke dalam Lengan Logam Abadinya.
Logam purba itu merespons dengan cara yang menakutkan. Rune biru di permukaannya berubah menjadi merah pijar. Lengan itu menyerap kompresi energi ekstrem tanpa risiko meledak, sebuah hal yang mustahil dilakukan oleh tubuh fana.
"Apa yang..." Yan Wu merasakan energi mematikan merambat dari ujung tombaknya. Ia mencoba menarik senjatanya kembali, namun cengkeraman Lin Chen sekeras penjepit dewa.
Lin Chen mengangkat tangan kirinya yang manusiawi, meraih poros tombak tersebut, menahannya agar tidak ditarik.
Lalu, ia memutar Lengan Logam Abadinya, melepaskan kekuatan destruktif yang terkumpul di dalamnya.
*Telapak Penghancur Bintang: Ledakan Abadi!*
*BZZZZZT! BOOOOOOMMMMM!*
Lengan logam itu menghantam pangkal tombak Yan Wu. Ledakan energi yang sangat purba dan merusak meletus. Tombak perak pusaka itu meledak menjadi ribuan serpihan logam tajam.
Gaya pantul dari ledakan tersebut menghancurkan *Domain Darah Besi* seketika. Kabut merah menghilang tersapu badai energi.
Yan Wu terlempar ke belakang dengan jeritan penderitaan. Dadanya dipenuhi luka sobek akibat serpihan senjatanya sendiri. Ia berguling-guling di atas karpet yang terbakar, memuntahkan darah segar yang bercampur dengan jaringan organ dalamnya. Bahu kirinya yang belum sembuh total kini kembali hancur berkeping-keping.
Tuan Kota Batu Hitam itu mencoba bangkit, menggunakan satu lengannya yang tersisa untuk menopang tubuhnya yang gemetar. Matanya dipenuhi teror murni. Ia tidak lagi melihat seorang Ascender rendahan; ia melihat seorang dewa kematian yang melangkah keluar dari mitologi kuno.
Lin Chen tidak terburu-buru. Ia melangkah perlahan mendekati Yan Wu yang tersudut di dekat dinding menara. Setiap langkahnya tenang, terukur, dan dipenuhi otoritas sang pemenang. Jubah hitamnya berkibar pelan.
"Kau menguasai kota ini dengan teror, Yan Wu," ucap Lin Chen. Lengan Logam Abadinya masih mengepulkan asap putih tipis. "Kau memaksa yang lemah masuk ke dalam Jurang Kehampaan. Kau pikir takhta obsidianmu akan melindungimu selamanya."
"T-Tunggu!" Yan Wu mengangkat tangan kanannya, memohon. Arogansi penguasa itu telah hancur sepenuhnya. "Jangan bunuh aku! Aku... aku bisa memberimu segalanya! Seluruh Kota Batu Hitam! Seluruh kekayaan di gudang bawah tanahku! Kristal Abadi, wanita, teknik rahasia... semuanya milikmu! Aku bersedia menjadi pelayan sumpah darahmu!"
Lin Chen menghentikan langkahnya, berdiri tepat menjulang di atas Yan Wu yang berlutut menyedihkan.
Pemuda bertopeng itu memiringkan kepalanya sedikit.
"Aku sudah memiliki semua yang kau tawarkan, Yan Wu," jawab Lin Chen dengan nada yang sangat dingin, membekukan sisa harapan di hati sang Tuan Kota. "Hanya ada satu hal darimu yang aku butuhkan malam ini."
Tanpa peringatan, dan tanpa memberikan kesempatan bagi Yan Wu untuk meledakkan jiwanya, Lin Chen mengayunkan Lengan Logam Abadinya dalam sebuah tebasan horizontal yang sangat cepat. Tepi lengan logam itu memotong udara dengan ketajaman melampaui pedang terbaik di Dunia Tengah.
*SRING!*
Suara tebasan itu nyaris tidak terdengar.
Mata Yan Wu mendelik lebar. Mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tidak ada suara yang keluar. Sedetik kemudian, garis merah tipis muncul di lehernya.
Kepala Tuan Kota Batu Hitam itu perlahan bergeser dari lehernya, lalu jatuh menggelinding ke atas karpet berlumuran darah. Tubuh tanpa kepala itu memancarkan air mancur darah sesaat sebelum akhirnya ambruk ke lantai, tak bernyawa.
Pertarungan telah usai. Kemenangan mutlak.
Lin Chen berdiri di tengah aula yang hancur berantakan. Ia tidak merayakan pembantaian tersebut. Ia berjongkok, menggunakan tangan kirinya untuk mencabut cincin spasial berlapis zamrud dari jari mayat Yan Wu. Itu adalah cincin yang menyimpan seluruh akses dan kekayaan inti Kota Batu Hitam.
Ia kemudian mengambil selembar kain sutra dari ranjang yang hancur, membungkus kepala Yan Wu, dan mengikatnya.
**[Peristiwa Takdir: Kejatuhan Menara Obsidian Terselesaikan.]**
**[Anda telah memenggal Tuan Kota Batu Hitam (True Immortal Menengah). Dominasi Anda di wilayah pinggiran Dunia Tengah telah terukir dalam darah.]**
**[Membuka Reputasi: 'Dewa Kematian Batu Hitam'. Asimilasi Lengan Logam Abadi mencapai 100%.]**
Lin Chen merasakan lengan peraknya berdenyut hangat. Tidak ada lagi penolakan dari artefak tersebut. Ia kini bisa mengendalikan lengan itu seringan lengan aslinya, tanpa batas, tanpa penundaan. Ia telah menjadi entitas yang utuh kembali, jauh lebih mematikan dari sebelumnya.
Pemuda itu berjalan menuju balkon yang hancur, membawa bungkusan kepala Yan Wu. Angin malam Gurun Debu Bintang menerpa wajahnya. Di bawah sana, kota masih terlelap dalam ketidaktahuan. Mereka tidak sadar bahwa langit di atas mereka baru saja berganti pemilik.
Tiba-tiba, dari arah gerbang utara kota, sebuah ledakan besar memecah keheningan malam. Api berkobar tinggi mewarnai langit malam menjadi merah. Disusul oleh suara dentuman dan sorakan perang yang samar-samar terdengar dari kejauhan.
Lin Chen menyipitkan matanya. Itu adalah sinyal. Nyonya Hua Ruge dan Nona Muda Xue Ziyan telah mulai bergerak. Mereka sedang membersihkan sisa-sisa loyalis Yan Wu dan Fraksi Pedang Darah di bawah. Kudeta yang dijanjikan sedang berlangsung.
"Waktunya mengumumkan raja baru," gumam Lin Chen.
Ia melangkah ke tepi balkon. Memusatkan Qi Tingkat Enam ke dalam rongga dadanya, ia menggunakan teknik penguatan suara. Suaranya tidak keras meledak-ledak, melainkan bergema berat dan meresap ke telinga setiap penduduk di seluruh penjuru Kota Batu Hitam.
"Penduduk Batu Hitam," suara Lin Chen menggelegar dari puncak Menara Obsidian. Orang-orang yang sedang tidur seketika terbangun dengan jantung berdebar. Pasukan penjaga kota mendongak ke atas dengan kebingungan.
"Tirani Yan Wu telah berakhir malam ini," lanjutnya, melemparkan bungkusan kain berisi kepala Yan Wu dari atas balkon. Bungkusan itu melayang jatuh sejauh seratus meter, mendarat dengan suara berdebum keras di tengah alun-alun depan menara, tepat di hadapan puluhan penjaga yang sedang berpatroli. Kain itu terbuka, memperlihatkan wajah membeku sang mantan penguasa.
Jeritan kengerian pecah di bawah sana. Pasukan penjaga kota menjatuhkan senjata mereka, lutut mereka gemetar melihat kepala majikan mereka yang tak terkalahkan kini menjadi sampah di jalanan.
"Barangsiapa yang berani mengangkat senjata atas nama Fraksi Pedang Darah atau loyalis Yan Wu, akan menyusulnya ke dalam Jurang Kehampaan," suara Lin Chen kembali turun, menyapu setiap sudut kota layaknya dekret kematian. "Mulai fajar menyingsing, Kota Batu Hitam berada di bawah perlindungan Paviliun Bayangan Bulan dan Keluarga Xue."
Selesai memberikan pengumumannya, Lin Chen berbalik dari balkon. Ia tidak berniat duduk di singgasana Tuan Kota. Kekuasaan politik dan mengurus kota adalah pekerjaan yang membosankan dan memperlambat langkah kultivasinya. Ia akan menyerahkan urusan itu pada wanita-wanita cerdas yang telah ia ikat dengan pakta darah dan kesepakatan.
Yang ia inginkan hanyalah sumber daya absolut dan kebebasan untuk terus mendaki menuju jantung Dunia Tengah.
Ia melesat keluar dari menara, menggunakan *Langkah Bayangan Iblis* untuk menuruni dinding obsidian dengan kecepatan kilat, menghilang ke dalam kegelapan kota yang kini sedang dilanda badai transisi kekuasaan.
Satu jam kemudian, di dalam ruang rahasia bawah tanah Paviliun Bayangan Bulan.
Hua Ruge berdiri menatap peta strategi Kota Batu Hitam di atas meja marmer. Cadar merahnya telah dilepas, memperlihatkan wajahnya yang menawan dan dipenuhi kepuasan. Pasukannya sedang menyapu bersih sisa perlawanan di utara tanpa hambatan berarti, moral musuh telah hancur total setelah mendengar deklarasi dari atas menara.
Pintu ruang rahasia terbuka. Lin Chen melangkah masuk. Jubahnya masih memiliki noda darah, namun auranya tenang dan tak tersentuh.
Melihat kedatangannya, Nyonya Hua tidak lagi bersikap menggoda dengan nada merendahkan. Wanita itu melangkah maju, lalu memberikan bungkukan hormat yang sangat dalam. Gestur penyerahan mutlak dari seorang penguasa dunia bawah kepada predator yang lebih besar.
"Tuan Lin Chen," sapa Hua Ruge, matanya berbinar penuh kekaguman. "Kabar kematian Yan Wu telah menyebar. Tiga perempat komandan penjaga kota telah menyerah tanpa syarat kepada Paviliun kami dan Keluarga Xue. Kota ini, secara de facto, adalah milik Anda."
Di sudut ruangan, Xue Ziyan melangkah maju. Ia juga membungkuk dalam-dalam. Kutukan Segel Darah di dahinya berdenyut pelan, namun kali ini ia tidak merasakan penyesalan. Berdiri di pihak pemenang utama ini telah melambungkan faksi keluarganya ke puncak kekuasaan.
"Tuan," tambah Xue Ziyan dengan nada hormat. "Kami telah mengamankan gudang perbendaharaan utama Yan Wu. Ribuan Kristal Abadi Menengah, bahan tambang langka, dan pusaka kota kini berada di bawah kendali kami."
Lin Chen berjalan mendekati meja marmer, mengabaikan pujian mereka. Ia melemparkan cincin spasial zamrud milik Yan Wu ke atas meja. Suara dentingannya membuat kedua wanita itu menahan napas.
"Bagi rata isi gudang dan cincin itu untuk faksi kalian," perintah Lin Chen datar, membuat Hua Ruge dan Xue Ziyan terbelalak kaget. Kekayaan sebesar itu diserahkan begitu saja?
"Aku hanya akan mengambil apa yang kubutuhkan untuk perjalananku selanjutnya," lanjut pemuda itu, menatap Peta Dunia Tengah yang tertempel di dinding. "Kota ini hanyalah pijakan. Mulai besok, kalian berdua adalah Penguasa Kembar Kota Batu Hitam. Kirimkan sepuluh persen dari keuntungan tambang ke rekening rahasia yang akan kuberikan nanti. Sebagai gantinya, jika ada utusan dari sekte pusat yang mencoba mengambil alih kota ini, sebutkan namaku. Biarkan mereka tahu bahwa Iblis Satu Tangan masih mengawasi tempat ini."
Hua Ruge tersenyum lembut, sebuah senyuman tulus yang jarang ia tunjukkan. "Anda menaklukkan sebuah kota hanya untuk melewatinya. Anda benar-benar pria yang menakutkan, Tuan Lin. Kami tidak akan mengecewakan Anda."
Lin Chen membalikkan badannya. Ia tidak membutuhkan pesta perayaan atau upacara penobatan. Di dalam kepalanya, Peta Dunia Tengah yang diberikan Sistem telah menyala terang, menunjukkan jalur ribuan mil melintasi Gurun Debu Bintang menuju wilayah yang lebih subur, lebih berbahaya, dan dipenuhi oleh sekte-sekte abadi yang sesungguhnya.
"Siapkan kereta binatang buas terbaik dan perbekalan untuk melintasi gurun," instruksi Lin Chen pada Xue Ziyan. Ia menoleh sedikit, matanya menyipit di balik topeng. "Aku berangkat besok pagi. Dan Nona Xue, pastikan Shen Yu dan keluarganya diberikan posisi logistik yang aman. Mereka berada di bawah perlindunganku."
"Sesuai perintah Anda, Tuan," jawab Xue Ziyan patuh, menyembunyikan sedikit rasa iri di balik nada suaranya.
Lin Chen melangkah keluar dari ruang rahasia tersebut. Malam ini, ia akhirnya bisa menutup matanya tanpa harus mendengarkan langkah kaki pembunuh bayaran. Ia telah menghancurkan sang tiran, menguasai kota, dan membuktikan bahwa hukum rimba Dunia Tengah tunduk pada tinjunya yang terbuat dari logam abadi. Besok, badai baru menantinya, dan sang Iblis siap untuk menelan langit yang lebih tinggi.