NovelToon NovelToon
SILK AND STEEL

SILK AND STEEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: lusi rohmah

Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.


Disclaimer: ini cerita pendek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RASA YANG TERSAMAR

Malam itu Alana sulit sekali memejamkan mata. Berbagai pikiran berputar terus di kepalanya, tak ada satu pun yang bisa ia singkirkan. Ia memikirkan ayahnya, memikirkan keadaan yang makin memanas, dan juga memikirkan Raka—kata-katanya, tatapannya, segala hal yang membuat hatinya terasa bergejolak.

Sampai larut malam, ia masih terjaga. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar sebentar, ingin menghirup udara yang lebih segar sekaligus menenangkan pikiran. Ia tahu ia tidak boleh berjalan sembarangan, tapi tempat ini sudah sepi dan ia kira tidak akan ada siapa-siapa yang melihatnya.

Ia berjalan pelan menyusuri lorong, cahaya lampu yang redup membuat bayangannya terlihat memanjang di lantai. Tanpa sadar langkah kakinya membawanya ke arah ruangan tempat ia dan Raka berbicara sore tadi. Pintu ruangan itu tidak tertutup rapat, ada celah kecil yang membuat cahaya dari dalamnya terlihat keluar.

Tanpa bermaksud mengintip, ia berhenti dan melirik ke dalam. Di sana, Raka duduk sendirian di kursi besarnya. Wajahnya tampak lelah, rambutnya yang biasanya tertata rapi sedikit berantakan. Di hadapannya ada banyak sekali kertas dan berkas-berkas yang tersebar di meja, dan tangannya sibuk memegang satu per satu, membaca dan sesekali menuliskan sesuatu.

Selama ini ia selalu melihat Raka sebagai orang yang kuat, yang tidak punya kelemahan apa pun, yang seolah bisa mengatasi segala hal dengan mudah. Tapi malam ini, ia melihat sisi lain dari dirinya. Ia terlihat seperti orang yang memikul beban yang sangat berat, beban yang harus ia tanggung sendirian selama bertahun-tahun.

Tanpa sadar kakinya melangkah masuk. Suara langkah kakinya yang pelan ternyata terdengar juga, membuat Raka langsung mendongak dan menatap ke arah pintu. Wajahnya yang tadinya terlihat lelah seketika berubah kembali menjadi datar dan tegas, begitu ia melihat siapa yang datang.

“Kenapa belum tidur?” tanyanya, nada bicaranya tidak keras tapi terdengar tegas.

Alana berhenti di ambang pintu, tangannya meremas ujung bajunya. “Aku... tidak bisa tidur. Aku hanya mau berjalan-jalan sebentar saja.”

Raka menatapnya lama, lalu menghela napas pelan dan memberi isyarat agar ia mendekat. “Kalau begitu, masuklah. Jangan berdiri di sana saja.”

Alana berjalan mendekat, tapi tetap menjaga jarak. Ia menatap sekeliling meja yang penuh dengan berkas-berkas itu, lalu menatap kembali ke wajah Raka.

“Kau masih sibuk saja sampai malam begini?” tanyanya pelan.

“Urusan tidak pernah ada habisnya. Apalagi sekarang keadaan sudah seperti ini, aku harus memastikan semuanya berjalan dengan baik. Kalau sampai ada satu saja yang keliru, semuanya bisa hancur begitu saja,” jawabnya, lalu meletakkan kertas yang dipegangnya dan menatap Alana lekat-lekat.

“Lalu kenapa wajahmu terlihat seperti itu? Masih takut? Atau masih marah padaku?”

Alana terdiam sejenak, lalu menjawab dengan jujur. “Aku tidak tahu. Rasanya semuanya bercampur aduk. Aku marah karena kau mengatur hidupku, aku takut karena keadaan makin berbahaya, tapi... aku juga kasihan melihatmu. Rasanya aneh, kan? Aku seharusnya membencimu, tapi kenapa ada perasaan seperti itu juga di dalam hatiku?”

Kata-kata itu membuat ekspresi wajah Raka berubah. Ada kilatan yang sulit dijelaskan terlihat di matanya. Ia berdiri dan berjalan mendekat, sampai jarak di antara mereka tidak ada apa-apa lagi.

“Kau tidak perlu merasa aneh. Aku juga merasakan hal yang sama,” katanya dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.

“Selama ini aku hanya tahu dua perasaan saja yaitu benci dan keinginan untuk membalas. Tapi sejak ada kau... ada perasaan-perasaan baru yang aku tidak pernah kenal sebelumnya. Perasaan yang membuat aku bingung, tapi juga membuat aku merasa hidup kembali.”

Ia mengangkat tangannya, lalu dengan perlahan dan hati-hati sekali, menyentuh pipi Alana. Gerakannya kali ini tidak ada paksaan sama sekali, malah terasa lembut seolah ia sedang memegang benda yang sangat rapuh dan takut akan merusaknya.

“Alana... aku tahu aku orang yang buruk. Aku tahu aku sudah melakukan banyak kesalahan, dan aku tahu aku tidak pantas mendapatkan orang sepertimu. Tapi percayalah, perasaanku padamu ini sungguh-sungguh. Aku tidak pernah berbohong dalam hal ini.”

Kata-kata itu, ditambah dengan sentuhan yang terasa hangat itu, membuat jantung Alana berdegup kencang. Ia ingin sekali menolak, ingin sekali menjauh, tapi tubuhnya seolah tidak mau menurut pada keinginannya sendiri. Ia menatap mata Raka, dan di sana ia tidak melihat orang yang berbahaya lagi, melainkan seorang pria yang sedang berusaha menyampaikan isi hatinya dengan jujur.

“Kalau perasaanmu itu benar-benar ada... kenapa kau tidak berhenti saja? Kenapa kau tidak memilih jalan yang lain, supaya kita bisa hidup dengan damai?” tanyanya, suaranya bergetar.

Raka tersenyum tipis, tapi senyum itu terasa sedih. “Kalau aku bisa, sudah lama aku melakukannya. Tapi semua ini sudah terlalu jauh berjalan. Kalau aku berhenti sekarang, aku dan orang-orang yang ada di sisiku akan hancur. Mereka akan dibunuh, semua yang sudah aku bangun dengan susah payah akan hilang begitu saja. Dan juga... ayahmu tidak akan pernah berhenti mengejarku. Selama aku masih hidup, ia akan selalu menganggapku sebagai musuh yang harus dihabisi.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat.

“Tapi satu hal yang bisa aku janjikan padamu... aku tidak akan menyakiti siapa pun yang tidak bersalah. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang kejam tanpa alasan. Aku akan berusaha sebisa mungkin supaya tidak ada darah yang tumpah, kalau memang masih ada jalan lain. Aku lakukan ini... semuanya ini, demi dirimu juga. Aku mau menjadi orang yang pantas ada di sampingmu, walaupun aku tahu itu hal yang sangat sulit.”

Alana tidak bisa berkata-kata. Air matanya tiba-tiba menetes lagi, bukan karena takut atau sedih, tapi karena perasaan yang campur aduk itu terasa makin membelenggu dirinya. Ia tahu bahwa apa yang ia rasakan ini salah, bahwa ia seharusnya tidak merasakan hal seperti ini pada orang yang dianggap musuh oleh ayahnya, oleh semua orang yang ia kenal. Tapi hati tidak bisa diperintah, bukan? Ia tidak bisa menghentikan perasaan itu tumbuh dan berkembang di dalam dirinya.

Melihat air mata itu, wajah Raka terlihat panik. Ia langsung menyekanya dengan ibu jarinya, gerakannya terlihat cemas.

“Kenapa menangis lagi? Apa yang aku katakan membuatmu sakit hati? Maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu,” katanya, nada bicaranya terdengar khawatir, sesuatu yang jarang sekali orang lain bisa melihatnya.

Alana menggeleng pelan. “Bukan... bukan karena itu. Aku hanya... aku bingung, Raka. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku pilih. Di satu sisi ada ayahku, orang yang paling aku sayangi selama ini. Di sisi lain ada kau... orang yang telah mengubah segalanya, tapi juga orang yang membuatku merasakan hal-hal yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasa terjebak di tengah-tengah, dan aku tidak tahu jalan mana yang harus aku ambil.”

Raka diam sejenak, lalu menariknya perlahan ke dalam pelukannya. Gerakannya tidak memaksa, ia memberi kesempatan bagi Alana untuk menolak kalau ia mau. Tapi Alana tidak melakukannya. Ia hanya diam saja, merasakan dada bidang yang memeluknya, merasakan detak jantung pria itu yang terasa teratur dan kuat.

“Kau tidak perlu memilih sekarang. Kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk memutuskan sesuatu yang sulit itu,” bisik Raka di samping telinganya.

“Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Aku akan menunggu, selama apa pun itu. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan apa pun yang tidak kau inginkan. Aku hanya mau kau tahu, bahwa di sini ada aku, yang akan selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi nanti.”

Pelukan itu terasa begitu hangat dan menenangkan, sampai-sampai Alana merasa semua beban yang ada di pundaknya seolah berkurang sedikit demi sedikit. Untuk pertama kalinya, ia merasa aman, merasa dilindungi, bukan karena ia dijaga atau dikurung, tapi karena ada seseorang yang benar-benar mau melindunginya dengan segenap jiwa dan raganya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang cepat terdengar dari luar ruangan. Keduanya langsung melepaskan pelukan itu dan berdiri terpisah, seolah tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi.

Pintu terbuka, dan orang yang sama yang datang membawa kabar sore tadi masuk lagi. Kali ini wajahnya terlihat jauh lebih pucat dan panik dari sebelumnya. Ia langsung berlutut di hadapan Raka, suaranya terdengar bergetar.

“Tuan, ada kabar buruk. Pasukan Gubernur sudah mendekat ke sini. Mereka sudah tahu lokasi tempat ini, dan mereka datang dengan jumlah yang banyak. Mereka mau menyerang, dan kemungkinan besar mereka akan tiba di sini kurang dari satu jam lagi.”

Berita itu membuat suasana yang tadinya terasa hangat dan tenang seketika berubah kembali menjadi gelap dan mencekam. Wajah Raka kembali berubah, tatapannya kembali menjadi tajam dan dingin, seolah sisi lembut yang baru saja muncul itu hanyalah ilusi semata. Ia menatap orang itu dengan pandangan yang sulit dibaca.

“Sudah aku duga hal ini akan terjadi,” katanya dengan suara yang tenang tapi penuh kekuasaan.

“Mereka benar-benar berani bergerak secepat ini. Baiklah, kalau mereka mau perang, aku akan tunjukkan padanya apa artinya berhadapan denganku.”

Ia berbalik dan menatap Alana. Tatapannya kali ini berbeda dari yang lain—ada kekhawatiran yang mendalam di dalamnya, sesuatu yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain.

“Dengar aku baik-baik. Sekarang kau harus pergi dari sini. Aku sudah menyuruh orang untuk menyiapkan tempat yang aman untukmu. Kau akan pergi ke sana, dan kau tidak boleh keluar dari sana sampai aku datang menjemputmu sendiri. Mengerti?”

Alana terkejut mendengarnya. “Apa?! Aku tidak mau pergi! Aku mau tetap di sini, aku mau tahu apa yang akan terjadi!”

“Tidak! Kau tidak boleh ada di sini saat perang terjadi nanti! Tempat ini akan jadi sangat berbahaya, aku tidak mau ada apa-apa yang menimpamu,” bentak Raka, tapi nada bicaranya bukan karena marah, melainkan karena rasa takut yang terpendam.

“Ini bukan permintaan, Alana. Ini perintah. Demi keselamatanmu, kau harus pergi sekarang juga.”

“Tapi... bagaimana denganmu? Kalau aku pergi, apa yang akan terjadi padamu?” tanyanya, air matanya kembali mengalir, kali ini karena rasa takut yang terasa begitu nyata.

Raka melangkah mendekat, lalu memegang kedua bahu Alana dengan kedua tangannya, menatap matanya dalam-dalam.

“Jangan khawatirkan aku. Aku sudah melalui hal-hal yang jauh lebih buruk dari ini, dan aku masih hidup sampai sekarang. Aku akan baik-baik saja. Aku janji. Tapi kau... kau harus tetap hidup dan selamat. Itu hal yang paling penting bagiku. Mengerti?”

Ia menariknya dan memeluknya sekali lagi, lebih erat dari sebelumnya, seolah ia mau menanamkan perasaannya itu ke dalam hati Alana supaya tidak pernah hilang.

“Pergilah sekarang. Dan ingat... apa pun yang terjadi, apa pun yang kau dengar atau kau lihat, percayalah padaku. Aku akan kembali padamu. Tidak peduli apa yang harus aku korbankan, aku akan kembali.”

Setelah itu, ia melepaskan pelukannya dan memberi isyarat pada orang yang ada di sana. Segera dua orang masuk dan berdiri di dekat Alana, siap untuk mengantarnya pergi.

Alana masih diam saja, menatap Raka dengan tatapan yang penuh dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia tahu ia harus menuruti keinginannya.

“Tolong... jaga dirimu baik-baik,” katanya pelan, satu-satunya kalimat yang bisa ia ucapkan saat itu.

Raka hanya mengangguk, dan menatapnya sampai ia benar-benar menghilang dari pandangan. Begitu pintu tertutup, senyumnya yang tadinya ada di wajahnya perlahan menghilang, digantikan dengan tatapan yang penuh amarah dan tekad yang kuat. Ia berbalik dan menatap orang-orang yang ada di ruangan itu, suaranya terdengar berat dan menggema.

“Siapkan semuanya. Kita akan terima kedatangan tamu-tamu kita itu. Dan ingat... tidak ada yang boleh menyakiti Gubernur William. Ia harus tetap hidup. Aku mau menghadapinya sendiri.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!