NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Di Dunia Immortal, langit tidak pernah benar-benar diam.

Awan putih melayang seperti lautan terbalik. Gunung-gunung raksasa berdiri di udara tanpa menyentuh tanah. Sungai cahaya mengalir di antara puncak-puncak batu, membawa energi spiritual yang jauh lebih padat daripada dunia manusia.

Di salah satu puncak tertinggi, berdirilah Sekte Awan Langit.

Sekte itu tampak seperti istana besar yang dibangun di atas awan. Pilar-pilar batu putih menjulang tinggi, tangga giok membentang panjang, dan ribuan pedang spiritual melayang di atas langit sekte seperti burung-burung logam yang menjaga wilayah suci.

Bagi murid-muridnya, Sekte Awan Langit adalah kebanggaan.

Bagi sekte kecil lain, namanya cukup untuk membuat mereka menunduk.

Namun malam itu, kebanggaan sekte tersebut terguncang oleh satu bunyi.

DONG.

Lonceng kuno di tengah aula utama berbunyi sendiri.

Suara itu tidak keras seperti petir, tetapi menyebar ke seluruh puncak sekte. Para murid yang sedang berlatih langsung berhenti. Pedang-pedang spiritual di udara bergetar. Beberapa burung spiritual terbang panik meninggalkan pepohonan giok.

DONG.

Lonceng itu berbunyi untuk kedua kalinya.

Wajah para tetua berubah.

Mereka tahu lonceng itu bukan lonceng biasa. Selama ratusan tahun, lonceng kuno itu hanya berbunyi jika ada perubahan besar di antara dunia-dunia kecil yang terhubung dengan Dunia Immortal.

DONG.

Bunyi ketiga membuat aula utama bergetar.

Di dalam aula, para tetua Sekte Awan Langit duduk berbaris dengan wajah serius. Di tengah ruangan, sebuah peta langit melayang di udara. Peta itu menampilkan ribuan titik kecil yang mewakili dunia fana, dunia kecil, dan beberapa celah ruang yang pernah ditemukan oleh sekte.

Kebanyakan titik redup.

Namun malam itu, satu titik kecil menyala terang.

Terang.

Lalu semakin terang.

Seorang tetua berjanggut putih berdiri dengan wajah terkejut.

“Dunia fana mana itu?”

Murid penjaga peta segera membaca tulisan yang muncul di bawah titik tersebut. Dahinya berkerut, seolah nama itu asing di lidahnya.

“Pontianak.”

Aula utama hening.

Beberapa tetua saling pandang.

“Pontianak?”

“Aku belum pernah mendengar dunia kecil bernama itu.”

“Itu bukan nama dunia. Sepertinya nama kota di salah satu dunia fana.”

“Mustahil. Bagaimana sebuah kota fana bisa membuat Lonceng Langit berbunyi?”

DONG.

Lonceng berbunyi untuk keempat kalinya.

Kali ini, seorang murid muda yang berdiri dekat peta tiba-tiba memuntahkan darah. Ia jatuh berlutut, wajahnya pucat. Peta langit di depannya bergetar hebat, lalu muncul satu simbol samar berbentuk mahkota retak.

Begitu simbol itu muncul, semua pedang spiritual di aula bergetar.

Sring.

Sring.

Sring.

Seperti ingin keluar dari sarungnya.

Atau seperti sedang ketakutan.

Tetua berjanggut putih menatap simbol itu dengan napas tertahan.

“Aura takhta…”

Seorang tetua perempuan di sisi lain langsung berdiri.

“Tidak mungkin. Otoritas takhta hanya dimiliki para dewa tinggi. Bagaimana bisa muncul di dunia fana?”

Dari kursi tertinggi, seorang lelaki tua membuka mata.

Ia tampak sangat tua. Rambutnya putih seluruhnya, kulitnya penuh keriput, tetapi tekanan yang keluar dari tubuhnya membuat seluruh aula langsung diam.

Namanya Leluhur Yun Cang.

Salah satu leluhur tertua Sekte Awan Langit.

Ketika ia membuka mata, tidak ada satu pun murid berani bernapas terlalu keras.

Yun Cang menatap peta langit lama sekali.

Wajah tuanya tidak menunjukkan banyak emosi, tetapi jarinya yang mencengkeram sandaran kursi sedikit bergetar.

Seorang tetua menyadari itu.

“Leluhur?”

Yun Cang tidak langsung menjawab.

Ia menatap simbol mahkota retak yang berdenyut di titik Pontianak.

Di dalam ingatannya yang telah tertutup debu ribuan tahun, ada sebuah cerita lama. Cerita yang tidak pernah diajarkan kepada murid biasa. Cerita yang hanya dibisikkan oleh para leluhur sekarat kepada pewaris mereka.

Tentang takhta yang pernah berdiri di atas langit.

Tentang pedang yang tidak memotong tubuh, tetapi menghukum nama, dosa, dan jiwa.

Tentang seorang penguasa yang membuat para dewa pun menunduk bukan karena hormat, tetapi karena takut.

Yun Cang menarik napas pelan.

“Siapa yang bertugas di luar gerbang ruang?”

Seorang murid maju dan berlutut.

“Luo Cheng, Leluhur.”

Begitu nama itu disebut, beberapa murid langsung menoleh ke arah pintu aula.

Seorang pemuda berjubah putih-biru berjalan masuk dengan langkah santai. Rambutnya panjang diikat rapi. Di pinggangnya tergantung sarung pedang spiritual yang indah. Wajahnya tampan, matanya tajam, dan senyumnya penuh keyakinan.

Ia adalah Luo Cheng.

Murid inti Sekte Awan Langit.

Di antara generasi muda, Luo Cheng termasuk salah satu murid yang paling dibanggakan. Bakat pedangnya tinggi, latar belakang keluarganya kuat, dan sifat angkuhnya sudah menjadi rahasia umum.

Namun karena ia memang berbakat, banyak orang memilih diam.

Luo Cheng memberi hormat sambil tersenyum.

“Leluhur memanggilku?”

Yun Cang menatapnya.

“Kau melihat titik di peta itu?”

Luo Cheng melirik peta langit.

Matanya langsung tertarik pada titik terang bernama Pontianak. Ada cahaya emas gelap berdenyut di sana, berbeda dari energi spiritual biasa.

Senyumnya melebar.

“Pusaka?”

Beberapa tetua saling pandang.

Tetua berjanggut putih berkata, “Belum pasti.”

Luo Cheng tertawa kecil.

“Jika energi sebesar itu muncul di dunia fana, apa lagi kalau bukan pusaka? Mungkin senjata dewa jatuh, atau makam kuno terbuka.”

Tetua perempuan mengerutkan kening.

“Jangan gegabah. Simbol itu tidak biasa.”

Luo Cheng menatap simbol mahkota retak dengan mata berkilat.

Justru karena tidak biasa, ia semakin tertarik.

Baginya, dunia fana hanyalah tempat rendah. Manusia di sana tidak memiliki kultivasi. Energi spiritualnya tipis. Harta apa pun yang muncul di sana tidak pantas dibiarkan berada di tangan makhluk lemah.

Kalau ia turun dan membawa pulang pusaka itu, posisinya di sekte akan naik.

Mungkin bahkan mendapat perhatian langsung dari leluhur.

“Leluhur,” ucap Luo Cheng sambil menunduk, “izinkan aku turun ke dunia fana itu.”

Aula menjadi hening.

Beberapa murid langsung menatapnya dengan iri.

Turun ke dunia fana memang berbahaya jika celah ruang tidak stabil, tetapi jika benar ada pusaka dewa, kesempatan seperti itu tidak datang dua kali.

Tetua berjanggut putih berkata, “Luo Cheng, jangan terlalu percaya diri. Lonceng berbunyi empat kali. Ini bukan kejadian kecil.”

Luo Cheng tersenyum.

“Tetua, justru karena bukan kejadian kecil, harus ada murid inti yang turun. Jika kita terlalu lama menunggu, sekte lain mungkin mencium jejaknya.”

Ucapan itu membuat beberapa tetua terdiam.

Ia benar.

Dunia Immortal tidak hanya dihuni Sekte Awan Langit. Ada sekte lain, klan kuno, pemburu harta, bahkan makhluk-makhluk gelap yang selalu mencari celah menuju dunia kecil.

Jika titik itu dibiarkan, orang lain bisa bergerak lebih cepat.

Yun Cang menatap Luo Cheng.

“Kau boleh turun.”

Senyum Luo Cheng semakin jelas.

Namun sebelum ia sempat berterima kasih, Yun Cang melanjutkan dengan suara berat.

“Tapi ingat satu hal.”

Luo Cheng mengangkat wajah.

“Jika itu pusaka, bawa kembali.”

“Baik, Leluhur.”

“Tapi jika kau menemukan pemilik dari aura itu…”

Aula mendadak terasa lebih dingin.

Yun Cang menatap titik Pontianak dengan mata dalam.

“Jangan menyentuhnya.”

Luo Cheng terdiam.

Beberapa murid saling pandang.

Pemilik?

Bagaimana mungkin dunia fana memiliki pemilik dari aura setinggi itu?

Luo Cheng menahan tawa kecil.

“Leluhur terlalu berhati-hati. Dunia fana tidak mungkin memiliki makhluk yang mampu mengendalikan aura seperti ini.”

Yun Cang menatapnya tajam.

Tekanan leluhur turun dalam sekejap.

Luo Cheng langsung menunduk, senyumnya hilang.

“Aku mengerti.”

Namun di dalam hatinya, ia tidak mengerti.

Bukan karena tidak mampu.

Melainkan karena tidak mau.

Baginya, peringatan itu hanya ketakutan orang tua yang terlalu lama hidup. Dunia fana tetap dunia fana. Tidak ada alasan bagi murid inti Sekte Awan Langit untuk takut pada manusia rendah.

Di sudut aula, seorang perempuan muda berdiri diam.

Ia mengenakan jubah putih sederhana dengan pinggiran biru muda. Rambutnya panjang, wajahnya tenang, dan matanya jernih. Tidak seperti Luo Cheng yang bersinar karena kesombongan, perempuan itu tampak seperti air yang tenang.

Namanya Mei Lan.

Ia juga murid inti, tetapi berbeda dari Luo Cheng, Mei Lan tidak suka mencari perhatian.

Sejak tadi, pandangannya tertuju pada simbol mahkota retak di peta langit.

Entah kenapa, semakin lama ia melihat simbol itu, semakin kuat rasa tidak nyaman di dadanya.

Bukan karena takut pada pusaka.

Tapi karena simbol itu terasa seperti mata yang menatap balik.

Mei Lan melangkah maju.

“Leluhur, izinkan aku ikut turun.”

Luo Cheng menoleh kepadanya.

“Mei Lan?”

Beberapa tetua tampak terkejut.

Mei Lan memberi hormat.

“Jika sumber energi itu berbahaya, Luo Cheng tidak seharusnya turun sendirian.”

Luo Cheng tertawa kecil.

“Kau mengkhawatirkanku?”

Mei Lan menatapnya datar.

“Aku mengkhawatirkan sekte.”

Wajah Luo Cheng sedikit berubah.

Beberapa murid menahan senyum.

Namun Yun Cang menggeleng pelan.

“Tidak. Untuk saat ini, cukup satu orang yang turun.”

Mei Lan mengangkat wajah.

“Leluhur?”

“Celah menuju dunia fana itu belum stabil. Jika terlalu banyak energi kultivator masuk bersamaan, celah bisa runtuh dan menarik perhatian pihak lain lebih cepat.”

Mei Lan menunduk, tetapi matanya tetap menyimpan kekhawatiran.

“Baik.”

Yun Cang menatap Luo Cheng lagi.

“Kau turun sebagai penyelidik, bukan penakluk.”

Luo Cheng memberi hormat.

“Baik.”

“Jangan membunuh manusia fana tanpa alasan.”

“Baik.”

“Jangan membuat keributan besar.”

“Baik.”

“Dan jangan meremehkan apa yang tidak kau pahami.”

Luo Cheng sedikit tersenyum.

“Baik, Leluhur.”

Jawabannya patuh.

Namun semua orang yang mengenal Luo Cheng tahu, patuh di mulutnya tidak selalu berarti patuh di hatinya.

Gerbang ruang mulai dibuka.

Empat tetua berdiri mengelilingi peta langit. Mereka mengangkat tangan bersamaan. Energi spiritual biru-putih mengalir dari telapak tangan mereka, membentuk lingkaran besar di tengah aula.

Simbol-simbol kuno berputar di udara.

Peta langit memancarkan cahaya, menghubungkan titik Sekte Awan Langit dengan titik kecil bernama Pontianak.

Udara bergetar.

Lantai aula memancarkan cahaya tipis.

Di tengah lingkaran, sebuah gerbang mulai terbuka. Bagian dalamnya tampak seperti pusaran awan biru dengan kilatan petir putih di dalamnya.

Luo Cheng berjalan menuju gerbang itu.

Mei Lan tiba-tiba berkata, “Luo Cheng.”

Ia berhenti, lalu menoleh.

Mei Lan menatapnya serius.

“Kalau kau merasakan sesuatu yang salah, mundur.”

Luo Cheng tersenyum miring.

“Di dunia fana?”

Mei Lan tidak membalas senyumnya.

“Kesombongan membunuh lebih banyak murid berbakat daripada musuh kuat.”

Senyum Luo Cheng menghilang sesaat.

Lalu ia tertawa pelan.

“Kau terlalu serius.”

Ia berbalik ke arah gerbang.

“Tenang saja. Aku hanya akan mengambil pusaka, memberi sedikit pelajaran kepada manusia rendah yang berani menyentuhnya, lalu kembali.”

Mei Lan menatap punggungnya dengan mata semakin gelap.

Yun Cang menutup mata.

Seolah ada sesuatu yang tidak ingin ia lihat.

Luo Cheng melangkah masuk ke gerbang.

Cahaya biru menelannya.

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!