NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 : KEJADIAN YANG TERJADI SECARA BERUNTUN

Senin pagi, ruang kerja Kirana di lantai dua puluh PT Harsono Group terasa lebih dingin dari biasanya. Kirana menatap layar laptop di hadapannya dengan dahi berkerut. File presentasi untuk meeting vendor Jepang yang telah ia kerjakan tiga malam berturut-turut tiba-tiba menghilang. Bukan hanya tidak ada di folder, bahkan riwayat file pun kosong seolah tidak pernah dibuat.

Kirana menarik napas pelan. "Tiga puluh miliar... nggak mungkin hilang gitu aja." gumamnya pelan.

Pintu diketuk pelan. Rani, asistennya, masuk dengan wajah pucat.

"Bu Kirana... ada kabar buruk."

Kirana mengangkat kepala. "Ada apa, Rani?"

Rani menyerahkan tablet. "Vendor kain Jepang baru saja kirim email. Mereka batalkan kerja sama karena dapat penawaran lebih baik dari pihak lain."

Kirana menerima tablet itu tanpa ekspresi. Baru saja ia selesai membaca, telepon meja berdering lagi.

Rani angkat telepon. "Halo... iya Pak. Baik, saya mengerti."

Setelah menutup telepon, Rani menatap Kirana dengan cemas. "Bu... vendor bahan baku dari Korea dan Malaysia juga batal. Alasannya sama."

Kirana terdiam. "Semuanya dalam waktu bersamaan? Ini nggak mungkin kebetulan."

Lantai dua puluh mulai heboh. Staf hilir mudik dengan wajah tegang. Telepon berbunyi tanpa henti. Kirana segera menuju ruang rapat krisis. Lima manajer divisi sudah menunggu dengan wajah tegang.

Manajer keuangan berdiri. "Bu Kirana, saham perusahaan anjlok tujuh persen sejak pagi. Analis pasar bilang ada rumor buruk soal pembatalan kerja sama kita."

Kirana mengangguk pelan. "Sepertinya ada yang ingin sengaja menjatuhkan kita. Ini sudah jelas."

Kirana menatap Rani. "Siapa saja yang punya akses ke file presentasi vendor Jepang selain aku?"

Rani ragu sejenak. "Hanya Ibu... dan Pak Arga sebagai wakil direktur utama."

Kirana terdiam. "Arga? Nggak mungkin. Dia nggak akan melakukan hal seperti ini." Kirana merasa sangat yakin bukan Arga pelakunya.

Satu jam kemudian, rapat direksi mendadak digelar di lantai dua puluh dua. Meja oval kayu jati sudah penuh oleh delapan direktur perusahaan. Pak Harsono duduk di ujung meja dengan wajah serius. Arga duduk di sebelahnya dengan ekspresi datar. Kirana duduk di seberang Arga sebagai kepala divisi pengembangan.

Pak Harsono membuka rapat dengan suara berat. "Saham perusahaan anjlok tujuh persen. Tiga vendor besar membatalkan kontrak dalam satu hari. Ini masalah serius."

Pak Budi selaku direktur keuangan angkat suara. "Pak, ini bukan kebetulan. Ada pihak yang sengaja menyerang perusahaan dari dalam."

Pak Hendra selaku direktur operasional langsung menatap Arga. "Dan yang lebih parah, file presentasi vendor Jepang hilang. Bukankah itu berada di bawah tanggung jawab divisi Wakil Direktur Utama?"

Semua mata di ruangan itu tertuju pada Arga.

Arga menjawab tenang. "File itu berada di bawah divisi Bu Kirana, Pak Hendra."

Pak Hendra mengangkat alis. "Tapi Pak Arga sebagai wakil direktur utama bertanggung jawab penuh atas semua divisi, kan?"

Kirana langsung berdiri. "Pak Hendra, saya yang bertanggung jawab atas file itu, bukan Pak Arga. Tapi saya pastikan file itu hilang bukan karena kelalaian kami." Suaranya tegas membuat ruangan sedikit hening.

Pak Budi tidak berhenti. "Bu Kirana, Anda baru tiga bulan bergabung di perusahaan ini. Dan sekarang terjadi masalah besar seperti ini. Kami mulai mempertanyakan kemampuan Anda memimpin divisi."

Kirana mengepalkan tangan di bawah meja. "Pak Budi, saya menghargai keraguan Anda. Tapi saya mohon waktu tiga hari untuk membuktikan bahwa ini bukan kesalahan kami."

Pak Harsono mengangkat tangan. "Sudah cukup. Arga, sebagai wakil direktur, saya beri kamu waktu tiga hari untuk menyelesaikan ini. Kalau tidak ada hasil, dewan direksi akan mengambil alih."

Arga mengangguk pelan. "Baik, Pak." Rahang Arga sedikit mengeras. Arga tau posisi nya saat ini tengah di pertanyaannya. Semua masalah ini terjadi terlalu cepat, bahkan hanya dalam beberapa jam.

"Ini tidak masuk akal." Arga merasa ada yang tidak beres dengan semua kejadian ini. Kalau dipikir secara logika ini sama saja ada yang ingin menjatuhkan Kirana. Karena yang memegang file utama adalah Kirana.

Kirana duduk kembali.Dia bingung, Dia marah tapi semuanya telah terjadi. Ada yang mencuri file nya tapi dia tak bisa menuduh sembarang orang. Dan juga dia yakin Arga tak mungkin berbuat seperti itu. Kemudian Ia menatap Arga sesekilas.

"Aku nggak marah karena aku diragukan. Tapi Aku gak suka mereka meragukan kamu Arga. Maafkan aku Arga, kamu ikut terseret karena kelalaian ku." batinnya dia merasa bersalah karena masalah ini beberapa Direksi mulai meragukan posisi Arga.

Setelah rapat selesai, Kirana langsung menuju ruang kerja Arga. Pintu ruang kerja itu tertutup. Kirana mengetuk pelan. "Arga, boleh saya masuk?"

"Silakan." Suara Arga terdengar datar.

Kirana masuk. Arga duduk di kursi dengan laptop terbuka. Ekspresinya tetap dingin seperti saat di ruang rapat.

Kirana langsung bicara. "Arga, ada masalah besar. File hilang, vendor batal, saham anjlok. Aku nggak mungkin sabotase perusahaan sendiri, kamu percaya aku kan?"

Arga menatap Kirana dalam diam cukup lama.

"Kirana... ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Arga pelan.

DEG

Kirana kaget. "Menyembunyikan apa? Aku nggak mengerti, Arga." Kirana Bingung.

Arga menutup laptopnya pelan. "Kalau begitu kenapa kamu nggak cerita kalau kamu makan malam dengan pak Rayhan minggu lalu di Hotel Merdeka?" Arga tersenyum sinis.

Kirana terdiam. "Makan malam... dengan Rayhan? Arga, itu... itu cuma pertemuan kerja."

Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap Kirana dengan pandangan yang mulai berubah.

Keraguan sudah mulai muncul di matanya.

Kirana memilih keluar dari ruangan dengan hati sesak. "Kenapa Arga bisa berfikir seperti itu? kenapa dia jadi dingin seperti ini? Padahal baru beberapa hari lalu kita mulai saling terbuka." batinnya.

FLASHBACK ON

Hari itu cuaca Jakarta panas. Kirana melangkah keluar dari kantor dengan map dokumen di tangan dia tidak sendiri Rani juga ikut bersamanya. Meeting kali ini tidak diadakan di kantor PT Harsono Group, tapi di cafe lantai 15 Hotel Merdeka. Alasannya sederhana, Rayhan yang minta karena ada tamu dari luar kota yang ikut hadir.

Kirana melirik jam di pergelangan tangan. Pukul dua siang. “Semoga pertemuan ini berjalan lancar.” gumamnya pelan.

Di dalam cafe, Rayhan sudah duduk di meja sudut bersama seorang wanita berjas hitam. Wanita itu adalah sekretaris Rayhan, namanya Maya.

Kirana tersenyum profesional lalu duduk di hadapan mereka. Di sebelahnya, Rani sudah menyiapkan laptop dan dokumen.

Rayhan berdiri sebentar lalu tersenyum. “Selamat siang, Bu Kirana. Terima kasih sudah bersedia bertemu di luar kantor.” Sapa Rayhan ramah.

Kirana mengangguk. “Selamat siang, Pak Rayhan. Saya harap pertemuan ini tidak mengganggu waktu Anda.” Kirana dan Rani duduk bersebelahan.

Maya langsung menyerahkan folder berisi proposal. “Ini draft kerja sama yang sudah kami revisi, Bu Kirana.”

Kirana membuka folder itu. “Bagus. Saya sudah baca sebelumnya. Hari ini kita hanya perlu bahas poin harga dan jangka waktu kontrak.”

Percakapan pun berjalan formal. Tidak ada candaan. Tidak ada basa-basi yang aneh.

Rayhan menjelaskan data pasar. Maya mencatat semua poin penting. Rani sesekali mengajukan pertanyaan teknis. Kirana sesekali mengangguk sambil menandai beberapa bagian di dokumen.

“Jadi kita sepakat untuk masa kontrak dua tahun dengan opsi perpanjangan?” tanya Kirana.

Rayhan mengangguk. “Betul, Bu Kirana. Saya pikir itu skema yang paling adil untuk kedua belah pihak.”

Kirana menutup folder. “Baik. Saya akan bawa draft ini ke direksi. Kalau tidak ada perubahan, kita bisa tanda tangan minggu depan.”

Setelah meeting selesai Rayhan sengaja mengajak Kirana untuk sekalian makan siang bersama. Tidak berdua saja tentunya ada Maya sekretaris Rayhan dan Rina Asisten Kirana.

Rayhan tersenyum tipis. “Terima kasih atas waktunya, Bu Kirana. Saya senang kita bisa bekerja sama secara profesional.”

Kirana berdiri. “Saya juga, Pak Rayhan. Sampai jumpa minggu depan.”

Rani mengemasi laptop. “Bu, kita langsung balik kantor?”

Kirana mengangguk. “Iya, Ran. Kita harus laporkan hasil meeting ini ke Pak Harsono.”

Mereka berempat keluar dari cafe. Tidak ada yang aneh. Hanya pertemuan bisnis biasa.

DI TEMPAT LAIN - KANTOR PT HARSONO GROUP

Arga duduk di ruang kerjanya dengan ponsel di tangan. Sebuah email anonim baru saja masuk ke inbox pribadinya. Subjeknya kosong. Tidak ada nama pengirim.

Arga kemudian membuka file misterius itu. Ada empat lampiran foto. Tapi kalau di perhatian kan secara jeli mungkin lebih seperti editan. Arga yang memang sedikit overthinking apalagi itu menyangkut Kirana.Makanya dia tak sempat memperhatikan detail itu.

Foto pertama, Kirana duduk bersama Rayhan di cafe Hotel Merdeka.

Foto kedua, Kirana dan Rayhan tampak sedang tertawa.

Foto ketiga, Kirana dan Rayhan tampak sedang makan malam berdua dengan jarak yang sangat dekat.

Dan yang terakhir, foto saat Kirana dan Rayhan berjalan keluar lobby hotel hanya berdua tampak sangat dekat terlalu dekat. Bahkan tampak kirana tersenyum kepada Rayhan.

Arga mengerutkan kening. “Hotel Merdeka? Bukannya itu tempat meeting vendor Jepang minggu lalu?” Ia memperbesar foto itu. Wajah Kirana terlihat jelas. Senyumnya terlihat akrab.

Arga diam. Ia tidak langsung marah. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.

“Kenapa Kirana tidak cerita kalau dia makan malam dengan Rayhan?” batinnya.

Arga menyimpan foto-foto itu di folder tersembunyi di ponselnya. Ia tidak berencana menunjukkan foto itu ke Kirana sekarang.

Ia ingin menunggu. Menunggu Kirana yang cerita sendiri.

“Kalau Kirana memang tidak ada apa-apa... dia pasti akan jelaskan.” gumam Arga pelan.

Tapi di dalam hatinya, keraguan sudah mulai tumbuh.

FLASHBACK OFF

Sore harinya, ruang kerja Kirana sudah sepi. Ia duduk sendirian dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Di mejanya terdapat tumpukan laporan kerugian yang baru masuk. Kerugian hari ini mencapai empat koma dua miliar rupiah.

Kirana memegang kepalanya. "Kenapa semua terjadi bersamaan? Siapa yang benci aku sampai segitunya?"

Ia merasa seperti ada bayangan besar yang sedang mengintai dari belakang. Bayangan yang tidak terlihat, tetapi dampaknya terasa di seluruh perusahaan. Tina-tiba ada perasaan takut yang datang entah dari mana. Untuk pertama kalinya Kirana merasa takut. Dia takut Papanya

kecewa, takut tidak bisa melindungi perusahaan ini. Dan, Kirana takut Arga menjauh.

Di lantai dua puluh delapan, seorang staf baru saja tampak keluar dari ruang server. Ia menutup pintu pelan lalu berjalan menuju toilet di sudut lantai. Setelah memastikan tidak ada orang, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

Panggilan telepon segera tersambung. Suara di seberang terdengar datar dan berwibawa.

Staf itu berbicara pelan, seperti berbisik. "Tahap pertama sudah selesai, Pak. File sudah dihapus dan vendor sudah dikonfirmasi membatalkan kontrak. Saham perusahaan juga sudah mulai turun sesuai rencana."

Suara di seberang menjawab singkat. "Bagus. Jangan berhenti sampai di sini."

Staf itu menelan ludah. "Lalu langkah selanjutnya apa, Pak?"

Suara di seberang terdengar lebih pelan. "Buat hubungan mereka retak. Buat Arga tidak percaya pada Kirana."

Staf itu hanya mengangguk meskipun orang di seberang tidak bisa melihatnya. "Baik, Pak. Saya mengerti." Ia lalu mematikan panggilan dan menghapus riwayat panggilan tersebut.

Orang itu keluar dari toilet dengan langkah biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Di balik senyum sopannya, ada rahasia besar yang sedang ia sembunyikan.

[ BERSAMBUNG..]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!