Song Jiao, di kehidupan pertamanya dia adalah Jenderal Wanita terkuat yang berhasil menguasai Dunia, tapi hidupnya berakhir begitu cepat karena sebuah penyakit bawaan yang belum ada obatnya.
Tetapi jiwa berdarah-darah Song Jiao tidak diterima di Surga maupun Neraka, hingga pada akhirnya dia harus menjalani kehidupan kedua sebagai Song Jiao yang lain, yaitu putri Raja yang kehilangan statusnya setelah gagal mengkudeta Kekuasaan Kaisar yang tidak lain adalah Kakaknya sendiri.
Terbangun di tubuh gadis muda kurus yang lemah di akhir musim dingin, ingatan asing diterima Song Jiao begitu membuka mata, dan dari dalam ingatan itu dia tau hidupnya tinggal sebatang kara, dimana orangtuanya meninggal sebelum datangnya musim dingin, lalu para pelayan yang tersisa pergi setelah mengambil seluruh harta milik keluarga Song Jiao.
Tanpa harta, tanpa kekuatan, juga tanpa orang yang bisa diandalkan. Sanggupkah Song Jiao menjalani kehidupan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cetak Biru Senjata Baru
Kota Hanyue.
Pagi yang cerah menyambut Song Jianyu, Jenderal muda Kekaisaran Huangtian yang malam tadi berhasil memukul mundur pasukan Kavaleri Xue Long.
Raja Beiliang, Song Yanzhe yang masih tinggal di perkemahan pasukan Serigala Salju, dia menyambut langsung kepulangan Song Jianyu dengan senyum lebar di wajahnya.
'Anak ini jauh lebih berguna dari ayahnya yang terlalu setia pada Kaisar, tapi pada akhirnya justru menderita karena kebodohan Kaisar!'
Sudah belasan tahun lamanya dia merawat Song Jianyu, dan selama kurun waktu itu dia puas dengan pion yang satu ini.
"Ayahanda, aku persembahkan kemenangan ini pada Ayahanda!"
Song Jianyu bicara sembari berlutut penuh hormat di hadapan Raja Beiliang, menunjukkan kepatuhan dan sikap hormat seorang anak pada ayahnya.
"Kemenangan yang luar biasa. Kamu memang tidak pernah mengecewakan ayah!~"
"Bangkitlah, dan sebaiknya kamu segera mengobati luka-lukamu, lalu istirahat sampai siang nanti!"
Ucapan Raja Beiliang sudah seperti perintah bagi Song Jianyu, dan dia patuh pada apapun yang diucapkan oleh pria itu.
Begitu Song Jianyu pergi, Raja Beiliang kembali ke dalam tendanya, dan dia mendapati seseorang telah menunggunya di dalam tenda.
"Bagaimana, apa kau sudah berhasil mendapatkan kabar terbaru dari Kota Beixuan?"
Raja Beiliang menatap pria bertopeng, salah satu mata-mata terbaik yang dimilikinya.
"Yang Mulia, jalan tersembunyi yang selama ini menjadi jalur keluar masuk Kota Beixuan telah ditutup, membuat hamba tidak lagi bisa melewati jalan itu~"
"Saat mencoba melewati jalanan lain, hamba sama sekali tidak bisa melewati penjagaan ketat prajurit keluarga Qin yang bertugas di atas benteng Kota!"
Mendengar sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, Raja Beiliang merasa kesal, tapi tanpa adanya informasi dari orang-orangnya di Kota Beixuan, dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa atas tempat itu.
"Kirim lebih banyak orang, dan paling lambat besok pagi aku harus mendapatkan informasi terbaru dari Kota Beixuan!"
"Baik, Yang Mulia, hambar permisi!"
Tertinggal seorang diri di dalam tenda. Di tengah keheningan yang menyelimuti suasana di dalam tenda, tiba-tiba saja Raja Beiliang merasakan adanya firasat buruk.
"Kota Beixuan dan keluarga Qin. Entah kenapa aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, dan itu berhubungan dengan keluarga Qin!"
Lirih suara Raja Beiliang terdengar, sebelum akhirnya dia memanggil beberapa wanita muda untuk masuk ke dalam tendang, dan meski hari masih pagi, semua itu tidak menghalangi kesenangan sang Raja.
***
Kediaman keluarga Qin.
Pagi ini selesai sarapan, Qin Tianyu menggunakan jasa Paviliun Yinsha untuk mengantarkan sedikit bukti ke tangan Kaisar Song Zhentian.
Ada dua bukti yang dikirim ke ibu kota.
Satu bukti menunjukkan hubungan antara Raja Beiliang, Song Yanzhe dengan Pangeran Kedua Kekaisaran Xue Long.
Lalu yang lainnya merupakan bukti bahwa keluarga Song Jiao tidak pernah ada niatan melakukan pemberontakan.
Itu hanya sebagian kecil bukti yang dimiliki keluarga Qin, dan jika bukti hilang di tengah jalan, masih ada bukti lain yang lebih meyakinkan.
"Seberapa besar keyakinan Paman tentang bukti itu bakalan sampai ke tangan Yang Mulia Kaisar?"
Song Jiao bertanya pada Qin Tianyu.
"Aku cukup yakin barang bukti itu akan tiba di tangan Kaisar. Anggota Paviliun Yinsha seharusnya merupakan orang-orang yang bisa dipercaya, apalagi mereka telah menerima bayaran mahal!"
Jawaban Qin Tianyu terdengar meyakinkan bagi Song Jiao.
"Apa sebelumnya Paman sudah mencoba mengirim bukti-bukti serupa ke ibu kota?"
Qin Tianyu menganggukkan kepala.
"Mo Yan yang bertugas mengirim barang bukti ke ibu kota, dan sejak barang bukti awal yang dikirim lewat tangan Mo Yan, sampai sekarang tidak ada balasan dari ibu kota."
Jika itu dulu, Qin Tianyu akan percaya saat Mo Yan menyampaikan padanya adanya kemungkinan ketidakpedulian Kaisar pada keluarga Qin, juga pada keluarga Song Jiao.
Tetapi sekarang begitu tau siapa sebenarnya Mo Yan, Qin Tianyu yakin surat dan barang bukti yang dikirim keluarga Qin ke ibukota tidak pernah sampai ke tangan Kaisar, dan itu semua adalah perbuatan yang dilakukan oleh Mo Yan.
"Kalau yang mengirim ke ibu kota orang itu, kemungkinan surat maupun barang bukti yang dikirim keluarga Qin, semuanya akan berakhir di tangan Raja Beiliang, cukup untuk membuat orang itu semakin membenci keluarga Qin!"
Qin Tianyu menganggukkan kepala usai mendengar apa yang disampaikan oleh Song Jiao, dan karena urusan mengirim barang ke ibu kota telah terselesaikan, kini saatnya mereka membicarakan tentang senjata baru, sebuah senjata yang bisa membuat Kekaisaran Xue Long mengalami kerugian besar, yang mana pada akhirnya mereka akan menyerah tanpa syarat.
Tiba di ruang pertemuan, ternyata di tempat itu sudah ada Qin Haoran, Qin Zixuan, juga para Jenderal yang memiliki kesetiaan mutlak pada keluarga Qin.
Mereka adalah para Jenderal Pasukan Harimau Besi, pasukan yang diturunkan oleh leluhur keluarga Qin ke generasi keluarga yang lebih muda.
Dulu ada puluhan Jenderal Pasukan Harimau Besi, tapi di generasi ini hanya tersisa tidak lebih dari setengahnya.
Meski begitu, mereka ini selain setia, mereka juga kuat, membuat sosok seperti Raja Beiliang sangat iri dan pernah mencoba mengambil alih Pasukan Harimau Besi, tapi dia selalu gagal melakukannya.
Kembali ke tempat pertemuan, Song Jiao satu-satunya wanita di tempat itu, tapi saat ini dia menjadi perhatian semua orang.
Menunjukkan catatan pada semua orang, Song Jiao tengah menjelaskan cara membuat sebuah senjata baru yang memiliki daya hancur sangat besar jika dipergunakan di medan perang.
Senjata baru yang dibahas oleh Song Jiao adalah meriam, dan karena adanya cetak biru yang sangat jelas tentang tata cara membuat meriam dan juga pelurunya, semua orang yang hadir di ruang pertemuan yakin senjata itu bisa dibuat dalam satu sampai dua minggu ke depan.
Tetapi untuk melihat sebesar apa dampak yang bisa dihasilkan senjata baru ini di medan perang yang sesungguhnya, mereka harus sabar menunggu sampai senjata baru siap digunakan.
Dua meriam akan dikerjakan di waktu bersamaan, jadi nantinya di fase awal Pasukan Harimau Besi akan memiliki dua meriam, dan di masa depan senjata itu akan diproduksi setidaknya sampai 10 unit dan ratusan peluru yang siap digunakan untuk menggempur kota-kota di Kekaisaran Xue Long.
Sambil menunggu meriam selesai dibuat, Song Jiao memperkenalkan sebuah panah silang yang dilengkapi tempat penyimpanan anak panah, yang mana tempat penyimpanan bisa menampung maksimal 10 anak panah, membuat senjata itu nantinya dapat menembakkan anak panah sebanyak 10 kali secara berurutan, memberi lebih banyak kesempatan pada prajurit pemanah membunuh musuh dengan serangan jarak jauh.
Adanya cetak biru tentang bagaimana mekanis panah silang terbaru yang diperkenalkan Song Jiao, tiga sosok ahli senjata senior yang dimiliki keluarga Qin, mereka yakin bisa menyelesaikan pembuatan panah silang otomatis dalam dua hari.
Song Jiao yang melihat keyakinan para pembuat senjata, dia tersenyum puas, yakin dalam beberapa hari ke depan panah silang otomatis akan mengejutkan banyak pihak begitu resmi turun ke medan perang.