NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Tameng Bambu dan Sepatu Kulit

​Aroma pelitur kayu yang mengering berpadu dengan wangi tanah basah sisa gerimis semalam, menciptakan aroma khas yang akan selalu diingat Gani sebagai aroma kebangkitan.

​Tiga hari telah berlalu sejak Gani mendeklarasikan perang terbuka melawan firma hukum Bratasena & Partners di atas meja Balai Desa. Selama tujuh puluh dua jam terakhir, Gani nyaris tidak tidur. Ia, bersama Kang Ujang dan belasan pemuda Karangbanyu, bekerja seperti pasukan semut yang membangun koloninya sebelum banjir datang.

​Dan pagi ini, mahakarya itu akhirnya berdiri sempurna.

​Gani berdiri di tengah paviliun bambu berukuran delapan kali sepuluh meter tersebut. Tangannya bertumpu pada pinggang, dadanya membusung mengambil napas panjang. Lantai anyaman pelupuh bambu di bawah kakinya terasa kokoh dan dingin. Di sekelilingnya, pilar-pilar bambu petung raksasa menjulang menopang atap rumbia melengkung yang didesain dengan presisi aerodinamis tingkat tinggi. Angin pagi Karangbanyu mengalir bebas masuk melalui celah-celah struktur, menciptakan sirkulasi udara yang luar biasa sejuk.

​Ini bukan sekadar bangunan. Ini adalah sebuah puisi arsitektural yang ditulis menggunakan bambu, keringat, dan cinta.

​"Sempurna," bisik Kang Ujang yang berdiri di sebelah Gani. Pria paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya penuh rasa takjub. "Seumur hidup saya jadi tukang kayu, saya belum pernah bikin bangunan yang kelihatannya sederhana tapi rasanya semegah keraton begini, Mas."

​Gani menoleh dan tersenyum tulus. "Ini mahakarya kita bersama, Kang. Tanpa tangan Akang dan warga, desain saya cuma akan jadi coretan di atas kalender bekas."

​Terdengar deru mesin sepeda motor tua dari arah jalan masuk. Pak Kades datang dengan Honda Astrea-nya yang berisik, membelah pekarangan depan rumah Gani dan langsung memarkirkannya di dekat paviliun. Pria berseragam khaki itu melompat turun dengan tergesa-gesa. Wajahnya dipenuhi peluh, namun senyumnya sangat lebar hingga memperlihatkan giginya yang sedikit menghitam karena kopi.

​Di tangan kanannya, ia memegang sebuah map plastik bening berisi tumpukan kertas ber-kop resmi.

​"Mas Gani!" seru Pak Kades, setengah berlari menaiki undakan paviliun bambu. "Kita berhasil! Gusti Allah merestui niat baik kita!"

​Jantung Gani berdegup kencang. Ia segera menghampiri Sang Kepala Desa. "Suratnya sudah turun, Pak?"

​"Sudah! Saya harus gedor pintu rumah Camat jam enam pagi tadi, lalu ancam Pak Camat kalau surat ini tidak keluar hari ini juga, warga Karangbanyu bakal mogok ikut Pemilu tahun depan!" Pak Kades tertawa terbahak-bahak, menyerahkan map itu kepada Gani. "Ini Akta Notaris Sementara dan Surat Keputusan Desa. Tanah pekarangan belakang ini resmi berstatus Hibah Fasilitas Umum, dan Yayasan Taman Bacaan Akar Pelangi sudah terdaftar sah secara hukum di tingkat kecamatan."

​Gani menerima map tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar. Matanya menyapu deretan cap biru dan stempel garuda di atas kertas-kertas itu.

​Di Jakarta, ia terbiasa memegang sertifikat tanah bernilai ratusan miliar. Namun, selembar kertas yang menyatakan bahwa ia baru saja menyedekahkan aset terakhirnya yang berharga ini, justru terasa paling berat dan paling berharga di tangannya. Dengan adanya surat ini, tanah ini tidak lagi berstatus agunan komersial murni, melainkan tanah wakaf sosial.

​"Mas Gani harus tanda tangan di kolom Penyerah Hibah," Pak Kades menyodorkan pulpen hitam. "Sekali ditandatangani, Mas Gani tidak punya hak untuk menjual atau menggadaikan tanah ini lagi seumur hidup. Mas Gani yakin?"

​Gani tidak ragu sedetik pun. Ia mengambil pulpen itu, meletakkan kertasnya di atas rak buku bambu yang masih kosong, dan membubuhkan tanda tangannya dengan goresan yang sangat tegas dan berwibawa.

​"Tanah ini tidak pernah bernilai apa-apa bagi saya sampai Kirana dan warga desa berdiri di atasnya, Pak," ucap Gani, menyerahkan kembali pulpen itu. "Sekarang, biarkan bank-bank rakus di Jakarta itu mencoba merobohkannya."

​"HIDUP MAS GANI!" sorak Maman, salah satu pemuda desa yang ikut membantu membangun, yang langsung disusul oleh tepuk tangan meriah dari warga lain yang hadir.

​Di tengah sorak-sorai itu, terdengar suara anak-anak kecil yang bernyanyi riang dari arah jalan desa.

​Gani menoleh. Dari balik pagar tanaman teh-tehan, Kirana berjalan memimpin barisan. Gadis itu mengenakan gaun katun berwarna hijau mint yang sangat menyegarkan, dipadukan dengan syal tipis berwarna putih. Wajahnya tampak jauh lebih merona dan sehat, memancarkan keceriaan aslinya.

​Di belakang Kirana, mengekor Udin dan belasan anak desa lainnya. Masing-masing dari mereka membawa kardus-kardus mi instan yang berisi tumpukan buku-buku dari rumah Kirana. Mereka berjalan layaknya pasukan semut yang sedang memindahkan harta karun.

​"Ayo, pasukan! Hati-hati langkahnya, jangan sampai buku sejarahnya jatuh ke lumpur!" komando Kirana dengan nada ceria.

​Begitu rombongan itu tiba di depan paviliun bambu, anak-anak itu serempak menghentikan langkah dan mendongak dengan mulut terbuka lebar.

​"Woaaaahhh..." koor kekaguman terdengar serempak.

​"Ini beneran taman bacaan kita yang baru, Kak?!" tanya Udin, matanya berbinar-binar menatap bangunan megah di depannya. "Gede banget! Kayak istana pendekar di tivi!"

​Kirana sendiri terdiam. Ia sudah melihat rangka bangunan ini beberapa hari lalu, tapi melihatnya dalam keadaan seratus persen selesai—dengan lantai pelupuh yang bersih, rak-rak buku bambu yang menempel rapi di dinding pembatas, dan semilir angin yang masuk tanpa halangan—membuatnya kehabisan kata-kata.

​Matanya mencari sosok Gani. Pria itu berdiri di tengah paviliun, melipat tangan di dada dengan kaus abu-abu kotornya, menatap Kirana dengan senyum teduh yang menggetarkan jiwa.

​Kirana melangkah naik ke atas paviliun. Ia meletakkan buku yang ia pegang ke salah satu rak, lalu berjalan mendekati Gani. Tanpa memedulikan tatapan Pak Kades, Kang Ujang, dan anak-anak, Kirana berjinjit dan membisikkan sesuatu tepat di dekat telinga pria itu.

​"Kau berlebihan, Komandan," bisik Kirana, suaranya sedikit bergetar menahan haru. "Ini... ini terlalu indah."

​Gani memiringkan kepalanya, membalas bisikan itu. "Aku sudah bilang, aku tidak membangun naga murahan atau atap asal-asalan. Selamat datang di istanamu, Tiran Kecil."

​Acara pemindahan buku pun dimulai. Anak-anak dengan sangat antusias menyusun buku-buku tua itu ke rak-rak bambu yang baru. Suasana pagi itu dipenuhi oleh gelak tawa, aroma kopi hitam, dan rasa kebersamaan yang sangat pekat. Gani merasa jiwanya benar-benar telah dicuci bersih. Ia merasa aman.

​Namun, kedamaian di dunia nyata, apalagi bagi seorang Gani Raditya, tidak pernah bertahan lebih dari hitungan hari.

​Tepat ketika Udin sedang menggantung papan kayu bertuliskan TAMAN BACAAN AKAR PELANGI di tiang utama paviliun, sebuah suara klakson mobil yang sangat keras dan arogan membelah keheningan desa Karangbanyu.

​TIIINNN! TIIINNN!

​Suara itu terlalu bising untuk ukuran kendaraan perdesaan. Tawa anak-anak seketika berhenti. Gani menegang, senyumnya luntur seketika.

​Dari jalan utama desa, merayap masuk dua buah kendaraan besar. Di depan, sebuah SUV hitam yang sangat familier bagi Gani—mobil milik Paman Lukman. Di belakangnya, mengekor sebuah sedan premium berwarna hitam mengilap keluaran Eropa, jenis mobil yang harga satu bannya saja mungkin setara dengan harga rumah warga Karangbanyu.

​Kedua mobil itu berhenti tepat di depan pagar pekarangan rumah Gani yang terbuka, menghalangi jalan sepenuhnya. Mesin mobil dimatikan, namun hawa panas dari kap mesinnya seolah ikut menaikkan suhu di sekitarnya.

​Pintu SUV terbuka, Paman Lukman turun dengan wajah angkuh, diikuti oleh Junaedi si agen properti. Namun, perhatian Gani tidak tertuju pada pamannya. Tatapan matanya yang tajam bak elang langsung mengunci pada pintu penumpang bagian belakang sedan premium tersebut.

​Pintu sedan terbuka. Seorang pria melangkah keluar.

​Pria itu mengenakan setelan jas three-piece berwarna navy dengan potongan slim-fit sempurna. Sepatu kulit pantofelnya yang mengilap mendarat dengan bunyi klik yang pongah di atas tanah berdebu Karangbanyu. Ia membetulkan letak kacamata bacanya yang berbingkai emas, lalu memegang sebuah koper briefcase kulit tipis di tangan kanannya.

​Itu adalah Surya Dirdja. Pengacara senior (Partner) dari firma hukum Bratasena & Partners. Pria yang sama yang mencecar Gani tanpa ampun di ruang sidang kebangkrutan bulan lalu.

​Kehadiran sosok-sosok dari Jakarta ini seperti meneteskan tinta hitam ke dalam segelas air jernih. Suasana hangat di pekarangan itu langsung berubah menjadi sangat tegang dan mengintimidasi. Anak-anak desa refleks bersembunyi di balik kaki warga dewasa. Kang Ujang dan para pemuda Karang Taruna mengerutkan dahi, tangan mereka mengepal secara naluriah menyadari bahwa tamu-tamu ini tidak datang untuk bersilaturahmi.

​Kirana, yang menyadari perubahan drastis pada postur tubuh Gani, segera mendekat dan berdiri di sebelah pria itu. Bahu mereka saling bersentuhan, sebuah pernyataan dukungan tanpa kata.

​Surya berjalan memasuki pekarangan, dikawal oleh dua pria berbadan tegap berkemeja hitam—jelas petugas keamanan swasta atau debt collector kelas atas. Paman Lukman berjalan di samping Surya dengan senyum meremehkan.

​Surya menghentikan langkahnya beberapa meter dari paviliun bambu. Ia mengeluarkan sehelai saputangan sutra putih dari sakunya, menutup hidungnya sesaat seolah udara Karangbanyu terlalu berdebu untuk paru-paru mahalnya. Matanya menyapu struktur bambu yang baru berdiri itu dengan tatapan menilai, sebelum akhirnya berhenti pada sosok Gani.

​"Selamat siang, Saudara Gani," sapa Surya, suaranya licin dan berminyak seperti belut. "Atau saya harus memanggil Anda 'Pak Tukang' sekarang? Saya dengar Anda bangkrut, tapi saya tidak menyangka Anda akan jatuh serendah ini hingga beralih profesi menjadi perakit bambu di antah berantah."

​Paman Lukman dan petugas keamanannya tertawa mengejek.

​Rahang Gani mengeras, namun ia tidak kehilangan kendali. Ia tidak lagi berada di ruang sidang pengadilan di mana ia duduk sebagai terdakwa. Ia berada di tanah Karangbanyu, dan di sini, ia adalah tuan rumah.

​"Anda datang empat hari lebih awal dari batas waktu eksekusi yang tertulis di surat, Pengacara Surya," balas Gani dengan nada suara bariton yang luar biasa tenang, dingin, dan mematikan. "Akurasi waktu Anda semakin memburuk rupanya."

​Surya tersenyum tipis, merapikan dasinya. "Kami tidak datang untuk mengeksekusi hari ini. Kami datang untuk melakukan appraisal (penilaian aset) awal sebelum penyitaan paksa dilakukan minggu depan. Klien kami—yang Anda tahu betul siapa—ingin memastikan aset tanah ini tidak berkurang nilainya."

​Surya menunjuk paviliun bambu di belakang Gani dengan ujung kopernya. "Dan tampaknya, kedatangan kami sangat tepat waktu. Anda sedang mendirikan bangunan liar tanpa IMB di atas tanah yang sedang berstatus agunan bermasalah. Ini pelanggaran hukum, Saudara Gani. Bangunan rongsokan ini harus segera dibongkar, atau akan kami hancurkan bersama rumah utama saat penyitaan nanti."

​"Rongsokan?!" Maman, pemuda desa yang gampang tersulut emosinya, maju selangkah dengan parang di tangan, namun Kang Ujang segera menahan dadanya.

​Gani mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar seluruh warga desa tenang. Ia kemudian melangkah maju, menuruni undakan paviliun, meninggalkan Kirana dengan aman di belakangnya. Ia berjalan santai menghampiri Surya, seolah pria berjas mahal itu hanyalah lalat yang salah masuk ke dalam rumah.

​"Anda menyebutnya bangunan liar," Gani berhenti tepat satu meter di depan Surya, menatap lurus ke balik kacamata emas pria itu. "Saya menyebutnya kurangnya riset lapangan dari sebuah firma hukum yang katanya paling hebat di Jakarta."

​Surya mengerutkan dahi. "Apa maksud Anda?"

​Gani mengalihkan pandangannya pada Paman Lukman. "Paman sepertinya lupa memberi tahu pengacara hebat ini tentang hukum sosial di desa, ya? Paman pikir saya akan membiarkan kalian mengambil tempat ini begitu saja?"

​Gani menoleh ke belakang, memberi isyarat pada Pak Kades. Sang Kepala Desa, yang sejak tadi menunggu momen ini dengan dada membusung, melangkah maju. Ia membawa map plastik bening berisi dokumen-dokumen berstempel kecamatan yang tadi ia bawa.

​Pak Kades menyerahkan map itu kepada Gani.

​"Biar saya perkenalkan, Pengacara Surya," Gani membuka map tersebut, mengambil dokumen teratas, dan menyodorkannya tepat ke depan dada Surya. "Tanah seluas seribu meter persegi yang Anda injak saat ini... sudah bukan lagi aset pribadi atas nama Gani Raditya."

​Surya mengambil dokumen itu dengan gerakan kasar. Matanya yang skeptis dengan cepat membaca tajuk dokumen tersebut. Garis wajahnya yang arogan perlahan menegang. Paman Lukman ikut melongok dari balik bahunya.

​"Ini..." Surya bergumam, menelan ludah.

​"Akta Hibah Permanen dan Surat Keputusan Yayasan," Gani menyambung kalimat Surya dengan artikulasi yang sangat jelas dan tajam. "Tanah pekarangan ini telah resmi dihibahkan kepada Desa Karangbanyu. Dan 'rongsokan bambu' yang Anda sebut tadi adalah fasilitas pendidikan Yayasan Taman Bacaan Akar Pelangi yang sah secara hukum."

​Gani melipat tangannya di dada, menatap Surya dan Paman Lukman layaknya seorang raja yang baru saja men-skakmat lawan di atas papan catur.

​"Berdasarkan Undang-Undang Agraria dan regulasi penyitaan aset," Gani melanjutkan, menggunakan nada kuliah hukum yang biasa ia terima dari para konsultan perusahaannya dulu, "pihak bank atau kreditur tidak bisa melakukan penyitaan paksa, lelang, apalagi penggusuran terhadap lahan yang telah beralih fungsi menjadi fasilitas sosial atau pendidikan aktif, tanpa adanya putusan inkrah dari pengadilan tata usaha negara dan persetujuan pemerintah daerah."

​Gani menyeringai dingin. "Dan percayalah, Pengacara Surya. Mencoba menggusur taman bacaan desa yang dilindungi oleh seluruh warganya akan memakan waktu bertahun-tahun di pengadilan, dan akan menghancurkan reputasi klien Anda di media massa nasional dalam waktu semalam. Apakah klien Anda siap menghadapi skandal menghancurkan tempat belajar anak yatim piatu?"

​Wajah Surya pucat pasi. Ia adalah pengacara yang licik, dan ia tahu persis bahwa Gani baru saja menjebaknya dalam birokrasi sosial yang sangat memuakkan. Bank paling benci publisitas buruk, dan menyita sebuah taman bacaan adalah bunuh diri PR (Public Relations). Aset ini kini berubah menjadi aset beracun yang sulit dieksekusi.

​"K-kau... kau gila!" umpat Paman Lukman, tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia menunjuk wajah Gani dengan jari telunjuk yang gemetar. "Kau memberikan tanah seharga hampir satu miliar ini secara gratis ke desa?! Kau sengaja memiskinkan dirimu sendiri agar kami tidak dapat apa-apa?!"

​"Saya tidak memiskinkan diri saya, Paman," jawab Gani telak, suaranya menggema di seluruh pekarangan. Ia menoleh ke belakang, menatap Kirana yang tersenyum bangga dengan mata berkaca-kaca, menatap Udin, Kang Ujang, dan warga desa yang berdiri di belakangnya. "Saya justru sedang memastikan bahwa saya tidak kehilangan satu-satunya hal berharga yang saya miliki di dunia ini."

​Gani kembali menatap Paman Lukman dan Surya. Aura intimidasinya menguar begitu pekat, membuat kedua pria kota itu merasa sangat kerdil.

​"Sekarang," desis Gani, setiap katanya ditekankan seperti hantaman palu baja. "Kalian sedang berdiri di atas tanah yayasan pendidikan tanpa izin. Hukum menyebutnya trespassing (pelanggaran wilayah). Keluar dari pekarangan ini, bawa mobil kalian kembali ke aspal Jakarta yang panas, dan jangan pernah mencoba menyentuh satu pun bambu di tempat ini."

​Menyusul ucapan Gani, belasan pemuda Karang Taruna dan warga desa serempak maju satu langkah, merapatkan barisan di belakang Gani. Mereka tidak membawa senjata tajam, namun aura perlawanan komunal dari warga desa yang marah jauh lebih mengerikan daripada sepasukan debt collector.

​Surya Dirdja, sang pengacara pongah yang tidak pernah kalah di ruang sidang ber-AC, kini menelan ludah ketakutan di bawah terik matahari perdesaan. Ia melemparkan dokumen itu kembali ke arah Gani, merapikan jasnya dengan gerakan canggung dan memalukan.

​"Ini belum selesai, Gani. Klien kami akan mencari cara lain," ancam Surya dengan suara yang terdengar dipaksakan. "Ayo kita pergi."

​Surya berbalik dengan cepat, masuk kembali ke dalam sedan mewahnya. Paman Lukman, yang masih tidak rela melihat komisi dua ratus jutanya melayang, mengutuk pelan sebelum akhirnya berlari menyusul masuk ke dalam SUV-nya.

​Kedua mobil itu memundurkan kendaraannya dengan tergesa-gesa, lalu melaju pergi meninggalkan Karangbanyu, mengepulkan debu kekalahan yang disambut dengan sorakan kemenangan meledak dari seluruh warga desa.

​Gani berdiri tegak, menyaksikan musuh-musuhnya pergi. Ia telah memenangkan pertempuran pertama. Ia telah berhasil menggunakan kecerdasannya untuk melindungi tempat ini.

​Kirana berlari menuruni undakan paviliun, tidak memedulikan larangan dokter untuk tidak berlari. Gadis itu langsung menubruk dada Gani, memeluknya dengan sangat erat, tidak peduli disaksikan oleh puluhan warga desa.

​"Kau luar biasa... kau benar-benar luar biasa, Komandan," bisik Kirana di dada Gani, air mata kebanggaan menetes membasahi kaus pria itu.

​Gani membalas pelukan itu, melingkarkan tangannya di pinggang Kirana dan menyandarkan dagunya di puncak kepala gadis itu. Terdengar siulan godaan dan tepuk tangan riuh dari Kang Ujang dan para pemuda, membuat suasana tegang seketika berubah menjadi pesta rakyat dadakan.

​Gani memejamkan matanya, merasakan hangatnya matahari siang dan degup jantung Kirana di dadanya. Raka dan hantu-hantu Jakarta mungkin akan mencoba kembali dengan taktik lain. Tapi Gani tidak peduli. Selama Kirana masih bernapas di pelukannya, dan selama benteng bambunya masih berdiri kokoh di belakangnya, Gani Raditya siap melawan dunia.

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!