NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 - Perempuan dari Masa Lalumu

Kemuning masih duduk diam di balkon kamar sambil memandangi layar ponsel Arkana yang sudah gelap. Namun nama yang sempat muncul beberapa detik lalu terus terngiang di kepalanya. Selvina Adriani. Nama itu terasa asing tetapi menyakitkan secara aneh.

Angin malam meniup rambut panjang Kemuning perlahan. Namun dadanya justru terasa semakin sesak tanpa alasan yang bisa ia pahami sepenuhnya. Untuk pertama kalinya sejak tinggal di mansion Mahendra, Kemuning merasa takut kehilangan sesuatu. Dan sesuatu itu adalah Arkana.

Kemuning langsung menundukkan kepala pelan. Ia sadar dirinya tidak punya hak untuk merasa cemburu. Arkana bukan siapa-siapa untuknya. Sedangkan dirinya hanya gadis desa yang numpang hidup di mansion Mahendra.

Namun bayangan Selvina terus muncul di pikirannya. Wanita cantik, elegan, pintar, dan percaya diri seperti itu memang cocok berdiri di sisi Arkana. Berbeda jauh dengan dirinya yang bahkan masih bingung menggunakan mesin kopi otomatis. Perbedaan dunia mereka terasa semakin nyata malam ini.

Kemuning mulai membandingkan semuanya tanpa sadar. Cara bicara Selvina yang anggun.

Pendidikan tinggi wanita itu. Dan bagaimana semua orang tampak menghormatinya di kantor Mahendra Group.

Sedangkan dirinya? Kemuning bahkan hanya lulusan SMA. Ia tidak mengerti dunia bisnis Arkana. Tidak mengerti teknologi atau cara berbicara dengan orang-orang elite.

Arkana memperhatikan perubahan ekspresi Kemuning dari samping. Gadis itu tiba-tiba menjadi jauh lebih diam. Tatapannya kosong dan senyumnya menghilang perlahan. Hal itu langsung membuat Arkana merasa tidak nyaman.

“Kamu kenapa?” Suara rendah Arkana memecah keheningan balkon.

Kemuning langsung tersentak kecil lalu buru-buru menggeleng. “Nggak apa-apa.” Kemuning mencoba tersenyum kecil. Namun senyum itu terlihat terlalu dipaksakan. Dan Arkana langsung menyadarinya hanya dalam satu tatapan. Pria itu mulai tidak suka melihat Kemuning menyembunyikan sesuatu darinya.

Sebelum Arkana sempat bicara lagi, ponselnya kembali berdering. Nama Selvina muncul sekali lagi di layar. Arkana langsung mengangkat telepon itu dengan wajah kembali dingin dan profesional. Sedangkan jantung Kemuning terasa semakin berat mendengarnya.

“Ada apa?” Nada suara Arkana berubah formal dan datar. Kemuning diam-diam menunduk sambil menggenggam cangkir minumannya erat. Ia merasa seperti orang asing di tengah percakapan itu.

Selvina mengatakan ada urusan penting perusahaan yang harus dibicarakan malam itu juga. Ratih memang sengaja mendorong wanita itu mendekat kembali pada Arkana. Dan tanpa sadar, rencana itu mulai memengaruhi Kemuning. Karena gadis itu perlahan kembali merasa kecil.

Kemuning akhirnya berdiri pelan dari kursinya. “Aku masuk dulu.” Arkana langsung menoleh cepat ke arahnya. Namun Kemuning malah menunduk gugup.

“Aku nggak mau mengganggu.” Kalimat itu keluar lirih dari bibir Kemuning. Dan entah kenapa, Arkana langsung tidak suka mendengarnya. Lagi-lagi gadis itu menganggap dirinya beban.

“Kemuning—” Namun gadis itu sudah buru-buru masuk ke kamar lebih dulu. Meninggalkan Arkana sendirian di balkon bersama rasa kesal aneh di dadanya. Dan untuk pertama kalinya, Arkana sadar satu hal penting.

Nama Selvina membuat Kemuning berubah. Dan anehnya, Arkana justru merasa terganggu oleh hal itu. Sangat terganggu.

Keesokan paginya, suasana mansion kembali ramai oleh aktivitas sehari-hari. Kemuning mencoba bersikap biasa demi Agam. Namun dirinya menjadi lebih diam sejak semalam. Bahkan beberapa kali melamun sendiri.

Agam sedang bermain mobil-mobilan di ruang tengah saat Kemuning sibuk memegang ponsel baru pemberian Mahardika. Gadis itu menggigit bibir sambil serius menatap layar aplikasi belanja online. Ia ingin membeli mainan baru untuk Agam. Meski sebenarnya masih sangat bingung menggunakannya.

“Yang ini lucu.” Kemuning bergumam kecil sambil menekan beberapa tombol. Namun tanpa sadar, jarinya salah menekan angka jumlah pembelian. Dan dirinya langsung menekan tombol bayar tanpa memeriksa lagi.

Dua jam kemudian, mansion Mahendra mendadak dipenuhi paket. Pelayan sampai kebingungan membawa kardus demi kardus ke ruang tengah. Agam malah melompat senang melihat semuanya. Sedangkan Kemuning mulai pucat perlahan.

“Astaga.” Kemuning membuka salah satu paket dengan tangan gemetar. Isinya puluhan sikat gigi anak warna-warni. Dan masih ada belasan paket lain menunggu dibuka.

“Aku salah pencet.” Kemuning hampir menangis melihat tumpukan barang tersebut. Agam malah tertawa sambil memainkan boneka kecil dari salah satu paket. Situasi itu langsung berubah kacau dan lucu sekaligus.

Saat itulah Arkana pulang dari kantor. Pria itu berhenti di ambang ruang tengah sambil memperhatikan kardus yang memenuhi lantai mansion. Tatapannya perlahan beralih pada Kemuning yang terlihat panik luar biasa. Dan Arkana langsung mengangkat sebelah alisnya.

“Apa ini?” Nada suara Arkana terdengar datar.

Kemuning langsung berdiri buru-buru sambil salah tingkah. “Aku nggak sengaja.” Kemuning langsung membungkuk panik. “Maaf... aku cuma mau beli satu...” Namun ekspresi takut gadis itu justru membuat Arkana hampir tertawa. Karena Kemuning terlihat seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah.

“Kamu berniat membuka toko?” Arkana bertanya rendah sambil mengambil satu paket sikat gigi dari lantai. Agam langsung tertawa keras mendengarnya. Sedangkan wajah Kemuning berubah merah padam karena malu.

“Aku beneran nggak sengaja.” Kemuning menunduk sambil memeluk salah satu kardus kecil.

Namun Arkana justru duduk santai di lantai dekat gadis itu. Dan jarak mereka langsung terasa terlalu dekat.

Mereka mulai membuka paket bersama-sama. Lutut Arkana beberapa kali bersentuhan dengan lutut Kemuning di atas karpet ruang tengah. Sedangkan tangan pria itu juga beberapa kali menyentuh jemari Kemuning tanpa sengaja. Membuat jantung gadis itu kembali kacau.

Arkana terlihat terlalu santai di dekatnya sekarang. Hal itu justru membuat Kemuning semakin gugup. Apalagi aroma parfum maskulin pria itu terasa samar setiap kali mereka bergerak dekat.

Dan Kemuning jadi terlalu sadar pada setiap sentuhan kecil.

Agam tiba-tiba memeluk lengan Arkana sambil membawa robot mainan baru. “Om Kana, ikut main!” Anak kecil itu berkata antusias sambil menarik tangan Arkana. Kemuning langsung menahan napas melihat reaksinya.

Karena Arkana Mahendra biasanya sangat dingin pada semua orang. Namun sekarang pria itu benar-benar duduk di lantai bermain bersama Agam. Bahkan membantu memasangkan baterai robot mainan tersebut. Dan suasana hangat itu terasa terlalu indah bagi Kemuning.

Agam tertawa keras saat robot kecil itu bergerak sendiri di lantai. Sedangkan Arkana tanpa sadar ikut tertawa kecil melihat tingkah anak itu. Suaranya pelan dan singkat. Namun cukup membuat seluruh ruangan terdiam sesaat.

Karena itu pertama kalinya para pelayan melihat Arkana tertawa setulus itu. Dan semua perubahan itu terjadi karena Kemuning dan Agam. Hal yang diam-diam mulai membuat Ratih semakin khawatir. Sangat khawatir.

Namun tepat ketika suasana terasa terlalu nyaman, bel mansion berbunyi. Semua orang refleks menoleh ke arah pintu depan. Salah satu pelayan segera berjalan membukanya. Dan suasana hangat itu perlahan berubah tegang.

Seorang wanita berdiri anggun di depan pintu mansion. Gaun formal warna lembut membalut tubuhnya sempurna. Rambut panjangnya tertata rapi dengan makeup elegan yang membuatnya terlihat mahal. Selvina Adriani datang seperti perempuan yang memang berasal dari dunia Arkana.

Tatapan Selvina langsung jatuh pada Kemuning lebih dulu. Lalu perlahan bergeser pada Arkana yang duduk terlalu dekat dengan gadis itu di lantai. Dan untuk pertama kalinya, dada Selvina terasa tidak nyaman. Karena Arkana terlihat jauh lebih hidup sekarang.

Arkana yang biasanya dingin dan menjaga jarak. Kini duduk santai bermain bersama seorang gadis desa dan anak kecil. Bahkan wajah pria itu terlihat jauh lebih lembut dibanding biasanya.

Dan semua itu membuat Selvina benar-benar merasa terancam.

Kemuning langsung buru-buru berdiri dari lantai karena gugup. Sedangkan Arkana perlahan bangkit dengan ekspresi kembali datar. Namun aura hangat beberapa detik lalu belum sepenuhnya hilang dari dirinya. Dan Selvina melihat semuanya dengan jelas.

Selvina tersenyum tipis sambil melangkah masuk perlahan. Namun senyum itu terasa tajam dan menusuk saat matanya kembali menatap Kemuning.

“Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!