“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Amanah Terakhir
Ryu masih menatap rumah yang kental dengan nuansa adat Jawa itu. Ia menghembuskan napas panjang, lalu berkata,
"Bawa mobil kita masuk ke pekarangan rumah itu."
Tanpa menunggu jawaban dari Jordi, Ryu pergi lebih dulu menuju rumah itu. Langkahnya terlihat mantap. Tapi hatinya? Jangan tanya.
"Eh, Bos..." Jordi terdiam sejenak. "Ya sudahlah," katanya, lalu masuk ke dalam mobil menyalakan mesin, melaksanakan perintah atasannya.
"Sebenarnya apa sih misi bos nyari perempuan di desa pedalaman kayak gini?" gumam Jordi sambil menginjak pedal gas perlahan. "Profesinya aja...ah sudahlah."
Otaknya dipenuhi rasa penasaran dan pertanyaan yang belum kunjung terjawab.
Ryu terus melangkah. Dan di teras sana, orang-orang memerhatikannya dan mulai berbisik-bisik.
"Eh, pemuda ganteng itu ke sini."
"Dari mobil dan penampilannya jelas orang kota. Ngapain ya jauh-jauh ke sini?"
Ryu baru menginjak lantai semen teras rumah joglo itu ketika seorang ibu-ibu yang sedang memangku bayi bertanya,
"Nak, ke sini mau ngapain?" Ia memerhatikan Ryu dari atas hingga bawah. "Kayaknya sehat-sehat saja."
"Saya ke sini mencari Seroja," jawab Ryu sopan. "Apa benar' ini rumahnya?"
Seorang bapak-bapak menyahut. "Kalau Seroja dukun ya di sini. Tapi Seroja sedang membantu menantu Bu Rumi yang mau melahirkan."
"Mau berobat apa, Nak?" tanya ibu-ibu yang lain.
"Saya ke sini bukan untuk berobat," sahut Ryu datar. "Apa neneknya Seroja ada?"
Ibu-ibu yang memangku bayi tadi menjawab. "Ada di dalam. Tapi sudah lama sakit karena sudah tua."
"Di dalam ada yang nemenin, kok. Masuk aja," sahut yang lain.
"Terima kasih," ucap Ryu, lalu melangkah menuju pintu.
"Bos, tunggu!" seru Jordi sambil berlari kecil.
Namun Ryu tidak menoleh apalagi menjawab. Ia terus berjalan, meski entah kenapa semakin dekat dengan pintu yang terbuka itu jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
"Main tinggal aja," gerutu Jordi yang sudah tak jauh dari Ryu. "Aku 'kan penasaran, bos mau ngapain."
Ryu berhenti di ambang pintu. Ia mengangkat tangannya mengetuk daun pintu kayu jati yang berukir motif sulur itu.
Tok! Tok!
"Permisi," ucap Ryu.
Matanya menyapu ruangan luas di dalam rumah yang terasa sunyi. Semua perabot terbuat dari kayu penuh ukiran, namun masih mengilap samar karena sering dipakai. Jelas perabotan tua dengan kayu berkualitas.
Sebuah lampu gantung klasik tergantung di langit-langit kayu rumah itu. Rangkanya dari kuningan yang mulai kusam dimakan usia. Sementara kap kaca bermotif bunga memantulkan cahaya kekuningan yang hangat.
"Ini benar-benar masih asli rumah joglo," gumam Jordi yang sudah berada di samping Ryu. Ia ikut mengintip ke dalam rumah dengan rasa penasaran. "Ini pasti udah masuk barang antik ya, Bos?" tanyanya penuh kekaguman.
"Sebentar."
Suara seorang wanita terdengar dari dalam. Tak lama seorang perempuan memakai kebaya sederhana yang dipadu dengan jarik batik muncul. Rambutnya disanggul sederhana, tapi rapi.
"Ada perlu apa ya, Nak?" tanyanya ramah.
Logat Jawanya kental, sama seperti orang-orang di desa itu. Termasuk pria paruh baya yang menunjukkan jalan pada mereka tadi.
"Saya ke sini mau bertemu Seroja dan neneknya, Bu," jelas Ryu. "Saya cucunya nenek Hanifah."
Bibir wanita paruh baya itu seketika melengkung. Matanya berbinar, tak lepas memandang Ryu. "Kamu Ryu?"
Ryu sedikit terkejut karena wanita itu menebak dengan benar.
"Iya. Saya Ryuhan."
Wanita itu mendekat. "Masyaalloh. Tambah ganteng," ucapnya seraya menepuk pelan lengan Ryu. Senyumnya makin lebar.
"Bos," panggil Jordi pelan. "Dia kenal sama, Bos."
Sebelum Ryu sempat membuka mulut, tangannya sudah ditarik wanita berkebaya itu.
"Ayo masuk. Nenek Winarsih pasti senang."
Ryu masih bingung, tapi tetap mengikuti langkah wanita yang masih menggenggam tangannya itu.
Jordi yang masih diliputi rasa penasaran mengekor di belakangnya.
"Nggak nyangka, Bu Dhe masih bisa ketemu kamu lagi," ujar wanita itu. Suara ringan seperti langkahnya.
Jordi mengamati wanita yang berbalut pakaian tradisional itu.
"Sudah berumur, tapi badannya masih langsing, singset. Orang tradisional memang beda," gumamnya tanpa sadar.
Wanita yang dipanggil Bu Dhe itu membawa Ryu masuk ke sebuah kamar.
Seorang wanita dengan rambut yang sepenuhnya putih terbaring di atas dipan klasik yang tampak tua, tetapi kokoh. Kelambu putih itu terbuka, diikat di kedua sisi ranjang.
Samar, Ryu mencium aroma khas kayu jati dari permukaan dipan yang mulai kusam dimakan waktu.
"Bu," panggil Bu Dhe pada wanita tua itu. "Lihat siapa yang datang. Ini satu-satunya cucu Bu Hanifah. Ryuhan."
Perlahan Winarsih membuka matanya. Ia memandang Ryu dengan sorot mata redup. Lalu bibir keriput itu menyunggingkan senyum samar.
"Ryuhan," gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. "Akhirnya kamu datang." Ia melambaikan tangannya dengan gerakan lemah, memberi isyarat agar Ryuhan mendekat.
Jordi melihat semuanya dalam diam.
Ryu akhirnya duduk di tepi dipan yang dialasi kasur kapuk, dan dibalut dengan sprei batik itu.
"Saya datang ke sini..." Ryu nampak ragu.
"Nenek tahu," kata Winarsih dengan suaranya makin lirih.
Tangannya terangkat lambat menggapai jemari Ryu. Pemuda itu refleks menyambut tangan keriput itu, lalu menggenggamnya.
"Sesuai janji keluarga kita..." lanjut Winarsih. "Seroja adalah istrimu... yang sudah dijodohkan sejak kecil."
Dengan sisa tenaganya, jemari ringkih itu berusaha menggenggam tangan Ryu lebih kuat.
"Nenek titipkan... Seroja padamu..." Napasnya berubah pendek-pendek, bibirnya bergerak tak stabil saat mengucap, "Allahu.. akbar..."
Winarsih menghembuskan napas halus, lalu perlahan matanya tertutup.Tangan yang menggenggam Ryu kini lunglai.
"B-Bu..." panggil Bu Dhe. Suaranya nyaris tersangkut di tenggorokan.
Dengan jari trenor wanita paruh baya itu mendekatkan telunjuknya ke hidung Winarsih.
"Inalillahi... wa innailaihi raji'un," ucap Bu Dhe dengan suara goyah.
Tak ada isakkan yang terdengar, tapi bulir demi bulir air bening itu berjatuhan dari pelupuk matanya.
"Bos," panggil Jordi dengan suara pelan. "...nenek itu meninggal."
Ryu membeku. Bukan karena kematian wanita tua itu… melainkan karena amanah terakhir yang baru saja dibebankan padanya.
Dan entah kenapa...ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Seolah Nenek Winarsih masih bertahan hidup hanya untuk menunggunya datang… lalu menyerahkan Seroja sebelum pergi untuk selamanya.
...🔸🔸🔸...
..."Kadang, takdir tidak memberi kesempatan untuk menolak. Ia datang bersama pesan terakhir dan sepasang mata yang perlahan tertutup untuk selamanya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Perasaan, Cuma Rayyan Nugroho saja deh yang punya inisiatif menyuruh Anak buahnya untuk menyelidiki Seseorang! Kamu kenspa nggk punya insuatif itu Ryu? Kenspa? 😂😂😂
Tony!...
langsung mandidih tuh Ryuh denger nama Tony, wkwkwkwk kamu cemburu Ryuh...
jangan salah paham dulu ya Ryuh,nanti denger penjelasan dulu dari Istrimu😄
apalagi kamu orang yg baru hadir di hidup seroja walau statusmu sebagai suami tapi roja Masih butuh waktu untuk adaptasi sama kamu
Selamat berjuang kamu Ryu memperjuang kan wanita seperti roja atau kau tinggal kan dia
Semangat ya Kak, Up Bab Baru-nya Kak Nana... 🙏🙏🙏
Maaf ya, Kak Nana, baru bisa baca... Soalnya, karena Mati lampu kemarin, sinyal di tempat aku masih belum setabil Kak Nana... Maaf ya Kak 🙏🙏🙏😁