Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 7
Malam harinya Amelia duduk di atas kasur sambil memandangi uang yang diberikan Caelan padanya sebelum pria itu pergi satu jam lalu. “Untuk peganganmu.” Begitu yang dikatakan Caelan saat Amelia enggan menerima uang tersebut. “Gunakan untuk kebutuhan kalian.”
“Kau sudah membelikan kebutuhan untuk Emi sebulan penuh bahkan lebih. Ada pakaian dan mainan juga.” Amelia berusaha menolak dengan halus. “Apa yang kau berikan sudah lebih dari cukup.”
Namun, Caelan bersikeras. “Untuk kebutuhan dadakan. Terima saja, gunakan kalau kau membutuhkannya.”
“Akan kugunakan untuk kebutuhan Emi.” Amelia dengan enggan menerima. Memiliki uang pegangan akan membuatnya tenang. Kebutuhan Emi sudah terpenuhi, Amelia hanya perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan cicilan hutang.
“Gunakan untuk beli kopi dan jajan. Kau harus tetap waras agar bisa mengurus Emi. Apalagi kau menolak tawaranku untuk mempekerjakan babysitter. Jadi, pastikan dirimu tetap sehat agar bisa merawat Emi.”
“Tapi ….”
“Terima saja.”
Amelia menerima dengan berat hati. “Akan kuganti jika nanti sudah punya uang.”
“Tentu.” Caelan tidak mendebat. Kemudian pria itu pamit dan berjanji akan kembali besok pagi.
Amelia menghela napas. Hari ini penuh kejutan. Pertama, menemukan Caelan di depan pintunya di pagi hari, lalu kenyataan bahwa Caelan bukan ayah Emi melainkan paman dari keponakannya itu, keinginan Caelan menjadi pengganti ayah bagi Emi, kebaikan Caelan ketika membantu Amelia berbelanja kebutuhan Emi, dan yang terpenting ketulusan serta kelembutan Caelan terhadap Emi.
Caelan Harrison ternyata tidak seperti yang Amelia kira. Pria itu bersedia bertanggung jawab terhadap Emi, bahkan memberikan lebih dari yang Amelia harapkan.
Amelia beranjak ke ranjang bayi di samping tempat tidur. “Emi sayang, kau punya paman yang sangat baik. Semoga kasih sayangnya padamu bertahan selamanya.”
Keesokan paginya, Caelan kembali memberi Amelia kejutan. Pria itu datang sekitar pukul sembilan pagi untuk mengajak Emi jalan-jalan.
“Ke mana?”
“Piknik ke taman. Kau keberatan?”
“Tidak juga, aku memang berencana membawa Emi jalan-jalan hari ini. Hanya berkeliling di sekitar sini.”
“Nah, bagaimana kalau pergi lebih jauh? Aku diberitahu resepsionis hotel ada taman kota yang bagus di dekat sini.”
Melihat Caelan yang begitu bersemangat, Amelia sulit untuk berkata tidak. “Baiklah,” ujarnya, “Aku harus mempersiapkan Emi dulu.”
“Kubantu.”
Amelia mempersilakan Caelan masuk ke rumah. Pria itu langsung menghampiri box bayi dan Emi menyambut dengan penuh semangat. Bayi kecil itu baru selesai Amelia mandikan dan sangat bersemangat.
“Boleh kugendong?” tanya Caelan.
Amelia mengangguk. “Aku akan mempersiapkan barang-barang Emi sekalian berganti pakaian.”
“Santai saja, kita tidak buru-buru,” sahut Caelan sembari mengangkat Emi. Amelia memerhatikan bahwa Caelan sudah terlihat lebih nyaman dan tidak gugup saat menggendong Emi. Bahkan pria itu sudah bisa mengajak Emi mengobrol dan bermain dengan santai, membuat Amelia merasa tenang meninggalkan paman dan keponakan itu bercengkerama.
Lima belas menit kemudian Amelia sudah selesai bersiap-siap. Ia sudah berganti pakaian dengan celana panjang kain dan sweter rajut nyaman. Ia sedikit berdandan, membedaki wajah dan memulas lipstick serta mengikat rambut bergaya ekor kuda. Tampilan yang simpel dan nyaman agar bisa menjaga Emi dengan baik ketika berada di luar.
Sebuah tas baru berwarna merah muda telah diisi dengan semua perlengkapan Emi ditambah sebuah gendongan berwarna senada tergenggam di tangan Amelia.
“Aku siap.” Amelia meletakkan tas dan mengangkat gendongan merah muda bergaya hipseat, jenis gendongan dengan dudukan empuk di bagian bawah sehingga dapat menompang berat bayi. Caelan membelinya kemarin setelah bertanya pada penjaga toko perlengkapan bayi tentang jenis gendongan yang cocok untuk aktivitas sehari-hari.
Amelia tidak menyangka jika Caelan begitu perhatian dan detail ketika membeli perlengkapan untuk Emi. Dipilih yang paling aman dan nyaman serta mudah digunakan.
Emi masih berada di pangkuan Caelan tengah menggigiti telinga boneka kelinci. Saat Amelia ingin mengambil Emi, Caelan langsung berkata, “Biar aku yang menggendong Emi.”
Amelia terdiam sejenak. “Kau yakin? Emi cukup berat dan air liurnya sering menetes-netes.”
“Aku yakin bisa mengatasinya,” sahut Caelan. “Asalkan kau bisa menyetir untuk kami.”
“Kau yakin menyerahkan nyawamu dan Emi padaku?”
Caelan tertawa renyah. “Kuserahkan diriku seutuhnya padaku dan Emi juga.”
Amelia mengangkat bahu sambil tersenyum. Kemudian ia memasangkan tali-tali gendongan ke tubuh Caelan setelah pria itu meletakkan Emi kembali ke box. Emi sedikit memprotes dengan rengekan, tapi setelah diberikan mainan bayi kecil itu menyibukkan diri sendiri.
Memasangkan tali-tali gendongan ke tubuh Caelan cukup sulit dan canggung, karena tubuh jangkung pria itu. Setelah selesai, Amelia memasukkan Emi ke dalam gendongan dengan wajah menghadap depan. Amelia kembali merapikan tali-tali, memastikan Emi aman dan Caelan nyaman.
“Sudah oke?” tanya Amelia.
Caelan mengangguk. “Kami sudah siap.”
Amelia mengangkat tas. “Ayo.”
Hari itu cuaca hangat sehingga berjalan-jalan di pukul sepuluh pagi masih terasa nyaman. Taman di hari minggu cukup padat, banyak orang yang memilih tempat itu untuk berjalan-jalan dan piknik. Amelia sempat membawa tikar piknik, tapi ia tidak membawa makanan dan minuman untuk menemani acara jalan-jalan mereka. Jadi, Caelan memutuskan untuk membeli roti lapis dan es kopi untuk mereka.
Setelah berjalan-jalan lebih dari satu jam, mereka beristirahat. Dua orang duduk di atas tikar piknik dan Emi yang tertidur dibaringkan di tengah.
“Kau menyetir dengan baik,” kata Caelan membuka obrolan.
“Aku pernah jadi driver taksi, jadi cukup ahli,” jawab Amelia.
“O ya? Menarik. Ceritakan padaku.” Caelan terlihat benar-benar tertarik, jadi Amelia memutuskan untuk menceritakan pengalamannya menjadi driver taksi selama enam bulan.
“Kehidupanmu kedengarannya sangat menarik,” ujar Caelan setelah Amelia bercerita.
Amelia hanya tertawa. “Cukup menarik untuk didengarkan, tapi saat menjalaninya … itu tidak mudah.”
“Yah, kedengarannya memang tidak mudah,” kata Caelan. “Di usia muda harus kehilangan orangtua, kemudian harus berjuang untuk kehidupanmu juga adikmu. Kau hebat bisa melewatinya.”
Dada Amelia terasa hangat mendengar pujian Caelan. Selama ini tidak ada orang yang mengapresiasi dirinya sehingga pujian itu terasa sangat berarti. “Terima kasih,” ucapnya.
“Sekarang apa yang kau kerjakan untuk mendapat penghasilan?”
“Aku seorang pekerja freelance.” Amelia tersenyum masam. “Cukup memalukan untuk seseorang dengan usia 27 tahun tidak memiliki pekerjaan tetap.”
“Tidak juga. Semua orang memiliki start-nya masing-masing,” sahut Caelan. “Contohnya aku, terlihat sukses di usia 33 tahun, tapi semua kesuksesan itu didapat dengan banyak bantuan. Terutama privilege memiliki orangtua yang bisa dibilang kaya. Jadi, aku tidak benar-benar memulai dari nol.”
Amelia kaget dengan pengakuan Caelan. “Kebanyakan orang akan mengakui kesuksesannya karena kerja keras sendiri, tapi kau malah mengakui privilege yang didapat dari orangtuamu.”
Caelan mengangkat bahu. “Tidak ada orang yang bisa melakukan semuanya sendiri,” ujar Caelan santai. “Contohnya dalam mengurus Emi, kau tidak bisa melakukannya sendiri, aku pun demikian. Jadi, kita harus saling bantu.”
Amelia memandangi Emi. “Aku sangat berterima kasih kau sudah mau membantu. Dalam kondisiku sekarang, merawat Emi sendirian hampir tidak bisa kulakukan. Tatapan Amelia beralih pada Caelan. “Keterbatasan finansial menjadi masalah utamaku, dan kau membantu mengatasinya.”
“Sudah seharusnya kulakukan, kata terima kasih itu sama sekali tidak diperlukan,” ujar Caelan. “Jasa apa yang kau tawarkan sebagai freelance?”
“Aku bisa jadi asisten virtual, mengerjakan pekerjaan entry data, membuat berbagai desain grafis, dan berbagai pekerjaan virtual lainnya. Biasanya aku menawarkan jasa di flatform resmi untuk pekerjan digital.”
Caelan mengangguk-angguk. “Aku akan menghubungimu jika membutuhkan bantuan untuk pekerjaan-pekerjaan semacam itu.”
“Itu tidak perlu, aku-“
“Tentu saja, portofoliomu akan jadi pertimbangan. Aku tidak sembarangan memilih orang untuk bekerjasama.” Caelan memotong kalimat Amelia.
“Terima kasih.”
“Tidak perlu berterima ka-“
Kali ini Amelia yang memotong kalimat Caelan. “Terima saja. Mengucapkan terima kasih merupakan sopan santun dasar, jadi kau harus menerimanya.”
Caelan tertawa. “Baiklah.”