Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2: Hangat yang tak pernah padam
Karya Vian's
Malam telah jatuh, dan riuh rendah kota perlahan meredup. Di ruang makan keluarga Savya, hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Cahaya lampu gantung yang kuning hangat menciptakan suasana yang begitu intim, seolah dunia di luar sana tidak lagi penting.
"Lelah sekali kelihatannya, Sayang?" Ibu membuka percakapan, matanya menatap lembut pada Savya yang sejak tadi lebih banyak mengaduk nasinya.
Savya menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Lumayan, Bu. Hari ini di kedai benar-benar seperti badai. Tapi bukan lelah fisik yang Savya ya rasakan, lebih ke... perasaan penuh. "Vya"- Panggilan yang hanya boleh di ucapkan oleh mereka yang memiliki kunci menuju hatinya- kini terasa seperti pelukan hangat di tengah kepenatan.
Ayah meletakkan gelas tehnya, memberikan perhatian penuh. "Penuh gimana, Vya? Ada masalah sama stok kopi atau ada pelanggan yang rewel?"
"Bukan, Yah," Savya menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Tadi Vya sempat melihat sekeliling kedai saat lagi ramai-ramainya. Ada orang yang tertawa sama temannya, ada yang serius kerja, bahkan ada satu pria yang cuma duduk diam memperhatikan sekitar.
Savya merasa... Thalassa bukan cuma tempat jualan kopi lagi. Tempat itu sudah jadi bagian dari hidup orang lain juga." Savya terdiam sejenak, teringat pada pria misterius berinisial " V " yang memberinya catatan kecil itu.
"Terkadang Vya merasa takut, Yah. Takut kalau Vya nggak bisa menjaga kehangatan tempat itu. Takut kalau kesibukan malah membuat Vya kehilangan alasan kenapa Vya buka kedai itu dulu," lanjutnya jujur. Savya memang terbiasa terbuka pada orang tuanya; baginya, mereka adalah jangkar yang menjaga hatinya tetap tenang.
Ibu mengulurkan tangan, mengusap punggung tangan Savya dengan kasih sayang. "Vya, kopi yang kamu buat itu enak karena dibuat pakai hati. Selama kamu masih punya rasa sayang itu untuk setiap cangkir yang kamu sajikan, kehangatannya nggak akan hilang. Kedai itu adalah cerminan dirimu."
Ayah mengangguk setuju. "Ingat tujuan awalmu, Nak. Kamu buka Thalassa bukan untuk jadi kaya raya dalam semalam, tapi untuk punya tempat di mana kamu bisa berdiri di atas kaki sendiri sambil tetap memegang kameramu. Jangan biarkan keramaian membunuh ketenanganmu."
Mendengar itu, beban di pundak Savya terasa sedikit terangkat. Ia menatap kedua orang tuanya, merasa sangat beruntung memiliki rumah tempat ia bisa pulang dan mencurahkan segalanya tanpa dihakimi.
"Terima kasih, Yah, Bu. Vya cuma butuh mendengar itu," ucap Savya tulus.
"Sama-sama, Sayang. Habiskan makanmu, lalu istirahat. Besok petualangan baru sudah menunggu di balik pintu Thalassa," ujar Ibu sambil tersenyum lebar.
Malam itu, sebelum memejamkan mata di kamarnya yang penuh foto, Savya sempat menatap ke luar jendela. Ia merasa lebih siap. Jika besok pria misterius itu datang lagi, ia tidak akan merasa canggung. Ia akan menyambutnya dengan hati yang lebih tenang—seperti rumah yang baru saja ia rasakan malam ini.
Keesokan harinya........
Pagi di rumah keluarga Savya selalu dimulai dengan suara kicauan burung dari pohon mangga di depan rumah dan deru pelan kompor dari arah dapur. Bagi Savya, ini adalah melodi paling menenangkan sebelum ia terjun ke hiruk pikuk kota.
Savya terbangun di kamarnya yang mungil namun penuh karakter. Sinar matahari pagi mengintip malu-malu melalui celah gorden, menyinari dinding galeri pribadinya. Di sana, ratusan jepretan foto analog tertempel dengan rapi di dinding tepat di atas meja—mulai dari senyum pelanggan setia, detail embun di atas daun, hingga potret siluet kedua orang tuanya yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi.
Di atas meja kerja kayunya, kamera Leica tua itu tampak berkilau. Ia meraihnya, mengusap bodinya dengan lembut. Secarik kertas bertuliskan inisial "V" yang ia temukan kemarin sore, kini terselip di sudut bingkai cermin meja riasnya.
"Lensa yang baik bukan hanya menangkap cahaya, tapi juga menangkap jiwa..."
Savya tersenyum tipis. Kalimat itu masih terngiang, membuat rasa penasarannya sedikit terusik. Namun, suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.
"Vya? Sudah bangun, Sayang? Sarapan sudah siap," suara lembut ibunya terdengar dari balik pintu.
"Iya, Bu! Sebentar lagi Vya turun." Sahutnya di penuhi riang
Savya melangkah turun, aroma nasi goreng dan telur dadar menyambutnya lebih dulu sebelum ia mencapai ruang makan. Di sana, Ayah sudah duduk rapi dengan koran di tangan, namun perhatiannya teralih sepenuhnya pada kucing gembul mereka yang sedang berusaha mencuri sepotong kerupuk dari meja.
"Ayah, kalau Locky jadi obesitas, Ayah yang tanggung jawab ya!" seru Savya sambil menarik kursi di sebelah ibunya.
Ayah tertawa renyah, "Dia ini punya bakat jadi kritikus makanan, Vya. Lihat saja wajahnya, dia protes karena Ibu kurang kasih garam di telur dadarnya."
"Oh ya?" Ibu muncul dari dapur sambil membawa teko teh, lalu mencubit pelan lengan Ayah. "Kalau begitu, besok Ayah saja yang masak, biar Locky yang jadi juri dan Ibu yang jadi penontonnya."
Tawa pecah di meja makan yang mungil itu. Savya menyendok nasi ke piringnya, merasa semua beban pikirannya tentang pria misterius kemarin menguap sejenak digantikan kehangatan ini.
"Oh ya, Vya," Ayah mengalihkan pembicaraan, matanya berbinar teringat sesuatu.
"Kemarin Ayah lewat pasar loak di jalan Veteran. Tebak apa yang Ayah temukan? Ada toko tua yang menjual koleksi lensa-lensa manual yang sepertinya masih bagus. Ayah pikir, mungkin kamu mau mampir ke sana akhir pekan nanti?"
Savya membelalak senang. "Benarkah, Yah? Lensa jenis apa?"
"Ayah kurang paham detailnya, tapi ada satu yang bentuknya unik, mirip lensa yang sering kamu pakai di kamera Leica-mu itu," jawab Ayah.
Ibu menggeleng-geleng sambil tersenyum. "Jangan racuni anakmu dengan barang antik terus, Yah. Nanti isi kamarnya benar-benar jadi museum. Tapi Vya, kalau kamu pergi, jangan lupa sekalian mampir ke toko bunga langganan Ibu ya? Ibu mau ganti tanaman di teras depan, sepertinya mawar-mawar itu butuh teman baru."
"Siap, Ibu Komandan! Lensa dan bunga, tugas diterima," sahut Savya dengan gerakan hormat militer yang membuat kedua orang tuanya kembali terkekeh.
Sarapan itu terus berlanjut dengan obrolan ringan tentang rencana liburan singkat mereka bulan depan dan perdebatan jenaka tentang siapa yang paling sering lupa mematikan lampu ruang tamu. Di bawah lampu gantung yang redup namun hangat, Savya menyadari bahwa rumah adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu menjadi 'pemilik kedai' yang serba bisa, melainkan cukup menjadi Savya yang apa adanya.
Setelah canda tawa mereda dan piring-piring telah bersih, Savya segera bersiap. Ia mengenakan kemeja linen favoritnya dan tak lupa menyampirkan tas kamera di bahu.
"Biar Ayah antar sampai depan kedai, Vya. Kebetulan Ayah mau sekalian beli baut di toko bangunan dekat sana," ujar Ayah sambil meraih kunci mobil dari gantungan.
Savya tersenyum dan mengangguk. Mereka melangkah keluar menuju garasi kecil di samping rumah. Di sana, terparkir sebuah mobil sedan tua berwarna perak yang catnya sudah sedikit kusam di beberapa bagian. Mobil itu jauh dari kata mewah; suara mesinnya pun terdengar sedikit kasar saat pertama kali dinyalakan, dan AC-nya butuh waktu lama untuk mulai terasa dingin. Namun, bagi Savya, mobil ini jauh lebih nyaman daripada kendaraan paling mahal di dunia. Di dalam kabin yang sempit itu, aroma parfum kopi yang selalu menempel pada baju Savya bercampur dengan aroma minyak kayu putih milik ayahnya.
"Hati-hati bawa mobilnya, Yah. Sudah tua, jangan dipaksa mengebut," canda Savya saat mobil mulai bergerak perlahan menyusuri jalanan komplek yang asri.
"Tua-tua begini, dia saksi bisu kamu berangkat sekolah sampai sukses buka kedai sendiri, lho," balas Ayah sambil terkekeh, tangannya yang mulai keriput memegang kemudi dengan mantap.
Sepanjang perjalanan, mereka menikmati pemandangan kota yang mulai sibuk. Tidak ada gawai yang menyala, hanya ada obrolan ringan tentang pohon-pohon di pinggir jalan atau tebak-tebakan plat nomor kendaraan yang lucu.
Saat mobil itu berhenti tepat di depan Thalassa Coffee, Savya mencium tangan ayahnya dengan takzim.
"Semangat kerjanya, Putri Ayah. Kalau nanti sore Ibu tidak jadi ikut pengajian, kabari ya, biar Ayah yang jemput kamu," pesan Ayah sebelum Savya turun.
Savya melambaikan tangan, menatap mobil sederhana itu menjauh hingga hilang di tikungan jalan. Ia menarik napas dalam, membetulkan letak tas kameranya, dan memutar kunci pintu kaca kedainya. Begitu pintu terbuka, aroma biji kopi yang khas langsung menyambutnya.
Savya sudah siap. Rumah telah memberinya cukup tenaga untuk menghadapi apa pun—termasuk pria misterius yang mungkin akan kembali duduk di pojok sana hari ini.
......" Story by Vian's "......