Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Piyama Pink
Perlahan mata terpejam, menutup kisah hari ini dengan tawa gadis yang Cakka tak tahu parasnya seperti apa. Udara dingin menusuk kulit hingga ke tulang Cakka, menggigil, memeluk tubuhnya sendiri.
"Besok aku harus kepasar lagi, beli kasur sama selimut!" Ucapnya dengan gigi gemetar.
Padahal suara Cakka terbilang pelan, namun ternyata itu terdengar oleh Sofia. Ia belum tidur!.
"Aku temenin ya!" Serunya.
Mata Cakka kembali terbuka lebar.
"Aku pikir kamu sudah tidur, ternyata kamu masih bisa dengar suara aku" Cakka seolah tengah berbicara dengan Sofia berhadapan. Kenyataannya Dia sedang menghadapi tembok, yang ketebalannya dipertanyakan.
"Kok bisa tembok ini menghantarkan suara ku ke ruang sana?" Tanyanya pelan.
"Aku dengar itu! Telingaku tajam, ini anugerah dari Tuhan untuk aku. Aku bisa menguping siapa saja" jawab Sofia.
"Termasuk pasutri yang...."
Syut!!!!!!!
Sofia menegur Cakka, halus.
"Bisik-bisik saja, aku masih bisa dengar kok"
Cakka membulatkan matanya, ia bangun lalu menyandarkan punggung ke tembok kamar.
"Pasutri tadi bertengkar karena apa?" Tanya Cakka pelan.
"Suaminya selingkuh" jawab Sofia singkat.
"Hah! Dengan siapa?" Cakka.
"Mak Ranti" lagi Sofia menjawabnya singkat.
"Mak Ranti, nasi uduk?" Cakka memastikan.
"Ya! Benar sekali, suaminya jujur tahu. Dianya saja yang pantai berakting" tutur Sofia.
Sejenak Cakka terdiam, mencerna kejadian tadi pagi. Cakka pikir Mak Ranti adalah korban ternyata sebaliknya. Menghela nafas dan melihat jam dinding yang lebih dulu hadir dirumah itu.
"Ini sudah pukul dua belas malam, kamu tidak mengantuk?"
"Tidak, aku masih ingin bicara dengan mu"
Cakka mengigit bibir bawahnya, menggaruk kepala yang tak gatal. Salah tingkah, mendengar Sofia seperti menggodanya.
"Bagaimana kalau kita ngobrol diluar? Aku penasaran dengan wajah mu" Cakka memberanikan diri, untuk mengajak Sofia bertemu.
"Jangan diluar, bahaya!" Ujar Sofia.
"Kenapa bahaya, kitakan hanya bicara?" Cakka.
Sofia diam, keheningan yang didapat pada tengah malam kini terasa mencekam. Rasa percaya diri perlahan runtuh, ajakannya untuk bertemu ternyata ditolak.
"Siapa pula aku? Berani sekali mengajak anak gadis untuk bertemu! Harusnya tahu diri!" Kecamnya. Diakhiri satu sudut bibir naik. Senyum jijik, mengejek dirinya sendiri.
Tubuh yang tadinya bersandar pada tembok kini perlahan menyentuh lantai, Cakka berniat untuk tidur kembali. Namun begitu matanya terpejam, tiba-tiba suara ketukan pintu menderu! Ada yang memanggil namanya.
Tok! Tok! Tok!
"Cakka! Cakka!"
Sontak tubuh Cakka langsung terbangun, kakinya berlari menuju pintu. Tangan kekar yang sedari tadi menjadi sanggahan kepalanya kini memegang gagang, membuka daun pintu.
Kret!!!!!!!!
Terlihat tubuh perempuan muda mengenakan piyama pink, tanpa alas kaki dan rambut yang digerai. Begitu pintu terbuka tubuh wanita itu langsung berhambur masuk kedalam.
Cakka terkejut, pasalnya dia tidak tahu perempuan itu siapa. Tiba-tiba masuk ke dalam rumah, takutnya seperti Mak Ranti, sudah memiliki suami dan jadi masalah besar lagi. Pintu yang masih terbuka lebar langsung ditutup oleh perempuan itu.
Brak!!!!
Makin menganga saja mulutnya, awalnya Cakka akan membuka kembali pintu itu dan mengusir perempuan yang ada di depannya. Tapi, setelah perempuan itu mengatakan namanya Cakka langsung terdiam.
"Aku Sofia, teman bicaramu tadi!" Ucapnya.
Seperti mimpi, ada perempuan cantik yang tiba-tiba datang masuk ke dalam rumah, sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Cakka perlahan mundur dari hadapan Sofia.
Bahkan tubuhnya terbentur ke tembok karena tidak bisa mundur lebih jauh. Mata Sofia berbinar, alisnya terukir rapih, bibir bagian bawah yang tipis dan dagu lancip. Melukiskan betapa cantiknya Sofia malam itu.
"Kamu kenapa? Bukannya tadi ngajak ketemu?" Sofia mendekat. Cakka Hanya bisa merekatkan diri pada tembok, ia masih tak menyangka ini terjadi.
"Aku gak bisa tidur, tadinya aku mau besok saja ketemu kamu. Tapi ternyata, aku rindu!"
"Ri-rindu? Rindu siapa?" Cakka gugup.
"Kamulah! Kan aku ngomong sama kamu, masa sama hantu" ujar Sofia.
Sofia semakin mendekat, tanganya yang putih, mulus dan lembut itu menyentuh wajah Cakka yang tekstur kulitnya kasar.
"Jangan sentuh aku!" Ucap Cakka pelan namun tegas.
"Gakpapa, kamu gak pernah diperlakukan seperti inikan?" Tanya Sofia lembut.
Merinding! Itu yang Cakka rasakan. Ini untuk pertama kalinya ada seorang perempuan yang mau menyentuh dia. Apalagi dengan posisi duduk yang kian detik kian dekat, tak ada jarak.
Sofia seperti sedang memancing ikan, ia menjadikan dirinya umpan untuk Cakka. Piyama yang dikenakannya tiba-tiba dengan sengaja, Sofia turunkan talinya hingga ke lengan. Pun area dada yang sebentar lagi akan memperlihatkan buahnya, terekspos.
Bukannya nafsu birahi naik, Cakka malah memejamkan matanya secara paksa. Sembari menggelengkan kepala beberapa kali "Jangan! Itu masih ranum, jangan!" Tapi, Sofia bandel.
Ia malah mendekatkan tubuhnya ke dada Cakka, alih-alih untuk merasakan kehangatan. Cakka malah mendorong Sofia hingga tersungkur ke arah lain.
Sruk!!!!
Dug!
Terpelanting, seperti bola yang ditendang ke gawang. Cakka sendiri tak menyangka kalau dorongan itu akan kuat dan mampu membuat Sofia jauh dari tubuhnya. Terlihat, Sofia kesakitan. Cakka merasa bersalah, dirinya berhambur pada Sofia untuk mengecek apakah tubuhnya terluka atau tidak?
"Aku minta maaf, sungguh!"
Namun wajah Sofia menunduk melihat lantai sembari memegang pinggangnya yang kesakitan.
"Sofia, maaf!"
Sofia tidak menyahuti Cakka atau bahkan menatapnya, dia hanya diam sembari mengatur nafas. Sofia ingin memarahi Cakka namun, ia menyadari kalau ini salahnya sendiri.
"Sof... Sofia?"
Lagi, Cakka menyebut nama perempuan yang ada di depannya. Tapi masih saja, Sofia diam. Cakka menghela nafas panjang, lalu tangannya memegang lengan Sofia.
"Maafkan aku, aku gugup. Sebelumnya aku tidak pernah disentuh oleh perempuan manapun. Makanya aku takut, dan refleks mendorong kamu. Itu bukan karena aku benci atau tidak suka, hanya saja ini untuk pertama kalinya disentuh"
Kata itu tulus keluar dari mulut Cakka, nadanya pun rendah dan lembut. Luluh akan hal itu, akhirnya Sofia mau melihat wajah Cakka. Sebentar. Tanpa aba-aba Sofia mencium bibir Cakka.
Dug! Dug! Dug! Dug! Dug!
Tubuh Cakka diam, tak bekerja, tapi jantung memompa darahnya begitu cepat. Seperti dirinya sedang berlari mengalahkan banyaknya pelari yang berlomba dengannya. Mata terpejam, merasakan betapa kenyalnya bibir gadis yang baru dikenalnya itu.
"Jadi begini rasanya dua bibir yang menyatu itu, selama ini aku selalu melihat di TV. Basah, hangat dan wangi. Manis pula dari lidahnya" batin Cakka menyergap semua sensai yang ia terima.
Sepertinya untuk Sofia hal seperti ini bukan yang pertama kali, karena dia lebih mahir dan lebih bisa mengendalikan diri. Perlahan tubuh Sofia bergerak, menyelaraskan harmoni rasa yang tak kunjung usai. Ia naik ke paha Cakka untuk mendapatkan kehangatan yang lebih. Tepat bertumpu pada tempat yang seharusnya, kini Cakka benar-benar merasakan tegangan tinggi.