Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Upaya penyelamatan
Kini Reina dan yang lainnya telah sampai dikota. "benar-benar hancur." ucap prisma dengan suara pelan namun masih terdengar jelas.
Mata mereka melihat pemandangan yang amat mengertikan, terutama Reina. Tangannya mengepal sangat keras sehingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
Untuk kedua kalinya Reina melihat pemandangan ini.
Kota benar-benar hancur, bangunan yang semula menjulang tinggi kini hanya menyisakan sebuah puing.
Bahkan ada beberapa desa yang hilang ditelan tanah yang membelah. Ada juga kota yang tenggelam tanpa tersisa apapun.
Populasi manusia hilang hampir 50% diseluruh dunia.
Berbagai macam kendaraan hancur berkeping-keping. Bahkan pesawat dan kapal laut kendaraan terbesar pun ikut hancur.
Hanya menyisakan sebuah tangis bagi mereka yang selamat.
Ada beberapa orang yang masih tertimpa bangunan, ada juga yang sedang berusaha keluar dari terjangan air.
Bukan hanya air sungai yang meluap, tapi air laut pun ikut meluap. Air tsunami setinggi ratusan meter menyapu hampir seluruh permukaan tanah.
Setelah mereka tiba di markas, mereka melihat pemandangan yang sangat menyesakkan dada.
"benar-benar hancur," suara dandi pelan nyaris tak terdengar.
Mereka melihat beberapa anggota yang mencoba menyelamatkan diri dari reruntuhan. Dan ada yang mencoba menyelamatkan yang lainnya.
"biar aku yang menanganinya." ucap prisma dan mengeluarkan palunya.
"hati-hati." kata Reina mencoba mengingatkan prisma yang hendak melakukan pukulan terhadap tanah.
"aku mengerti," dan
BOOMM!!!
Pukulan Prisma membuat tanah bergetar kembali, membuat bangunan itu berhamburan terbang keatas.
Tanpa menunggu perintah, Santo mengeluarkan energinya menjadi angin yang mendorong bangunan itu pergi.
Dengan cepat mereka segera menyelamatkan rekan-rekannya yang terbebas dari reruntuhan.
"hebat." ucap rekannya.
"mereka kembali dengan kekuatan yang luar biasa."
"mereka menyelamatkan kita"
Mereka yang terluka segera dibawa pergi, dan dandi membangun kamp sementara untuk mengobati rekan-rekannya yang terluka.
Reina yang bertugas mengobati mereka. Sedangkan Dandi, Santo, Prisma dan Andri mencari anggota lainnya beserta Jenderal Yanto.
"jenderal yanto pasti berada di ruang utama penelitian bersama dr isman." kata Prisma.
"baiklah kita berpencar, Andri kamu cari jenderal yanto. Dan kita akan mencari yang lain." ucap Dandi menjelaskan.
Mereka semua bergegas berpencar untuk mencari anggotanya.
Entah mengapa Andri selalu gelisah, atau ada hubungannya dengan Reina.
Jika Reina benar-benar bertemu dengan orang itu, akan kah reina menjadi orang lain dan kekuatannya menjadi liar.
"tolong.." rintih seseorang membuat lamunan Andri buyar.
"seseorang.." kata Andri matanya mencoba mecari keberadaannya.
Andri memejamkan matanya, mulai fokus. Andri seperti masuk didunia yang sangat gelap dan berusaha merasakan hawa keberadaannya. "ketemu.!!" matanya terbuka.
"Disana!." Andri berlari mendekat. Terlihat, orang itu sudah terlihat.
"Kael!!" teriak Andri.
Tanpa menunggu lama Andri mencoba menarik tangan Kael.
Tubuh Kael terjebak direruntuhan bangunan. Hanya menyisakan tangan dan kepalanya.
"bertahanlah, kael. aku akan menyelamatkanmu."
"ber..hen..ti. Jang..an pikirkanku, cepat se..lamatkan jenderal dan dr isman." ucapannya terbata-bata, suaranya sangat pelan nyaris tak terdengar. Nafasnya terpenggal-penggal.
"berhentilah bicara," Andri mundur kebelakang dan mulai mengumpulkan energinya.
"haaa...…" teriak andri dan mendorong energinya kedepan.."
Buummm!!
Reruntuhan yang menimpa Kael terbang pergi.
Meskipun kael telah keluar dari reruntuhan, dirinya telah sekarat.
"cepat selamatkan jenderal." ucapnya sangat lirih. Nafasnya hampir habis.
Andri menyentuh dada Kael.
Cahaya mulai keluar dari telapak tangan Andri dan masuk kedalam tubuh kael.
Mata kael yang tadinya buram, kini kembali seperti semula. Secara perlahan matanya mampu melihat dengan jelas.
Nafasnya yang tersendat mulai stabil.
Andri membagi energi spiritual miliknya kepada kael yang berubah menjadi energi kehidupan.
Kemudian kael bangun dan duduk. "andri." kemudian ingatannya kembali. Sebelum gempa bumi dia berlari ingin masuk kedalam gedung utama untuk menyelamatkan jenderal namun terlambat. Dengan cepat getaran itu meruntuhkan semua bangunan yang ada.
"ayo cepat. Kita harus segera menyelamatkan jenderal." ucap Kael dan mereka mencoba mencari direruntuhan itu.
"jenderal..!" teriak kael.
"dr isman." teriak Andri.
Mereka mencoba memanggil nama mereka namun tidak ada tanggapan sama sekali.
"jangan-jangan.." kata Kael, nafasnya tidak teratur menahan gejolak emosi.
"tidak, mereka masih hidup. Saya merasakan ada nafas manusia hidup. Tapi lemah, kritis." kata andri pelan. Tangannya mengepal dengan keras.
Dengan cepat Andri melempar ledakan energi dimana-mana membuat reruntuhan itu berhamburan.
Mata kael menangkap sesosok yang tergeletak tak berdaya. Kakinya sedikit bergerak. "Lihat itu.!" teriak Kael sambil berlari menghampiri.
Sedangkan Reina mengobati luka-luka mereka.
Membalut setiap luka.
"dikehidupan ini, aku akan pastikan manusia tidak akan pernah mati." tangannya mengepal.
Orang terluka datang secara bergantian, bahkan ada beberapa yang datang hanya jasad.
Air mata reina dan beberapa anggota tidak mampu menahan tangis. Air matanya jatuh kepipi. Sesakali terisak.
Ditengah isaknya, terdengar suara teriakan. "Reina..!!"
Membuat semua orang menoleh.