Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DIBALIK SERAGAM
Aroma karbol dan alkohol menyambut Keyra saat ia melangkah masuk ke klinik markas siang itu. Meskipun lututnya masih sedikit kaku, salep dari Ghazali terbukti ampuh rasa perihnya sudah jauh berkurang. Ziva sudah sibuk merapikan botol-botol vitamin di rak, sementara beberapa prajurit tampak duduk mengantre untuk pemeriksaan rutin.
Suasana tenang itu terusik ketika Keyra mendengar suara langkah sepatu boots yang berat berhenti tepat di depan pintu samping klinik yang terhubung ke ruang logistik. Itu suara Ghazali. Keyra baru saja hendak menyapa, tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat Bastian di sampingnya dengan wajah serius.
"Ghaz, jujur saja. Kenapa Clarissa bisa sampai ke sini sepagi itu? Kamu tahu kan, kedatangannya hanya akan memancing rumor di pangkalan," suara Bastian terdengar rendah.
Keyra menahan napas, tubuhnya merapat ke rak obat yang tinggi, menjadikannya penghalang sempurna agar tidak terlihat.
"Pihak keluarganya yang memaksa. Kamu tahu sendiri hubungan bisnis antara ayahku dan ayahnya tidak bisa diputus begitu saja," jawab Ghazali dengan nada dingin yang familiar.
"Tapi masalahnya, dia mengklaim diri sebagai calon tunanganmu di depan mahasiswa magang itu. Keyra bisa salah paham, Ghaz," sahut Bastian lagi, kali ini dengan nada sedikit menggoda.
Ghazali terdiam sejenak. "Keyra bukan siapa-siapa. Dia hanya mahasiswa yang kebetulan terjebak badai. Apa pun yang Clarissa katakan, itu bukan urusannya."
Keyra merasakan sedikit cubitan di dadanya. Bukan siapa-siapa ya? Memang benar sih, tapi tidak perlu ditegaskan begitu juga kali, Kulkas! batinnya kesal.
"Lagipula," lanjut Ghazali, suaranya memberat, "masa lalu dengan Clarissa sudah selesai sejak aku memutuskan masuk militer. Dia saja yang tidak pernah paham arti kata 'berhenti'."
"Dan sekarang kamu menampung mahasiswi itu di paviliunmu. Kamu tidak pernah membiarkan perempuan mana pun masuk ke area pribadimu sejak kejadian lima tahun lalu," Bastian membalas dengan telak.
Keheningan panjang mengikuti kalimat itu. Keyra semakin penasaran. Kejadian lima tahun lalu? Apa yang terjadi pada si kaku ini?
"Cukup, Bastian. Kembali ke tugasmu. Pastikan jalur logistik aman," potong Ghazali tegas, menandakan pembicaraan pribadi itu berakhir.
Keyra segera bergerak menjauh dari rak obat saat mendengar langkah kaki mereka menjauh. Ia mencoba fokus kembali pada tumpukan berkas di depannya, tapi pikirannya melayang. Jadi, Clarissa itu bagian dari masa lalu yang coba dihindari Ghazali?
"Key! Kok bengong? Itu pasien nomor dua belas sudah menunggu," panggil Ziva, membuyarkan lamunan Keyra.
"Ah, iya! Maaf, Ziv," sahut Keyra cepat.
Baru saja ia hendak memanggil pasien, sosok Clarissa tiba-tiba muncul di ambang pintu klinik dengan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya. Ia menatap ruangan yang penuh obat-obatan itu dengan tatapan tidak suka.
"Mana mahasiswa tadi? Aku ingin bicara," ucap Clarissa tanpa basa-basi, menunjuk tepat ke arah Keyra.
Keyra menghela napas panjang, merapikan jas snelli-nya, dan berdiri dengan gaya menantang. "Ada perlu apa lagi? Mau titip resep obat penenang?"
Clarissa berjalan mendekat, suaranya merendah tapi penuh ancaman. "Dengar ya, siapa namamu? Keyra? Jangan pikir karena kamu tahu sedikit tentang 'pelarian' Ghazali ke markas ini, kamu bisa merasa dekat dengannya. Dia itu berbeda level denganmu."
Keyra tersenyum miring. "Berbeda level? Maksudnya dunia di mana orang-orangnya bicara pakai uang tapi lupa cara menghargai pilihan orang lain?"
"Kamu!" Clarissa mengangkat tangannya, tapi tertahan saat sebuah bayangan besar muncul di belakang Keyra.
"Ada masalah di klinik saya?"
Suara dingin Ghazali membuat suasana seketika membeku. Ia berdiri di sana dengan tatapan tajam yang membuat Clarissa langsung menurunkan tangannya.
***
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....