NovelToon NovelToon
NIRWANA BERDARAH

NIRWANA BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No Plagiat 🚫

NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau

“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”

Yi Ling adalah anomali.

Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.

Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.

Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.

Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.

Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.

Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.

Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap Manis dan Pangeran Bunga

Kota Fengyu tidak pernah tidur—dan bagi Yi Ling, itu terdengar seperti hukuman.

Aroma dupa, keringat, dan teriakan pedagang.

“Tuan Muda, lihat!” Xiān Yǔ menunjuk sebuah toko pakaian mewah. “Kurasa jubah baruku harus berwarna perak metalik agar sesuai dengan aura petirmu.”

Zhui Hai tidak menyahut. Matanya terpaku pada kedai di pojok jalan yang mengeluarkan aroma gula merah yang kental.

“Manisanku habis.”

“Jika tidak diisi, suara serulingmu akan terganggu.”

Yi Ling menghela napas. “Cari kedai makan. Kita butuh informasi tentang Sarjana yang katanya tahu jalan rahasia ke ujung dunia.”

Mereka berhenti di sebuah kedai daging panggang yang ramai.

Yi Ling memilih meja di pojok, tempat ia bisa mengawasi seluruh ruangan. Namun, ia tidak menyadari satu hal.

Seluruh ruangan sedang mengawasinya.

Terutama, menatap Xiān Yǔ yang sejak tadi sibuk berkaca di pantulan pisau daging.

“Permisi, Tuan-tuan yang terhormat.”

Seorang pria berpakaian sarjana, dengan jubah sutra yang terlalu rapi dan senyumnya terlalu sempurna—seperti sudah dilatih di depan cermin.

Kipas cendana di tangannya bergerak pelan. Matanya—menatap Xiān Yǔ seperti melihat emas murni.

“Saya belum pernah melihat pengelana seanggun kalian. Terutama… pemuda berambut perak ini. Sangat unik. Sangat… eksotis.”

Xiān Yǔ langsung menegakkan duduknya. “Oh? Jadi kau punya selera yang bagus, Sarjana? Aku memang sering dibilang sebagai keajaiban alam.”

Zhui Hai melirik sinis. (Bukan keajaiban alam, tapi bencana alam) batinnya.

“Nama saya Sarjana Lu,” pria itu membungkuk. “Sebagai tanda perkenalan, bolehkah saya mentraktir kalian hidangan terbaik di kedai ini? Daging panggang bumbu rahasia dan manisan bunga tujuh rupa.”

Mata Zhui Hai berkilat. “Manisan?”

“Tentu, Nona—maksud saya, Tuan Muda yang rupawan,” Sarjana Lu tersenyum licik.

Yi Ling merasa ada yang tidak beres. Hawa di sekitar sarjana ini terasa… tidak jujur. Namun, perut Xiān Yǔ dan keinginan Zhui Hai jauh lebih berisik daripada instingnya saat ini.

“Silakan,” ucap Yi Ling pendek.

Hidangan pun datang.

Dagingnya merah mengkilap. Manisannya harum luar biasa.

Xiān Yǔ melahapnya seolah belum makan tiga hari. Zhui Hai, meskipun tetap elegan, tidak menyisakan satu butir gula pun.

“Bagaimana? Enak?” tanya Sarjana Lu.

Tiba-tiba—

Xiān Yǔ berhenti mengunyah.

“Tuan Muda… kenapa… kepalaku terasa seperti dipukul kakek leluhur?”

Suara jadi jauh.

Tangan berat.

Pandangan seperti tenggelam.

Zhui Hai mencoba berdiri, namun kakinya lemas. “Manisan ini… rasanya… sangat… ngantuk…”

BRUK!

Kepala Xiān Yǔ jatuh tepat di atas piring daging panggangnya. Bumbu merah membasahi pipinya yang narsis.

Yi Ling mencoba mengangkat serulingnya. Pandangannya kabur.

Yi Ling mencoba menggerakkan jari… gagal.

Ia melihat Sarjana Lu berdiri, senyumnya kini berubah menjadi seringai penuh kemenangan.

“Obat tidur ini dosisnya bisa menumbangkan gajah, Tuan Muda Yi,” bisik Sarjana Lu. “Aku hanya butuh peliharaan berambut perak ini. Kalian sisanya… bisa mati di sini.”

Yi Ling terjatuh. Kegelapan menyambutnya.

Namun, dalam kondisi setengah sadar, Yi Ling mendengar suara langkah kaki yang ringan.

Bukan langkah kaki Sarjana Lu.

Tapi gesekan logam pedang yang ditarik dari sarungnya.

“Kau menculik di wilayahku, Sarjana Licik?”

Suara itu dingin, namun tegas.

Yi Ling berusaha membuka mata sedikit. Ia melihat siluet seorang gadis berbaju merah berdiri di ambang pintu kedai. Rambutnya terikat tinggi, dan di tangannya, sebuah pedang perak berkilau memantulkan cahaya matahari.

“Siapa kau?!” teriak Sarjana Lu panik.

“Orang yang akan memotong tanganmu jika kau menyentuh pemuda berambut hijau itu,” jawab gadis itu santai.

Hijau? pikir Yi Ling bingung.

Ia melirik Xiān Yǔ di sampingnya.

Karena efek resonansi energi Yi Ling yang sedang kacau akibat obat tidur, Mode Hijau aktif secara otomatis tanpa sadar. Xiān Yǔ yang pingsan kini berambut hijau zamrud, dan di telinganya—berkat aura 'santai' yang berlebihan—muncul setangkai mawar merah yang mekar sempurna.

Gadis itu melangkah maju.

“Aku benci orang yang menyentuh milikku tanpa izin.”

Sarjana Lu gemetar, lalu lari terbirit-birit meninggalkan kereta tandu mewahnya.

Gadis itu mendekat ke meja mereka. Ia menatap Xiān Yǔ yang mendengkur dengan mawar di telinga, lalu menatap Yi Ling yang masih berjuang melawan kantuk.

“Pangeran Peri Bunga?” gumam gadis itu, hampir tertawa. “Kalian bertiga benar-benar kelompok yang aneh.”

Yi Ling melihat wajah gadis itu untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar pingsan.

(Cantik… tapi berisik…) batin Yi Ling.

Dunia menjadi hitam.

Dan petualangan baru di Kota Fengyu baru saja dimulai dengan harga diri Xiān Yǔ yang hancur berkeping-keping.

Cahaya matahari menembus celah jendela kedai, menusuk tepat ke mata Yi Ling.

Kepalanya terasa seperti dihantam palu raksasa. Efek obat tidur Sarjana Lu benar-benar bukan main-main. Yi Ling berusaha duduk, namun indranya langsung menangkap sesuatu yang asing.

Aroma mawar.

Sangat dekat.

"Huaaa! Kenapa benda ini tidak mau lepas?!"

Teriakan melengking itu membuat Yi Ling sepenuhnya sadar. Ia menoleh dan menemukan Xiān Yǔ sedang menarik-narik telinganya dengan histeris.

Rambut perak Xiān Yǔ kini berubah menjadi hijau zamrud—tanda Mode Hijau: Formasi Bunga Jiwa (Santai) Yi Ling aktif sebagai kompensasi energi setelah pingsan.

Dan di sana, terselip di antara rambut hijaunya, setangkai mawar merah mekar dengan angkuh.

"Tuan Muda! Ganti warnanya! Cepat! Ini memalukan!" teriak Xiān Yǔ sambil melempar mawar itu ke lantai.

Plup.

Mawar itu muncul lagi di telinganya.

"Sia-sia saja kau mencabutnya," sebuah suara dingin terdengar dari arah pintu.

Zhi Yue berdiri di sana, sedang bersandar di bingkai pintu sambil membersihkan kuku jarinya dengan ujung pedang. Ia menatap Xiān Yǔ dengan tatapan antara kasihan dan ingin tertawa.

"Kau siapa?!" bentak Xiān Yǔ, namun sedetik kemudian ia tertegun. "Wah... Kakak cantik?"

Wajah narsisnya otomatis bangkit, meskipun mawar di telinganya bergoyang lucu setiap kali ia bergerak.

"Namaku Zhi Yue. Dan aku adalah orang yang menyelamatkanmu dari dijadikan 'pajangan' oleh sarjana gila semalam," jawab Zhi Yue santai.

Zhui Hai, yang sudah bangun lebih dulu dan sedang asyik mengunyah manisan sisa semalam, menyela,

“Ikan asin. Bersyukurlah masih bisa bernapas.”

Xiān Yǔ memucat. Ia menatap Yi Ling dengan tatapan melas.

"Tuan Muda, kembali normal saja... ini memalukan. Aku ingin terlihat sangar di depan Kakak cantik ini, bukan seperti peri taman!"

Yi Ling hanya memijat pelipisnya. "Dantiannku sedang tidak stabil karena obat tidur itu. Mode ini akan bertahan sampai energiku pulih."

Zhi Yue mendekat, menatap mawar di telinga Xiān Yǔ dengan serius.

"Ini hiasan? Tapi mawar ini seolah menyatu dengan jiwamu."

"Ini bukan hiasan! Ini... ini kutukan ketampanan!" bantah Xiān Yǔ lemas.

Zhi Yue tertawa tipis.

"Lucu sekali. Aku baru tahu ada siluman yang bisa menumbuhkan bunga saat ketakutan."

"Kami bukan siluman!" seru Xiān Yǔ, lalu ia melirik Yi Ling. "Tuan Muda, katakan sesuatu!"

Yi Ling berdiri, jubah birunya tersampir tak beraturan. Ia menatap Zhi Yue dengan tatapan dingin khas Tuan Muda Klan Yi.

"Kami pengelana. Dan kami berhutang budi padamu, Nona Zhi Yue."

"Berhutang budi?" Zhi Yue menyeringai. "Kalau begitu, bayar hutangmu dengan membawaku ikut dalam perjalanan kalian."

"Ikut?" Zhui Hai berhenti mengunyah. "Ke mana?"

"Ke Gerbang Nirwana," jawab Zhi Yue singkat. "Aku punya urusan di sana. Dan sepertinya, perjalanan dengan 'Pangeran Peri Bunga' dan 'Tuan Muda Kaku' ini tidak akan membosankan."

Xiān Yǔ langsung bersorak dalam hati (setidaknya dia punya alasan untuk tetap dekat dengan Zhi Yue), sementara Yi Ling hanya bisa menarik napas panjang.

"Dasar bocah," gumam Yi Ling pelan.

Perjalanan yang seharusnya sunyi… kini berubah menjadi kekacauan yang tidak bisa dihentikan.

1
Blueria
Sudah bagus kak, hanya saja istilah modern "Mekanis" kurang dapat feel-nya. Awalnya aku cocok aja bacanya, tapi pas ada penulisan kata Mekanis jadi gak dapet aura kuno nya...
Devilgirl: makasih,udah diingatkan nanti author revisi ulang😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!