NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri Stempel

Satu minggu sebelum jadwal persidangan dimulai.

Udara pagi di Aurelia terasa lebih tajam dari biasanya, namun bagi Aurora, dinginnya angin tidak lebih menusuk daripada beban yang ia pikul di pundaknya.

Setelah beberapa hari terpaksa ditutup untuk penyelidikan internal, hari ini Museum Ashford akhirnya kembali membuka pintunya untuk publik.

Mobil mewah milik keluarga Valehart berhenti tepat di depan tangga megah museum. Sang sopir dengan sigap turun dan membukakan pintu untuknya.

Aurora melangkah keluar.

Sepatu tumit tingginya berdenting tegas di atas aspal. Ia mengenakan setelan kerja berwarna gelap yang elegan, dengan rambut yang tertata rapi tanpa cela.

Aurora menarik napas dalam-dalam, menatap bangunan besar di hadapannya yang selama ini menjadi hidup dan matinya.

"Selamat pagi, Nyonya Valehart," sapa para penjaga keamanan di gerbang depan sambil membungkuk hormat.

Aurora hanya mengangguk tipis.

"Selamat pagi. Pastikan semua protokol keamanan ditingkatkan hari ini. Saya tidak ingin ada kejutan yang tidak menyenangkan."

Dia berjalan menaiki anak tangga satu per satu.

Meskipun wajahnya tampak tenang dan terkendali, pikirannya terus berputar pada berkas-berkas yang Adrian berikan semalam.

Waktunya tinggal tujuh hari lagi untuk membuktikan sarang pencucian uang bagi pamannya.

Saat memasuki lobi utama, suasana museum sudah mulai ramai.

Beberapa pengunjung tampak berbisik-bisik saat melihat kehadirannya—mungkin mereka mengenali wajahnya dari berita-berita miring yang beredar di seantero Aurelia belakangan ini.

Aurora mengabaikan mereka semua. Fokusnya hanya satu: kantornya.

Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres sejak ia memijakkan kaki di lobi.

Ada rasa gelisah yang merambat di tengkuknya.

Langkahnya semakin cepat menuju koridor lantai dua, tempat kantor direktur berada.

Ia ingin segera memastikan bahwa dokumen rahasia yang ia simpan di laci meja masih tetap berada di tempatnya.

"NYONYA AURORA! YA AMPUN, RATU KITA SUDAH KEMBALI!"

Suara melengking itu memecah keheningan koridor lantai dua.

Aurora belum sempat menyentuh gagang pintu kantornya saat sesosok wanita dengan langkah terburu-buru—nyaris tersandung kakinya sendiri—berlari ke arahnya.

Itu Bella.

Asisten setianya yang sepertinya punya cadangan energi yang tidak terbatas.

"Bella, pelankan suaramu. Ini museum, bukan pasar di pinggiran Aurelia," tegur Aurora, meski sudut bibirnya sedikit terangkat melihat tingkah asistennya itu.

"Maaf, Nyonya, tapi saya benar-benar rindu! Rasanya sepi sekali tidak ada Anda yang memarahi saya karena salah mengetik laporan," cerocos Bella sambil mengatur napas.

Dia memutar tubuh Aurora, memeriksa dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Wah, lihatlah! Menjadi Nyonya Valehart sepertinya sangat cocok untuk kulit Anda. Anda tampak makin bersinar!"

Aurora memutar bola matanya.

"Fokus, Bella. Bagaimana keadaan museum selama aku tidak ada?"

Bella sempat tertawa kecil, namun sedetik kemudian, ekspresinya berubah.

Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada pengunjung atau staf lain yang berada di dekat mereka.

Senyum lebarnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan serius yang jarang sekali terlihat di wajah jenakanya.

Dia mendekat ke arah Aurora, menurunkan suaranya hingga nyaris menjadi bisikan yang sangat tipis.

"Nyonya... bicara soal keadaan museum, sebenarnya ada sesuatu yang agak... aneh," bisik Bella sambil menarik Aurora sedikit menjauh dari pintu kantor.

Aurora menyipitkan mata. "Aneh bagaimana?"

"Begini... beberapa malam yang lalu, saya tertinggal syal kesayangan saya di meja kerja, jadi saya terpaksa kembali ke sini saat malam sudah cukup larut," Bella menelan ludah, matanya bergerak gelisah.

"Lalu saya melihat Nyonya Besar Ashford. Nenek Anda."

Aurora tertegun.

"Nenek? Untuk apa dia ke sini malam-malam?"

"Itulah masalahnya, Nyonya! Beliau masuk ke kantor Anda. Sendirian. Tanpa menyalakan lampu!" Bella makin merapatkan tubuhnya ke Aurora, wajahnya tampak sangat waspada.

"Gaya jalannya sangat... sus. Seperti detektif di film-film noir, tapi versi lebih menakutkan karena beliau mengenakan jubah hitam besar. Saya tidak berani menyapa, takut dikutuk jadi batu kalau tiba-tiba beliau ternyata sedang melakukan ritual."

Bella menggigit bibir bawahnya.

"Saya melihat beliau keluar dari kantor Anda setelah cukup lama di dalam. Nyonya, apa mungkin Nyonya Besar sedang mencari... camilan tengah malam di laci meja Anda? Atau ada sesuatu yang lebih serius?"

Jantung Aurora berdesir. Instingnya yang tadi hanya berupa kegelisahan kecil kini meledak menjadi kecurigaan yang nyata.

"Kau yakin itu dia, Bella?"

"Seratus persen yakin! Zamrud di jarinya itu berkilat bahkan dalam gelap, Nyonya. Saya tidak mungkin salah lihat," tegas Bella dengan wajah yang kini benar-benar pucat.

Aurora terdiam sejenak. Sorot matanya menajam, menatap pintu kantornya yang tertutup rapat seolah benda mati itu bisa bicara. Pikirannya berputar cepat—mencoba mencari alasan logis kenapa wanita setua neneknya harus menyelinap dalam kegelapan, namun tidak ada satu pun alasan yang berakhir baik.

"Bella," panggil Aurora, suaranya kini terdengar rendah dan penuh wibawa.

Bella langsung berdiri tegak, sikap humorisnya hilang seketika.

"Ya, Nyonya?"

"Terima kasih untuk informasinya. Sekarang, kembali ke mejamu dan urus jadwal untuk minggu ini. Pastikan tidak ada berkas yang tertunda," Aurora menjeda kalimatnya, lalu menatap Bella dalam-dalam dengan tatapan yang sangat serius.

"Dan satu lagi..."

"Jangan pernah ceritakan apa yang kau lihat malam itu kepada siapa pun. Bukan ke staf lain, bukan ke penjaga, bahkan tidak ke keluargamu sendiri. Mengerti?"

Bella menelan ludah dengan susah payah, menyadari betapa berbahayanya rahasia yang baru saja dia bocorkan.

"M-mengerti, Nyonya. Mulut saya terkunci rapat. Anggap saja saya tidak pernah kembali untuk mengambil syal malam itu."

"Bagus. Sekarang pergi."

Setelah melihat Bella berjalan menjauh dengan langkah yang masih agak gemetar, Aurora menarik napas panjang.

Ia memutar kunci kantornya—suara klik yang dihasilkan terasa jauh lebih berat dari biasanya.

Mendorong pintu itu perlahan.

Kantornya tampak sama.

Tidak ada kursi yang terbalik, tidak ada kertas yang berserakan di lantai. Sinar matahari pagi dari jendela besar menyinari debu-debu yang menari di udara, memberikan kesan damai yang palsu.

Namun, indra penciuman Aurora menangkap sesuatu.

Bau parfum classic sandalwood yang sangat samar. Parfum yang hanya digunakan oleh satu orang di seluruh keluarga Ashford.

Neneknya benar-benar ada di sini.

Aurora melangkah perlahan menuju mejanya. Detak jantungnya berpacu lebih kencang saat dia melihat stempel resmi miliknya yang berada di atas meja. Ia ingat betul, sebelum museum ditutup sementara, ia selalu menyimpan stempel itu di dalam laci yang terkunci.

Sekarang, stempel itu berdiri tegak di atas bantalan tinta, seolah baru saja digunakan.

Dengan tangan sedikit gemetar, Aurora menarik laci mejanya.

Memeriksa tumpukan dokumen rahasia di sana.

Secara fisik, semuanya tampak utuh. Tapi saat dia menyentuh salah satu map berwarna cokelat, matanya membelalak.

Ada bekas sidik jari samar di sudut kertas yang seharusnya bersih.

"Apa yang sebenarnya kau cari, Nenek?" gumam Aurora lirih.

Rasa takut perlahan mulai menyusup, bukan karena museumnya dalam bahaya, tapi karena ia mulai sadar bahwa musuh yang sesungguhnya mungkin bukan hanya pamannya yang tamak, melainkan sosok yang selama ini ia anggap sebagai pelindung.

Aurora menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kantor dengan perasaan campur aduk.

Di tengah badai hukum yang sedang dihadapinya, dia baru saja menyadari bahwa dinding pertahanan yang ia kira paling kokoh, kini mulai menunjukkan retakan yang sangat mencurigakan.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!